
Sudah 3 hari ini Rain tidak masuk kerja,tapi walaupun tidak masuk kerja, Rain masih saja sibuk di depan laptop, mempersiapkan presentasi klien untuk minggu depan. Ia menempelkan telapak tangan ke dahinya,Hmmm panas. Diaduk-aduknya laci meja kerjanya, sepertinya ia masih menyimpan paracetamol. Dikeluarkannya semua barang-barang yang ada di dalam laci. Ia sedikit lega,karna satu plastik obat-obatan ia temukan. Beberapa bulan lalu Dinda membawakan untuknya, di setiap obat diberi notes fungsi dan kegunaannya. Bibirnya menyimpul ketika ia menemukan satu strip paracetamol. Rain ingat belum makan sedikitpun. Akhirnya ia menyeduh tiga sendok oatmeal dengan sari kurma,dimakannya sampai habis sebagai pengganjal perutnya yang seharian belum terisi oleh apapun.
Handphone Rain berdering. Panggilan dari Luna, sahabatnya di kantor.
" Putus mah putus aja,gak usah pake sakit segala!" Telinga Rain mendenging. Suara Luna terdengar melengking dan menggema. Rain menjauhkan Handphone dari telinganya. Tangan lemahnya mengusap telinga kanannya. Kemudian ia mendekatkan kembali Handphonenya.
" Cari cowo yang bener! Ini udah kaya orang-orangan sawah,belagu pula. Dan elo masih sakit-sakitan gara-gara dia. GUE GAK TERIMA!" Luna makin meledak-ledak. Rain memijit dahinya, tiba-tiba kepalanya terasa makin nyeri. Sembari mengangkat telpon dari sahabatnya, Rain meneguk sebutir obat. Berharap sakit kepalanya ini akan semakin mereda.
" Lun." Bisik Rain
" Lu tu cantik Rain,pinter,masa milih cowo aja gak pinter,itung udah berapa kali lo ngalah, berapa kali bolak balik ke psikiater! Lo gak gila dia yang gila." Luna semakin menjadi. Mungkin kalau diladenin,kemarahannya ini tidak akan selesai-selesai. Rain tahu betul sifat Luna. Ia mengenal Luna bukan sehari atau dua hari.
Dimatikannya telpon dari Luna,buru-buru ia menonaktifkan handphonenya. Tangannya memegang kursi, tangannya bergetar tak karuan lagi, lebih parah dari hari kemarin. Kali ini nafasnya sesak,dan airmata seakan jatuh tanpa henti. Kemudian ia jatuh terkulai di lantai,ia menangis sejadi-jadinya. Dari kemarin ia berusaha menahan semuanya. Ia selalu mencari penolakan bahwa ia sedang jatuh sejatuhnya. Rain selalu berusaha membohongi dirinya sendiri,bahwa ia baik-baik saja. Tapi nyatanya penolakan itu justru membuat ia makin sakit.
" Why? Why me?" Tangis yang dari kemarin tercekal akhirnya tumpah ruah. Rasanya Rain ingin berlari di tebing jurang yang tinggi,ia ingin lompat sambil berteriak hingga suaranya habis dan nafasnya berhenti.
Dengan posisi tidur bertekuk lutut,Rain masih menangis,matanya yang sipit sudah mulai bengkak. Ketika tangannya menghangat dan tidak segemetar tadi, ia bangkit lalu mengambil kantong plastik, Rain mengambil semua foto-foto bersama Shaka yang terpajang di meja dan dinding kamarnya,baju-baju yang Shaka belikan,oleh-oleh setiap ia dinas keluar kota, beberapa sepatu dan perhiasan pemberian Shaka ia buang. Rain jengah,ia benar-benar ingin membuang Shaka, membuatnya membusuk termakan belatung-belatung sampah.
***
Rain duduk di sebuah kursi putih di salah satu rumah sakit lumayan besar di pusat kota Jakarta. Tangannya memegang kantong plastik berisi beberapa obat dan struk pembayaran. Ia masih menjadi pendiam, ia masih terlihat sangat menyedihkan.
" Wah,tensinya 70/80,rendah sekali. Kurang tidur yah?" Begitu kata dokter yang memeriksanya. Rain hanya tersenyum.
"Ada keluhan lain?" tanya Dokter yang tadi memeriksanya. Rain menggelengkan kepalanya. Tapi bohong. sesungguhnya ada banyak sekali beban yang terganjal di dalam hatinya,tapi bahkan mulutnyapun kelu untuk menceritakan kepada siapapun. Ia hanya bisa terlarut dalam kekosongannya saat ini.
