
Kanaya telah berusaha keras.
Ia memilih untuk tidak bersekolah selama satu minggu dan bekerja paruh waktu. Apapun, bisa ia kerjakan asalkan Kanaya mendapat uang. Mulai dari menjadi sales tupperware yang ditawarkan dari pintu ke pintu, menjadi kasir di salah satu restoran, bahkan menjadi office girl di perusahaan orang lain. Kanaya bahkan tidak sempat memikirkan kondisi dirinya sendiri.
Nyatanya, ia terlalu takut untuk menghadapi Arkan. Apalagi ia tidak punya bukti jika dirinya tidak bersalah dalam merusak sepatu kesayangannya. Jika memang tahu seperti ini, mungkin dari awal Kanaya tidak akan meminjam sepatu itu.
Kanaya merasa badannya begitu lelah. Ia butuh tiga minggu lagi untuk mendapatkan hasil buruannya. Hampir semua pekerjaannya memberi gaji per bulan. Kanaya pusing bukan main. Setelah mendapatkan gaji pun uangnya tidak akan cukup untuk membeli sepatu itu.
Arkan bilang, harganya 10 juta. Kanaya juga sudah menjual hp miliknya dan hanya mendapatkan seperempat harga karena lcd nya sudah pecah.
Setelah lama tidak bersekolah, ia putuskan untuk pergi kembali. Ia mengalihkan pekerjaannya di hari sabtu dan minggu dengan catatan full 12 jam.
Dari jauh, Kanaya bisa melihat jika Arkan semakin dekat dengan Raya. Ia tidak lagi punya daya mengganggu kedekatan mereka.
Arkan tidak akan pernah tahu bagaimana menderitanya Kanaya saat ini. Ia merasa, semua yang ia lakukan ternyata membuahkan hasil yang positif. Yaitu, Kanaya tidak lagi mengganggu dirinya setidaknya untuk saat ini. Ia juga mendengar kabar jika Kanaya tidak masuk sekolah.
Kabar yang sangat membahagiakan. Apalagi, Arkan kembali melancarkan aksinya untuk mendekati Raya. Adik kelas gumush nya itu.
"Loe hari ini makin cantik Ray, rambutnya digerai gitu." Arkan memperhatikan gaya rambut Raya yang berbeda dari biasanya. Raya memang biasa mengikat rambutnya.
"Jangan mulai lagi deh kak. Hari ini kita full rapat kan?"
"Iya. Kudu banyak yang harus dipersiapin. Pulang sekolah, loe kosong?" Arkan mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Kosong. Kenapa kak?"
"Mau ikut nongkrong sama teman-teman gue gak?"
"Hm, aku malu kak. Aku kan masih adik kelas. Nanti aku canggung gimana?"
"Kan ada gue. Yaudah, kalau loe gak mau kita makan aja deh."
"Makan aja ya kak. Nongkrongnya kapan-kapan. Aku nggak terbiasa soalnya."
Tidak apa, yang penting Arkan selalu bisa mendekati Araya. Itu yang terpenting.
"Loe kalau malem biasanya ngapain?"
"Aku.. Baca buku kak. Terus ngurus-ngurus isi mading sama berkas osis."
Setelah cukup banyak mengenal Araya, Arkan sudah bisa menyimpulkan garis besarnya jika karakter Raya berbanding terbalik dengan Arkan. Raya orang yang sangat lurus. Ia tertata, dan.. Tidak pernah berbuat nakal. Bisa dibilang, Raya sedikit membosankan. Tapi Arkan akan berusaha untuk tetap mendapatkan hati Raya. Urusan kenyamanan, mungkin bisa dibiasakan nanti setelah mereka sudah punya hubungan.
"Loe udah pernah ke pantai? Atau, muncak?"
"Hm, aku nggak suka. Capek tahu jalannya. Aku suka di rumah aja."
"Ooh,"
Araya benar-benar flat. Arkan bingung harus menanyakan apalagi jika Raya hanya meresponnya seperti itu. "Kak, aku ke toilet dulu ya." Arkan hanya mengiyakan dan memberi ruang untuk Raya pergi.
Ia menghela nafas. Dan pandangannya terhenti pada Kanaya yang sedang duduk di pinggir lapangan. Tatapannya kosong. Pucat. Tapi dia tidak akan peduli. Ia sudah memberikan hukuman yang pantas agar cewek itu jera.
