RAINAYA

RAINAYA
Tujuh


Rain mengaduk aduk adonan telur dan gula dengan mixer, Dinda yang sedang menyuapi Alika berusaha mengawasi dari belakang. 


"Searah, biar ngembangnya maksimal. " Akhir-akhir ini Rain sedang sibuk belajar membuat kue, lihat saja wajahnya celemotan penuh dengan gula halus.  Dinda hanya geleng-geleng kepala.  Diambilnya tissue basah lalu dibersihkannya wajah adiknya.  Wajah polos di usianya yang hampir 30 tahun.  Rain memang cantik, wajahnya yang bersemu oriental warisan dari orangtuanya. Banyak laki-laki yang mendekat tapi entah kenapa tidak ada satu orangpun yang di sambut oleh Rain.  Dinda sudah sering kesal dibuatnya.  Entah hatinya yang sudah membatu atau sebenarnya hatinya hanya milik Shaka. 


Rain sudah menyelesaikan membuat 40 cupcakes dengan beraneka macam topping dan rasa.  Rasa vanilla dan coklat,  Alika begitu senang, bahkan ia sudah menghabiskan 4 buah dan membuat Dinda naik pitam. 


" Alika kebanyakan gula nanti giginya ompong loh. " Tidak ada ketakutan ditampakkan dari wajah Alika, ia merasa selalu terlindungi karena ada Ontynya yang selalu datang untuk membela. Benar saja Rain langsung menggendongnya,  Alika adalah bayi besar yang selalu digendong-gendong Rainaya. 


Rupanya Rain sudah mulai ceria kembali, ia sukses melewati fase kesunyiannya dengan baik.  Hidupnya kembali berwarna, hidupnya kembali riuh oleh tawa Alika.  Sudah 6 bulan ia tinggal bersama Dinda, merasakan hidup bebas tanpa terpikir harus makan apa nanti, harus bagaimana ia membersihkan rumahnya, semua sudah beres dikerjakan Dinda. Tapi Rainaya sadar,ia harus kembali menjalankan hidupnya tanpa menjadi beban untuk Dinda.  Ia ingin segera mencari apartemen yang baru. Walaupun sebenarnya kantornya sekarang bersebelahan dengan rumah Dinda,  tapi setidaknya Rain tidak selalu ingin membuntuti Dinda. 


" Buat apa pindah? " Protes Dinda.  Jauh di dalam hati Dinda, ia takut Rain tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.  Ia takut Rain kembali mengingat Shaka lagi. Menghamburkan waktunya dengan percuma. 


" Rumah ini terlalu sempit, Alika makin besar, sesak gue harus tidur sama dia. " Rumah Dinda memang teramat kecil, sangat minimalis, hanya ada 2 kamar di dalamnya. Lebih cocok untuk keluarga kecil.  Berulang kali suaminya menawarkan rumah baru yang lebih besar, tapi Dinda menolak,  karena ia sudah suka dengan lokasi rumah ini, yang dekat kemana-mana, dan tentunya dekat juga dengan sekolah Alika. 


" Ya toh nanti lu bakal kesini-kesini juga kan tiap hari. "


" Kasih gue space Kak. " Dinda sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.  Ia sudah tidak mau ambil pusing dengan adiknya.  Rain sudah besar, ia berhak memberi keputusan sendiri untuk hidupnya.  Dinda membebaskan apapun untuk Rain, asalkan tepat pada jalurnya. 


Rain banyak mengubah kehidupan Dinda, kini usahanya semakin maju,  usaha planning party yang ia bangun secara cuma-cuma makin berkembang pesat.  Jika di awal ia hanya mendapatkan project pesta ulangtahun anak-anak, sekarang ia sering mendapatkan project dari perusahaan-perusahaan besar. Ia tidak pernah turun langsung ke lapangan, semua Rain yang handle, dari marketing sampai eksekusi Rain bisa handle sendiri.  Tidak jarang Rain langsung turun ke acara, bahkan ia tidak segan-segan membantu teknisi dekorasi.  


