
Aruna terbatuk-batuk kala matanya terbuka, menatap segumpal asap yang sudah memenuhi atap kamarnya. Badannya berkeringat, rasanya pun panas.
Aruna tidak tahu, apa yang terjadi. Ini masih dini hari, tetapi dirinya melihat warna merah menyala di balik kamarnya melalui lubang ventilasi yang ada di atas pintu.
"Udah siang ya? Kok Aruna gak dibangunin. Kalo telat ke sekolah nanti dimarahin bu guru gimana." Ia bermonolog, seraya bangun dari tidurnya. Kemudian melipat selimut, merapihkannya di atas kasur.
Berjalan, menuju cermin. Mengusap matanya dan menggeliat. Menyisir rambut panjang lurusnya lalu mempersiapkan seragam sekolah untuknya.
Ia terbatuk lagi, kali ini asapnya semakin banyak. Tetapi Aruna tidak mengerti. Yang ia fikirkan, ia takut terlambat sekolah.
"Uhuk,"
Aruna merasa dadanya begitu sesak. Ia mencoba meraih satu gelas air putih yang ada di nakas tempat tidurnya. Meminumnya, dan merasa lebih baik.
"Mah? Pah? Dada Aruna sakit." Aruna mencoba berbicara keras. Aruna mencoba memukul dadanya agar lebih baik lagi. Tetapi, ia malah menjadi semakin sesak.
Karena sudah tidak tahan, Aruna pun membuka pintu kamarnya.
Namun, yang ia lihat kini adalah pemandangan api dimana-mana yang bahkan sudah melahap kamar kakak dan juga adiknya. Kamar kak Aira dan adiknya, Aleesya. Aruna tahu jika kini, rumahnya kebakaran.
Dirinya yang masih berumur 7 tahun begitu ketakutan. Mencoba menghindari benda apapun di depannya yang sudah berapi.
"Kak Aira?!"
"KAK!"
"MAMAH? PAPAH? ADEK GIMANA?"
Aruna terus berteriak. Tetapi tidak ada yang menjawab. Ia tidak tahu dimana keluarganya berada. Lantas, tiba-tiba ia berfikir bagaimana jika mereka masih di dalam kamar?
Aruna yang semula sudah berlari hingga ruang tengah, kemudian kembali. Menaiki tangga yang pegangannya sudah dilahap oleh api.
Ia harus memeriksa kamar orang tuanya.
"Mah? Are you okay?"
Aruna mengambil besi bekas pegangan tangga yang terjatuh di lantai. Lalu mendorong pintu kamar orang tuanya dengan besi itu.
Kosong.
Aruna tidak mendapati orang tuanya di dalam. Ia pun kembali berlari turun, menuju kamar Aira dan Aleesya.
Tidak ada seorang pun.
Aruna mulai menangis, ia hilang arah. Tapi ia juga takut berada didalam rumah itu. Dengan sisa keberanian yang ada, dirinya kembali berlari secepat mungkin.
Tidak peduli banyaknya benda-benda panas yang jatuh mengenai tubuhnya. Ia hanya ingin segera keluar dan bernafas dengan lega.
****
"ARUNA!"
Aruna sudah hampir pingsan, ketika ia mengetahui jika ibunya kini memeluknya dengan erat, ia pun kembali tersadar. Bersyukur, karena ternyata semua anggota keluarganya sudah berada di luar rumah.
"Mah? Are you okay?" Aruna mengajukan lagi pertanyaan yang belum sempat dijawab.
"Maafin mamah. Mamah lupa kalau kamu masih ada di dalam kamar. Mamah kira, kamu udah lari keluar waktu belum separah ini kebakarannya."
Sarah, sang ibu hanya bisa memeluk erat putrinya.
"Papah juga minta maaf, kita nggak tahu kalau akan ada kejadian ini. Maafin papah dan mamah."
Aruna sudah tidak bisa menjawab. Ia merasa sesaknya tak kunjung pulih. Tetapi dalam pelukan mamah nya, membuat dirinya merasa tenang.
Warga di sekitar berbondong-bondong mengalirkan air melalui apapun untuk memadamkan api yang ada di rumah kediaman keluarga Haris, ayah Aruna.
Semuanya tidak menyangka jika api itu melahap dengan sangat cepat. Kini, hampir seluruh bagian rumah telah habis terbakar.
