
Arkan menggandeng tangan Kanaya. Kanaya masih sangat tertekan dengan apa yang terjadi tiba-tiba. Tangannya gemetar, hingga Arkan pun bisa merasakannya. Kini, mereka berjalan menuju UKS.
Mobil pemadam kebakaran datang, cowok-cowok di sekolah pun membantu dengan menyiramkan air. Sedangkan yang cewek, lebih banyak membantu di UKS.
"Gue masih takut.." Kanaya menghentikan langkahnya sejenak. Ia berlutut, memegang kedua tempurung lututnya.
"Ada gue Nay. Apalagi yang loe takutin? Apinya juga lagi dipadamkan."
"Rasanya mual banget. Gue pengen muntah!" seluruh wajah Naya sudah memerah.
"Bentar Nay. Gue cari kresek dulu."
"Nggak usah. Gue masih bisa tahan. Pelan-pelan aja jalannya."
"Oke,"
Mereka kembali berjalan. Kali ini, lebih pelan. Hingga rasanya UKS begitu jauh.
"Loe—trauma?" Arkan akhirnya menanyakan apa yang ia pikirkan.
"Gak tahu. Intinya, Gue takut banget sama api yang gede."
"Sejak kapan?"
"Sejak.. Nggak tahu. Gue sering lupa sama kejadian yang udah terjadi di masa lalu. Yang diinget gue cuma rasa sakitnya."
Arkan menoleh menatap Kanaya. Di balik sifatnya yang sangat tangguh, Kanaya punya banyak rahasia gelap. Dia juga memiliki ketakutan yang besar.
"Gue juga bingung, apa tujuan gue ada disini." Arkan tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan setiap apa yang dikatakan oleh Kanaya.
"Gue.. Serem ya Ar? Semua orang disini jijik sama gue. Termasuk elo."
"Gue? Kenapa gue? Gue nggak jijik sana elo!" Arkan membenarkan apa yang salah di mata Kanaya.
"Gak usah munafik. Loe juga ikut ilang sama kayak orang lain."
Arkan hanya terdiam. Tidak lagi mengelak. Sampailah mereka di depan UKS. Disana ramai sekali orang-orang yang terluka. Ada beberapa yang menangis, karena terkena kobaran api. Kanaya menatap ke bawah. Kaki nya juga berdarah tanpa sadar.
"Raya?!" Arkan melepaskan tangannya dari Kanaya lalu berlari menuju seseorang yang sedang diobati tangannya. Dia adalah Raya. Raya juga terluka karena tangannya kejatuhan benda panas. Arkan langsung berjongkok di depan Raya dan menatapnya khawatir.
"Loe kenapa? Kenapa bisa loe terluka? Harusnya loe ke kantin sama gue!" Arkan mengambil alih untuk mengobati Raya. "Gue aja. Loe urus yang lain." Ujarnya kepada anggota PMR yang sedang mengobati Araya.
"Kak Arkan? Aku nggak papa kok. Tadi aku rada telat aja larinya. Terus gak nyadar kalau tertinggal sama teman-teman yang lain." Arkan menempelkan kassa pada bagian tangan Araya yang terluka. Lalu ditempelkannya dengan plester.
"Tapi loe beneran gakpapa kan, Ray? Ada yang luka lagi?"
"Gak ada. Cuma ini aja. Kalau kakak sendiri gimana? Ada yang luka?" Raya berbalik tanya dan menatap Arkan.
"Gue baik-baik aja. Loe harusnya lebih berhati-hati! Loe mau minum? Loe pasti syok banget Ray!"
"Kak Arkan lebay banget si?! Aku cuma luka dikit aja."
Arkan tetap saja menunjukkan kekhawatirannya. Ia menarik Raya ke dalam rengkuhannya. Membelai rambut Raya sama seperti ketika dirinya bersama Kanaya.
"Pembohong besar! Gue disini yang syok, tapi loe tinggalin gue lagi. Kalau dari awal loe khawatirnya sama Raya, ngapain loe peduliin gue. Bullshit!"
Kanaya bermonolog sendiri, menatap nanar Arkan yang sedang berpelukan dengan Raya. Ia kemudian berbalik, berjalan menuju ke markasnya seperti biasa yaitu rooftop.
*****
Arkan kehilangan Kanaya. Cewek itu, tiba-tiba menghilang.
