
Jika kalian mengharapkan hubungan antara Kanaya dan Arkan membaik, nyatanya tidak sama sekali. Setelah insiden berpelukan secara mendadak dan tanpa sadar, mereka masing-masing menyesali apa yang diperbuat.
Terutama, Arkan. Ia sampai membatalkan janjinya dengan Araya. Padahal di malam itu, ia ingin sekali menembak Araya.
"**** banget sih gue. Kesambet apaan gue bisa mikir cetek kaya gitu. Loe tuh, mau mempermainkan Araya gitu? Bodo banget loe Arkan!" Arkan memukul kepalanya sendiri, ia tidak habis pikir, beberapa hari memikirkan hal tersebut membuatnya menjadi gila.
"Iya, loe emang ****."
Arkan melirik mendapati Kathya sedang berada di depan pintu masih lengkap dengan jas putihnya. Memang gila dia, setiap pulang kerja, ia pasti menyempatkan dirinya menuju kamar Arkan. Entah melihat Arkan yang sedang tidur, kamar yang kosong, atau seperti sekarang. Berbicara kepada dirinya sendiri!
Yang gila ini Kathya atau Arkan memangnya?
"Sejak kapan loe berdiri disitu?"
"Awas ya loe. Gue restuin loe sama Kanaya. Sampe ada cewek lain, gue gak terima!" Kathya melengang masuk ke dalam kamar Arkan. Melepas jas nya di sandaran kursi yang ada di area reading book milik Arkan di kamarnya.
"Loe belum ketemu Araya, woi. Loe nggak tahu sepolos apa dia bikin gue gemes. Dan lagi, gue gak suka Kanaya juga gak bakal sama dia." Arkan mengikuti pandangannya memperhatikan Kathya yang kemudian berbaring di sebelahnya.
"Nah justru itu, Kal. Di dunia ini, cewek polos itu bejibun. Yang spesiesnya kayak Kanaya itu langka. Ibaratnya kayak loe memilih burung gagak dibanding burung cendrawasih, yang udah jelas mau punah."
"Gimana kalau dibalik. Gue lebih memilih bunga melati, walaupun banyak tapi wangi daripada bunga bangkai yang jelas juga mau punah?" Arkan memutarbalikan.
"Jangan samain Kanaya sama bunga bangke! Loe yang bangke!"
"Loe juga jangan samain Raya sama burung gagak! Lagian, baru ketemu sekali aja udah kaya paling paham."
"Kal, loe lupa gue siapa. Gue itu ahli membaca wajah orang. Kalau loe emang maunya sama Raya, bawa dia kesini. Gue mau bandingin sama Kanaya."
"Loe gak bisa bandingin mereka berdua! Mereka berbeda. Raya itu levelnya jauh diatas kalau dibanding sama Naya. Jauh beda!"
"Terserah loe ya. Kalau loe kayak gitu, gue tambah yakin kalau Raya itu gak ada apa-apanya sama Naya." Kathya bersidekap melipat kedua tangannya.
Matanya terpejam. Ia begitu lelah, karena semakin hari semakin banyak pasien yang ia hadapi. Di samping rasa lelahnya, ia juga bersyukur. Bertambahnya pasien tidak selalu melulu soal banyaknya orang gila yang bertambah.
Tetapi, itu artinya orang-orang mulai percaya pada profesinya. Percaya bahwa tidak hanya orang gila saja yang boleh kesana. Orang yang tidak baik-baik saja akan batinnya yang tertekan pun bisa. Kini, banyak yang peduli akan kesehatan mental mereka. Mental illness bukan lagi hal yang tabu.
"Kath, ada nggak kasusnya orang yang suka nyakitin dirinya sendiri?" Arkan tiba-tiba bertanya. Entah mengapa pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Ada. Kebanyakan dari mereka punya trauma di masa lalu. Mereka menciptakan ketenangannya sendiri melalui itu." Kathya menjawabnya meski matanya masih terpejam.
Lagi-lagi senyuman Kanaya begitu saja terbayang. Senyumannya yang seperti tokoh Joker.
"Mereka—bisa sembuh?"
"Bisa. Kalau mereka udah menemukan ketenangan lain selain menyakiti dirinya sendiri. Btw loe ngapain nanya kayak gitu?"
"Gue cuma nge test ilmu loe doang. Ternyata loe jago juga ya!"
"Loe kira sepuluh tahun gue kerja ngapain?! Nyuci piring di rumah sakit?" Kathya melemparkan bantal, tepat di wajah Arkan.
"Sensi amat sis." Arkan yang semula duduk, lantas ikut berbaring. Namun menghadap ke kanan, membelakangi Kathya.
Apa Kanaya memiliki kehidupan yang begitu berat? Atau, dirinya memang punya trauma seperti yang Kathya bilang? Mengapa tangan Kanaya penuh dengan luka? Apa ia ciptakan luka itu sendiri? Atau, karena hal lain? Tapi kenapa cewek itu melakukannya?
Semakin memikirkan, Arkan tidak juga menemukan jawabannya.
"Loe ngomong tentang Kanaya kan?"
Arkan menolehkan kepalanya kepada Kathya. Kenapa Kathya tahu apa yang sedang ia pikirkan?
"Kenapa Kanaya?"
"Iya. Pertanyaan loe itu persis sama yang dia tanyain ke gue. Dari tingkah lakunya, akhirnya gue tahu. Yang dia tanyain itu, tentang dirinya sendiri ."
Arkan tidak menyahut.
