RAINAYA

RAINAYA
sepuluh


Malam ini bulan membulat penuh begitu cantiknya, cahayanya kuning cemerlang, di sekitarnya juga nampak bintang bertaburan berkerlip indah, disertai desir angin malam terasa begitu semilir, pohon palem di sekitar rumah sakit melambai-lambai mengetukkan melodi yang berirama. Hima menitikkan airmatanya,seumur hidupnya baru pernah ia menitikkan airmatanya.


" Tolong bantu." Pinta Hima kepada seorang rekan kerjanya, dokter bedah tulang terbaik di rumah sakit ini. Kemudian dilihatnya wanita yang sedang terbaring tidak berdaya, Rainaya terlihat begitu pucat,perawat bilang tensi darahnya begitu rendah, di pelipisnya ada beberapa jahitan,hidungnya yang mancung itupun nampak terdapat luka yang cukup dalam, Rain baru saja tertabrak motor,karena buru-buru menyebrang, sampai sekarang si pengendara motor belum ketemu karena sudah lari terlebih dulu. Hima sendiri tidak melihat kejadiannya, tiba-tiba sudah masuk IGD, tulang pahanya teraba patah total, nampak kaki kanannya terlihat lebih pendek dari kaki kirinya. Rain serasa setengah sadar,ia merasakan Hima terus memegang tangan Rainaya yang sangat dingin. Sesaat kemudian Rain dibawa masuk ke ruang operasi dan Hima hanya bisa menantinya di ambang pintu ruangan, diiringi suara tangisan Dinda di belakangnya. Dinda menangis dalam dekapan suaminya.


Hima menyesal dengan kejadian tempo hari kemarin, tidak semestinya ia memohon-mohon untuk ditunggu pulang, andaikan Rain pulang dengan sopir Dinda pasti kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Hampir setiap jam prakteknya selesai, Hima selalu mengunjungi Rain. Dua hari berlalu setelah operasi,Rain tidak pernah benar-benar siuman. Tapi Hima dengan sabar tetap menantinya.


" Rain bangun Rain..." Panggil Hima,suaranya seolah adalah keputusasaan, Dinda terkadang juga tidak sampai hati. Ia tahu betapa lelahnya seharian Hima lelah bekerja, kadang ia juga menangani beberapa operasi dengan durasi waktu yang lama secara berurutan di hari yang sama, Dinda justru takut Hima ikut sakit.


" Him, Kakak tau kamu khawatir, tapi alangkah baiknya kalau kamu istirahat. Kak Dinda pastiin kalau Rain siuman kamu orang yang pertama Kakak kasih tau." Hima tidak bergeming,ia tetap duduk di samping Rain, terkadang ia hanya datang untuk membaca doa atau sekedar mengaji dan bersembahyang di sebelah ranjang pesakitan Rain dan terkadang ia berdiam diri begitu lama. Pernah juga ia melihat Hima meneteskan airmatanya, seolah ia dirundung rasa bersalah yang begitu dalam.


Selain Hima tentu orang yang sangat sedih adalah Dinda, kakaknya. Ia tidak menyangka beberapa musibah harus datang secara beruntun. Setelah beberapa hari Alika pulang dari rumah sakit ia kira tidak akan menginjakkan kaki ke rumah sakit ini lagi, ternyata salah. Ternyata sekarang giliran Rain. Dinda yakin Rain anak yang kuat, sebelumnya ia tidak pernah sakit sampai dirawat inap. Ini kali pertamanya ia sakit sampai separah ini. Beberapa jahitan di pelipis dan sikunya serta kakinya yang patah, sampai harus dioperasi karena tulang kakinya harus di pasang plat agar kembali sejajar.


Semenjak orangtuanya tidak ada, Dinda yang menanggung penuh kehidupan Rain. Walau sebenarnya Rain bukan anak yang merepotkan. Rain memang anak yang tertutup dan pendiam,meskipun ia suka sekali bercanda. Dinda penasaran kenapa sampai bisa ia tertabrak motor begitu saja, Dinda curiga Rain masih sering tidak fokus karena ia belum bisa melupakan Shaka.


