RAINAYA

RAINAYA
Sebelas


Sore ini Luna sengaja ijin pulang cepat agar bisa menengok Rainaya dengan segera. Ketika ia datang,tepat sekali dengan datangnya sebuah puding mangga sebagai cemilan sorenya. Rain melirik dan memberi tanda kepada Luna untuk mengambilkan.


" Ambil aja sendiri! Dikira enak apa sakit!" Umpat Luna,ia masih kesal dengan kelakuan Rain. Luna yakin sekali kecelakaan yang Rain alami ada sangkut pautnya dengan Shaka. 


Dengan kasar Luna mengambil puding mangga di meja lalu mengambil satu sendok untuk disuapkan pada Rain.


"Sakit tapi maruk!" Ucap Luna tidak ikhlas, Luna memandangi wajah Rain,terlihat lusuh dan tulang pipinya makin meninggi,rambutnya lepek nyaris gimbal seperti orang gila di jalanan yang tidak mandi bertahun-tahun,hidungnya berminyak,bercak hitam komedo menempel,ingin rasanya ia sedot habis komedonya. Luna melihat sisa jahitan membekas di pelipis matanya,nampak guratan benang masih tersulam disitu. Seketika itu Luna langsung merinding.


" Gue bosen hidup." Seketika itu juga Luna membelalakkan matanya,satu sendok puding yang akan masuk ke mulut Rain jatuh berserakan bersama sendoknya. Rain menghela nafasnya,baru kali ini ia berselera makan tapi sudah ditepis oleh Luna. Kalau saja Rain sedang sehat ingin ia memukul anak ini. Luna memastikan kembali kata-kata Rain,ia melihat mata Rain sudah berkaca-kaca. Bagaimana mungkin ada orang yang sedang asyik makan terpecah pikiran dengan bosan hidup dan matanya berkaca penuh kejujuran, Luna menghempas nafasnya panjang.


"Gue sengaja nabrakin diri." Sambung Rain. Kali ini Luna benar-benar mematung. Luna menyesal harus bertemu dengan Rain,ia menyesal harus mendengar kata-kata tidak bermartabat itu tepat di daun telinganya.


" Mati aja lo,mati sekalian!" Luna setengah berteriak,ia sadar akan posisinya sedang dimana. Tidak ingin membuat kegaduhan di Rumah Sakit ini.


" Setidaknya Dinda gak akan pusing mikirin lo! Adik gak tau diri!" Luna makin menghujat. Kemudian dua orang di bilik kamar inipun diam, yang satu penuh airmata yang satu penuh amarah.


" Lu ngomong gini karena kemaren ketemu kakaknya si setan Shaka kan!" 


" Rain berapa kali gue bilang,kubur Shaka dan semua printilannya. Gak usah lo inget-inget lagi. Ketemu Kakaknya buang muka aja gak usah deh lo sok baik, lo lupa...." Sebelum Luna makin berapi-api Rain menempelkan telunjuknya ke bibirnya,memberi isyarat untuk diam. Kali ini Luna bukan hanya diam,ia menangis. Ia menangis karena sahabatnya ini sebegitu menyedihkan. Rain seperti ingin menua dengan rasa patah hatinya.


"Kalau lo sayang sama diri lo,please Rain gue mohon. Demi orangtua lo yang udah di surga,demi Dinda,kakak lo. Demi diri lo."


Rain mengangguk angguk,airmatanya tidak kalah derasnya dengan Luna. Luna tidak tega melihatnya,apalagi melihat kondisi badan Rain yang babak belur seperti ini. Luna memegang tangan Rain,dihapusnya airmata Rain penuh hati-hati.