***


Dinda didaulat khusus untuk memotong pita peresmian kantor barunya.  Rupanya terlalu singkat untuk Dinda dan Rain mengepakkan sayap mengembangkan bisnis party organizernya.  Hampir semua koleganya mengirimkan karangan bunga dan berbagai macam hadiah.  Rain memutuskan untuk menyewa satu lantai di sebuah gedung megah di pusat Jakarta.  Kantor ini terkonsep dengan sempurna, dengan sekitar 20an pegawai. Memiliki desain interior yang begitu modern kekinian.  Dinda tidak menyangka perkembangan bisnisnya akan sepesat ini. Sebuah acara syukuran yang lumayan mewah didatangi oleh beberapa koleganya.  Hari ini Rain terlihat lebih segar, walaupun ia bermake-up sangat tipis. Kantornya ini bernuansa handcrafted, dari ruang receptionist, ruang penerima tamu sampai ruang meeting bernuansa coklat kayu.  Ruang karyawan tidak seperti kantor kebanyakan, hanya sofa bersandar yang melingkar, tanpa sekat, tidak ada PC, semua mempergunakan laptop milik perusahaan, ada beberapa ruang entertaiment yang bisa dipergunakan agar karyawan di sini terhindar dari kejenuhan. Rain ingin karyawan di sini kerja santai tapi tetap serius. 


Rainaya tidak cukup puas dengan hari ini, ia harus cepat menyelesaikan beberapa portofolio untuk meeting dengan klien besok.  Kabarnya calon kliennya ini adalah sebuah Bank yang cukup besar yang akan melakukan rangkaian pesta ulang tahun.  Rain sangat bersemangat, ia turun ke lantai lobby dengan membawa tas laptopnya.  Ia butuh sendiri untuk menyelesaikan deadlinenya sambil minum greentea latte.  Di lobby gedung ini ada kedai kopi yang cukup terkenal, merupakan sebuah keuntungan karena Rain suka minum kopi.  Tapi kali ini ia memilih minum greentea latte yang manis dengan whiped cream yang pekat. 


Rain hampir tersedak ketika sedang meminum greentea lattenya ada seseorang yang dilihatnya.  Ia terbatuk-batuk dan menjadi pusat perhatian,  buih whiped cream yang menempel membentuk garis lurus di atas bibirnya, ia terlihat sangat menggelikan. 


Rain melihat Hima, orang yang ingin sekali ia hindari, tapi ketidaksengajaan mempertemukan mereka kembali.  Kali ini Hima tidak seagresif kemarin, bahkan ia seolah tidak melihat Rain,  dan entah mengapa hati Rain seolah bergetar, jantungnya berdegup tidak seperti biasanya. Berdesir kencang dan terasa sedikit nyeri menyesakkan. Hima berlalu begitu saja, Rain mencoba melihat sekelilingnya, di lihatnya di seberang jalan sebuah plang besar bertuliskan nama rumah sakit milik swasta elite yang sudah cukup tersohor.  Sepertinya ia akan sering bertemu Hima lagi. 


***


Hima menyadari keberadaan Rain, tapi ia tidak menampakkan dirinya,  Hima tidak ingin mendesaknya cepat-cepat.  Beberapa bulan lalu ia sudah permisi untuk dilalui begitu saja. Hima menghormati keputusannya, lebih baik ia pura-pura tidak melihatnya walaupun sebenarnya ia ingin tertawa lebar karena mungkin ini adalah pertanda bahwa waktu mempersilahkan mereka bertemu kembali.  Mempersilahkan Hima untuk merekatkan kembali jarak di antara mereka dan menyatukan kembali mahligai jingga yang sementara waktu tertutup oleh awan kelabu. 


Rain risau berulang kali ia menatap meja yang ada di sebrang, seorang pria sambil memegang gelas es americano. Ia tampak duduk sambil membaca buku tebal. Rain mengamatinya dari jauh.  Ia menatap cermin yang ada di sudut ruangan. Wajahnya terpampang nyata, ia bukan setan yang tidak terlihat.  Mustahil Hima tidak melihatnya, ia duduk langsung berhadapan dengan pintu masuk.  Tapi kenapa Hima melewatkannya begitu saja?