Meski Arkan tidak tahu, fisik Kanaya semakin lemah.
*****
Jalan terakhir, Kanaya menjual kalung emas dengan liontin berlian yang terpasang di lehernya. Ia tidak menyangka, jika hanya sebuah kalung kecil ini bernilai 5 juta 800 ribu rupiah.
Kanaya senang bukan main. Setidaknya, beban yang ada di pundaknya berkurang setengah. Kemudian, ia memikirkan bagaimana caranya ia mendapatkan uang setengahnya lagi.
Jika boleh jujur saja, Kanaya lelah. Kanaya lelah karena terus menerus mengejar cinta yang tak kunjung datang. Ia kira, dengan mencintainya selama satu tahun dengan diam tidaklah cukup hingga ia melangkah lebih berani untuk mendekati Arkan.
Awalnya, Kanaya hanya memilih Arkan sebagai objek pandangannya. Dan Arkan berhasil mengisi kekosong pikiran Kanaya selama ini. Dan kemudian, Kanaya mengharap lebih. Ia tidak hanya ingin sekedar menatap Arkan dari jauh. Ia juga ingin cowok yang selalu digunjing oleh banyak orang itu, membalas perasaannya. Walau kemungkinan besar, itu tidaklah mudah. Dan kemudian, semuanya terjadi.
Terjadi hingga di tengah perjalanan, hanya ada keburukan. Ternyata, berkorban untuk mencintai seseorang secara sepihak menyakitkan juga. Kanaya mencoba tetap bertahan karena sudah setengah jalan. Mungkin, ada jalan lain yang bisa meluluhkan hati Arkan.
Akhirnya, Kanaya memutuskan untuk membeli sepatu ori merk lain, yang harganya sesuai budget yang ia punya. Karena Kanaya tidak lagi punya apa-apa.
Ia memilih untuk membelinya, di mall tempat ia bekerja sebagai SPG. Disana juga ada sporty stan tempat peralatan olahraga. Kanaya memilih sepatu dengan harga yang ia punya dan berkualitas original. Jika melihat sepatu-sepatu disana, rasanya Kanaya juga ingin membeli untuk dirinya sendiri.
Tetapi Kanaya tidak punya uang. Kanaya terlalu miskin untuk memimpikan memiliki sepatu-sepatu mahal ini. Akhirnya, ia bernapas lega karena sudah membelikan Arkan sepatu. Ia harap, setelah ini ia bisa mendekati Arkan kembali seperti dahulu. Menjauhkannya dari cewek sok polos yang bernama Araya.
*****
Arkan menyulut rokoknya dengan korek api. Seperti biasa, ia dan teman-temannya nongkrong dan kali ini di halaman belakang sekolah tempat penceburan Kanaya pekan lalu. Jika diingat-ingat, Arkan malu pada dirinya sendiri karena ia malah menolong cewek yang membawa kesialan dalam hidupnya.
"Ar, semenjak kapan loe jadi jahat ke cewek. Gue jadi ingat kejadian waktu loe nyeburin Naya disini. Gila bray, gue ngeri lihatnya." Ucap Reza memprovokasi. Yang lainnya terkekeh mendengar hal itu.
Arkan menghirup rokok itu, lalu mengeluarkan asapnya dari mulut. "Kanaya itu bukan cewek. Dia monster. Kalau cewek, gue gak bakal kasar." cibir Arkan.
"Iya, monster berkelamin cewek. Jadi sama aja loe ngasarin cewek!" Sahut Budi. Membuat Arkan ingin menekan kepala Budi dengan puntung rokok miliknya.
"Gue gak bisa bayangin kalau loe akhirnya suka sama Naya. Terus gantian loe yang ngejar Naya. Rasain loe!" Chandra ikut-ikutan berbicara menyulutkan emosi Arkan. Senang sekali mereka menjadikan Arkan sebagai objek pem bully an. Apalagi, semenjak ada Kanaya.
"Terus ngapain loe bayangin ****? Nggak ada di sejarah hidup gue, ngejar Kanaya cewek monster nggak guna." Arkan menarin kerah seragam Chandra. "Santai bro.."