Rain melihat ketulusan dalam hati Luna, meskipun terkadang Luna terlalu jahat dalam bicara,tapi hari ini ia melihat Luna menangis untuk pertama kalinya. Mungkin ia sudah keterlaluan. Tapi jika ingat pertemuannya dengan Angell,kakak Shaka rasanya ia ingin menangis seribu tahun. Rupanya Angell sudah tahu bahwa Rain putus dengan Shaka. Bahkan ia memberitahu bahwa Shaka sudah memiliki pasangan baru dan akan segera menikah. Dengan teramat mudah, Rain merasa bukan apa-apa, Rain menjadi sangat kecil hati,ia mengapungkan segala rasa dalam dirinya. Shaka yang sudah dipacarinya selama 5 tahun, bahkan selalu mencari alasan menghindar setiap kali Rain merengek minta dinikahi tiba-tiba memutuskan menikah dengan orang baru,atau mungkin sebenarnya orang lama yang sudah ia sembunyikan dari Rainaya. Semua pengorbanannya seolah sia-sia, bahkan tidak dilihat sedikitpun.


***


Rain merasa keadaannya sudah mulai membaik. Beberapa luka di pelipisnya minggu depan juga sudah bisa dilepas jahitannya. Lusa ia sudah bisa pulang,tapi harus tetap rajin fisioterapi. 


Meski Hima sibuk dengan pekerjaannya tapi tidak pernah lupa untuk menengok Rain. Kadang hanya memberi senyuman dari jendela kaca kamarnya.


"Kamu tau apa yang aku takutin dari seseorang yang keliatan begitu perhatian dan pengertian dan paling cinta?" Sore itu Hima menemani Rain karena Dinda terlambat untuk datang,apalagi di luar hujan deras dan jadwal praktek Hima sudah selesai. Sembari menunggu hujan reda, Hima menemani Rainaya.


"Apa?"


"Takut ketika udah cinta tapi suatu hari ia sendiri yang membiarkan perasaan itu hilang bahkan tidak terlihat seperti debu." Rain melelehkan airmata di pipinya. Tubuh Rain makin hari makin kurus kering meskipun ia sudah terlihat baik-baik saja.


" Tapi laki-laki sejati gak akan melakukan hal itu." Elak Hima. Seolah Hima tidak pernah berkaca dari masa lalunya. Bahwa ia pernah meninggalkan Rainaya begitu saja,tanpa sebuah kepastian yang jelas.


Rain masih ingat bagaimana dulu Hima meninggalkannya,hanya dengan sebuah pesan sms,tanpa Hima berpamitan secara baik-baik. Rain yang biasa hidup mengekor pada Hima seolah kehilangan tiang di hatinya. Semuanya runtuh, semenjak itu ia sendiri yang mengubur masa lalunya. Dulu mungkin terasa sulit,tapi lama kelamaan waktu mengajarinya untuk ikhlas melepas Hima.


" Ya kalau kamu pergi begitu aja gimana orang itu tau kamu lagi berjuang buat dia?" Tanya Rain kembali. Suaranya makin melemah,bahkan makin parau.


"Aku berusaha hubungi kamu,tapi telponku tidak pernah diangkat." Hima berusaha menenangkan. Rain ingat betapa sepeninggal Hima hidupnya sangat tidak tenang. Bahkan ketika sudah bersama Shaka, ia merasa dirundung kecemasan. Bedanya Shaka memang tidak seperasa Hima, Shaka bukanlah orang yang mudah mengerti tanpa diberi tahu. Rain selalu terbawa rasa takutnya, ia takut Shaka meninggalkannya, sama seperti Hima.