***


Luna berlari melewati koridor Rumah Sakit yang terasa begitu panjang, beberapa hari ini Handphone Rain tidak bisa dihubungi, hingga akhirnya ia nekat mendatangi kantor Rainaya, benarlah sudah ternyata rekan kerjanya memberitahu kalau Rain kecelakaan. Buru- buru Luna datang ke Rumah Sakit dan mendapati Dinda sedang menunggu Rain. Seketika itu Luna langsung menangis,semua kecemasannya tumpah ruah,Dinda yang kaget melihat kedatangan Luna langsung memeluk Luna,ia berusaha menutup mulut,ia takut suaranya membangunkan Rain yang sedang istirahat.


" Doain Rainaya ya Lun." Bisik Dinda penuh pasrah. 


Luna mengeluarkan Handphone dari tasnya,ia memperlihatkan terakhir chat whatsappnya dengan Rain.


Barusan gue ketemu Kak Angell,kakaknya Shaka.


Seketika itu juga Dinda langsung naik pitam. Rupanya ini yang membuat adiknya menjadi terbaring lemah tidak sadarkan diri, tapi ia berusaha  menepis semua prasangka buruk itu. Ia takut juga prasangka buruknya benar-benar nyata.


" Pernah Rain cerita kalau Angell berusaha ngejodohin Shaka sama cewe lain. Padahal udah jelas-jelas Shaka ini punya Rain." Dinda tidak menyangka kalau sepelik itu hubungan percintaan adiknya. Jika tahu betapa terinjaknya Rain selama ini,sudah dari dulu Dinda menyuruhnya untuk putus. Dinda selalu mendamaikan dua orang ini saat bertengkar,yang sekarang ia sesali.


"Shaka juga sering nyik..." Luna sadar ia berbicara terlalu jauh, ia takut Dinda mengetahui semua kelakuan busuk Shaka yang selama ini ia tutupi dari kakaknya.


" Maksud kamu apa Lun?"


" Maaf Kak,aku gak mau ngedahuluin Rain buat cerita." Luna memohon,seketika itu juga Dinda menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka segelap ini kehidupan Rain. Mentang-mentang Rainaya yatim piatu,semudah itu orang menyakiti hatinya. Pantas saja beberapa kali ia mendapati luka biru menguning di bawah matanya atau disudut mulutnya,rupanya ini perbuatan Shaka,orang yang paling Dinda percaya. 


" Aku tadi kepentok." Rain selalu mengelak jika Kakaknya menanyakan luka-luka di tubuhnya yang tidak wajar. Terakhir ia juga melihat adiknya sering hilang kendali jika panik. Tangannya bergetar dan tubuhnya menggigil. Jangan-jangan sebenarnya Rain sedang dalam keadaan depresi yang berat dan butuh pertolongan. Buru-buru Dinda mengambil Handphonenya,ditelponnya Shaka,tapi nomor handphonenya sudah tidak aktif.


"Pengecut! Kalau sampai Rain kenapa-kenapa, Kakak obrak abrik kantornya Lun!" 


" Tiap aku nasehati dia pasti jawabannya sama. Dia pasti berubah. Tapi dia itu dajjal kak,mana mungkin berubah. 5 tahun dia sembunyi dari kenyataan. Shaka itu gak cinta,dia cuma memanfaatkan!" Dinda makin sesak. Tampak sekali raut wajah Luna yang berkilat kesal. Luna menyadari ini waktu yang tepat untuk Dinda tahu semua beban Adiknya, setidaknya ada orang terdekat yang memahami bahwa Rain sedang tidak baik-baik saja.


Hima mendengar obrolan Luna dan Dinda,lantas mengurungkan niatnya untuk masuk. Hima berfikir,kalau saja dulu ia tidak pergi ke Jerman,mungkin Rain tidak pernah akan bertemu Shaka dan terjebak dalam cinta yang salah. Andaikan Hima lebih bijaksana mungkin sekarang Rain sudah menjadi istrinya, hidup bahagia dengan beberapa anak yang lucu-lucu. Saat ini isi kepala Hima hanya ada Rainaya, cinta pertamanya dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirnya.


***


" Kamu gak kerja?" Tanya Rain.


" Belom,nanti siang. Aku sengaja dateng cepet karna ini malam panjang,lembur. Jadi bisa nemenin kamu dulu." Hima membuka tirai di rumah sakit, agar cahaya di ruangan Rain lebih terang. Tidak lembab dan gelap.


" Sekalian berjemur." Hima begitu perhatian walau sebenarnya Rain tidak mau mengayunkan langkah sedikitpun untuk mendekat ke bayangannya. Rain yang sebenarnya sudah memasrahkan pada takdir jika ia harus dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya. Namun entah kenapa ia meragukan Hima,ia takut Hima akan meleburkan kembali kepercayaannya serupa dengan Shaka.


