
Aku memperkenalkan waktu pada ruang sepiku. Tentang segala carut marut dunia yang menguasai titik beku relungku. Aku mengemas sendiri rasa kecewaku, melipatnya menjadi segi empat kecil yang kuselipkan di bawah bantalku. Ia memang sudah tidak pernah datang lagi, meskipun sulit dipungkiri kadang ia menyelinap menjadi mimpi buruk.
Aku sadar ada kalanya hidup dikuasai titik jenuh, ada kalanya hidup ingin kubenamkan dan tidak kubiarkan kegagalan masa lalu meronta kembali. Tentang janji indah sepasang burung merpati di masa putih abu-abu. Tentang kisah cinta di bawah pohon palem SMA. Sepasang muda mudi yang bertukar es krim merayakan kelulusannya.
" Kamu harus masuk kedokteran!" Kata Rain penuh semangat. Matanya berharap penuh binar, sosok yang ada di depannya adalah laki-laki yang paling ia kagumi setelah almarhum ayahnya. Hima yang memiliki nilai matematika dan bahasa inggris 10 di ijasahnya.
Laki-laki itu memasukkan cone es krim ke dalam mulutnya, ia berusaha mengusir kegundahannya,sebentar lagi ia tidak bisa melihat Rain sepuas hatinya. Rain memilih untuk masuk kuliah jurusan ekonomi, jauh berbeda dengan Hima. Beberapa kali ia mencuri pandang, beberapa kali Rain memergokinya.
" Kita masih bisa ketemu kan?" Tanya Hima. Tentu saja Rain mengangguk penuh semangat. Sudah lama Rain menyukai Hima, perasaan yang lebih dari sekedar teman biasa. Bukan hanya Hima sebenarnya yang gelisah Rainpun sebenarnya gelisah, takut tidak bisa bertemu dengan Hima lagi.
Tangan Rain gugup, sedari tadi Rain berusaha menahan kegugupannya, sepanjang jalan ia diam. Hima yang sedang menyetir disebelahnyapun tau pikiran Rain tidak karuan. Hima berusaha membangunkan Rain dari lamunannya, Rain terhentak. Ciiiiiitttttttt Hima mendadak mengerem laju mobilnya, untung saja jalanan sepi.
" Kamu kenapa?" Tanya Hima,kali ini ia tidak sabar menanti jawaban Rain. Tapi Rain masih diam.
" Kalau kamu belum siap, kita tunda aja makan siang sama mama papaku." Siang ini Hima memang berencana ingin mengenalkan Rain dengan kedua orangtuanya. Sekembalinya dari Berlin dan sejak pertemuan pertama dengannya, Hima memang bertekad memiliki Rain untuk selamanya. Ia tidak ingin memiliki Rain untuk sementara waktu, ia ingin memiliki dan menjaga Rain untuk selama-lamanya.
" Ja ja jangan,kan kita udah janji." Tolak Rain.
" Habis kamu kaya gak seneng." Hima sedikit emosi, nada bicaranya makin meninggi. Rain memegang pundak Hima, berusaha meredakan amarahnya, kepalanya sedikit serong bersandar di bahunya. Rain memejamkan matanya, ia menangis, pelan tapi pasti. Hima semakin tidak bisa menguasai keadaan ia menarik nafasnya panjang-panjang.
" Aku gak maksa,kalau kamu belum siap." Nadanya melirih, yang justru membuatnya ingin menangis kencang. Dihapusnya airmata yang menetes di pipi Rain.
Rain menangis bukan karena mengingat Shaka kembali, ia ingat masa lalu mereka berdua. Rain tidak menyangka butuh 7 tahun untuk mereka kembali lagi, setelah luka demi luka ia semai. Meskipun Hima bertanggungjawab dengan penuh atas luka itu,meskipun belum sepenuhnya bisa ia sembuhkan.
***
Rumah Hima sangat sederhana untuk ukuran sebuah keluarga pasangan dokter senior ternama, kedua orangtua Hima adalah dokter yang cukup terpandang. Ayahnya seorang dokter jantung,ibunya seorang dokter gigi, Tapi tidak seperti rumah tinggal dokter kebanyakan, mereka memilih sebuah rumah minimalis yang sangat asri dipenuhi tanaman-tanaman hijau dan kicauan burung sebagai tempat tinggal. Suatu siang yang landai mendung di hari Minggu, Hima menggandeng masuk Rain ke dalam rumahnya. Rain pernah beberapa kali diajak main ke rumah ini untuk mengerjakan tugas kelompok semasa sekolah dulu , tapi rumah ini serasa asing kembali untuknya. Di ruang tamu ada beberapa foto keluarga dan sebuah pot daun monstrea yang besar. Rain takjub, membuatnya semakin rileks. Tidak lama kemudian muncul seorang wanita, mungkin umurnya sudah setengah abad lebih, tapi gurat kecantikan masih berbayang di wajahnya, ia adalah ibu Hima. Seorang wanita yang sudah melahirkan Hima ke dunia ini. Senyumnya begitu teduh, gerak badannya begitu luwes, ia memeluk dan menjabat tangan Rain, Rain membalas dengan ciuman tangan tanda hormat. Sangat intim untuk pertemuan pertama mereka.
