
Sudah habis cara Dinda membujuk Rain untuk kembali menjalin hubungan dengan Hima. Hima laki-laki yang baik, Dinda yakin Shaka pun bukan tandingannya. Belum lagi dengan masa depan Hima, orangtua Himapun merupakan orang terpandang di Jogja, tempat asal kedua kakak beradik ini. Memiliki satu rumah sakit penyakit dalam ternama, seorang dokter berkelas, sama seperti Hima. Hima memang sangat memukau di mata Dinda. Dinda yakin kembali hadirnya Hima merupakan jawaban dari Tuhan, bahwa Rain berhak bahagia lagi.
Sudah satu minggu ini Rain tinggal di rumah Dinda. Ia merasa hidupnya lebih teratur,Rain lebih senang menghabiskan hari-harinya bersama Alika. Tiga hari yang lalu ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantornya. Rain benar-benar ingin melupakan kehidupannya yang dulu, tentu saja orang yang paling sedih dengan keputusan pengunduran dirinya adalah Luna, teman sebelahnya.
" Gue pasti bakal kangen. " Rengek Luna.
" Lebay, gua di jakarta, kita masih bisa ketemu. Kalau usaha gue maju, bantuin yah. "Mohon Rain.
Rain memang berencana untuk menjadi pengusaha, usaha kecil-kecilan. Rain ingin membantu kakaknya mengelola bisnis dekorasi pesta. Sangat ironis bukan, Rain yang bekerja di perusahaan periklanan nomor satu tiba-tiba memutuskan untuk berdiri di kaki sendiri. Dinda tidak keberatan dengan keputusan Rain, ia justru bahagia siapa tahu usahanya ini semakin maju dengan bantuan Rainaya. Apalagi adiknya ini memang termasuk anak yang penuh ide, kreatif dan pekerja keras. Dinda bangga dengan Rain yang semakin bangkit, tidak seperti kemarin, sekarang ia terlihat penuh semangat.
Semalam Rain juga membuang semua obat penenang semasa berobat dengan dokter Firman, Rain ingin mengobati depresinya sendiri. Rain sadar hanya dirinya sendirilah yang bisa mengobatinya,bukan orang lain. Dengan menjadi orang yang bahagia Rain yakin bisa sembuh dari penyakit kecemasan berlebih yang datang semaunya itu. Rain bahkan sudah terlihat lebih segar dari biasanya, Rain menikmati hari-harinya. Ia berusaha untuk melepaskan benang-benang kusut di dalam dirinya sendiri. Memisahkannya selembar demi selembar, meskipun sulit tetapi Rain menjalani semuanya dengan perlahan meskipun sebenarnya ia ingin memberontak dan ia ingin marah kepada Tuhan. Di ambang kedewasaannya ia justru ingin menepi dengan santun.
***
Hima masih duduk di ruang kerjanya, hari ini pasien tidak seramai biasa, ia duduk termangu masih memandangi foto. Siapa lagi kalau bukan Rain, foto candid yang diambil 7 tahun lalu. Rain yang cantik, Rain yang hidungnya bersemu merah kalau makan pedas. Rain yang tampak menggemaskan dengan senyumannya yang kembang merekah, dengan dua lesung di pipinya.
" Huahhhh pedes. " Rengeknya manja, Hima menatap semangkuk bakso lengkap dengan mie kuning dan potongan daging berlemak. Dilihat kuahnya begitu merah, sendoknya mengambil sedikit kuah di mangkok Rain. Lalu menyicipinya, lidah Hima seakan terbakar, anak ini benar-benar keterlaluan. Sering Hima memarahinya karena terlalu banyak makan pedas. Hima berusaha mengambil mangkuk Rain.
" Ini kan punyaku. " Rain berusaha melakukan penolakan dengan mencubit tangan Hima.
" Bisa sakit lambungnya. "
" Ya tapi kan enak. " Rain begitu polos dan membuat Hima tak kuasa menahan tawa, Hima lantas mengacak-acak rambut Rainaya. Rain memang sosok yang menyenangkan untuk Hima, seringkali ia tertawa mengingat semua tingkah kekanakan Rain. Mereka memang tidak berpacaran, tapi mereka saling memahami bahwa mereka adalah dua sahabat yang disesatkan karena jatuh cinta.
