RAINAYA

RAINAYA
Sembilanbelas


Dengan penuh sabar Dinda membasuh wajah Rain dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat. Rain mengerjapkan matanya, dipandanginya adik semata wayangnya,pandangannya kosong, pipinya yang biasa kencang seolah mengendur. Kantung hitam di bawah matanya makin menebal. Kecantikan Rain makin memudar.


"Kak..." ini pertama kalinya Rain memanggilnya kembali. Dindaa sedikit kaget karena sudah lama ia tidak mendengar Rain mengatupkan mulutnya untuk berbicara.


"Sayang." panggilnya parau. Rain memegang kepalanya. Dinda membantu Rain mengangkat sedikit bantalnya. Dinda tidak mampu menahan rasa bahagianya,ia menangis, tangisan itu disusul oleh Rain. Pecah ruah,kedua kakak beradik ini berpelukan sambil tetap menangis. Meskipun demikian,Dinda berusaha untuk menghapus airmata adiknya ini.


"Rain,Kakak mau masalah ini kita ambil ke jalur hukum. Rain mau bantu?" buru-buru Rain menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Rain?" Dinda kecewa dengan penolakan Rain.


" Dia berbahaya Rain, Kakak takut kamu kenapa-kenapa lagi. Biar mereka jera!" Rain diam lagi, Dinda mulai khawatir lagi. Ia takut Rain terlarut lagi dalam suasana sunyinya. Dinda ingin menuruti Rain, tapi dalam hati ia masih menyimpan dendam pada Shaka. Mungkin Angell bisa ia maafkan,tapi Shaka tidak akan pernah sudi ia maafkan. Orang yang dengan tega merampas kebahagiaan Rain, mengoyak adiknya lahir dan batin.


" Rain kita hapus semua mimpi buruk ini yah. Percaya sama Kakak,kita semua akan melindungi kamu." yakinnya. Mungkin jalan terbaik untuk Rain adalah tidak mengungkit Shaka lagi. Ia benar-benar ingin menyembuhkan luka batin Rainaya. Meskipun sangat sulit untuknya bisa ikhlas menerima.


Ternyata Tuhan mengabulkan doa Dinda, meskipun belum seutuhnya kembali seperti semula, sore ini Rain minta untuk dimandikan dan dibersihkan. Dinda mengganti baju Rain, menyisir rambutnya yang sudah panjang sepinggang. Tidak lupa Dinda menyemprotkan parfum beraromakan bunga mawar. Dinda juga mengoleskan minyak aroma terapi beraroma lavender ke dalam tengkuk leher Rain untuk sedikit mengurangi stres. Rain terlihat lebih segar dari biasanya dan tentunya lebih cantik dan enak dipandang mata. Tatapan matanya yang kosong seolah mulai menampakkan bayangannya. Bayangan kerlingan matanya yang berkerlip bintang kejora atau senyuman yang melengkung seindah rinai bulan purnama.


Tidak berapa lama Hima datang, beberapa saat pandangan 3 orang di dalam ruangan ini beradu. Rain masih ingin mengusir Hima,tapi ia tidak enak karena ada Kakaknya disini. Hima tampak berseri, ia sangat bahagia,bahkan ia bersujud di lantai Rumah Sakit,airmatanya menetes,tidak deras,meskipun hanya beberapa titik. Ia sujud syukur, ia bersyukur Tuhan melepaskan doanya secepat ini. Lantas buru-buru ia menyembunyikan sesuatu dari balik badannya. Dinda tertawa melihat tingkah Hima. ia tidak menyangka bahwa sekekanak-kanakan inikah calon adik iparnya.


" Tebak aku bawa apa?" tanyanya meledek,Rain menggelengkan kepalanya ragu. Tadinya Hima tidak percaya dengan pesan singkat dari Dinda bahwa adiknya sudah bangun,tapi Rain sekarang ini benar ada dihadapannya dan ia sudah bisa diajak untuk berkomunikasi. Tidak lagi mengusirnya untuk pergi.


"Jangan bilang siapa-siapa yah!" bisiknya. Kemudian ia mengambil satu cup freshmilk bobba dengan ukuran ekstra large.


"Taraaaaaa." Dinda dan Rain tertawa. Hima tau Rain pasti rindu minuman manis kesukaaannya ini. Sebuah garis senyum tergurat di wajahnya. Hima sudah bersumpah untuk mengambil awan hitam di wajah itu dan secepatnya akan menggantinya dengan pelangi. Cepat atau lambat.


