RAINAYA

RAINAYA
Delapan


Rain terpekik karena ia melihat keponakannya sudah tergeletak di bawah tangga, kepala dan telinganya berdarah dan Alika sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.  Rain teledor, ia membiarkan Alika bermain sendiri tanpa pengawasan. Rain terlihat begitu panik,beberapa karyawan juga ikut panik, ada yang datang pula dengan membawa kotak P3K tapi Rain tidak kuasa lagi karena Alika dalam keadaan pingsan. 


"Fandi." Rain berteriak dan menunjuk salah satu pegawai untuk membantu menggendong Alika, membawanya ke Rumah Sakit yang ada di sebrang gedung kantornya.


Siang ini Dinda memang mengantarkan Alika ke kantor, karena ia ada meeting bersama beberapa pengurus catering rekanan perusahaannya. Selepas menjemput Alika ke sekolah, Dinda menitipkannya pada Rainaya. Tapi karena Alika sudah terbiasa bermain sendiri di kantor ini, Rain membiarkan begitu saja.  Ia tidak terlalu memperhatikan ruang receptionist, tempat Alika bermain. Padahal ada beberapa tangga lipat yang masih terbuka,bekas renovasi kemarin.  Kemungkinan Alika penasaran naik dan terjatuh. 


Rain sudah tidak karuan, ia berlari menuju lantai bawah, security yang melihat Fandi kewalahan membawa Alika akhirnya menggantikan Fandi. Kaki Rain sepertinya sudah bergetar, ia begitu khawatir, sampai di pintu lobby ia berpapasan dengan Hima. Hima yang selalu makan siang di gedung ini.  Karena dua lantai di gedung ini adalah khusus foodcourt dan beberapa cafe ternama. Hima tidak memperhatikan keadaan sekitar, karena pintu lobby masuk lumayan ramai.  Rain terus berjalan melewati Hima tapi kemudian membalikkan badannya. 


"Hime! " Teriaknya.  Hima menghentikan langkahnya.  Panggilan itu tentu ia sangat mengenalnya.  Karna hanya Rain yang memanggilnya Hime.  Hima membalikkan tubuhnya, ia melihat Rain, wajahnya penuh airmata, sudah merah seperti udang rebus.  Sangat kontras dengan rambutnya yang coklat kemerahan. Buru-buru ia lari dan merengkuh Rain.  Rupanya ia tidak terlalu pandai berpura-pura tidak peduli lagi.  Dan ia semakin bingung karena melihat anak kecil berlumuran darah berada di gendongan security.  Hima segera menyentuh pusat nadi di belakang telinga Alika, membuka sedikit kelopak matanya, kemudian mengambil alih Alika, Hima menggendong Alika, mendekapnya dalam pelukan,ia langsung lari begitu kencang, menyebrangi jalan dan sampai didepan Rumah Sakit ada beberapa petugas yang dengan sigap membawa Alika ke UGD untuk ditangani. Hima berusaha mengikuti Alika tapi Hima sadar ia telah mengabaikan Rainaya.


"Sus tolong kabari kalau ada masalah" pinta Hima. Hima membalikkan badannya, ia berusaha untuk kembali ke gedung sebrang,tapi dari kejauhan sudah tampak Rain datang menyusulnya, ia bergetar, tangannya bergetar persis seperti beberapa bulan yang lalu, saat ia masih menjadi pasien dokter Firman. Hima menatap Rain, ia berusaha meraih Rain, Hima merasakan Rain tidak kalah mengkhawatirkan. Ia membawa Rain menepi di sebuah kursi kosong dekat ruang UGD. 


" Tarik nafas buang Rain. " Aturnya, tangannya berusaha memperagakan naik turun. 


" Ayo Rain, kembalikan nafasmu. " Hima masih melihat Rain tersengal dan terus menangis, tangannya bergetar, begitu terasa untuk Hima yang ada di sebelahnya. Hima mencoba memegang tangan Rain, terasa dingin. 


" Rain, ayoo ikuti aku.  Tarik buang. " Hima berusaha memberikan contoh.  Tapi ia tidak kuasa melihat Rain dan tangannya tidak kuasa untuk memeluk Rainaya, maka pecahlah tangisan Rain. 


"Alikaaaaaaa,keponakankuuu" Tangisnya. Hima menepuk-nepuk punggung Rain. Berusaha menenangkan. 


" Gak papa Rain, Alika pasti baik-baik aja.  Percaya sama aku, dia udah kita serahkan ke ahlinya. " Hima berusaha menenangkan, ia menghapus airmata Rain dengan sapu tangan yang ada di saku celananya. 


" Jangan nangis, kalau kamu terus-terusan nangis kita gak bisa nyusul Alika ke UGD. Rain pun mengikuti saran Hima ia menarik lepas nafasnya, berusaha menenangkan dirinya. Dan menghapus airmatanya. 


Dokter mengatakan Alika mengalami cedera cukup serius akibat benturan yang cukup keras ketika terjatuh tadi.  Alika harus dirawat inap, dan besok ia harus menjalani CT Scan. Setelah mendapatkan kamar inap dan melihat Alika sudah dalam perawatan yang baik Rain sedikit lega.  Rain menatap Hima yang daritadi masih ada di sampingnya, bajunya yang putih terlihat beberapa bercak darah yang menempel disitu. Hima menyodorkan sebotol air mineral. 


" Minum dulu. " Perintahnya.  Glek, terasa melegakan. Air putih yang baru saja ia teguk serasa mendesir ke seluruh tubuhnya. 