"Lagian loe pada ngapain ngurusin hidup gue. Ngaca! Jomblo ngenes aja sok-sokan ngomentarin orang."
"Iye iye. Paham banget yang dede gemesh nya banyak." balas Alvin meredam emosi Arkan.
"Loe gimana sama Araya?" tanya Budi.
"Beda ya, kalau ngomongin Raya langsung semangat gitu. Jangan-jangan loe udah bucin banget sama dia?" ujar Alvin.
"Bukan bucin lagi. Gue udah cinta maksimal sama dia! Polosnya itu nggemesin."
"Jijik gue. Mana Arkan yang dulu yang katanya paling berwibawa. Kenal cewek langsung letoy!" Arkan langsung menimpuk Alvin dengan korek api yang ia bawa.
"Entar sore jadi ada tanding sama anak sebelah?" Chandra bertanya mengenai pertandingan basket yang akan dilakukan nanti sore. Arkan memang aktif dalam kegiatan turnamen-turnamen yang berkaitan dengan basket.
"Jadi, tapi gue main sama senior. Gue jadi kacung mereka."
"Yang penting, kacung kesayangan. Gak kaya gue, tiap ketemu malah dipalakin. Kurang ajar!" Chandra mengeluh.
"Tampang loe tampang-tampang memelas sih. Memelas pengen dipalak. Lagian, loe ngerokok aja berani di sekolah. Masa ketemu senior nyali langsung menciut?" balas Reza.
Pembicaraan mereka terhenti ketika Kanaya mendatangi mereka dengan wajah yang ngos-ngosan dan penuh berkeringat.
"Arkan gue cari loe kemana-mana nggak ada! Ternyata loe disini." Kanaya mengusap peluh keringatnya. Sementara teman-teman Arkan yang lainnya memandang Arkan yang sudah menampilkan muka masam.
"Ngapain loe? Mau gue ceburin lagi? Dengan senang hati," Arkan bangkit dan menghampiri Kanaya hendak menarik tangan cewek itu.
"Enggak! Gue mau ngasih sepatu buat gantiin sepatu loe kemaren."
"Loe—udah dapet gantinya?" Arkan bertanya ragu. Jika Kanaya sudah berhasil, itu artinya cewek itu akan kembali lagi di kehidupannya. Dan Arkan tidak mau hal itu terjadi.
"Iya, nih. Spesial dari gue. Loe harus siap-siap karena gue gak bakal lari dari elo lagi." Mendengar pernyataan mengerikan dari Kanaya, membuat teman-teman Arkan bersiul menggoda. Arkan sangat tidak suka.
"Siapa yang nyuruh loe gangguin hidup gue lagi? Akhir-akhir ini gue hidup bahagia tanpa elo."
"Loe pasti lebih bahagia sama gue. Percaya deh. Ini terima dong!" Arkan menyambut paper bag yang dibawa oleh Kanaya dengan ragu. Arkan membukanya. Menatap sepatu yang diberikan oleh Kanaya.
Sepatu yang berbeda dengan sepatu kesayangannya dulu. Terlintas sebuah rencana yang muncul di kepalanya. Arkan tersenyum sinis.
"Loe beli di pasar?" sarkas Arkan tanpa perasaan. "Pasar?" Kanaya menatapnya bingung. Arkan memegang sepatu itu.
"Iya. Loe pasti beli di pasar yang bau itu kan?"
"Jangan ngaco deh, Ar. Gue beli di mall ada stan nya sendiri."
"Loe yang ngaco! Gue paham tentang sepatu! Kelihatan banget ini murahan."
"Itu ori, Ar. Gue juga belinya mahal. Walaupun gak semahal sepatu loe yang rusak."
"Mahal loe itu berapa? 200 ribu? Iya? Atau 50 ribu? Gue pakai satu kali juga dijamin rusak ini."
Untuk pertama kalinya. Kanaya merasa dijatuhkan. Segala perjuangan yang ia lakukan, menjadi sia-sia di mata Arkan. Arkan tidak menghargai Kanaya.
"Kenapa gak dijawab? Bener kan gue, kalau loe itu bohong. Kalau emang nggak mampu, makanya jangan ngerusakin barang orang! Gue juga gak sudi pakai sepatu ini. Yang ada kaki gue langsung alergi."