***


Hima mengusap ubun-ubun Rain sampai tertidur pulas. Sebelumnya Hima sangat cemas jika Rain akan mengamuk dengan kehadirannya,tapi entah mukjizat apa yang Tuhan berikan, Rain nampak melunak,ia tidak semengerikan kemarin. Sebelumnya Rain selalu mengamuk jika ia datang,bahkan beberapa dokter menyarankan untuk membawa Rain ke Rumah Sakit Jiwa karena jeritan setiap malamnya mengganggu pasien lain. Hima hampir pasrah, tapi lega karena nyatanya Rain mengalami perubahan yang baik.


Hima semakin bermantap hati untuk segera menikahi Rain. Ia ingin menjaga Rain sepenuhnya, tidak akan ia biarkan seorangpun menyakitinya. Walaupun ia rasa ini terlalu cepat,karena kejiwaannya belum sembuh benar.


Tiba-tiba Rain terbangun dari tidurnya,ia terhenyak, dahinya penuh dengan keringat.


"Tolong." teriaknya, Hima segera meraih Rain, ia merasakan degup jantung Rain yang teramat kencang. Tangannya mengusap punggung Rain, Rain semakin tenggelam di dada Hima. Tangannya terasa amat dingin. Hima menggapai segelas air putih dan memberikannya pada Rain.


" Ada aku sayang." kata Hima menenangkan. Ia masih memeluk Rain. Rain termenung, ia menyadari, andai saja ketika Shaka datang ia bisa berteriak mungkin Shaka tidak akan kelewat batas. Andai ia bisa memberontak dari Shaka mungkin ia tidak akan memelihara luka batin sedalam ini. Andai ia bisa mencegah semua,pasti Shaka tidak akan selalu hadir di setiap malamnya dan menjelma menjadi mimpi buruk.


Hima memandangi Rain lantas mencium kepala Rain. Genggaman tangannya makin ia eratkan. Ia tahu saat ini Rain butuh perlindungan, Hima ingin Rain melupakan segalanya. Hima ingin Rain meninggalkan Jakarta dan puing-puing masa lalunya.


***


Rain memandangi tangannya yang lembab dan sedikit berkeriput. Berulang kali ia mengerutkan dahinya,dan berulang kali tangannya mengambil hpnya. Ia mencari-cari daftar produk kecantikan pengencang kulit di berbagai aplikasi marketplace. Saking sibuknya sampai tidak sadar seseorang berada di sampingnya. Tangannya langsung mencubit dahinya yang berkerut seolah berpikir keras.


Rain sedikit kaget, hampir saja ia bangun dari tempat tidurnya. Rupanya Hima ada di sebelahnya.


"Aku baru aja visit ke kamar sebelah, pasienku." katanya memberi tahu, Rain manggut-manggut. Diam-diam Rain mencuri-curi pandang di layar HPnya, sepertinya ia malu terlihat begitu berantakan. Hima menyadari gerak gerik Rain,ia mengambil ponsel dari dalam saku jas putihnya.


" Ayo kita foto." sontak Rain langsung mengambil HP Hima,ia tidak ingin muka buruk rupanya itu diabadikan dalam Handphonenya.


Hima tertawa puas karena berhasil membuat Rain kesal.


"Rainaya Wijaya,apapun adanya kamu pasti aku akan di samping kamu. Kamu denger ini kan?" yakinnya, pipi Rain bersemu merah. Hima tidak menyiakan waktu,ia mengecup pipi Rain sangat lama sembari mulutnya bergumam mengecap sebuah ciuman. Lantas disusul lagi dengan sebuah kecupan.


"A...a....aku." Rain terbata,buru-buru Hima menempelkan telunjuknya di bibir Rain,seolah tidak ingin Rain mengucapkan sepatah katapun. Sekali lagi Hima mengecup kening Rain,kali ini sangat lama. Rain merasa cintanya mulai tumbuh lagi, meskipun sebenarnya ia sudah tidak bisa percaya lagi kepada laki-laki. Rain takut Hima akan menyakitinya,sebagaimana yang telah Shaka perbuat. Rain takut Hima menghilang seperti 7 tahun lalu. Rain ingin cinta yang utuh. Rain menginginkan cinta yang selamanya.