
Sudah dua hari ini Hima tidak menampakkan diri, telpon Rain juga tidak pernah diangkat. Rain makin kacau, Rain menyesal dan tidak menyangka akan berbuntut sepanjang ini. Sekali lagi Rain menghubungi Hima tapi tidak pernah dijawab. Sepulang kerja ini Rain sudah bertekad untuk datang ke Rumah Sakit. Rain tidak suka pertengkaran. Sepanjang perkenalannya dengan Hima baru kali ini ia semarah ini.
Dinda memahami betul jika adiknya sedang dalam pertengkaran, ia juga tidak menduga ketika mengetahui Rain menginap di rumah Luna akan membuatnya marah. Tahu akan begini lebih baik Dinda berbohong mengatakan Rain sudah tidur saja,saat tengah malam Hima menanyakan keberadaan Rain pada Dinda.
" Rain tidak ada hubungan tanpa pertengkaran, hadapi. Temui Hima." Dinda berusaha menenangkan adiknya.
" Aku udah jelasin Kak,tapi dia diem. Terus aku harus maksa dia buat maafin aku?"
" Kasih penjelasan. Kakak yakin Hima bakal maafin kamu." Rain diam, matanya menerawang jauh ke jalanan di bawah sana.
Rain melangkah terburu-buru meninggalkan kantornya, di lobby ia berpapasan dengan Angell, terlihat sekali matanya sedang mengawasi Rain. Tapi Rain tidak ambil pusing, apalagi di luar sudah mulai gerimis. Yang ada dipikirannya cuma Hima,ia cuma ingin bertemu dengan Hima. Diambilnya sebuah pashmina yang memang sudah ia persiapkan dari dalam tasnya, ia mengibarkan pashmina di atas kepalanya, diterjangnya rintik hujan yang semakin rapat.
Recepsionist di luar mengatakan bahwa Hima akan lepas dinas di jam 7 malam. Rain memutuskan untuk menunggu Hima di ruang tunggu lobby, sepertinya receptionist tadi juga menghubungi Hima dan mengatakan ada seseorang menunggunya. Rain nampak begitu lelah,matanya teramat cekung, beberapa hari ia tidak tidur, belum lagi rambutnya lepek dan lembab terkena rintik gerimis. Rain menutup mukanya dengan pashmina,ia tertidur.
Hima menyapu habis ruangan rumah sakit dengan kedua matanya. Nafasnya terhempas ketika ia mendapati Rain tertidur pulas di lobby rumah sakit. Walaupun wajahnya tertutup pashmina abu-abu tapi Hima bisa mengenalinya dari sepatu dan tentu saja dari cincin yang melingkar di jarinya. Hima menggelengkan kepalanya,ia membuka pashmina yang menutupi wajah Rain. Pipinya dingin sekali,dahinyapun dibanjiri keringat dingin. Hima yang sebenarnya melunak langsung khawatir, ia mengambil kotak tissue dari meja recepsionist. Ia menyapu keringat di dahi Rain,seketika Rain membuka matanya pelan-pelan. Melihat Hima ada di depannya, Rain menegakkan duduknya,ia menyingkap turun roknya, takut jika ia duduk sembarangan. Hima menggandeng tangan Rain, Rain mengikutinya. Langkah Hima makin cepat, Rain terlihat kesulitan karena ia memakai sepatu berhak,meskipun hanya 3 cm. Hima yang sadar Rain kesakitan berjalan lantas menghentikan langkahnya.
"Pelan aja jalannya." Rain merengek manja. Peluhnya terlihat begitu deras,
Sepanjang jalan Hima masih diam, suasana yang kaku malah membuat Rain kembali tertidur. Hima tidak kuasa memandangi Rain,ia tampak menggigil, keringat dingin kembali membasahi dahinya, Hima memegang tangan Rain,sangat dingin. Ia mulai khawatir, apalagi bibirnya membiru.
"Rain." Kali ini Hima mengalah, ia memanggil Rain pelan, Rain tidak bergeming. Ia mulai khawatir,Hima menghentikan mobilnya lalu mengambil jaket yang ada di jok belakang. Dipakaikannya ke tubuh Rain. Punggung tangannya ditempelkan ke dahinya,sangat dingin
***
Rain kaget ketika ia bangun dan berada di sebuah kamar yang tidak dikenalinya. Kamar bertembok putih dan berseprai putih, semua serba putih,terasa lapang dan bersih. Sebuah foto dengan bingkai yang cukup besar. Foto Hima dan Rain, masih tampak belia, fotonya sengaja dicetak hitam putih, terlihat sangat serasi dengan suasana kamar. Rain kaget karena seseorang muncul dari balik pintu dan orang itu adalah Hima. Rain berusaha mengingat kenapa ia bisa sampai ketempat ini.
"Hime." Kagetnya. Hima datang langsung menempelkan tangannya ke dahi Rain.
" Semalam kamu menggigil,aku khawatir kamu kenapa-kenapa jadi aku bawa kesini. Rumahmu kan jauh. Maaf gak ijin, tapi aku udah ijin ke Kak Dinda." Rain menggapai punggung tangan Hima,dan menaruh di pipinya. Ada kelegaan terpancar di mata Rainaya.
"Maafin aku." Pintanya. Bagaimana Hima tidak meleleh. Rain selalu berhasil meluluhkan pertahanannya.
" Ditunggu mama sarapan."