Mata Kanaya sudah berkaca-kaca. Teringat ia yang tidak tahu malu bekerja seharian penuh, berkeliling rumah-rumah untuk menawarkan barang dagangannya, teringat ia yang dimarahi bos nya karena terlalu lambat menggunakan mesin kasir tetapi ia terus mencoba, teringat berulang kali orang-orang berjalan seenaknya membuat lantai kotor ketika Kanaya sedang mengepelnya.
Teringat, ia yang akhirnya menjadi pencuri pada dirinya sendiri menggadaikan kalung yang paling berharga.
"Kenapa diem loe? Malu kan loe sama diri sendiri. Makanya, jangan mimpi ketinggian biar jadi pacar gue! Loe itu cuma cewek yang numpang tenar
dan—"
Kesabaran Kanaya sudah habis.
"Cukup, Ar! Loe kira gue gak capek sama loe?!" Kanaya berteriak tidak terima dengan semua pernyataan yang dikatakan oleh Arkan.
Dan untuk pertama kalinya bagi Arkan, melihat kemarahan di manik mata Kanaya.
"Loe tahu nggak, apa aja yang udah gue lakuin buat beli sepatu ini?! Loe mana tahu dan gak akan mau tahu kan?"
"Gue nyadar diri kalau gue miskin. Tapi gue bukan orang yang nggak bertanggung jawab walaupun gue tahu yang ngerusak sepatu itu bukan gue! TAPI DEMI LOE—"
Kanaya menunjuk Arkan dengan jari telunjuknya.
"GUE NGELAKUIN APAPUN BIAR GUE BISA PUNYA UANG! Selama ini, gue juga gak pernah nuntut apapun dari loe. Meskipun elo hina gue di depan banyak orang!"
"Loe tahu nggak, gue kerja sehari penuh cuma karena dosa yang nggak gue lakuin! Gue bahkan ngejual benda berharga punya diri gue sendiri cuma karena mikirin sepatu loe yang katanya mahal itu! Loe lihat kaki gue, gue bahkan gak mampu untuk beli sepatu buat diri gue sendiri! Kalau loe nggak tahu apa-apa, setidaknya loe bisa menghargai!"
Kanaya merebut sepatunya yang ada di tangan Arkan. Saking kesalnya, Kanaya melemparkan sepatu itu ke dalam kolam tempat dirinya dipermalukan.
"Terserah loe. Kalau loe punya hak buat nuduh gue yang ngerusak sepatu itu, gue juga ada hak buat nyangkal semua tuduhan loe! Loe udah cukup nunjukkin keberengsekan loe di depan gue!"
"Apa salahnya sih mencintai orang, Ar? Ada ya hukumnya dilarang jatuh cinta? Loe sendiri juga bisa mencintai Araya semau loe sendiri. Gue gak boleh ya buat ngerasain itu?"
"Oke, gue juga nyadar diri kalau gue emang gak pantes bersanding sama YANG MAHA MULIA ARKANA KALLANDRA, KETUA OSIS YANG HARUS DIHORMATI. Tapi gue gak pernah memaksa buat elo ngebales perasaan gue. Seperti yang loe bilang, mulai saat ini gue akan berhenti."
"Gue berhenti buat ngejar loe lagi. Selamat ya, loe bisa pesta habis ini. Loe bisa ngejar Araya sesuka loe tanpa gangguan dari gue. Oh ya, for your information aja gue beli sepatu itu dengan harga 6 juta. Gue bakal ngembaliin 4 jutanya sesegera mungkin. Loe tenang aja."
Kanaya berbalik, meninggalkan Arkan. Arkan yang masih diam mematung memegang paper bag yang diberikan Kanaya. Budi menghampirinya.
"Gue yakin sih, sepatu yang dikasih Kanaya itu ori. Loe emang sengaja kan biar Kanaya ngejauhin elo? Loe tahu Ar, cara loe itu pengecut banget!" bisik Budi tepat di telinga Arkan. Kemudian, dirinya dan yang lainnya pun pergi meninggalkan Arkan sendirian.
Semenjak kejadian itu, Kanaya tidak pernah lagi muncul dalam pandangan Arkan. Cewek itu memilih untuk menjauh darinya.
*****