
Hima memandangi beberapa slide foto di laptopnya, mungkin ini file 7 tahun lalu. Seorang perempuan putih bersih, matanya sipit, rambutnya yang panjang sebahu di ikat bagian tengah, nampak angin menerbangkan anak-anak rambutnya. RAINAYA. Ia berteman akrab dengan Rain, sosoknya yang perhatian, lucu dan menyenangkan. Rain begitu senang tertawa, apa saja ia tertawakan, bahkan ketika menemani membaca bukupun Rain selalu tersenyum menatap HIMA, senyumnya begitu melegakan, Hima tidak pernah bosan dengan senyum itu. Kadang jika tidak keblabasan ingin sekali ia mengecup bibir mungilnya dan mengatakan i love you seribu kali dalam sehari.
" Mana mungkin dia menyukaimu? " Kata-kata itu selalu membuyarkan angan Hima. Bisa belajar bersama dengan anak ini saja Hima sudah bahagia.
" Susah ya? Apa aku mengganggu? " Rain memberanikan diri bertanya kala itu. Dahinya mengkerut, sungguh menggemaskan. Hima tersenyum, terasa desiran- desiran menghangatkan tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya, tanda penyangkalan atas pertanyaan Rainaya. Rain adalah selembar kisah di masa mudanya dulu. Sebuah cerita yang belum bisa ia tutup karena sesungguhnya Rain masih ada di dalam hati Hima, ia duduk di hatinya. Senyumnya yang lengkung merekah, wajahnya yang kilau bersinar, tidak seperti pertemuan mereka tempo hari. Rain bagaikan batu apung yang sedang terombang ambing di derasnya arus sungai, ronanya tak lagi sekilau senja, senyumnya memudar. Mungkinkah bisa ia kembali merangkai kisah cintanya yang terpisah antara Jakarta dan Berlin?
Hima tahu jika terlalu egois ia meninggalkan Rainaya saat itu.
" Tapi pah. "
" Rain pasti mengerti. " Seolah Ayahnya tahu apa yang sedang di beratkan Hima saat itu. Ayahnya memang sangat terobsesi kepada anaknya, ia ingin anak satu-satunya ini menjadi dokter bedah. Setelah setahun lebih menjadi dokter muda, ia puas dengan perkembangan anaknya. Hima anak yang cerdas, akan sangat disayangkan jika ia tidak segera melanjutkan pendidikannya.
" Apa karena Papah dokter bedah jadi saya harus jadi dokter bedah? "
" Kamu masih muda Hima, pergilah, saat kembali nanti kau kejar Rainaya. Dia pasti mengerti, saat kamu menjadi dokter kamu harus berani untuk terus belajar. Long life learning,awali dari sekarang,mumpung kamu masih muda"
Sore itu sejuta harapan tentang wanita yang ia cintaipun sirna. Hima pikir memang benar, ia masih muda, ia berhak untuk memperjuangkan masa depan. Ini bukan suatu keegoisan, karena di masa depannya ia rencanakan Rain ada disampingnya.
" Rain, aku pamit, malam ini aku ke Berlin. " Hima memberanikan diri untuk berpamitan melalui pesan singkat. Sebenarnya ia menyesal kenapa tidak secara langsung berpamitan,tapi entahlah waktu itu berjalan terlalu cepat,terpaksa Hima hanya menghubungi Rain melalui pesan singkat. Sebuah pesan singkat yang sampai saat ini tidak pernah di balas oleh Rain.
****
Hima merasakan kerinduannya semakin membuncah, selain memandangi file-file foto Rain, sempat ia mengunjungi rumah tempat Rain tinggal dulu. Tapi rupanya sudah berganti penghuni, beberapa kali ia mencoba menghubungi Rain melalui sosial media, tapi tidak pernah ada jawaban. Benarkah Rain sudah melupakannya? Dan kenapa pertemuan tempo hari mereka berlalu begitu saja. Rain seolah enggan untuk berkomunikasi kembali dengannya. Kenapa Hima terus memikirkan Rainaya? Mungkinkah benar kisah mereka belum usai?
Tiba-tiba terpikir oleh Hima untuk mencari alamat Rain melalui bagian administrasi Rumah Sakit tempat ia bekerja.
" Boleh minta tolong? " Line telpon menghubungkan ke bagian administrasi
" Boleh minta data pasien an Rainaya Wijaya? " Bagian administrasi itu tidak lama masuk ke ruangannya, memberikan nomor registrasi pendaftaran Rainaya. Terakhir Rain datang memang karena sakit flu, tapi ada yang menarik perhatiannya, setahun ini Rain aktif berkonsultasi dengan psikiater yang ada di Rumah Sakit ini.