"Ray, loe beneran udah nggakpapa kan?" Arkan memastikannya sekali lagi. "Iya kak, aku nggakpapa. Serius deh!" balas Raya meyakinkan Arkan.
"Kalau gitu, gue tinggal sebentar gakpapa kan?"
"Iya. Aku juga mau ke kelas kok,"
Arkan mengangguk. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke sekitar. Mencari-cari Kanaya. Arkan tahu, kaki Kanaya terluka dan harus diobati. Tetapi cewek itu menghilang lagi.
Kali ini, Arkan tidak buta arah. Ia tahu tempat kemana Kanaya akan pergi. Dia pasti ada di atas gedung. Entah apapun yang dia lakukan. Arkan pun menuju kesana.
Dilihatnya guru-guru sedang kebingungan dan merasa begitu khawatir. Mereka wira wiri menuju kantin memastikan tidak ada lagi murid atau siapapun yang ada disana.
Kejadian ini, sangat memukul pihak sekolah. Rapat osis Arkan juga ditunda. Kegiatan belajar mengajar pun dihentikan karena insiden ini.
Dan akhirnya, Arkan menemukan Kanaya yang sedang duduk diujung, kakinya diayun-ayunkan, tangannya juga memegang rokok.
"Loe ngerokok?!" Kanaya memutar matanya dan mendapati Arkan yang sedang ada di depan pintu.
"Bukan urusan loe!" Arkan mendekat, lalu merebut rokok yang ada di tangan Kanaya. Menginjaknya hingga mati.
"Loe cewek, Nay. Loe nggak mikir kesehatan elo sendiri? Loe gila ya!"
"Kenapa sih loe selalu ikut campur urusan gue? Gue emang gila!"
Kanaya hendak mengeluarkan rokoknya lagi dari kantong jaket. Namun Arkan mencegahnya.
"Cukup Nay!"
"Gue?"
"Iya, elo. Disini yang aneh itu elo. Loe sukanya sama Araya. Tapi loe selalu adanya buat gue! Loe yang kenapa? Masih mau alasan karena rasa kemanusiaan?"
"Cukup,Ar. Sekarang gue capek. Gue benci sama loe!"
"Kenapa loe benci sama gue?"
"Loe itu ada, tapi untuk ninggalin gue. Gue gak mau gue ketergantungan sama loe."
"Kalau loe sendiri, loe ngelakuin apapun yang bahaya. Karena itu gue peduli sama elo!"
"Terus, mau apa loe kalau loe peduli? Loe jadi punya tanggung jawab buat gue?! Gak perlu. Gue bahagia dengan cara gue sendiri. Lagian loe sendiri kan yang bilang, kalau gue itu aneh. Gue gak normal. Mending sekarang loe pergi, Ar. Loe punya temen-temen dan juga Araya. Loe peduliin aja mereka."
Arkan menghela nafas panjang.
"Oke, kalau itu yang loe mau. Gue akan turuti apapun itu."
Arkan berjalan kembali menjauhi Kanaya. Memikirkan semua yang dikatakan oleh Kanaya, ada benarnya juga.
'Loe sukanya sama Araya, tapi loe selalu adanya buat gue.'
Benar juga. Kenapa Arkan harus repot mengkhawatirkan Kanaya ketika dirinya dipermalukan di lapangan? Kenapa ia menyelamatkan Kanaya dari kebakaran sementara Araya juga membutuhkannya? Arkan tidak mengerti kenapa dirinya harus melakukan itu. Dan itu ia lakukan berulang kali.
Sementara Kanaya, tidak mengalihkan pandangannya dari Arkan. Waktu berjalan serasa lebih lambat. Waktunya kini, dirinya mengikhlaskan. Arkan hadir bukan untuk Kanaya. Berulang kali dirinya meyakinkan jika semua yang dilakukan oleh Arkan hanyalah sebuah kebetulan, kebetulan karena Arkan melihatnya terpuruk.
Kanaya akan mencoba membenci, untuk membiarkan Arkan pergi. Meskipun kini, ia sudah merindukan pelukan cowok itu.
******
"Arkan!" seseorang memanggilnya ketika Arkan hendak berjalan menuju UKS.
"Ram?" Rama, sang wakil ketua osis menghampiri Arkan.
"Loe darimana aja! Gue nyari elo dari tadi."
