
Hima benar-benar menjemput Rain sampai meja kerjanya. Dilihatnya Rain tertidur di kursinya, tangannya terlipat di atas meja, dan ia menyandarkan kepalanya di situ. Sepertinya ia lelah, terlihat mejanya berantakan. Hima bergegas merapikan beberapa spidol dan stabilo yang berceceran di atas mejanya. beberapa file di meja sengaja tidak ia sentuh sama sekali, takut ada salah jika ternyata semua adalah file penting. Hima jadi merasa bersalah membiarkan Rain lama menunggunya. Hima berusaha membetulkan posisi tidur Rain,dan refleks langsung melihat ke kaki Rain. Rupanya Rain menurut, ia duduk dengan posisi kaki yang lurus,dan melepas sepatunya. Hima tidak tega membangunkan putri tidurnya,tapi dering telpon di HPnya membangunkan Rainaya. Iya sampai kaget,matanya merah,rambutnya terlihat acak-acakan. Ternyata bunyi Alarm,Pukul 7 malam. Hima berdiri dan membenarkan kunciran rambut Rain yang berantakan.
" Aku bisa kok." Kata Rain sambil meraih-raih rambutnya. Hima menepisnya,ia ingin membiarkan Rain duduk santai. Hima benar-benar memanjakan Rain tidak ingin Rain melakukan hal sekecil apapun. Dari tirai luar Dinda memperhatikan gerak gerik adiknya. Dinda lega, akhirnya Rain bisa bernafas lagi, melihat adiknya tersipu lagi.
" Him kalau mau pulang duluan gak papa, kak Dinda kayanya masih di kantor." Hima segera mengambil tas Rain. Lekas menggandeng tangan Rainaya.
" Ayooo pulang." Dengan hati-hati Hima memapah Rain kemudian memberikan tongkatnya. Rain sedikit kaget dengan perlakuan Hima. Ia banyak melakukan perubahan, banyak sifat-sifat cueknya yang dirubah menjadi lebih manis.
" Boleh aku minta tolong."
" Apa tuan putri?"
" Jangan anggep aku kaya orang cacat. Aku mau jalan sendiri." Hima mengerlingkan matanya. Hima hanya menggandeng tangan Rain, di depan ruangan Rain ada Dinda yang sedang menunggu faks dari rekanannya.
" Kak Din,boleh pinjam Rain, pengen makan baso." Pamit Hima.
" Baso?" Heran Dinda. Rain langsung memukul lengan Hima.
" Pulang dari Jerman kamu ngajakinnya makan baso mulu. Aku juga pengen makan bretjel, sup krim kaya yang di TV." Hima tersenyum,ia tak kuasa ingin mencubit pipi Rain,saking gemasnya.
" Bretzel." Dinda berusaha membenarkan.
" Kamu kira makanan Jerman enak,mules nanti kamu!"
" Kak aku pulang dulu ya." Pamit Rain, Dinda melambaikan tangannya. Ia termasuk salah satu orang yang turut senang dengan perubahan Rainaya. Dinda senang akhirnya Rain memutuskan untuk sedikit membuka pintu hatinya untuk Hima.
Hima memandangi Rain, ketika masuk ke dalam mobil tadi raut Wajah Rain berubah,bahkan nampak canggung. Hima memegang tangan Rain, mengusap-usap pundaknya. Kemudian ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Rain, panas.
" Kamu demam?" Tanya Hima, kali ini Hima mendekatkan pandangan ke arah wajah Rain.
" Gak papa kok." Rain memeluk kedua tangannya.
" Mata kamu merah, besok gak usah tunggu aku pulang lagi yah."
" Apaan sih..."
" Gak usah makan baso aja ya, kita pulang."
" Aku mau baso." Rengek Rainaya. Tapi Hima tidak bergeming, ia hanya fokus dengan jalanan yang ada di depan matanya.
"Hime..." rengek Rain terus-terusan.
Bukan Rain kalau tidak bisa membujuk Hima, akhirnya Hima mengabulkan permintaan Rain. Mereka mendatangi tempat makan favorit mereka berdua semasa sekolah dan sampai sekarang. Hima terjerat dengan masa lalunya. Hima tidak peduli sekelam apa masa lalu Rain, ia hanya ingin melihat Rain tersenyum, tidak ada yang boleh menggelapkan hatinya.
Cahaya bulan begitu rekah merekah, rinai keemasannya memantul di wajah Rain. Hima selalu terpukau dengan Rain, mungkin di luar sana masih banyak perempuan yang lebih cantik, tapi untuk Hima Rainaya yang tercantik. Hima selalu tergila-gila dengan Rainaya, apalagi jika tersenyum, lesung pipinya,dan bibirnya tersungging begitu manis. Hima berusaha merangkul Rain masuk ke mobilnya, sebuah kecupan menggemaskan mendarat di pipi Rainaya. Rainaya segera memegang pipinya, ia menoleh ke arah Hima.
" Gak boleh?" Tanya Hima. Wajah Rain bersemu merah, tidak ada laki-laki manapun yang berani menciumnya tanpa permisi. Rain ingin marah, tapi iapun tidak ingin menolak dan melakukan perlawanan. Kuncinya telah terbuka kembali. Rain berusaha melawan kecemasannya untuk cinta lama yang terasa lahir kembali