
Sebuah ipad hampir saja terlepas dari genggaman tangan Rainaya,karena secara tidak sengaja dua pasang mata itu bertemu. Seorang yang tidak disangka-sangka,hampir satu tahun menghilang seperti ditelan bumi. Ia seolah kembali muncul dari permukaan tanah.Jantung Rain hampir tercekat dan ia takut jika berhenti tiba-tiba. Rain mencoba mengatur pernafasannya, tangan kirinya sudah terasa berdesir. Shaka,ia ada di depan matanya. Terlihat sangat kurus dan begitu lusuh tidak terawat,sejenak mereka saling berpandangan. Shaka tertegun beberapa saat, mungkin ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Rain. Rain menundukkan kepalanya,ia berusaha mengalihkan pandangannya,berusaha untuk berlalu dari Shaka,tapi tangan Shaka begitu lihai menangkap lengan Rain. Rain memandang Shaka begitu tajam, raut wajah tidak suka. Bahkan kilat-kilat api serasa berkelebat di matanya. Shaka menatap nametag yang tergantung di leher Rain.
" Kamu satu gedung dengan Angel?" Tanya Shaka. Rain menyingkirkan tangan Shaka, sebuah tamparan mendarat pedas di pipi Shaka. Untung saja lobby gedung ini sedang sepi. Shaka terlihat kesakitan,pipi kanannya memerah.
"Jangan pernah usik aku lagi!"
" Minta maaflah!" Shaka memotong pembicaraan Rain, Rain tersenyum kecut, ia tertawa sinis.
" Untuk apa?"
" Untuk tamparanmu!" Rain membuang mukanya,secepat kilat Shaka membawa Rain masuk ke dalam pintu tangga darurat,ia menghimpit tubuh Rain tepat di balik tembok. Tangannya memegang dagu Rain,kulit tangan yang sangat kontras dengan kulit pipi Rainaya. Rain mencoba memberontak,tapi tenaga Shaka jauh lebih kuat, Shaka mencium Rain dengan membabi buta dan kasar,Rain mengatupkan mulutnya tanda sebuah penolakan. Tangan kuat Shaka makin mencengkeram pundak Rain,ciuman kasar Shaka lekas turun ke lehernya. Shaka terperanjat ketika ia melihat sebuah kalung berlian melingkar di leher Rain dengan liontin berejakan Hima. Seketika itu juga Shaka menatap jari manis Rain, sebuah cincin melingkar manis berkilauan. Shaka melemas.
Rain tidak ambil diam, ia meninggalkan Shaka,kebetulan sekali pintu lift terbuka, Shaka berusaha menyusulnya tapi terlanjur pintu lift sudah tertutup.
Sampai di ruangan, Rain membuka blazernya, ia merasakan panas di dalam tubuhnya. Serasa terbakar badannya hingga ke ubun-ubun. Diteguknya sebotol Aqua dingin. Nafasnya terengah, ia berusaha mengatur nafasnya. Buru-buru ia masuk ke toilet,dibasuhnya mulut dan lehernya yang tadi diperlakukan kasar oleh Shaka, ia menangis sejadi-jadinya.
Rain menepuk-nepuk kepalanya, Rain ingin melupakan semua yang terjadi siang ini. Entah sudah berapa botol air mineral ia teguk. Rain memijit dahinya sendiri,mendadak ia jadi demam. Hima muncul dari balik pintu, dengan membawa jus lemon dan melon potong yang sudah diberi perasan jeruk nipis. Hima membuka kotak buahnya,dibukanya satu cup plain yoghurt. Ditusuknya melon ke dalam garpu lantas dicelupkannya ke dalam cup yogurt. Tapi ia meletakkan kembali garpunya. Tangannya meraih wajah Rain. Rain berusaha menghindar.
"Liat." Kata Hima penasaran, Hima menyentuh pipi Rain, terasa panas, matanya juga memerah.
" Rainaya,my sweetheart aku memberi kamu kebebasan untuk kerja tapi gak untuk diforsir. Liat nih kamu demam jangan-jangan kamu kecapean."
"Apaan sih,sweetheart. Jijik!"
Hima meringis,menarik nafasnya panjang-panjang. Ia menyuapkan buah melon tadi ke mulut Rain.
" Tadi aku lupa gak bilang,mama bawain ini buat kamu. Abisin,nanti ak anterin obat yah."
"Cuma kena panas matahari,nanti juga sembuh dok." Goda Rain, Hima tidak kuasa menahan gemas, ia mengecup kening Rain, memeluk Rain erat-erat.