Padahal baru kemarin Hima merasa Rain sudah kembali,tapi semenjak kecelakaan Rain lebih sering murung. Atau mungkin ia masih butuh waktu beradaptasi dengan keadaannya saat ini. Hima mengambil tissue dan mengeringkan dahi Rain yang basah oleh keringat.


" Kak Dinda belum datang,aku belom diseka. Pasti bau ya." Tentu saja Hima tertawa tipis.


" Mau aku panggilin suster buat bantu kamu?" Tawar Hima.


" Engga mau,aku malu."


" Apa mau aku aja yang..." Mulut Rain sudah siap untuk memarahinya, buru-buru Hima menutupnya.


"Hime." Rain tidak sadar dengan panggilannya. Entah kenapa Hima selalu bergetar jika tanpa sengaja Rain memanggilnya dengan panggilan kesayangannya dulu.


" Apa nanti aku cacat?" Rain berusaha mengutarakan pertanyaan yang beberapa hari ini ia pendam, Rain takut jawabannya mengecewakan.


" Tentu saja kamu sembuh. Setahun ini istirahat saja dulu. Fokus ke kaki,kamu bisa kerja dari rumah."


" Mana bisa, Kak Dinda pasti kesusahan."


Dalam kondisi seperti ini saja Rainaya masih memikirkan untuk bekerja.takut kalau keadaannya yang sekarang hanya akan mempersulit Dinda,padahal perusahaan sedang mulai merangkak ke atas. Selama ini Rain bisa melupakan semua kesedihan-kesedihannya dengan bekerja. Jika sekarang Rain harus melepaskan pekerjaan selama masa pemulihannya entah apa yang akan terjadi.


Tanpa sungkan lagi Rain menatap Hima,ia tau Hima begitu lelah, semalam ia pulang larut. Hima yang merasa sedang diperhatikan menjadi sedikit salah tingkah. Hanya Rain yang membuat dirinya bisa seperti itu. Memang semenjak ia mendengar percakapan Luna dan Dinda, Hima berusaha untuk mengalihkan pikiran Rain. Hima berusaha menghapus lembar gelap masa lalu Rain dan Shaka. Meskipun tidak dipungkiri itu adalah hal yang sangat mustahil. Hima tahu betul siapa Rainaya, ia bukan orang yang sembarangan berganti pasangan. Rain orang yang begitu perhitungan menerima kehadiran seseorang dan begitu berhati-hati untuk meninggalkan seseorang. Ia tahu ada beberapa ketakutan dan kekecewaan masih ia sembunyikan. Hima tahu karena sudah beberapa kali ia melihat Rain hilang kontrol. Kadang tubuhnya bergetar sendiri, tangannya gemetaran atau bahkan keringat dingin membanjiri telapak tangan.


Jika Hima bisa,ia ingin memeluk Rain,ia ingin Rain menangis tanpa harus menyimpan segala bebannya sendiri. Walau terlalu bermimpi untuknya, Hima sadar ia dan Shaka tidak ada bedanya. Namun jika diberikan waktu, Hima ingin menunjukkan bahwa perasaannya beda dengan Shaka. Hima bertanggung jawab atas perasaan mereka berdua. Tidak pernah ada perempuan manapun yang singgah di hatinya, Hima benar-benar kembali. Ketika hari-harinya dipenuhi bayangan Rainaya, ketika semuanya nampak mustahil untuk diwujudkan kembali,waktu selalu berpihak. Dengan segala caranya ia mempertemukan Hima dan Rainaya.


Kedua pasang mata ini beradu pandang,Hima tidak kuasa melihat bola mata indah Rainaya,tubuhnya mendekat,ia mencium kening Rainaya,setitik airmata menetes di cekungan mata Rain. Hima mengusap dengan telunjuknya,dikecupnya bibir Rain,sekujur tubuh Rain seolah ikut bergetar.


" Mesum." umpat Rain.


" Kamu kira kamu gak pernah mesum sama aku?" protes Hima.


"Kamu lupa ciuman kamu waktu mabok?" Rain menutup mulut Hima,ia menepuk dahinya. Rain tidak akan ingat jika Hima tidak mengatakannya. Rasa-rasanya ia sangat malu dan tidak ingin bertemu Hima lagi