" Aku kan udah bilang gak usah ditungguin. "
" Gak papa mumpung aku gak jaga di rumah sakit. "
" Liat matanya kamu udah kaya mata panda. "
Mengenang masa itu adalah mengenang masa tertatih-tatih ia mencoba hidup mandiri dengan berbekalkan pekerjaan menjadi dokter umum di sebuah rumah sakit milik pemerintah kala itu. Meskipun Hima anak orang kaya ia tidak pernah bergantung kepada orangtuanya. Ia merangkai sendiri kehidupannya, beruntung sekali ia mendapatkan teman seperti Rainaya. Rainaya yang bersamanya bukan karena materi tapi benar-benar tulus mendampinginya.
Jika perempuan lain lebih senang makan di restaurant mahal dan berkelas, mereka berdua lebih suka makan di restaurant ayam goreng. Jika perempuan lain lebih senang diantar jemput dengan mobil bagus yang ber AC dingin, Rain tidak pernah keberatan jika Hima hanya mengantar jemput dengan mobil sedan lawas yang kadang ACnya lebih sering rusak. Waktu itu mereka begitu bahagia, saling mengisi kekosongan satu sama lain, mengisinya dengan cinta, memberi dengan tulus, sederhana tapi sangat mengesankan.
Rain perempuan yang pekerja keras dan cerdas meskipun kadang ia terlihat kekanakkan. Ia bukan perempuan yang memohon-mohon untuk mengemis perhatian. Padahal sejak umur 16 tahun Rain sudah kehilangan Ayahnya, dan 3 tahun berikutnya Ibunya pun menyusul. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah atas, ia menjadi seorang anak yang kuat dan berjuang untuk meneruskan kehidupannya. Sejak saat itulah Hima tertarik untuk mendekati Rain, mendekat untuk menjadi sahabat. Tapi rupanya waktu merubah segalanya, Hima mulai merasakan jatuh sejatuh-jatuhnya. Ia merasa jatuh cinta, dan sampai saat ini perasaan itu masih melekat. Berulang kali ia mencoba untuk menjalin hubungan semasa pendidikan internship di Berlin, tapi tidak pernah berhasil. Rain selalu muncul menjadi bayang-bayang nya, hingga tanpa sengaja waktu mempertemukan mereka kembali. Rain berubah menjadi orang yang begitu sunyi dan mengerikan. Bahkan dinding hatinyapun tidak runtuh meskipun berulang kali Hima mengetuknya.
" Rain sepertinya aku akan mempertimbangkan tawaran Papa buat lanjut pendidikan spesialis. " Suatu ketika Hima membuka pembicaraan, pembicaraan yang sebenarnya sangat dihindari Hima, ia takut mengecewakan Rain.
" Kamu mau ambil di UI lagi? " Sepertinya Rain tidak terpengaruh apa-apa.
" Jerman. " Rain menghela nafasnya, setahun ini Hima memang sedang rajin-rajin nya kursus bahasa Jerman. Rain tau, ayah Hima adalah seorang dokter bedah ternama, pastinya beliau juga mempersiapkan anaknya untuk mengikuti jejaknya. Rain tidak begitu kaget dengan kabar
ini, ia justru merasa bangga, dan yakin Hima bisa melewati semua ini meskipun mereka akan berjauhan, mungkin hanya setahun sekali berjumpa,atau tidak akan bertemu lagi sampai Hima menyelesaikan pendidikannya. Rain tidak sampai hati jika melarang Hima untuk pergi, ia tahu betul betapa ia mempersiapkan ini semua dari bangku SMA. Hima selalu tertarik dengan semua hal yang berhubungan dengan Jerman, bahkan beberapa tahun belakangan ia sedang rajin-rajinnya belajar bahasa Jerman. Rain sering memperhatikan dengan beberapa buku yang selalu ia bawa di dalam tasnya.
Tahun-tahun pertama di Jerman adalah tahun yang sulit, karena Hima harus melewati penyetaraan pendidikannya terlebih dahulu. Ternyata lulus S1 kedokteran dan sertifikat bahasa tidaklah cukup, ia harus melewati kenntnisprufung, tes tentang pengetahuan penyakit dalam, penyakit bedah dan selective subject seperti farmakologi, radiologi dan mikrobiologi,dan masih banyak lagi, yang semuanya begitu membuat kepala Hima terasa penuh. Hima mulai lupa, sesaat ia lupa dengan keberadaan Rain. Dan ketika ia rindu, telpon Hima tidak pernah diangkat, lambat laun Rainaya berlalu. Hanya kenangan yang bisa Hima ingat saat itu. Himapun memutuskan tidak pernah pulang kembali ke Jakarta sebelum pendidikannya selesai. Sesekali hanya orangtuanya yang datang menjenguk. Hima hanya ingin fokus untuk bisa cepat selesai menempuh pendidikannya.