
Rain mempercepat langkahnya, semenjak keluar dari lift serasa ada orang lain mengikuti langkahnya. Rain tidak berani menengokkan kepalanya ke belakang, dan ketika ia mempercepat langkahnya, bunyi sepatu dibelakangpun serasa makin cepat. Lama kelamaan Rain hanyut dalam ketakutan, mana ia sendiri pula dan malam ini Hima tidak menjemputnya karena ia harus menyelesaikan reportnya.
Rain menolehkan kepalanya, ia memberanikan menengok kebelakang dengan seluruh nyalinya. Rain hampir menjerit karena ia melihat Angell berdiri di belakangnya. Selama ini ia selalu menghindari berpapasan langsung. Selain karena hubungannya yang tidak akrab tentu juga karena hubungannya dengan Shaka berakhir tidak baik.
Berbeda dengan Rain yang terdiam, Angell justru terlihat seolah ingin memakan Rain. Bahkan ia menampar Rain, tamparannya bukan tamparan biasa, melainkan seperti ia kerasukan setan. Tanpa berkata sepatah katapun dan tanpa menunggu Rain berbicara Angell menampar sekali lagi pipi Rain hingga ia hilang keseimbangan karena hak sepatunya terlalu tinggi. Belum sempat Rain bangun,kaki,tangan dan sekujur tubuhnya bergetar. Sama sekali dibenak Rain tidak pernah muncul kekhawatiran bahwa Angell akan berbuat kasar terhadapnya. Angell bahkan mencekik leher Rain dengan kedua tangannya.
"Pembawa sial!" Teriaknya memecah keheningan gedung yang memang sudah sepi dan entah mengapa tidak ada satu securitypun di sini.
" Kak Angell..." Rintihnya, Rain hampir kehilangan nafasnya, Angell hampir mengendurkan cekikannya tapi tiba-tiba muncul seorang laki-laki dan berteriak.
"Kakak!" Samar-samar Rain melihat wajah seorang laki-laki,Shaka. Angell semakin hilang kendali bahkan ia menarik rambut Rain dan membenturkan kepala Rain di lantai. Darah seolah berhamburan di lantai. Shaka berlari dan segera melepas cengkraman tangan Angell dan justru ia menampar Angell. Angell menangis sejadi-jadinya, malam ini dengan beringasnya ia mendatangi wanita ini untuk membela adik satu-satunya, tapi justru inilah pertama kali ia ditampar adiknya sendiri.
Sementara itu Rain merasakan telinganya berdenging kencang, tangan dan sekujur tubuhnya melemas. Ia berniat menelpon Hima, tapi tangannya sudah tidak kuasa, ia seolah melayang-layang dan jatuh tidak sadarkan diri.
***
Hima berlari menuju ruang 202, sekali lagi ia berlari menggapai Rain di rumah sakit, hampir sama seperti waktu Rain tertabrak mobil setahun lalu. Hima mencemaskan luka di kepalanya. Baru saja Dinda menelponnya, hampir seperti orang kesurupan, ia menjerit, jelas ini membuat Hima gugup. Hima menyesal membiarkan Rain pulang sendirian.
Nafasnya masih terengah ketika ia membuka pintu kamar, nampak seorang laki-laki duduk di sebelah Rain, tangannya memegang Rainaya. Hima berdehem, pria itupun berdiri. Ia sedikit lega karena menyangka Hima adalah dokter yang akan memeriksa Rain. Apalagi di leher Hima masih terkalung stetoskop dan tentu saja karena nametag di jas putihnya.
"Dokter." Sapanya. Hima mengernyitkan dahinya, buru buru ia memeriksa luka di kepala Rain. Hima menghempaskan nafasnya.
" Saya calon suaminya. Anda siapa?" Tanyanya, raut wajah Shaka berubah layu seketika, ia menatap Rain. Bukankah ia wanita yang penuh kesetiaan, kenapa belum genap setahun ia meninggalkan Rain tiba-tiba ia sudah memiliki calon suami. Shaka hampir tidak percaya, belum sempat ia menjawab pertanyaan Hima, Dinda yang muncul dari balik pintu mendekatinya. Shaka menundukkan kepalanya,ternyata Dinda malam ini datang bersama Alika dan Alika yang merindukan Om Shakapun langsung berlari dan mendekap tubuh Shaka.
" Om Shaka!" Dinda tidak bisa menahan Alika, Shaka meraih Alika dan menggendongnya. Meskipun beratnya sudah seperti orang dewasa.
" Om kok gak pernah main lagi. Kata Onty, Om udah pergi jauh yah?" Tanyanya begitu lugu. Hima makin bingung, Dinda justru terlihat gugup. ia langsung mengambil Alika dari gendongan Shaka.
"Alika, bentar yah Mama mau ngomong sama Om, Al sama Om Hima aja yah."
"Mama mahhh, Al mau mewarnain lagi sama Om." Eluhnya. Dinda menyesal mengajak Alika ke Rumah Sakit, tapi daritadi ia menempel padanya saja, tidak mau ditinggal.
Dinda membawa Shaka keluar, ia sudah memperlihatkan raut tidak senangnya.
" Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu bisa ada sama Rain?" Dinda memang nampak lebih elegan, tidak sekampungan Angell yang membabi buta. Ia melemas,tidak percaya adiknya masih tercabik oleh luka masa lalunya.
***
Sebuah jalan yang tidak pernah kupilih tapi terlanjur kujalani. Segenggam demi segenggam pasir kutabur sendiri dengan nyata dan penuh sadar. Kubangun sendiri mahligai airmataku. Tidak pernah berharap berlebih, hanya setitik embun menempel disitu. Setetes air jernih yang begitu dingin dan sunyi,menyimpan sebuah harapan,memelitakan kehidupan seorang wanita yang dirapuhkan oleh cintanya sendiri.
