Partner in Pressure

Partner in Pressure
Tersisihkan


Aruna terbangun dari tidur panjangnya. Ia menatap kamarnya sekitar, dan merasakan pusing yang begitu dahsyat. Selalu seperti ini. Sudah tiga tahun Aruna menderita insomnia berat dan menjadikannya seperti hewan nokturnal.


Ia akan tertidur dari jam 5 pagi, hingga jam 5 sore dan terbangun saat itu. Kemudian terjaga semalaman hingga keesokan harinya dan begitu terus menerus. Aruna mencoba untuk menganggapnya jika itu normal untuk remaja pengangguran seperti dirinya.


Aruna bangkit dan bercermin. Ada lingkaran hitam dibawah kantung matanya. Kemudian, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Air dingin yang mengguyur tubuhnya membuat dirinya meringis. Apakah Aruna juga punya osteoporosis? Kenapa ia seperti mengalami penuaan dini? Padahal, ia tidak melakukan apapun sepanjang hari.


Aruna yang keluar dari kamar mandi menatap ruang tamu yang kini sudah didekor banyak balon dan bunga. Ini adalah perayaan hari ulang tahun adiknya, Aleesya. Yang tepat hari ini berumur 16 tahun. Tidak terasa, semua beranjak dewasa. Dengan jatuh bangun yang mereka rasakan.


Aruna kembali ke kamarnya. Kemudian meluruskan rambutnya dengan catokan yang ada. Ia tidak suka rambut panjang bergelombang.


"Aruna sayang.." terdengar suara ibunya yang nyaring memanggil namanya. "Iya mah," Aruna menyahut seadanya. Lalu ia memakai sweater berwarna merah jambu dan celana pendek dengan warna yang sama. Ia bahkan tidak punya hasrat untuk memilih baju yang bagus.


"Cepetan, udah siap belum? Jangan lupa kado buat Aleesya."


"Iya mah." Aruna bahkan melupakan soal hadiah untuk adiknya sendiri, Aleesya. Aruna berpikir keras. Barang apa yang bisa ia jadikan hadiah, dalam sekejap mata.


Ia menemukan bingkai lama dengan foto kecilnya bersama Aleesya. Karena sudah malas berpikir, Aruna memasukkan bingkai tersebut ke dalam kotak sepatu bekas dan membungkusnya dengan kardus. Hadiah yang sangat tidak istimewa.


Aleesya mungkin akan membencinya setelah ini. Tidak apalah, Aruna juga jarang berinteraksi meski dengan adiknya sendiri.


Acara ulang tahun begitu khidmat dan dilingkupi keheningan, karena hanya ada 4 orang. Ibunya—Sarah, Aira, Aruna dan Aleesya. Kue tiramisu yang terlihat menggiurkan di mata Aruna membuatnya tidak sabar. Ia sangat lapar.


"Happy birthday, Aleesya.


Happy birthday, Aleesya.


Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Aleesya."


Aruna hanya ikut bertepuk tangan di saat yang lainnya asyik bersenandung. Lalu, tatapannya jatuh pada Aleesya adiknya.


Kini, ia sedang meniup lilin di atas kue ulang tahunnya.


Aleesya, dengan rambut gelombang seperti dirinya. Aleesya, yang menjadi favorit Aruna. Gadis yang kini sedang beranjak dewasa itu, tampak bahagia dengan hidupnya. Ia bisa tersenyum bebas dan melakukan apapun semaunya. Semua yang ia pilih, akan didukung sepenuhnya. Meski dengan jerih payah.


Aleesya yang ceria. Yang sangat disayangi keluarganya.


"Mamah doain, semoga anak mamah yang paling bontot ini, bisa mencapai cita-citanya, selalu bahagia, dan selamanya sehat." Sarah mulai menyuarakan make a wish nya. Aleesya yang mendengar itu, langsung memeluk Sarah.


"Terimakasih, mah. You're the best mom." selanjutnya, Aleesya memeluk Aira.


"Gila, si bontot udah dewasa aja. Baik-baik loe sama kakak sendiri." Mendengar itu, Aruna menatap mata Aira. Ada sesuatu yang ia pendam dan ingin diutarakan. Namun, ia tidak mampu hanya untuk berkata.


Aleesya lantas hendak memeluk Aruna ragu. Kemudian, Aruna mengijinkannya. Mereka pun berpelukan.


"Selamat ulang tahun."


Dilanjutkan lagi, dengan penyerahan kado. Aira memberi pertama. Kedua Aruna. Kemudian Sarah. Ada tiga kotak yang dibawa oleh ibunya.


"Ini untuk Aleesya,"


"Ini untuk Aira,"


"Dan ini untuk Aleesya lagi. Yeey"


Betapa canggungnya Aruna ketika dirinya tidak memegang satu kotak pun dari ibunya.


"Dibuka dulu dong semua kotak pemberian mamah."


"Thank you, mah." Aleesya membuka kotaknya. Hadiah pertama adalah dress berwarna peach, warna kesukaan Aleesya. Dan yang kedua, adalah sepatu. Sebuah sepatu flat shoes. Sama halnya seperti Aleesya, Aira pun mendapatkan sepatu juga. Sepatu sneakers favoritnya.


"Wih, mamah. Kok selalu tahu keinginan aku." Aira terus menerus tersenyum menatap sepatunya.


Sarah memandang Aruna yang hanya diam dengan ekspresi datarnya.


"Ekhm, Aruna, untuk kamu menyusul ya. Kamu tahu kan, kalau gaji mamah di pabrik kain pas-pasan. Jadi nggak bisa beli tiga sekaligus. Aira juga kan sedang kuliah, jadi ia perlu tampil modis."