"Gue.. Ngapain loe nyari gue? Masalah acara? Loe kagak liat keadaan sekolah lagi genting gini." Arkan langsung menyemprot Rama sebelum pria itu menjelaskan. Karena Arkan tahu, Rama akan memanggilnya membicarakan organisasi mereka.
"Bukan itu. Ini emang ada kaitannya sama osis. Tapi ini parah, men! Loe ikut gue sekarang juga."
"Ram, tapi kondisinya lagi nggak memungkinkan!"
"Justru itu, karena gak ada yang memperhatiin kita, gue mau ngomong sama loe! Ini masalah udah parah banget."
Rama menarik kerah Arkan, membawanya berjalan menuju ruangan osis. Arkan langsung dihempaskan pada salah satu kursi yang ada didalamnya. Dan Rama, mengunci ruang osis dari dalam.
"Loe mau ngapain gue Ram?!" Arkan menatap aneh Rama ketika cowok itu mengunci pintu.
"Gak usah mikir aneh lu! Ada sesuatu yang gue curigain dari anggota kita."
"Kenapa sih? Gue rasa selama ini gak ada yang salah."
"Dengerin gue. Akhir-akhir ini gue meriksa laporan keuangan dari bendahara. Gak tahu kenapa, di setiap setoran jumlahnya berkurang. Setiap gue tanya sama Intan kenapa bisa gini, dia selalu jawab gak tahu apa-apa karena dia cuma bagian ngedata aja."
"Maksud loe gimana?"
"Loe bisa periksa ini." Rama menyalakan komputer yang ada disana. Lalu membuka program microsoft excel tempat laporan keuangan mereka. Menunjukkan setiap kejanggalan yang ada.
"Uangnya emang gak berkurang sekaligus. Tapi kalau loe jumlah semua totalnya, ada 5 juta yang ilang." Arkan memperhatikan itu dengan seksama. Apa yang dikatakan Rama tidak salah. Uang yang diambil sedikit demi sedikit hingga tidak ada orang yang menyadarinya.
"Ini gak bisa dibiarin. Itu jumlah yang gak sedikit. Berarti bisa disimpulin kalo masalahnya ada di Intan kan?"
Intan adalah bendahara osis di sekolah mereka. Namun, Rama menggeleng.
"Bisa juga anggota yang lainnya. Ibaratnya gini, kalau loe ngelakuin kesalahan, loe bakal memanipulasi supaya gak kelihatan. Tapi Intan tetep jujur. Cuma, kita juga tetep harus waspada. Karena siapapun bisa ngambil uang ini, termasuk juga gue. Kalau loe, gue gak yakin bakal ngelakuin ini soalnya loe sultan."
Arkan berkutat dalam otaknya. Pentas seni diselenggarakan sebentar lagi, dan butuh banyak dana.
"Gue bakal coba selidikin Ar. Biar gue bisa membuktikan juga kalau gue gak ngambil uang itu. Tapi waktunya udah mepet banget."
"Gue percaya kalau loe gak ngambil Ram. Dan, serahin semuanya ke gue. Gue bakal selidikin secepat mungkin. Kita bisa langsung ke cctv buat lihat siapa yang ngambil kan?"
"Sebenarnya bisa sih. Cuma, denger-denger karena gak ada yang jaga ruang cctv, banyak cctv di sekolah kita yang rusak. Terus, gue gak yakin mang Dadang ngasih izin buat buka ruang cctv."
Rama tiba-tiba teringat sesuatu. Ia langsung menuju loker milik Intan dan mengambil panitia dana usaha alias danus, yang ngurusin duit dari macam-macam sponsor.
"Ar, uangnya nggak ada! Semuanya." Rama menyerahkan map itu kepada Arkan. Harusnya, disana ada uang dari beberapa sponsor yang sudah dikumpulin.
"**** banget gue sampe kecolongan gini! Ini semua salah gue!" Arkan membuka lagi mapnya.
"Ini tanggung jawab kita bersama, Ar. Yang patut disalahin itu orang yang udah ngambil uangnya."
Arkan menyenderkan kepalanya di atas sandaran kursi. Tidak cukup satu masalah menghampirinya, kini ada lagi. Arkan menarik rambutnya kesal. Ia terlalu larut dalam masalah pribadinya hingga menyepelekan organisasinya sendiri. Jika pihak sekolah sampai tahu, tamat sudah riwayat Arkan.
Gimanapun caranya, pentas seni harus tetap dilaksanakan!
*****