"Jangan sakit yah." Pintanya. Rain menganggukkan kepalanya, rasanya ia ingin terus bersembunyi di dada Hima. Sampai Shaka tidak bisa menemukannya lagi.
***
Malam ini Rain mengajak Luna keluar, untung saja Hima ada jadwal operasi yang lumayan panjang. Setidaknya Rain sedikit bebas bergerak. Semenjak pertemuannya dengan Shaka, kepala Rain gampang meledak. Ia menyesap habis orange jus di gelasnya. Sedangkan dihadapannya, Luna sedang menyesap tequilla. Ah....Rain ingin sekali rasanya,tapi ia ingat, pasti Hima akan marah kalau sampai tahu ia menyentuh minuman memabukkan itu.
" Pusing amat sih keliatannya. Mau gak? Ada sedikit perasan jeruk limaunya." Tawar Luna sembari mengerlingkan matanya dan menyodorkan gelasnya. Rain masih diam mematung.
"Tenang,mulut gue kekonci."
Buru-buru Luna menempelkan gelas ke mulut Rain,mau tidak mau Rain meneguknya sampai habis. Dinda terbahak-bahak.
" Malam ini nginep di rumah gue aja,besok gue anter." Luna menambah gelasnya. Sebenarnya Luna merasa ada yang berbeda dengan Rainaya. Rain tiba-tiba mengajaknya keluar, biasanya ia begitu menghindari untuk keluar malam. Luna mencium aroma tidak beres dalam diri sahabatnya. Wajahnya lusuh tidak secerah biasa. Padahal semenjak pertunangannya, ia terlihat sangat berseri dan bahagia.
" Kemaren gue ketemu Shaka." Rain membuka pembicaraan. Tangan Luna mengepal, ditatapnya wajah sendu sahabatnya. Luna makin gemas saat melihat mata berkaca sahabatnya ini benar-benar dibanjiri air mata.
" Gue tampar. Dia meper gue Lun,kasar!" Katanya sembari memperlihatkan kedua telapak tangan. Luna tidak kuasa melihat Rain makin tersedu, dipeluknya tubuh sahabatnya ini. Ditepuknya punggung Rain dengan harapan tangisnya segera mereda.
" Gue nyesel Lun,gak seharusnya ngotorin tangan gue sendiri. Harusnya gue tinggalin aja." Luna berusaha memberi waktu Rain untuk mengeluarkan semua penatnya. Luna menjadi pendengar yang baik meskipun mulutnya ingin sekali mengumpat.
***
Sore ini Rain berjanji untuk pulang bersama Hima. Begitu sampai lobby, mobil Hima sudah ada di sana, ia tidak perlu menunggu lama. Rain tersenyum menatap Hima,begitu pula sebaliknya. Hima menyodorkan segelas coklat panas.
"Awas masih panas." Rain tersenyum, Hima memang paling tahu kalau Rain begitu suka minuman surga macam begini.
" Terimakasih." Ucap Rain sembari menyeruput coklatnya. Kepalanya terasa rileks, Hima terus memandangi Rain.
" Semalem kamu gak pulang?" Pertanyaan Hima hampir membuatnya tersedak. Buru-,buru ia mengambil tissue lantas mengusap mulutnya yang belepotan air coklat.
" A...a...aku tidur di rumah Luna."
" Kok gak bilang?" Tanya Hima datar.
" Kan kamu lagi operasi,aku gak mau ganggu kamu."
" Biasanya lagi operasi juga kan kamu selalu bilang kalau kemana-mana." Rain diam,ia tidak mau memperkeruh suasana. Meskipun sebenarnya ia menyesal.
" Kamu mabuk-mabukan lagi!" Hima berusaha menerka-nerka. Rain semakin terhimpit, ia pun bukan orang yang pandai mencari alasan.
" Dikit doang kok, cuma ngobrol aja, udah lama gak ketemu. Udah ah Hime, aku gak macem-macem kok. Aku minta maaf." Kali ini Hima benar-benar menghentikan mobilnya.
" Emang watak gak akan berubah yah! Mau sampai kapan kamu kaya gini!" Ini kali pertama Rain melihat Hima semarah ini.
" Kamu nuduh aku apa! Aku gak minum setiap hari. Ini sudah lama sekali hampir setahun!" Rain menitikkan airmatanya. Ia menyesal kenapa semalam tidak bisa mengendalikan dirinya. Hima kembali menyetir mobilnya, selama perjalanan mereka saling diam, Rain berusaha menggenggam tangan Hima,tapi dihempaskannya. Untuk pertama kalinya Hima menolak Rain