
Arkan tidak menyadari jika ia sedaritadi terus menerus tersenyum membayangkan dirinya dan Kanaya berpelukan tadi. Arkan, tidak pernah merasa sebahagia ini. Ia tidak tahu jika jatuh cinta benar-benar membuatnya gila.
Ia ingin sekali menghubungi Kanaya jika saja cewek itu mempunyai hp. Sayangnya, tidak. Mungkin besok akan Arkan belikan supaya ia tidak tersiksa seperti ini lagi. Ia ingin cepat-cepat bertemu Kanaya di sekolah dan mengatakan jika ia sangat merindukan cewek itu.
Arkan benar-benar sudah tidak waras! Ia bolak balik mengganti posisi tidurnya agar ia bisa terlelap. Namun, tetap tidak bisa. Ia ingin sekali ke rumah Kanaya saat ini juga jika mau dicap sebagai orang yang paling gila.
Tok..tok..tok
Pintu kamar Arkan diketuk. Sudah bisa dipastikan jika itu pasti Kathya. Entah karena kesibukannya, Arkan jarang sekali mengobrol santai dengan wanita itu.
"Kal, loe kayaknya belum tidur ya? Lampu kamar loe belum mati." ucap Kathya dari luar. "Masuk aja. Gue masih melek." selang kemudian, pintu terbuka. Menampilkan Kathya yang masih memakai jas putihnya. Ia tampak lelah dan kantung matanya membesar.
"Sakit loe?" Arkan menyadari hal itu. Kathya melepas jasnya seperti biasa, lalu duduk di pinggir ranjang Arkan.
"Sebenernya.. Ada yang mau gue omongin?" terlihat Kathya yang menghela nafasnya panjang. Ia mengabaikan pertanyaan Arkan. "Soal apa? Bunda ayah? Mereka pulang? Bukannya masih dua tahun lagi?" Arkan menerka. Namun Kathya menggelengkan kepalanya.
"Kanaya. Soal Kanaya."
"Kenapa? Gara-gara dia mogok terapi kemaren? Tenang aja. Kemaren kami memang sempat berantem. Tapi sekarang udah baikan kok. Dia mungkin mulai dateng ke rumah sakit lagi." Arkan kembali menerka. Namun lagi-lagi Kathya menggelengkan kepalanya.
"Ada yang aneh." ucapnya singkat. "Loe baru tahu? Kan gue udah bilang, kalau Kanaya emang aneh. Tapi dia gak munafik kayak orang lain. Dia itu unik. Seperti yang elo bilang,"
"Gue serius, Kal. Bukan soal itu. Gue juga baru bisa ngomong sekarang saking sibuknya gue. Dan gue rasa, loe harus tahu tentang hal ini." ucap Kathya tegas. Biasanya ia gampang bercanda, kali ini matanya menatap Arkan serius. Tidak biasanya Kathya seperti ini.
"Kenapa dia?" akhirnya, Arkan bertanya. "Dia aneh. Dari awal terapi, gue kira dia masih nggak percaya sama gue. Karena ia sama sekali gak ngomong apa-apa tentang hidupnya."
"Gue kira di minggu berikut-berikutnya karena kita udah dekat, mungkin dia mau lebih terbuka sama gue. Tapi nyatanya gak ada kemajuan."
"Bukannya dia emang begitu? Loe sendiri yang bilang kalau dia penuh misteri."
"Loe lupa, kalau gue itu pakar ekspresi wajah. Gue setiap kali tanya tentang keluarganya, Kanaya selalu bilang dia gak tahu. Bahkan nama setiap anggota keluarganyapun dia juga bilang kalau dia gak kenal." Arkan menyimak perkataan Kathya.
"Dia cuma tahu tentang ketakutannya dia. Tentang dia yang gak suka sama api yang gede, atau juga balon. Tapi dia gak bisa kasih tahu alesannya. Ya, gue tahu mungkin dulu saking traumanya dia sampe lupa kejadian itu. Cuma, dia selalu bilang enggak tahu. Setiap kali gue tanya dia jawab gak tahu. Yang paling bikin gue aneh banget, setiap kali gue suruh ceritain kegiatan sehari-harinya dalam satu hari penuh, dia cuma kasih tahu tentang di sekolahnya. Terus, dia bilang gak inget lagi. Dia gak pernah bahas interaksi antara dia sama keluarganya. Yang dia bahas cuma sekolah, sama elo. Itu selaluu kayak gitu."
"Gak ada yang aneh, Kath. Emang kenapa kalau dia gak tahu? Mungkin dia emang udah nutup luka lamanya itu." Arkan mengelak, membela Kanaya. "Ada yang nggak beres Kal. Gue yakin itu. Antara lupa sama enggak tahu itu beda ya. Dan lagi, ada satu hal yang gue takutin Kal."
"Apa?"