"Ini pasti Rainaya." Tebaknya.
" Iya Tante."
" Masuk sini, Tante masih masak ini." Buru-buru ia kembali ke belakang.
"Tante, boleh Rain bantu?" Tawar Rain. Hima langsung melotot, matanya melotot menuju kakinya. Hima seolah memberi isyarat bahwa kaki Rain belum cukup kuat untuk berdiri lama. Tapi bukan Rain kalau tidak jumawa, ia segera menyusul langkah kaki Ibu Hima. Seperti anak kucing yang setia mengikuti induknya.
***
Cukup mudah untuk Rain beradaptasi dengan keluarga Hima, suara kelakar mereka sampai terdengar di halaman depan rumah. Sebelumnya Rain menaruh rasa gelisah, ia takut orangtua Hima tidak menerimanya sebagaimana dulu keluarga Shaka menolaknya mentah-mentah, tapi rupanya perasaan itu luntur dan mengalir hilang begitu saja. Terlalu mudah untuk akrab dengan orangtua Hima . Ia bahkan sudah membantu Tante Alya, ibu Hima untuk memotong labu dan brokoli. Meskipun Tante Alya sibuk, ternyata ia selalu meluangkan memasak untuk suami dan anaknya. Rain semakin kagum, pantas saja Hima begitu menawan, rupanya ia dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita hebat.
" Rain kapan dong kita boleh main ke rumah." Tiba-tiba ucapan Om Handoko, ayah Hima memecah lamunan Rain. Tidak menyangka Ayah Hima akan secepat ini merespon kehadirannya.
" Emmm, kapan, kapan aja juga boleh" katanya tersipu malu, Tante Alya yang ada di sebelahnyapun mengusap bahu Rain. Senyumnya begitu merekah, membuat teringat Ibunya yang sudah pergi mendahuluinya, memenuhi panggilan Tuhan.
" Tapi sebelumnya Rain minta maaf,karena Rain tinggal bersama Kakak perempuan Rain satu-satunya. Mama Papa sudah gak ada." Hening menyelimuti ruangan ini.
" Mereka sudah di surga, sebagai gantinya, Mulai sekarang Rain boleh anggap kami orangtua." Om Handoko terlihat begitu baik, rasanya Rain ingin memecah tangis disini. Tapi ia mencoba menahannya, tiba-tiba tubuh mungil beraroma greentea dan melati memeluknya,sangat hangat, Tante Alya memeluknya, Rain semakin tidak kuasa melawan pertahanan dirinya. Hima yang ada di depannya terlihat sangat khawatir, ia tidak mau Rain menjadi sedih.
" Udah-udah kok jadi gini, kan kita mau senang-senang. Dimakan buahnya dulu Rain." Sebuah piring berisi potongan buah melon dan semangka disodorkan oleh Om Handoko, Rain menerimanya dengan sukacita.
Sebuah pertemuan yang direncanakan oleh Hima, Rain tidak menyangka prosesnya akan secepat ini. Tidak penuh jalanan kerikil seperti kisahnya bersama Shaka. Tuhan seolah mengamini doa Rainaya, ia memberi jalan penuh dengan berbagai kemudahan. Di sepanjang jalan menuju pulang ke rumah Rain tampak gelisah. Berulangkali ia merubah posisi duduknya, mulai dari miring ke kanan, miring ke kiri, bersandar dikursi, sampai duduk tegak. Hima memperhatikan kelakuan Rain,tangannya berusaha menyangga bahu Rain.
" Duduklah yang santai,rileks." Hima berusaha membetulkan posisi duduk Rain. Rain menghempaskan nafasnya panjang-panjang. Dilihatnya titik-titik air di jendela mobil, rupanya rintik gerimis menerjang. Rain menengadahkan kepalanya,langit begitu gelap. Nyerrrr tiba-tiba kaki kirinya kram, Rain meringis sambil memegang paha sebelah kirinya, Hima menyadari Rain tidak dalam keadaan baik-baik saja,ia menghentikan laju mobilnya.
" Kenapa?" Hima memegang tangannya yang sedang memegangi pahanya. Tangan kanan Rain berusaha menggapai tangan Hima, tangannya meremas lengan Hima.
" Kram." Rintihnya.