Dan selalu saja seperti ini. Aruna adalah bagian yang selalu terlewati dalam keluarganya. Aruna tahu, diantara yang lainnya hanya Aruna yang tidak bersekolah. Hingga ia lagi-lagi harus mengalah diantara mereka.


"Oh ya, karena mamah hari ini nggak masak dan lupa belum beli makanan, Aruna mau belikan sekarang?"


Aruna hanya mengangguk kembali. Ia kemudian berdiri. Menunggu instruksi lebih lanjut dari ibunya.


*****


Aruna sudah tidak tahan ingin makan. Ia bahkan lupa, kapan dirinya terakhir menelan makanan. Aruna tidak mau ambil pusing, ia harus menyelesaikan masalah perutnya. Dengan waktu yang tidak banyak, Aruna memilih untuk membeli pop mie di indomaret terdekat.


Untungnya, disana juga menjual air panas sehingga Aruna tidak perlu repot untuk mencarinya lagi. Setelah membayar, Aruna memutuskan untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


Seorang laki-laki mengusik pikirannya. Ia datang mengendarai motor vespa dan turun dari motornya. Aruna ikut menggerakkan kepalanya mengikuti langkah kaki laki-laki itu. Entah mengapa, wajahnya sangat familiar. Tapi Aruna tidak bisa mengingat apapun. Aruna kembali tersadar dan menyantap makanannya dengan sangat cepat.


"Nay? Loe laper apa baper? Kaya orang kesurupan aja." Aruna mendengar suara di sekitarnya.


"Woi! Budeg!" Aruna merasakan bahunya disentuh. Refleks, ia menghindar dan menoleh.


"Gue tanya, loe laper apa baper?"


Mendapati laki-laki yang ia pikirkan tadi. Dan ternyata, sedang berbicara kepadanya.


"Loe lagi bisu? Gue penasaran aja. Kok tumben loe rapih banget. Jarang-jarang loh gue nyamperin cewek."


Aruna mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tidak menyangka jika ternyata laki-laki itu benar mengajaknya berbicara. Tapi, mengapa dia berbicara seolah telah mengenal dekat dirinya? Padahal, ini adalah pertemuan pertama mereka.


"Loe—Naya kan?"


Dan Aruna, memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya.


"Kamu, kenal aku?" kali ini, gantian. Laki-laki itu hanya diam dan memandangi penampilan Aruna. Entah mengapa, perasaan Aruna diselimuti oleh ketakutan. Ia pun bangkit dan berpamitan.


"Maaf, aku pergi dulu."


Aruna tidak peduli jika laki-laki itu menatapnya aneh. Tetapi harusnya disini yang aneh adalah orang itu. Bukan dirinya. Kenapa dia mengajak Aruna berbicara seolah mereka adalah teman dekat? Aruna bahkan belum pernah melihatnya dimanapun.


Atau, itu semacam modus penipuan jaman sekarang? Memikirkan itu, membuat Aruna takut. Mungkin jika ia tidak pergi dari sana, orang itu bisa membuatnya terhipnotis dan mencuri semua uang Aruna.


Memikirkannya saja, membuat Aruna bergidik ngeri.


*****


Aruna memberikan makanan yang ia beli kepada ibunya. Kemudian berlalu menuju kamarnya lagi.


Aira dan Aleesya hanya memperhatikan tingkah Aruna. Sudah dimaklumi jika kakaknya itu bersikap sangat dingin.


"Lho, Aruna kamu kok malah masuk ke kamar? Kamu nggak mau makan?" Sarah berdiri di depan kamar anak tengahnya.


"Aku udah kenyang, mah." sahut Aruna dari dalam.


Aruna sengaja mematikan lampu kamarnya. Ia mengambil tempat di pojok kamarnya. Kamar yang begitu sempit, dan kini gelap.


Dirinya berjongkok. Memeluk kedua kakinya. Ikut menenggelamkan wajahnya. Entah mengapa, ia merasakan kecemasan yang luar biasa. Nafasnya memburu, dadanya sesak. Aruna memukul keras dadanya. Rasanya tidak enak.


Setiap hari dihantui dengan perasaan seperti ini. Kelam. Gelap. Mencekam. Dan tidak ada yang mengerti dengannya.


Ia ingin mengatakan, jika ia juga ingin sepatu baru. Ia ingin ibunya melihat ke arahnya. Seperti melihat Aira dan Aleesya. Ia tidak mau setiap hari disuruh kesana kemari. Aruna ingin disayangi. Aruna ingin punya ego untuk tidak mau mengalah.


Tapi kenapa, ia selalu tidak mampu untuk melakukan itu semua. Kenapa Aruna diberi keberanian yang samar.


Aruna sangat membenci dirinya sendiri. Aruna tidak suka melihat wajahnya sendiri. Aruna ingin menjadi orang lain. Aruna ingin seperti Aira yang dituruti semua keinginannya agar ia semangat belajar. Aruna ingin menjadi Aleesya, yang bebas menjalankan kehidupannya dan selalu didukung. Aruna tidak ingin terabaikan oleh ibunya sendiri.


Aruna mengambil sebuah pensil yang ada di bawah ranjang tidurnya. Menekankan pensil itu pada lengannya. Menekannya terus menerus, meski benda itu masih tumpul. Aruna bahkan menekannya dengan sangat keras. Hingga darah mengalir dari pergelangan tangannya.


Menimbulkan aroma ketenangan, yang membuat perasaan cemas itu hilang. Terganti oleh rasa lega, yang dialirkan seperti darahnya itu. Aruna tersenyum kecut.


Dengan membuat luka, ia akan mengobati lukanya yang terdahulu. Selanjutnya, Aruna memilih untuk melanjutkan tidur panjangnya kembali.


*****