" Rain, apa ada satu hal yang tidak kutahu? " Tanyanya dalam hati, pikirannya makin berkecamuk. Rain yang ceria, Rain yang lucu, Rain yang tidak bisa diam kenapa tiba-tiba aktif di psikiatri Rumah Sakit ini. Benarkah Rain kini sudah menjadi orang baru, yang tidak Hima kenali lagi. Kali ini Hima tidak main-main, ia ingin bertemu kembali dengan Rain. Ia mencatat nomor Handphone Rainaya. Tapi ia tidak memilih langsung menelpon Rain, ia takut Rain semakin menghindarinya.
***
" Baru segini? " Luna memberikan vodka langsung dengan botolnya, tanpa basa basi Rain meneguknya tiada ampun.
" Gila! " Luna bertepuk tangan kegirangan.
Rain berusaha mengendalikan dirinya, biasanya kalau mabuk begini ia lebih suka menyendiri, tidak suka di club ramai seperti ini. Benar saja, semakin pagi ia mulai tidak nyaman berada di club ini, Rain memutuskan untuk Keluar walaupun sendiri. Luna masih betah berlama-lama disana, tentu saja dengan teman-teman yang baru ia kenal di lantai dansa tadi.
Rain tampak acak-acakan, tapi ia masih bisa menguasai dirinya, hanya saja pandangannya terkadang mengabur sendiri. Ia memastikan dirinya baik-baik saja, ditutupnya tubuhnya dengan jaket tebal, khawatir ada laki-laki menggerayangi tubuhnya walau hanya melalui tatapan. Rupanya Rain sudah berjaga- jaga sedari di kantor tadi. Dibawanya jaket parka tebal dengan bulu domba di bagian kepalanya. Sengaja ia memilih jaket yang kebesaran agar ia terbebas dari tatapan-tatapan nakal para lelaki pemburu pagi.
***
Rain menyetir mobilnya sendiri. Walaupun sudah jam 2 pagi, jalanan Ibukota masih lumayan padat seperti tidak akan pernah mati ditelan malam. Rain sudah lumayan mengantuk,tapi ia mencoba berkendara sepelan mungkin,ia sadar diri sedang dalam pengaruh alkohol. Tiba-tiba Rain merasa mual yang sungguh hebat, iapun menghentikan laju mobilnya, berusaha menahan untuk tidak muntah di dalam mobil, tapi dorongan dari kerongkongannya semakin kuat. Rain membuka pintu mobilnya, berlari menepi lantas memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Hoekkkkk.
Ah manusia apa aku ini baru minum seperti itu saja sudah KO. Teriaknya dalam hati.
***
Hima mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Pandangannya tertuju pada mobil merah berlawanan arah yang menepi. Cittttttt, tiba-tiba ia rem mendadak, ia melihat seseorang dan tampak tidak asing untuknya.
" Rainaya" Ia menengok jam di pergelangan tangannya. Bagaimana mungkin jam 2 pagi ia masih berkeliaran di luar rumah. Himapun keluar dari mobilnya.
" Rain? " Panggilnya, wanita yang ada di depannya terlihat pucat, yaaa... Hima tau ia mabuk, Hima berusaha memeriksa bekas muntahan Rainaya.
" Jangan mendekat! " Teriak Rain, dua kali sudah Hima memergoki Rain dalam keadaan semenyedihkan ini.
" Nanti kamu jijik, ini jorok. " Katanya lemas, Rain berusaha kabur masuk ke dalam mobilnya. Hima menatap wanita yang ada di hadapannya. Ia bukan Rain, ia menjelma menjadi wanita monster, matanya cekung, tulang pipinya makin menonjol, pundaknya pun makin Ceking. Hima menyusul masuk ke dalam mobil, ia membuka pintu mobil Rain dan mendapati tangannya gemetaran.
" Perempuan macam apa jam segini baru pulang! " Jika bisa Hima ingin menampar pipi Rain agar ia sadar, Hima marah, bagaimana bisa Rain melakukan semua ini. Seorang perempuan menyetir sendirian dalam keadaan mabuk. Ini sangat berbahaya dan seolah mengantarkan nyawanya sendiri kepada Tuhan. Dan entah kaget dengan bentakan Hima tadi, Rain menatap mata Hima dalam-dalam,tangannya menggapai sebotol air mineral,ia meneguknya cepat-cepat. Tangannya lantas menarik tubuh Hima,ia memeluk Hima begitu dalam,Rain memejam dalam pelukan,serasa debur ombak membasahi dan mendinginkan dadanya yang sesak. Keadaan seperti ini justru membuat Hima sangat kaku,matanya berkilat tapi seketika meleleh merasakan pelukan Rain. Mereka berpandangan lumayan lama,dan dengan beraninya Rain mengecup bibir Hima. Desir rindu yang Hima simpan rapat-rapat seakan roboh,meskipun Hima tau Rain sedang mabuk. Rain tidak kuasa menahannya,ia kembali mencium bibir Hima,kali ini tidak hanya mengecup,bahkan ia ******* bibir laki-laki yang ada di depannya ini tanpa ampun. Hima merasa melayang, khayalannya selama ini bisa terwujud,meskipun setelah ini Rain lunglai,tidak sadarkan diri.