" Lurusin kakinya." Perintah Hima. Rain berusaha melepas sepatu slip onnya dan meluruskan kakinya.
" Bolak balik aku bilang kan,gak usah tegang,rileks, kaki kamu belum sembuh betul. Lagian kenapa sih? Omongan mama papa gak usah dipikirin." Rain membisu, Hima masih terus menatap Rainaya, tangannya dengan lembut mengangkat pelan dagu Rain, wajah Rain yang terang-terangan meneduh membuat Hima tak kuasa menahan amarahnya. Hima tahu betul bagaimana perasaan Rain saat ini.
" Maafin aku ya." Suara Hima melembut, Rain serasa diterjang ombak, ombak yang membawa serpihan pasir di hatinya. Rain merengkuh pundak Hima,memeluknya. Di antara rintik hujan Rain melepaskan pelukan yang hampir tujuh tahun diam-diam ia rindukan. Hima mengusap-usap pucuk ubun-ubun Rain.
" Rain, boleh aku minta sesuatu?" Tanya Hima, Rain melepaskan pelukannya, matanya dalam menatap Hima. Ia menganggukkan kepalanya pelan.
" Boleh aku minta,jangan ada laki-laki lain lagi selain aku?" Hima sedikit ragu, ia takut terlihat serakah. Sebenarnya bisa kembali dekat bersama Rain sudah lebih dari cukup, tapi Hima merasa harus melangkah lebih jauh lagi. Ia ingin menjaga Rain sepenuhnya. Kali ini ia tertunduk, hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Semua datang terlalu tiba-tiba, Rain meragu, karena ia merasa masih butuh waktu lagi untuk menyapih luka di masa lalunya. Walau sebenarnya dalam hati kecilnya sangat bersyukur karena Tuhan teramat baik menukar Shaka dengan Hima dengan paket komplitnya.
" Bantu aku lupain dia." Mohon Rain. Hima merasa jantungnya berdesir, refleks ia memeluk Rain dengan sangat erat. Bibirnya mencium kening Rain,dan berpindah ke bibirnya. Ciuman itu semakin dalam,Rain membalasnya. Sebuah ketulusan menyatu diantara hujan gerimis yang syahdu. Mereka berpelukan sangat erat.
" Pasti Rain." Yakinnya. Sementara di luar sana hujan semakin lebat, mengguyur sebagian selatan jakarta. Mengguyur harapan baru di dalam diri Rain, ia berharap air hujan di luar sana membawa pergi semua kesakitan- kesakitannya. Ia ingin menabur benih bunga matahari di halaman hatinya. Membiarkan warna kuning dan hijau menghiasinya. Dan biarkan sinar matahari menjadi penghangat,sesekali mempersilahkan hujan datang, tapi jangan terlalu lama karena ia tidak suka badai.
***
Rain menyapu debu-debu jendela ruang kerjanya dengan kedua telapak tangannya, kemudian ia menatap telapak tangannya yang putih bersinar terkotori oleh debu. Rain terpaku melihat telapak kotor tangannya, sebuah cincin berlapis emas putih dan berlian melingkar di jari manisnya. Cincin pertunangannya dengan Hima, kembali ia menerawang dalam peristiwa seminggu yang lalu. Di hari minggu biru, sebuah pinangan dari seorang laki-laki yang tidak disangka-sangka itu datang. Dengan sebuah tetesan airmata,pipi bersemu merah jambu Rainaya menganggukkan kepalanya, pertanda setuju. Dinda yang ikut tegangpun langsung menghempaskan nafasnya. Sepasang burung merpati diterbangkan tanda pemersatu diantara mereka berdua.
Rain tersenyum, ia mengambil sehelai tissue basah lalu membersihkan tangannya,iapun menyapu kembali jendelanya dengan beberapa lembar tissue basahnya. Sudah sedikit terang, ia tersenyum sembari menatap birunya langit dan tingginya gedung-gedung yang ada disekitarnya. Rain memang suka sekali melihat mobil-mobil yang berderet dan hilir mudik di jalanan ibukota yang riuh dan padat. Telunjuknya dimain-mainkannya di jendela. Samar pandangannya menatap jauh ke depan. Terkadang jalan Tuhan memang tidak pernah terduga, Rain berusaha untuk memahami dan mengerti bahwa keadaan memaksanya untuk kembali ke pelukan Hima. Rain sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya ia sudah benar-benar menyerahkan hatinya untuk Hima.
Sebuah cincin emas putih berlapiskan berlian yang sangat sederhana ia tatap lagi. Cincin ini adalah sebuah janji untuk Hima. Sebuah janji untuk setia seiya sekata dan satu langkah menuju ikatan suci pernikahan. Atau sesungguhnya Rain hanya lari dari kenyataan.