" Sendirian?" Tiba-tiba seseorang menghampiri Rain yang sedang termenung sendiri di sudut Rumah Sakit. Rain menengokkan wajahnya, laki-laki dengan rambut tersisir rapi,memakai jas putih dan Rain mencoba mengernyitkan dahinya.
" Sepertinya silindermu makin parah?"
Rain mencoba membaca name tag yang terkalung di lehernya.
" Astaga Hima?" Ia tersenyum kemudian duduk di sebelah Rain,menepuk bahu Rain.
" Auw" rintih Rain.
" Maaf, terlalu bahagia aku ketemu kamu lagi."
" Terakhir ketemu waktu itu kamu bikinin aku sirop gak manis." Rain bergelak. Hima masih semenarik dulu, teman yang hampir jadi pacarnya. Mereka terpisah karena Hima menghilang tanpa kabar. Tapi ini masa lalu, Rain hampir sudah melupakannya. Hima hanyalah sepenggal kisah usang dimasa lalu,yang sudah tidak berarti apapun untuk Rain.
Entah kenapa Rain menjadi tidak nyaman berada di samping laki-laki ini. Rain berusaha untuk mencari-cari alasan untuk menghindar.
" Maaf kayanya aku harus pulang,sudah sore."
" Rain, boleh aku minta nomor hpmu?" tanyanya penuh pengharapan.
" Ma maaf aku buru-buru, mungkin lain waktu."
Terlihat rona kecewa dari wajah Hima. Tapi ia tidak ingin kelihatan memaksa.
" Boleh kuantar sampai depan?" Rainaya mengangguk, kemudian mereka berdua berjalan beriringan. Rain tampak gugup,ia tidak menyangka akan bertemu dengan Hima dalam keadaan semengerikan ini,dengan wajah yang hampir sepenuhnya awan mendung dan senyumnya yang tak lagi semerekah pelangi seusai hujan.
***
Pintu lift apartement terbuka tepat di lantai 18, dan ternyata ia berpapasan dengan Dinda,kakaknya dan Alika keponakannya.
" Ontyyyyyy." Alika begitu girang bertemu dengan tante kesayangannya. Kedua tangannya sengaja direntang-rentangkan minta dipeluk dan digendong. Alika sedang lucu-lucunya,menuju tiga tahun. Rambutnya dikuncir 2,kulitnya seputih salju dan pipinya bersemu merah. Ia memakai rok payung ala balerina,menggemaskan sekali.
" Darimana lo? Udah kaya mayat hidup, sebentar lagi jadi zombi." Ketus Dinda. Rain menggapai Alika lalu menggendongnya.
" Uhh,berat sekali,ini karung beras?" Canda Rain kepada Alika. Nampak hidungnya kembang kempis.
Rain membawa Alika dan kakaknya ke dalam kamar apartemennya. Apartemennya memang hanya studio,kecil tapi cukup nyaman untuk ia tinggal sendiri. Dinda menggelengkan kepalanya,berantakan sekali, dan matanya terpana pada bungkusan plastik barang-barang pemberian Shaka yang hendak ia buang.
" Jangan buru-buru,bukankah kalian kan udah biasa putus nyambung."
" Kali ini biarkan gue bangun dari mimpi." Kata-katanya terlihat begitu serius dan menyayat di hati Dinda, suara Rain bisa ia dengar kembali. Adiknya bukan patung bisu lagi, ia sudah mampu berkelit lagi.
Memang bukan rahasia lagi jika Shaka ini orang yang keras kepala, terlalu sibuk dalam bekerja, yang ada di kepalanya hanya uang uang uang. Bahkan untuk menanyakan kabar Rainpun hampir tidak pernah. Shaka hanya mengukur kebahagiaan Rain dengan mengunjungi tempat-tempat makan mewah berdua dan memberikan hadiah barang-batang mahal. Beda sekali dengan Shaka yang dulu, Shaka dan Rain yang saling mengasihi. Meskipun dalam kesederhanaan sekalipun. Berulang kali Rain dicampakkan, dan berulang kali Rain bangkit untuk bertahan.
Tidak dipungkiri bahwa Dinda merupakan sosok yang ada di belakang Rain, ia ingin Shaka menikahi Rain. Tapi seringkali keinginan untuk dinikahi justru malah membuat Rain merasa direndahkan Shaka. Shaka yang Rain temani dari nol tapi justru berubah menjadi jumawa ketika semuanya sudah berhasil ia genggam.