Sarah hanya menangis, merasa sangat terpukul mengetahui kejadian yang tak terduga ini. Ia bahkan tidak tahu faktor apa yang menyebabkan rumahnya terbakar.
*****
Cobaan yang datang tidak hanya berhenti disana.
Kemudian lagi, Haris mengalami kebangkrutan. Investor terbesar di perusahaannya, menarik seluruh jumlah investasi yang ada di dalamnya. Mengharuskan Haris dan keluarga membayar banyak kerugian terutama untuk sallary para karyawan.
Tapi hidup harus tetap berlanjut bukan? Karena tidak ada pilihan lain, selain bertahan. Lagipula Aira, Aruna dan Aleesya masih belum dewasa untuk mencerna permasalahan sebesar ini. Jadi, biarkan Sarah dan Haris yang menanggungnya.
Kini, mereka berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang nantinya akan menjadi tempat tinggal sementara. Haris menggendong Aleesya yang kala itu berusia 6 tahun, hanya berbeda satu tahun dari Aruna. Sedangkan Sarah menggandeng tangan Aira yang berusia 10 tahun. Aruna ada di tengah-tengah mereka. Ikut menatap bangunan kecil itu.
"Mah, ini rumah siapa?" Tanya Aira. Raut wajahnya sudah ketus ketika mereka akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ini rumah sementara kita." Jawab Sarah dengan hati yang mencoba lapang.
"Aku gak mau mah, lantainya kotor. Bau lagi. Kita gak bisa cari yang sama kayak rumah dulu ya?"
"Diusahakan ya, Ra. Kan cuma sementara saja." Haris ikut menyahuti protes dari anak sulungnya. Ia menurunkan Aleesya di ruang pertama yang ada di balik pintu. Tidak ada sofa ataupun meja mahal yang berhias vas bunga seperti dulu. Hanya ada satu tikar yang tergelar di tengahnya.
Haris kemudian mengangkut seluruh koper-koper dan barang lainnya ke dalam. Sedangkan Sarah berjalan melihat isi di dalam rumah. Ternyata, hanya ada dua kamar. Satu kamar berisi dipan yang agak besar, dengan kasur kapuk di atasnya dan kamar lainnya berisi dua dipan kecil dengan kasur tipis. Ia menghela nafas, putrinya ada tiga. Tidak mungkin menyuruh mereka untuk tidur berdesak-desakan.
Aira, Aruna dan Aleesya membuntuti di belakangnya. "Kamarnya kecil banget. Gimana aku ngerjain PR nya? Gak ada meja belajar pula." Lagi-lagi Aira memprotes. Anaknya itu, memang tidak pernah hidup susah. "Barengan disini ya. Aira sama Aleesya coba bantu papah buka kopernya." Titah Sarah.
Lalu, menyisakan Aruna yang masih ada di sampingnya. Sarah menghela nafas kembali. Lantas berlutut di hadapan Aruna. Putri keduanya, atau si anak tengah. Memegangi kedua pipi anak kecil itu.
"Aruna, diantara yang lainnya cuma kamu yang mengerti perasaan mamah. Mamah minta maaf banget sama kamu." Aruna hanya mengangguk. "Disini, kasurnya kan cuma ada dua dan ukurannya sangat kecil. Jadi untuk sementara, kamu tidur di bawah pakai bedcover gak apa-apa kan?"
Aruna mengedarkan pandangannya ke sekitar. Memang masih sisa ruang kosong sedikit untuk dirinya jika memang begitu. "Iya mah, Aruna tidur di bawah."
"Mamah janji, kalau dapat uang pertama yang mamah beli kasur buat kamu. Maafin mamah ya, udah buat hidup kalian menderita." Sarah merengkuh Aruna. Memeluknya erat. Air mata menetes dari matanya. Tidak pernah mengira, jika akhirnya akan menjadi seperti ini.
"Mah? Are you okay?" Lagi-lagi pertanyaan itu, dilontarkan oleh Aruna. Sarah mengangguk.
"I'm so bad. Tapi mamah yakin, semuanya akan berjalan dengan baik. Kamu anak mamah yang paling kuat. Mamah bangga sama kamu."
Kali ini, berganti Aruna yang memeluk ibunya dengan sangat erat.