"Ada dua kemungkinan. Dia kena amnesia, atau—"
"Dia emang gak pernah ngalamin kejadian itu, karena dia..."
"Orang lain."
Pernyataan yang menakutkan itu membuat Arkan diam tak berkutik. Tidak, ia tidak boleh percaya begitu saja pada Kathya. Baginya, Kanaya adalah Kanaya. Kanaya pacarnya, Kanaya yang aneh. Ia tak apa, asal dia tidak terluka.
*****
Aleesya meneguk satu gelas kopi instant yang ia buat sekaligus. Pikirannya semrawut. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Aruna.
"Sayang, belum tidur kah?" suara dari luar pintu terdengar. Itu Sarah ibunya.
"Masuk aja mah. Aleesya masih bangun." tak lama kemudian, pintu terbuka. Menampilkan sosok ibunya dalam balutan daster. "Kok belum tidur? Nanti besok sekolah kan.." Sarah menghampiri putrinya dan duduk di kursi belajar Aleesya.
"Hm, gak bisa tidur. Gak tahu kenapa. Mamah tidur disini deh, jangan duduk disitu." titah Aleesya sambil menatap ibunya. "Gakpapa, cuma mau mastiin kamu udah tidur apa enggak."
"Belum ngantuk mah, hehe."
"Kamu lagi mikir apa sih? Kok akhir-akhir ini suka bengong gitu."
"Masa sih? Kok perasaan Aleesya biasa aja ya. Mamah kali yang suka bengong,"
"Mamah itu tahu, gimana pikiran anaknya. Udah jelas banget kalau kamu itu lagi ada sesuatu." pernyataan Sarah, membuat Aleesya berpikir sebentar.
"Berarti, kalau mamah tahu semuanya, apa mamah juga tahu tentang pikiran Kak Aruna? Mamah ngerasa gak sih, ada sesuatu yang ditutup-tutupin sama dia?"
Sarah hanya diam. Ia tiba-tiba merasakan ada yang berdenyut di dadanya. "Kenapa diam mah?"
"Ma—mamah tahu semuanya, semua anak-anak mamah."
"Mamah pura-pura tahu ya? Pernah nggak mamah tiap malem nyamperin Kak Aruna mastiin kalau dia tidur atau enggak?" Aleesya sudah tidak sabar lagi. Ia ingin tahu, apakah salah satu penyebab Aruna berubah adalah tidak keutuhan keluarga mereka, atau perbedaan sikap ibunya pada Aruna, atau apapun itu. Aleesya sangat ingin tahu.
"Kamu kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" ekspresi ibunya berubah. Meski tidak mengatakannya, Aleesya tahu jika ibunya kesal. "Mamah tahu nggak kalau kak Runa gak pernah bisa tidur tenang? Dia suka duduk sendirian malem-malem cuma buat lihat foto papah?"
"Jangan pernah bahas papah, Sya. Udah cukup. Selama ini mamah udah cukup menderita karena sendirian."
"Tapi yang aku lihat, disini yang menderita itu kak Runa mah. Dia yang nanggung semuanya. Mamah juga nyalahin dia kan tentang kematian papah?"
"Siapa yang nyalahin?! Gak ada ya, selama ini mamah udah mencoba berlaku adil sama anak-anak mamah." Sarah tidak mengerti, kenapa bungsunya ini tiba-tiba membahas suatu masalah yang sudah lama ingin ia kubur dalam-dalam.
"Adil mah? Jadi, maksudnya kak Aruna bukan anak mamah gitu? Karena selama ini yang aku lihat mamah biarin dia sendirian, mamah gak pernah peduli sama dia? Mamah juga lupa kan, kalau tiga bulan yang lalu dia ulang tahun? Mungkin, mamah juga lupa umur berapa kak Aruna sekarang."
"Aku nggak nuduh mah. Tapi itu kan kenyataannya?"
"Gak tau ah, mamah bingung sama kamu. Udah lah sekarang kamu tidur aja, gak usah ngomong ngelantur kayak tadi." Sarah berdiri dan keluar dari kamar Aleesya. Ia menutup pintu dengan kencang.
"Mah! Sadar mah! Sebelum semuanya terlambat! Daripada mamah menyesal, kehilangan sosok kak Aruna mah." teriak Aleesya yang masih bisa didengar oleh Sarah.
Aleesya tidak punya pilihan lain, selain mengembalikan Aruna secepatnya. Ia tidak ingin menyesal dan kehilangan sosok Aruna. Karena baginya, Aruna adalah kakak terbaik yang paling bisa mengerti Aleesya.
Aleesya, harus segera bertidak.
*****
Aruna kembali berkutat dengan laptopnya, menuliskan bab terbaru pada novelnya, dengan judul 'Pernyataan tegas' dirinya ikut memiliki perasaan yang sangat bahagia untuk menulis bab ini. Sampai-sampai ia merasa seperti, dirinyalah yang merasakannya sendiri.