" Besok Alika harus CT Scan yah, lukanya cukup serius kita harus tau apa ada patah retak tulang tengkoraknya atau pendarahan di otaknya atau nggak.  Biar bisa cepet ditangani dan mencegah hal buruk terjadi di kemudian hari.  Biar semua tuntas,kita semua juga tenang. " Hima menyampaikan begitu halus kepada Rainaya.  Ia khawatir Rain akan panik lagi. Rain terdiam, kemudian ia menikmati airputihnya sampai tidak bersisa. 


***


Sore ini Dinda menunggu Alika di Rumah Sakit, dari pagi Alika sudah merengek-rengek minta pulang. Dinda berusaha menenangkan,  ketika bersamanya Alika memang kelihatan sangat rewel.  Berbeda saat bersama Rain, Alika lebih bisa menjadi anak yang penurut.  Padahal Dinda sengaja memesan kamar yang bernuansa frozen agar Alika lebih mudah beradaptasi dengan ruang perawatannya, dinding kamar, seprai, sampai sofapun bernuansa biru dan bergambar frozen, tapi tetap saja Alika selalu minta pulang. 


Seusai jam kerjanya, Hima menengok Alika, ia masih mempergunakan jas putihnya.  Ia hanya memeriksa luka di kepala Alika yang masih terbungkus perban,  Alika sedikit meringis. Dinda memeluk anaknya dari samping, dan memegang tangan Alika, Alika meremas tangan Dinda. 


" Pusing gak Alika? " Hima berusaha akrab dengan Alika.  Anak menggemaskan ini menganggukkan kepalanya. 


" Obatnya diminum yah biar cepet sembuh. " Dinda tersenyum, ia begitu takjub dengan Hima, pembawaannya yang tenang dan sikapnya penuh santun.  Dinda melihat name tag yang dikalungkan di leher Hima


Dr Himandra Antasena Sp. BTKV


Rupanya Hima benar-benar menggapai cita-citanya, Sp. BTKV adalah gelar spesialis dokter bedah toraks dan kardiovaskular.  Dokter spesialis yang menangani kasus penyakit di organ dalam rongga dada khususnya jantung dan paru-paru. Sebuah gelar yang sama pula dengan ayahnya, Dokter Handoko Antasena.  Beberapa kali Dinda pernah menemani almarhum ayahnya berobat jantung ke Dokter Handoko. Seorang dokter yang hebat, dan mungkin akan menurun kepada Hima. 


Rain membuka pintu kamar 202,tempat dimana Alika di rawat.  Ada Hima dan Dinda,  Rain berusaha untuk terlihat biasa karena sebenarnya kehadiran Hima adalah kecanggungan untuknya.  Hima masih sama seperti dulu, wajahnya yang selalu bersinar, senyum yang tidak pernah pudar dan perlakuannya yang halus nan lembut,  suara riuh tawanya bak burung-burung pagi yang merdu bernyanyi.  Rain seolah terjebak dalam kenangan masa lalunya, tentang cintanya yang tidak pernah tersampaikan. Yang ingin merekah kembali tapi selalu ia coba untuk menghalanginya. 


Rain membuka box kue coklat yang ia bawa.  Alika yang tahu Rain membawa kue coklat kesukaannya pun terlihat begitu berseri, sementara Dinda sudah siap untuk melotot. 


" Rain. " Geram Dinda.  


" Dikit aja Mama. " Ledek Rain. 


Dinda menggelengkan kepalanya, ia kesal tapi sedikit lega karena Alika tidak rewel lagi. Sepintas ia melihat Hima, daritadi pandangan matanya tidak pernah lepas dari Rainaya. Dinda melihat pandangan yang tidak biasa, terlihat redup dan penuh pengharapan, sementara Rainaya... Dinda tahu betul ia berusaha menyingkirkan Hima, padahal waktu selalu memberikan kesempatan untuk mempertemukan mereka dengan berbagai caranya. 


Setelah kakak iparnya datang, Rain berpamitan pulang, diikuti dengan Hima, mengantarkan kepulangannya.  Di sebelah rumah sakit ada sebuah taman yang cukup besar. Ada foodcourt beserta panggung megah di tengahnya. Sebuah taman di pusat kota,yang ketika malam ramai dikunjungi. Hima mengajak Rain duduk di situ. Mereka duduk di sebuah bangku yang menghadap ke jalan raya, tidak lama Rain membawa dua gelas es cappucino sachet seduh.  Satu ia minum sendiri, dan yang satu ia berikan ke Hima.


"Starling." Kata Rainaya. 


"Starling? "


"Starbucks keliling. " Katanya sambil menunjukkan sang penjual yang menggunakan sepeda sambil membunyikan bell. Kring kring kriiing.  Mereka berdua kemudian tertawa bersama.   


" Aku yang bayar, anggap saja ucapan selamat datang dariku. " Tawar Hima. 


" Jauh-jauh kembali dari Jerman, cuma traktir aku kopi babang starling doang? " Tangan Hima meremas bibir Rain yang mulai monyong-monyong menggemaskan. 


" Biasa ajaaaaaa" Hima gemas.Rain kemudian mengangkat gelas kopi plastiknya,ia memberikan isyarat agar Hima melakukan hal yang sama. Hima mengikutinya,mengangkat gelasnya.


"Cheeerrrss." Rain menempelkan gelasnya ke gelas Hima. Hima tertunduk seraya tertawa renyah,malam ini ia kembali dipertemukan dengan Rain yang dulu. Sebuah kopi selamat datang terteguk di tengah malam dan gemerlapnya lampu di sekitar pusat Jakarta.  Segala jengah dan penat melebur menjadi satu, terwakili senyum merekah tersungging dari wajah dua insan yang kembali menggali satu kisah yang nyatanya belum selesai.