
Hari ini Rain menjalani 4 meeting sekaligus, di tempat berbeda-beda, jauh-jauh pula. Hampir jam 5 sore ia baru sampai ke tempat kerjanya. Sebuah perkantoran elite di selatan Jakarta dengan 50 lantai. Rain menempati lantai 29, sebuah kantor periklanan yang cukup terkenal dan sedang naik daun.
Diletakkannya tas laptop tepat di atas meja kerjanya, Rain mengambil sebungkus indomie dari dalam lokernya,
" Mam... Boleh minta tolong buatkan. " Rain meminta tolong Imam, OB di kantornya untuk membuat mie goreng.
" Pulang jam berapa lu semalem? " Luna yang masih duduk di meja kerjanya tampak penasaran. Rain hanya diam, ia enggan untuk menjawab, ia ingin melupakan peristiwa semalam. Baginya, ini sungguh memalukan, Rain meremas-remas rambutnya, bagaimana mungkin Hima bisa menemukannya. Begitu luasnya Jakarta kenapa harus Hima yang ia temui. Apalagi dalam keadaan mabuk,dan pingsan pula.
Luna menghempaskan nafasnya, ia paham betul bagaimana sahabatnya ini. Rain memang tidak seramai dirinya, Rain lebih senang hidup dalam kesunyian. Ia menyimpan kehidupannya rapat-rapat, hanya menunjukkan kebahagiaan saja tanpa ingin terlihat sedih di depan orang lain
Rain mengambil garpu dan mulai memakan indomie buatan Imam. Bau harum indomie begitu menyengat, menambah selera makan Rain, seharian ini ia baru minum secangkir kopi dan sepotong kue brownis. Ia menikmati suap demi suap mie gorengnya dan hampir tersedak ketika sebuah pesan WA ia baca. Dari Hima,
R u ok?
Rain mengingat ingat lagi, sejak kapan ia menyimpan kontak Hima. Semalam Hima memang mengantar pulang, tapi Rain merasa dan mustahil memberikan nomor HPnya. Bukankah ia sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Hima. Ia ingin menghapus semua orang yang ada dalam daftar hitam masa lalunya.
Jika saja Hima tau, Rain sempat terpukul dengan kepergiannya ke Jerman beberapa tahun lalu, Hima pergi tanpa menemuinya terlebih dahulu. Rain merasa dicampakkan begitu saja, hari-hari berlalu dengan tangisan dan kekesalan. Hingga Shaka datang memberi warna di kanvas kehidupan Rain yang sudah memutih. Shaka memulas kanvas putih itu dengan penuh warna.. Shaka yang berusaha menampakkan keberadaannya. Shaka yang selalu ingin tahu kabar Rain dan memberikan kepercayaan diri untuk Rain jatuh cinta kembali.
Kepada Shakalah Rainaya meletakkan batu masa depan. Rain selalu membayangkan suatu saat nanti Shaka melamarnya, merajut benang demi benang hidup bersama bahagia selamanya. Tapi semua itu rupanya hanya mimpi manis di siang bolong, karena lambat laun Shaka menampakkan jati dirinya yang sesungguhnya. Shaka pencemburu buta, ia tak segan memaki Rain di depan umum, bahkan Rain pun pernah ditampar, tidak sekali dua kali, seringkali bukan hanya tamparan saja namun diiringi dengan caci maki. Awalnya Rain memang melawan,tapi lama kelamaan ia pasrah. Ia pasrah diinjak-injak harga dirinya. Bukan hanya batinnya yang sakit, fisiknyapun sudah teramat sakit.Shaka begitu temperamen dan kasar. Tapi entah kenapa Rain seperti sudah terjerat dan selalu mencoba berdiri di atas kakinya yang sebenarnya sudah rapuh. Seringkali masalah kecil menjadi besar, seringkali Shaka meninggalkan Rain dan tiba-tiba kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Berulangkali hal itu terjadi hingga 5 tahun lamanya. Berulangkali Rain membalut lukanya sendiri. Hingga akhirnya Rain sadar ia hidup di sebuah hubungan kosong. Ia hidup di antara panasnya api neraka.
"Why me?" Teriaknya dalam doa, hampir seribu kali ia bertanya tapi tidak juga ada jawaban dari semua doa cinta butanya.