Makan malam berlangsung dalam keheningan. Hanya ada nasi dan tempe, tidak ada lauk lagi. Semuanya berkumpul di tikar yang tadi tergelar. Aira makan dengan malas, Aleesya tidak mau makan. Sedangkan Aruna mencoba makan dengan lahap.
"Nasinya keras. Gak enak." Aira meletakkan sendoknya di atas piringnya yang masih penuh. "Dibiasakan Ra, jangan manja." Haris mencoba memberi pengertian. Tetapi Aira tidak peduli. Dirinya mengajak Aleesya untuk pergi ke kamar.
Menyisakan Aruna, Haris dan Sarah.
"Aruna suka?" Tanya Sarah. "Suka. Enak kok." Meski bohong, Aruna tidak mau ibunya merasa sedih. Setidaknya dengan dirinya tidak mengeluh, orang tuanya akan tetap berusaha keras.
"Ekhm, Jadi Aruna mumpung kamu disini juga. Ada yang mau papah bicarakan sama kamu."
"Kamu yakin mas? Sisa tabungan kamu benar-benar udah ludes?" Sarah menyela. Karena ia tahu, apa yang ingin dibicarakan oleh suaminya itu. "Tidak ada pilihan lagi, aku sudah nggak punya apa-apa."
"Lagi-lagi kami harus minta maaf ya, Aruna." Aruna menatap ibu dan ayahnya bergantian.
"Kamu tahu kan, sekolah kalian menghabiskan biaya yang sangat mahal?" Aruna tahu, dirinya dan yang lain bersekolah di sekolahan elit yang ada di Jakarta. Fasilitasnya tidak main-main, ada ruang bermain yang besar, kolam renang, bahkan memiliki jam untuk tidur siang. Belum lagi kelasnya yang begitu mewah.
"Sebenarnya, untuk sekolah kalian papah sudah menyiapkan tabungan dari jauh-jauh hari. Tapi karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan seperti ini, papah mulai keteteran buat mengatur segalanya. Jadi, sebenarnya uang SPP yang kami gunakan untuk sekolah kamu bagaimana jika dialihkan untuk membeli perlengkapan rumah kita."
"Aku kurang mengerti, pah. Maaf." Jawab Aruna sopan.
"Kami berniat untuk memindahkan kamu ke sekolah dasar negeri yang ada di dekat sini."
Jujur, Aruna hendak memprotes. Baru satu tahun dirinya bersekolah di sekolahan elitnya. Ia juga sudah punya beberapa teman, tetapi kini orang tuanya mendesaknya untuk pindah ke sekolah.
"Besok kita survei kesana yah! Tidak begitu buruk juga,"
"Kalau Kak Aira sama Lisa gimana?"
"Karena Kak Aira sudah kelas 4, kita gak bisa menyuruh dia untuk pindah. Dia harus fokus untuk ujian nasionalnya nanti. Untuk Aleesya, nanti masih papah fikirkan. Dia juga masih TK kan,"
Sarah hanya diam. Tidak berani menatap anak tengahnya. Ini keputusan yang tidak adil, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mendukung.
Aruna mengangguk pelan.
Ketika itu, ia tidak mengerti mengapa dirinya diperlakukan dengan demikian. Ia tidak mengerti mengapa orang tuanya melupakan dirinya pada saat kebakaran terjadi. Ia tidak mengerti mengapa ibunya menyuruhnya untuk tidur di bawah sementara saudara yang lainnya mendapatkan ranjang tempat tidur. Ia juga tidak mengerti mengapa hanya dirinya yang pindah dari sekolah.
Kala itu, ia hanya anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa. Ia fikir, dengan dirinya mengalah akan membuat semua hal menjadi mudah. Ia fikir, membahagiakan orang tuanya adalah tanggung jawab seorang anak. Namun, semakin tumbuh besar dengan semua kenangan yang ia alami ia mulai bisa mengartikan.
Dirinya bukanlah anak yang tidak diharapkan. Ia seorang anak tengah. Seperti anak tengah di dunia juga tahu, bagi yang tertua itu karena mereka yang tertua. Dan bagi yang termuda itu karena mereka yang termuda. Hingga kau harus mengalah dari mereka.
Terkadang, keluarga sendiri yang paling tidak sadar. Jika sudah banyak pengorbanan yang telah kau lakukan.
*****