Entah memang aku yang sudah tidak mampu atau memang aku terlalu buta,mataku digelapkan oleh haru biru dunia. Ribuan wanita bangkit dari keterpurukan, mengapa bukan engkau salah satu dari mereka?
Sesekali jika sudah terasa berat kucoba untuk menangis,kupelihara lukaku. Aku berusaha bangkit bangkit bangkit meski aku sendiri tidak pernah dan tidak akan pernah tahu seberapa cintamu kepadaku. Aku rindu "selamat pagi" dengan kicauan burung riuh meracau menghiasi lukisan pagi. Atau tanya basa basimu yang menanyakan kabar atau sekedar bertanya sedang apa atau sudah makan atau belum. Bukan permintaan mewah, ini sebuah pinta yang sederhana. Dari sebuah hati yang abu-abu, dari sebuah tanah yang retak oleh kepercayaannya sendiri.
Aku merindukan sebuah waktu dimana kita berjalan kecil di sebuah pagi dengan seorang anak perempuan berlari kecil. Lalu engkau tak kuat untuk tidak mengejarnya,menangkapnya ke dalam pelukanmu lalu kita memeluknya bersamaan. Oh tidak, airmataku menetes. Mungkin aku terlalu jauh, tapi setidaknya angan itu pernah tumbuh meskipun hanya sebuah angan.
Rain membuka matanya,seorang laki-laki duduk di sebelahnya dan tertidur. Ia merasakan kepalanya begitu berat, selang infus sedikit tertarik. Nyerrr rasanya nikmat, Hima terbangun,ia tidak tega melihat wanita di depannya babak belur. Dipandanginya, diusapnya dahinya perlahan-lahan. Tangis Rain memecah kesunyian di bangsal. Kali ini sangat histeris, Hima kalang kabut.
"Rain,apanya yang sakit?" Hima berusaha mengamati tubuh Rain, bahkan ia sedikit mengangkat kepala Rain, memeriksa kepala Rain barangkali ada luka yang tidak tertangani. Suara teriakan Rain makin melengking,membuat perawat jaga berlarian menghampiri.
***
Di ruang perawatan Rain duduk di sebuah sofa,tangannya memegang tiang infus. Rain bosan hanya menghabiskan hari-harinya dengan berbaring. Pagi ini tidak ada yang menemaninya, Dinda mengatakan baru akan datang siang ini karena ada meeting mendadak dan Hima sedang ada operasi panjang dari pagi buta tadi. Tapi entah mengapa ia lebih nyaman dengan kesunyian. Luka lebam masih terlihat di sudut mata dan bibirnya. Sesekali masih terasa nyeri,tapi Rain masih sanggup untuk menahannya.
Tidak berapa lama pintu berderit, matanya melirik tapi masih terlihat sayu. Tiba-tiba Shaka berlari bersimpuh di kaki Rain. Tangannya berusaha menggapai tangan Rain,tapi ditolak oleh Rain mentah-mentah.
"Rain." bisiknya, seolah ia takut ada orang lain mendengar pembicaraannya. Rain tidak bergeming tatapannya kosong,tanpa terasa tangan Rain basah oleh airmata Shaka. Berulang kali ia mencium tangan Rainaya.
"Maafkan aku Rain..." Rain hanya memejamkan matanya, demi Tuhan ia tidak mau menangisi laki-laki sampah ini lagi. Rain masih tidak bergeming,berulang kali Shaka memohon maaf tapi Rain hanya diam. Peristiwa kemarin tidak membuat Shaka puas, ia justru merasa harus kembali pada Rain,padahal sudah jelas Kakaknya hampir menghabisi Rain. Shaka yakin ketika ia ingin kembali, tangan Rain pasti akan menyambutnya.
Tapi kali ini berbeda,tentu saja Shaka naik pitam,ia berusaha meraih jemari Rain,berusaha melepas cincin pertunangannya dengan kasar,ia juga manarik kalung emas yang melilit di leher Rain. Sebuah kalung yang berliontinkan nama Hima. Tapi Rain menolak,tubuhnya menggigil.
"Rainaya Wijaya kamu hanya milikku. Shaka Langit Angkara!" nada bicara Shaka meninggi. Emosinya mulai meradang,dengan kasar Shaka menarik tangan Rain,ia menciumi Rain tanpa ampun,ia tidak peduli Rain sedang babak belur. Tangannya menyelusup ke dalam baju,bergerilya semaunya sendiri,bahkan Rain tidak bergeming. Shaka makin tidak terima dengan diamnya Rain,ia bahkan menyingkap baju terusan yang dipakai Rain,kemudian membalikkan tubuh Rainaya. Ia tidak kuasa melepas pertahannya, Rain tidak menolaknya,ia masih diam. Shaka makin tidak bisa mengendalikan dirinya,ia meracau,memeluk Rain dari belakang memaju mundurkam tubuhnya penuh gairah sampai menuju puncak pelepasannya. Melihat Rain yang diam,dan hanya menitikkan airmata Shaka lunglai,ia menangis. Kali ini ia menangis seperti perempuan menangis karena ditinggal kekasihnya. Lambat laun ia menyadari bahwa ia telah melukai Rain,darah segar mengalir di dalam selang infusnya, Shaka segera merapikan Rain,meskipun airmatanya tidak pernah berhenti berjatuhan. Shaka memanggil-manggil suster yang sedang berjaga,ia takut terjadi sesuatu pada Rainaya