Akhirnya Rain memutuskan untuk pergi dari Shaka. Sangatlah mudah pergi dari Shaka,ia yakin Shaka tidak akan pernah mengejarnya. Rain sadar betul setahun ini hubungan mereka sudah hambar. Rain mencium bau kecurangan di hubungan mereka. Shaka hilang.... Bagai di telan bumi. Entah bersama kesibukan pekerjaannya atau dengan wanita-wanitanya yang baru.
***
Malam ini Rain mabuk lagi, bahkan lebih parah dari beberapa hari yang lalu. Beberapa minggu ini Rain berhenti mengkonsumsi obat penenang dari dokter, ia merasa lebih baik minum-minum saja, beban hidupnya seolah sirna dan lenyap sekedipan mata. Hari-hari yang sendiri mendadak ramai, ditemani hingar bingar suasana di dalam club,celoteh orang-orang di dalamnya, gelak tawa bersahutan di dalam gelapnya malam, waktu dimana seharusnya manusia normal terlelap di dalam mimpinya. Memperistirahatkan tubuhnya yang seharian lelah beraktivitas.
Rain merasakan tenggorokannya mulai panas, hingga membuatnya menyerah untuk buru-buru pulang.
Seperti biasa, Rain pulang sendiri. Menikmati perjalanan, melewati gedung- gedung tinggi dan lampu tepi jalan yang berkelap kelip. Rain masih nampak kuat, matanya masih terbuka terang benderang. Sesekali ia menghentikan laju mobilnya, kadang ia termenung atau kadang ia menyeka airmata yang kadang hadir walaupun tidak diundang.
Rain tidak menyadari,ia berhenti tepat di sebuah rumah warna putih,dengan pagar tinggi mengelilingi rumah itu,sebuah pagar semi kayu dan seorang Security penjaga rumah itupun menyadari ada sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah tuannya. Apalagi tamunya hadir di pagi buta seperti ini. Ia mencoba menyelidiki dari kaca luar, seorang wanita kepalanya lunglai di atas kemudi.
Hima keluar dari dalam rumah, tidak lama setelah security nya menelpon. Ternyata ini rumah Hima, ia tidak asing dengan mobil jazz warna merah yang terparkir di depan rumahnya. Ia menggelengkan kepalanya begitu mengetahui wanita yang ada di dalam adalah Rain, Hima menggeser Rain ke sebelah kursi kemudi,dibantu oleh Pak Karman,securitynya. Kemudian ia mengantarkan Rain pulang, ia tidak mau orang di dalam rumahnya khawatir melihatnya memasukkan wanita ke dalam rumahnya, di jam 3 pagi, mabuk pula. Berulang kali ia menengok ke arah Rain,memastikan ia baik-baik saja.
Sesampainya di parkiran apartemen, Hima menggoncang-goncangkan tubuh Rain. Ia sudah tidak secemas kemarin, Hima menerka bahwa mabuk sekarang menjadi bagian hidup Rain. Ia murka, ia marah, ia kesal. Tangannya tak kuasa mengambil botol aqua yang masih berisi setengah dan menyiramkannya ke kepala Rain. Tentu saja Rain kaget dan terbangun. Lebih kaget lagi karena ada Hima di sampingnya.
"Puas! " Hima setengah berteriak. Rain masih tercekat, kepalanya masih terasa berputar-putar. Ia memijit keningnya sendiri,matanya terasa berat untuk terbuka.
" Lama-lama bisa rusak kamu!" Hima tidak kuasa, ia kesal karena sudah 2 kali ia mendapati Rain mabuk semenyedihkan ini, seorang diri pula, tanpa takut akan keselamatannya.
Hima tidak tega melihat Rain yang basah kuyup, apalagi tanpa perlawanan sedikitpun. Dilepaskan sweater yang ia pakai, dibalutkannya ke baju Rain yang basah. Mau tidak mau Hima mengantarkan Rain sampai ke dalam apartemennya. Kondisi apartemen yang hampir seperti kapal pecah, Ia merasa ada sesuatu yang Rain sembunyikan, ia kasihan tapi ia juga marah dengan kelakuan Rain akhir-akhir ini. Sambil menunggu Rain mandi dan berganti pakaian, ia memanaskan susu steril yang dibeli di minimarket apartemen. Hima memberikannya kepada Rain, membantunya minum hangat-hangat agar pengaruh alkohol cepat berlalu. Rain tidak berkata apapun, bahkan ia tertidur pulas.