" Aku gak mau sarapan kalau kamu gak maafin aku." Rengeknya. Hima masih terlihat dingin, menatap Rainpun ia enggan. Tidak lama setelah itu muncul Tante Alya, calon ibu mertuanya.
" Hallo sayang?" Sapanya, tangannya membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam jamur dan segelas susu coklat hangat.
" Gimana Rain? Udah baikan?" Tangan halusnya menggapai kepala Rain, diusapnya penuh kelembutan. Rain seakan terlena dan ingin tidur lagi.
" Diabisin yah, Mama ada janji pagi ini jadi gak bisa nemenin Rain. Gapapa yah,hari ini Hima kan lepas dinas,jadi bisa temenin Rain." Tante Alya mengecup kening Rain, seolah tidak ada batas diantara mereka berdua.
" Iya gapapa kok, terimakasih Tan...eh Ma...Mama." katanya Ragu, Tante Alya tersenyum simpul.
Rain kembali memejamkan matanya, sekujur tubuhnya terasa lemas, ia menyandarkan wajahnya di guling. Tapi belum lama ia memejam, Hima mengagetkannya. Ia duduk ditepi tempat tidur,tangannya mengetuk mangkuk dengan sendok
" Makan." Ketusnya. Rain kesal dengan perlakuan Hima yang kekanak-kanakkan. Iapun bangkit dan berdiri. Hima sedikit kaget,apalagi melihat Rain melepas jaket yang dari semalam ia pakai. Rain melirik ke arah sofa disudut kamar, segera ia ambil tasnya.
"Aku mau pulang!" Kesalnya,ia membanting pintu kamar. Buru-buru Hima mengejarnya.
"Rainaya!" Panggilnya. Rain membalikkan tubuhnya.
"Aku mau pulang!" Desaknya.
" Aku anterin,tapi abisin dulu sarapannya."
Rain sudah merasa kehadirannya tidak ada arti apapun. Hima masih sedingin itu.
Hima membawa Rain duduk di meja makan,ia menyodorkan mangkuk buburnya. Tapi Rain tidak bergeming,ia masih duduk sembari airmatanya terus menetes. Hima tidak kuasa,diambilnya tissue di atas meja lalu dihapusnya pipi Rain yang basah airmata.
" Rain kamu tau kan minuman beralkohol itu tidak baik?" Tanyanya lirih. Rain mencoba mengangkat kepalanya yang daritadi tertunduk,wajahnya sangat memerah dan matanya sudah bengkak.
" Aku gak sengaja..."
" Kamu sengaja karena semaleman itu kamu hilang."
" Aku takut kamu marah." Rain membela dirinya.
" Emang aku marah, aku gak akan melarang kamu keluar, aku persilahkan kamu pergi dengan siapapun. Tanpa alkohol."
" Aku janji ini yang terakhir."
" Aku gak butuh janji." Rain tidak kuasa memendam airmatanya, airmatanya jatuh berhamburan makin lama makin deras,wajahnya sudah merah padam, Hima mendekat,ia memeluk Rain.
"Aku cuma mau yang terbaik buat kamu Rain, aku gak bermaksud memberi pagar di hidup kamu sendiri." Hima makin melemah, ia menghapus airmata Rain, dipeluknya kembali tubuh Rain yang terasa lemas. Tangannya ikut mengusap rambut Rain,bibirnya mengecup kepalanya.
***
Rain mengenakan sebuah kebaya putih yang cantik, dengan design payet yang tidak terlalu gemerlap, namun justru membuat wajah Rain nampak bersinar dan berkilau, sebuah kebaya semi gaun dengan kain parang berbenang emas coklat kehijauan serta ekor yang panjang, Tante Alya memandanginya begitu takjub. Sebenarnya Rain merasa kaku karena ini kali pertama ia pergi hanya berdua saja dengan calon ibu mertuanya.
Siang ini tiba-tiba saja Tante Alya mengajaknya untuk memilih gaun pengantin.
" Ma, nanti aku tanya dulu ke Hima kapan ada waktu kosong." Jelas Rain ketika mengangkat telpon dari Tante Alya.
" Gak usah lagian dia sibuk, Hima pasti nurut apapun pilihan kita." Dengan terpaksa akhirnya Rain mengiyakan ajakan Tante Alya.
Butik khusus kebaya ini memang langganan Tante Alya, sudah berpuluh tahun lamanya. Ia tidak menyangka akan secepat ini, setelah kepulangan Hima dari Jerman, selang 1 tahun akhirnya Hima menemukan tambatan hatinya. Bukan orang baru, karena Hima sudah sering mengelukan nama Rain sejak 6 tahun lalu. Ibu Kinanti pemilik butik ini nampak sabar melayani Rainaya sepenuhnya.
"Kasih kalung yang bagus Al....pasti makin cantik." Katanya sembari menggulung rambut Rain, lehernya yang jenjang putih bersih membuat Ibu Kinan sedikit terkagum. Rain tersenyum simpul. Tapi senyumnya berubah ketika ia melihat Angel disitu, sedang duduk di sofa tunggu. Rain menundukkan kepalanya, pelan-pelan ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah Angel, nampak Angel memandanginya dengan raut mata yang teramat sinis. Rain berusaha untuk menguasai dirinya, ia tidak ingin termakan oleh suasana. Ia berusaha tampak biasa saja,bahkan ia sengaja memamerkan senyum teduhnya, dan bergelayut manja pada pundak calon ibu mertuanya.