Padahal, lagi-lagi itu cuma mimpi. Atau, khayalan?
Dalam ceritanya, ia menuliskan seseorang yang dicintai begitu dalam. Hingga Aruna juga ingin merasakan hal tersebut. Dibanding mencintai, dicintai lebih banyak memiliki keuntungan yang lebih. Arti dicintai, dirinya tak perlu merasa kecewa atas cinta yang tak terbalas.
Aruna tersenyum. Angannya terlalu tinggi. Mengenal pria saja, ia tidak pernah. Bagaimana mungkin, ia bisa merasakan hal itu?
Namun, fokusnya kembali bersatu kala seseorang membuka pintu kamarnya. Dan itu adalah Aleesya.
"Kak, loe harus berhenti!" cewek itu menghampiri Aruna lalu meneliti meja Aruna yang dipenuhi oleh kertas.
"Kamu kenapa, Sya? Kamu mimpi buruk?"
"Udah berhenti! Loe jangan pernah nulis novel beginian lagi!" Aleesya meremas lembaran-lembaran yang berisi novel milik Aruna. Kemudian menggenggamnya.
"Sya, kamu kenapa? Kamu mimpi buruk? Atau kenapa—"
"Loe yang mimpi buruk! Gue mau selametin elo dan bikin loe bangun dari tidur loe! Plis, loe harus berhenti nulis ini!"
"Aku? Kenapa aku? Sya, itu punya aku. Kenapa kamu gituin?" Aruna menatap lembaran yang ada di tangan Aleesya.
"Loe gak sadar kan? Atau, loe ****? Semua yang loe tulis disini, itu jadi kenyataan!"
"Maksudnya apa? Aku gak ngerti."
"Dont you realize that someone lives in your head, and it isnt you sis!" Aleesya menggertak. Kesabarannya sudah habis. Sedang Aruna hanya menatapnya bingung.
"Loe masih gak paham? Sosok Kanaya, yang loe tulis di novel loe itu ada di diri loe sendiri! Dia ada kak! Dia hidup! Dia nyabotase elo dan bunuh jiwa loe!"
"Kanaya—hidup?"
"Lihat ini, kak! Gue udah gak bisa diem lagi, karena gue takut loe hilang. Loe lihat ini! Ada lipstik hitam, eyeliner and all of the shit random things in this place adalah KANAYA!" Aruna menatap benda yang ditunjukan oleh Aleesya. Ia hanya diam. Ia tidak ingat apapun dan tidak pernah menyadari keberadaan benda itu di dalam kamarnya, karena ia sendiri selalu berada di kamarnya yang gelap.
Lalu, pandangannya beralih pada sepatu yang ada di belakang pintu kamarnya. Itu juga. Aruna tidak pernah menggunakan sepatu itu. Ia juga ingat sweater! Tiba-tiba saja sweater pink tergantung di kamarnya. Padahal, ia yakin jika ia tidak pernah membeli barang itu semua.
"Loe tahu, nggak? Selama ini loe juga sekolah tapi loe gak pernah sadar kalau loe sekolah! Iyakan? Gue udah curiga dari dulu, tapi gue gak punya keberanian sampai saat ini."
"Sekolah? Aku—sekolah?" Aruna langsung mengambil tindakan membuka lemari bajunya. Kemudian, ia mendapati seragam sekolahnya ada disana.
Harusnya tidak ada. Kenapa tiba-tiba ada?
Aruna terperanjat. Ia terlalu kaget untuk menerima semua kenyataan ini. "Gak mungkin!" Aruna menutup mulutnya. Matanya sudah berkaca-kaca. "Kalau loe gak percaya, loe bisa datengin sekolah itu. Dan loe akan temuin faktanya disana. Loe bahkan gak pernah bisa tidur nyenyak kak. Kenapa loe anggep kehilangan loe itu cuma tidur?"
"Jadi, Kanaya hidup?" Aruna bertanya sekali lagi. "Gak cuma hidup. Dia bahkan udah punya kehidupan sendiri."
Aruna memegang kepalanya. Ia merasa sangat pusing memikirkan ketidakmungkinan ini. Ia selalu percaya dengan Aleesya, karena adiknya tidak pernah berbohong. Tapi untuk yang ini, kenapa sulit sekali ia mengerti.
"Jadi selama ini aku gak pernah halusinasi?"
"Halusinasi? Gimana maksudnya kak?"
"Gak tau. Aku bingung banget. Kenapa bisa ada Kanaya."
"Gue bisa munculin saksi kalau loe masih gak percaya sama semua bukti yang ada disini." Aleesya sudah berani dan nekat. Ia akan melakukan apapun agar Aruna percaya kepadanya.
"Saksi? Saksi gimana maksud kamu?"
"Iya, ada seseorang yang sangat mengenal Kanaya."
"Siapa?"
"Mas Arkan. Pacarnya Kanaya. Gue bakal bicara sama dia."
*****