***
Pagi-pagi sekali Hima sudah meninggalkan Rainaya. Pagi ini ia harus menyelesaikan beberapa operasi yang sudah terjadwal jauh-jauh hari. Rasanya melelahkan harus mengantar Rain pulang dan dilanjutkan bekerja seharian penuh. Sedari tadi Hima hanya mengaduk aduk kopinya, tanpa meminumnya. Berulang kali ia melihat handphonenya, Rain tidak pernah membalas pesannya, tidak pernah mengangkat telponnya, tidak berubah. Rain tampak mengacuhkannya, tapi ia selalu datang di saat mabuk dan secara pelan-pelan menghancurkan hati Hima.
Hima memutuskan untuk langsung datang menemui Rainaya, ia sedikit cemas karena meninggalkan Rain dalam keadaan demam yang cukup tinggi. Buru-buru ia keluar Rumah Sakit tapi baru sampai lobby ia melihat Dinda, kakak Rain. Dindapun menyadari pertemuan yang tidak disangka-sangka ini.
" Hima? "
" Kak Dinda. "
" Ya Tuhan, lama gak ketemu. " Ucap Dinda berbasa-basi.
" Apa kabar? "
" Baik, aku baik. Kamu praktek disini? "
" I.. Iya. Kakak sakit? "
" Emmm engga, nyusul Rain, katanya dia lagi berobat. "
" Kakak masih tinggal bersama Rain?" Hima berusaha untuk menyelidik diam-diam. Meskipun sebenarnya ia sudah tahu Rain kini tinggal seorang diri.
" Aku sudah menikah Him, dia bilang lebih nyaman tinggal sendiri. "
***
Dinda sedang menunggu resep obat, sementara Rain duduk di sebuah bangku panjang di sudut ruang tunggu. Hima menemani di sebelahnya, sedari tadi mereka hanya berdiam diri, kali ini Hima menatap tangan Rain, tangan yang semenjak tadi gemetaran. Hima mencoba menenangkan, tangannya menyentuh punggung tangan Rain. Dingin
" Jangan gugup, aku bukan song joong ki. " Candanya.
" Setahun ini aku sering seperti ini kalau tidak ke Dokter Firman. " Dokter Firman adalah salah satu psikiater di rumah sakit ini. Rumah sakit ini memang cukup lengkap, bahkan untuk konseling kejiwaanpun ada. Hima makin berusaha menutup kecemasan di dalam dirinya, sebenarnya ia memiliki tanda tanya besar,tapi mulutnya sendirilah yang seolah bungkam. Ia tidak ingin Rain semakin menjauhinya jika ia terlihat sangat ingin tahu dengan kehidupan Rain saat ini.
" Dokter Firman? " Hima berusaha meyakinkan lagi, kali ini matanya terfokus dengan cekungan di mata Rain, pupil matanya yang makin menyempit dan tubuhnya yang terlalu mudah untuk gemetaran.
" Mau duduk di ruanganku, kebetulan aku sudah tidak ada praktek. " Rain membisu, ia menggelengkan kepalanya.
" Boleh aku minta tolong? "
" Apa? "
" Menjauhlah " Sebuah kata permohonan ijin dari Rain. Ia ingin menjauhi semua masa lalunya. Ia ingin hidup baru, Rain ingin menjauhi orang-orang yang selama ini hanya memanfaatkan kelemahannya. Rain benci laki- laki pengecut. Bagaimanapun juga Hima yang sekarang, dulu ia pernah menumpulkan hati Rain. Ia tidak akan pernah memelihara kesakitan di dalam tubuhnya lagi. Ia ingin mengenyahkan semua puing di masa lalunya.
Hima saat ini sadar sedang dikuasai oleh rasa bersalahnya 7 tahun yang lalu. Ia bersalah mengapa melewatkan Rain begitu saja. Seharusnya ia bisa selesai pendidikan spesialis bedah toraks dan kardiovaskuler tanpa harus meninggalkan Rain. Seharusnya selain untuk orangtuanya, Hima bisa mempersembahkan gelar Sp. BTKV di belakang namanya,juga untuk Rain. Dulu ketika ia masih menjadi dokter muda, Rain pun pernah hidup bersusah payah dengannya,membuatkan bekal makan siang, menemaninya belajar, sesekali keluar rumah untuk nonton bioskop atau sekedar makan indomie eddy di blok M. Seharusnya Jakarta- Berlin bukanlah suatu pemutusan sepihak atas hubungan mereka yang sedang ranum-ranumnya. Hima menyesali semua itu, tapi rupanya tidak ada celah. Rain telah melupakannya, ia sudah memenggal kisah mereka berdua, tanpa pengampunan sedikitpun.