“ Aku ini kerja!” Shaka membanting meja kerjanya. Ia sempat terhenyak sesaat, Rain tidak mengerti kenapa perangai Shaka berubah sedrastis itu, ia makin kasar dalam tutur kata maupun perilaku. Rain tau di belakangnya Shaka bermain curang. Sudah dua tahun ia hidup dalam ketersiksaan yang terbungkus status palsu. Rain sadar selama ini ia terlalu menuruti egonya karena terlalu takut kehilangan Shaka. Tapi Shaka makin muak, ia muak setiap saat harus memberi kabar, padahal pekerjaannya sekarang sebagai asistant manager, menuntutnya untuk selalu sempurna dengan tugas kantor atau sesekali ke luar kota untuk kontrol langsung ke lapangan. Ia ingin menjalani hubungan dengan ketenangan sedangkan Rain merasa tidak pernah cukup dan hubungan mereka selama ini ternyata dibangun di atas lumut hijau, yang setiap saat jika tidak berhati-hati melangkah dapat membuat kakinya terpeleset lalu terpelanting. Mungkin bisa berjalan lagi, dengan sedikit tertatih atau bahkan tidak bisa berjalan lagi untuk selama-lamanya. Shaka tidak menyadari bahwa sikap Rain yang posesif adalah buah kecemasan dari masa lalunya. Shaka hanya menilai Rain sebelah mata, rasanya ia selalu emosi dengan kelakuan Rain, untuknya perpisahan adalah jalan terbaik. Dan bagi Rain, ia tidak akan pernah melepaskan. Tapi semua itu berubah ketika dengan mata kepalanya sendiri Rain melihat Shaka masih menabur perangkap kepada wanita lain.


" Rain liat deh." Luna berusaha memberitahu Rain sebuah foto Shaka sedang merangkul wanita lain, dan wanita itu bukan dia. Luna melihat dari instagram Shaka, seketika itu juga Rain merasa terhianati. 


" Lo liat ni dia unfollow lu Rain,dan smua postingan yang ada komentar2 kalian sengaja diapus. Dan cewe di foto ini hampir di setiap postingan pasti komentar. Lu ga curiga apa!"


Rain selalu memaafkan Shaka walaupun ia selalu kasar dan mengabaikan Rain. Tapi untuk perselingkuhan tidak akan pernah ada toleransi. Sudah cukup Rain menahan keperihan bertahun lamanya, sudah cukup ia berjuang untuk Shaka. Sudah cukup pengorbanan dan waktu ia berikan untuk Shaka.


Airmata Rain makin deras, Hima menatapnya, matanya sudah berkaca-kaca, kali ini Rain benar-benar menangis mengerang seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Lengan Hima segera meraih Rain,dibenamkannya kepala Rain di dadanya, Rain menangis sampai tersedu, Hima berusaha menenangkan, diusapnya punggung Rainaya. Sesaat ia melepas pelukannya, tapi airmatanya justru makin deras, kulit putihnya merah,ia menempelkan mata Rain di pipinya. Hima merasa airmata mereka jatuh bersama. Hima ingin Rain melepaskan segala beban di dadanya. Ia ingin menghempaskan segala lara di hati Rainaya. 


"Keluarin smua Rain,ada aku." Bisiknya. Rain makin menjadi, Rain ingin membalas pelukan Hima,tapi setiap itu juga ia selalu ingat perlakuan buruk Shaka. 


***


Shaka, Aku dan kamu memiliki perjalanan sangat panjang. Perjalanan untuk saling memahami dan melengkapi isi dalam kepala kita masing-masing. Dari awal perjumpaan yang begitu manis untuk dikenang, tentang perasaan rindu yang meluap dan sungguh bergelora memberikan detak mendesir berirama seiya sekata. Jemari rasanya tak kuasa ingin saling menggenggam di setiap detik yang berdetak. Berjalan bergandengan tangan penuh canda tawa, dengan obrolan ringan serasa dunia hanya milik berdua,sederhana tapi hangat untuk dikenang. Kenyataannya waktu berjalan begitu saja dan membukakan mata kita, bahwa kita memiliki emosi yang sungguh berbeda. Engkau dengan segala letupanmu, aku yang bisa meletup kapan saja kemudian mereda dengan sendirinya dan sengaja menyimpan sayatan demi sayatan sebagai pengharapan, suatu hari air beriak itu berubah menjadi air biru di utara pulau Jawa, biru,bening dan tenang.


" Kamu tuh gak akan berubah,udah watak!" Tuduhmu selalu begitu, seolah aku berjuang hanya sendiri,seolah hanya aku saja yang harus berubah, tanpa pernah kau bercermin.


Rasanya aku sudah mulai ke dalam titik jengahku, aku yang biasa melawanmu lambat laun memutuskan untuk mengemas sendiri duka laraku. Airmata seolah bukan teman sunyi lagi ia penuh riuh terkadang kupeluk erat-erat. Dan kubilang


“ Jangan berisik.”


Kupikir sangat ironis bukan jika semula yang begitu manis tiba-tiba berubah menjadi getir dan begitu menyakitkan. Bukan hal yang mudah  melukis di atas mahligai yang sebenarnya tidak baik-baik saja dan hampir karam.


“ Tuhan rubah dia jadi lebih baik.” Doa itu tak pernah lelah kuulang-ulang, mungkin sepanjang hari kala itu. Tapi kupikir Tuhan tidak pernah mendengar doaku, ia justru makin berisik ia justru semakir berdesir tak karuan. Lalu aku menyadari sesuatu. Mungkin ia ingin pergi. Atau mungkin Tuhan sedang menolak doaku.


Melepaskan bukan hal yang kumau, melainkan membebaskan diri kami masing-masing. Aku sadar tidak seharusnya berdiri di atas keegoisanku. Memang kita harus berpisah, kuulangi sekali lagi. Bukan karena tidak cinta, karena kamu butuh dewasa tanpa aku, karena kamu butuh bahagia dan suatu saat menyadari betapa kita melewatkan waktu begitu saja. Tidak apa-apa jika sekarang kamu tidak menyadari, aku mempercayakan pada waktu, aku berpasrah,mungkin tahun depan,mungkin lima tahun lgi, mungkin sepuluh tahun lagi,mungkin ketika kita sama-sama sudah menua dan menunggu waktu menjemput atau mungkin ketika kita berada di dimensi dunia yang berbeda. Kelak kau akan tersenyum dengan mengenang namaku. Aku sadar seharusnya dari dulu aku melepaskan, tapi aku terlalu egois menahanmu sejauh ini. Maaf, jika bisa ingin kuhaturkan permintaan maaf ini, tapi kupikir lebih baik biarkan angin saja yang menyampaikan ini, tanpa kutatap kembali teduh matamu, tanpa kulihat punggungmu yang selalu memanggil-manggil untuk kupeluk dan kurebahkan semua peluh sesakku di situ, aku takut keegoisanku meracaukan segalanya lagi. Karena aku terlalu ingin memiliki kamu, dan tidak ingin membaginya dengan siapapun.


Kupikir hidupku akan kacau tanpamu,tapi ternyata kacauku hanya sesaat. Aku menikmati kesendirianku, berdamai dengan rasa syukurku, bercanda dengan egoku. Terasa menyenangkan dan melegakan. Untukmu laki-laki yang pernah kujunjung erat di doaku, untukmu laki-laki yang pernah kugenggam pasrah di tanganku. Kupikir hidupmu telah damai tanpaku. Pasti langkahmu makin lega, tidak ada rengekan-rengekan manja menyebalkan itu lagi bukan. Engkau bisa berlari mengejar bintangmu. Kejarlah, suatu saat ambillah salah satu tangan wanita manapun yang kamu mau. Jangan memejam atau menengok ke belakang, dia bukan aku yang menyebalkan, dia pasti adalah pelangi setelah hujan. Merah,jingga,kuning,hijau,biru,ungu, ia akan secantik itu menyemai menjadi bagian baru dalam kehidupanmu. Sesekali tengoklah senja di sore hari, ada aku yang sesekali ingin melihatmu tersenyum. Bukan karena mengharapkan kita untuk bersama,aku adalah mega jingga yang tersenyum karena melihat kebahagiaanmu.


Karena aku sadar, mencintai tidak harus bersama, mencintai adalah membebaskan tanpa melukai. Gomawo