"Gue tahu, karena dia gak mau lepas jaketnya di depan gue. Dia juga nolak baju loe bukan karena kegedean. Tapi karena lengannya pendek. Jadi gue bisa simpulkan, kalau dia pasti nyembunyiin sesuatu dibalik jaketnya."
"Jadi, loe udah tahu kalau dia gak—normal?"
"Gue udah bilangkan. Kanaya itu spesial. Dia gak ada duanya. Harusnya, loe bisa bantu dia nyari ketenangan yang lain."
"Kenapa gue? Yang lain juga bisa."
"Terserah elo. Kalau takdirnya loe sama dia, emang loe bisa apa? Malu loe nanti."
"Gue takdirnya sama Raya. Rese banget sih loe!"
Perkataan Kathya, seperti membekas di pikiran Arkan. Tentang dia, yang harusnya bisa membantu mencari ketenangan yang lain.
*****
Kanaya, dikucilkan oleh teman-teman di kelasnya. Brengsek memang, bukannya dirangkul dirinya malah semakin ditinggal. Sama seperti Arkan, yang hanya mengisi ruang sesaat lalu pergi entah kemana.
Kanaya tidak lagi punya teman sebangku. Ia akan duduk di belakang, terpojokkan dan sendirian. Tidak ada yang lebih menyedihkan darinya.
Kanaya seperti memiliki penyakit menular yang begitu menyeramkan. Apa memang kelihatannya seperti itu?
Satu hal saja yang berubah menjadi lebih baik untuknya. Yaitu, bu Mei yang tidak pernah lagi menegur Kanaya. Apapun yang diperbuat oleh cewek itu.
Kanaya memang lebih memilih diabaikan daripada dihardik seperti binatang.
Jam pertama kali ini membuat dirinya sangat lapar. Yaitu fisika. Mata pelajaran yang paling Kanaya benci. Meski ia tergolong dalam siswi pintar, tetapi untuk fisika, dirinya tergolong dalam klasifikasi standar. Nilainya selalu pas di rata-rata. Baginya, Fisika itu terlalu ribet. Karena dua kemampuan digabung menjadi satu. Yaitu kemampuan menghafal rumus dan berlogika.
Ia juga tidak habis pikir, dengan soalnya. Apalagi dengan soal menghitung kecepatan benda yang jatuh. Untuk apa Kanaya menghitung hal tersebut? Atau, tentang monyet yang bergelantungan di atas pohon?
Cukup ya, untuk fisika.
Hingga bel istirahat berbunyi, Kanaya langsung berlari menuju kantin di sekolahnya. Kanaya memesan dua porsi mie ayam, dan satu porsi siomay. Ditambah gorengannya 2000 mendapat tiga, dan juga dua minuman bersoda. Sudah Kanaya bilangkan, jika dirinya lapar. Bagi Kanaya, kata lapar tidak main-main. Itu artinya, ia memang sangat ingin makan banyak.
Dari jauh, Arkan bisa memperhatikan cewek itu. Arkan jadi tahu jika kemampuan Kanaya terkait dengan keseimbangan otak kanan dan kirinya yang begitu bagus. Kanaya memegang kendali atas keduanya. Tangan kanan memegang siomay, kirinya memegang mie ayam. Begitu cerdas.
"Woi, bengong-bengong bae! Mending ngeghibahin temen loe sendiri." Arkan memandang sebal Budi yang mengagetkan dirinya.
"Loe pasti ketinggalan berita ya, Ar. Kalo salah satu sohibmu ini sudah ada yang sold out!" Arkan meresponnya dengan satu alisnya yang naik. "Mana ada yang mau sama cecunguk wajah pas-pasan kayak kalian! Gue yang ganteng aja masih jomblo." Balasnya enteng.
"Wohoo, jangan salah bro. Lihat ini!" Chandra menunjukkan foto di hp nya. Terpampang dengan jelas itu adalah dirinya dan juga Salsa, teman satu kelas mereka.
"Pajak jadian.. Pajak jadian.. Pajak jadian!" Budi memprovokasi teman-temannya dengan memukul garpu ke meja makan. Hingga menimbulkan dentingan suara. Kemudian diikuti Alvin dan Reza.
"Loe make susuk ya?" Arkan berdiri. Mendekat ke wajah Arkan. Lalu menarik kedua pipi temannya itu hingga Chandra mengaduh kesakitan.
"Muka gue gak burik-burik juga kalee. Jadi, mulai sekarang gue itu ada di kasta tertinggi diantara loe, loe, loe dan juga loe pada! ****** loe!" Chandra menunjuk satu persatu temannya dengan tatapan sinis.
"Halah, paling cuma lima hari tahannya. Gue berani taruhan." Reza angkat bicara, menyepelekan.
"3 hari." Ujar Budi.
"Abis gini juga diputusin." ujar Alvin.
"Bangke, loe pada! Jadi temen kagak ada senengnya gitu lihat temennya sendiri bahagia!"
"Itu cewek kagak ada malu-malunya ya. Kalau gue jadi dia, gue pindah sekolah deh." Arkan mengikuti arah pandang Reza. Dan, Kanaya adalah target pandangnya.
"Kanaya maksud loe?" Budi bertanya.
"Iya. Gue denger-denger dari kelas sebelah kalau dia cewek phsyco? Makanya tangannya pada luka-luka. Untung ya Ar. Loe udah gak dideketin lagi sama itu cewek. Yang ada loe dimutilasi, amit-amit dah!"
"Jangan asal menggiring persepsi. Loe pada gak tahu gimana hidupnya dia udah main ngejudge aja!" diantara yang lainnya, Budi memanglah yang paling netral.
"Masalahnya ini udah kayak gorengan, kalau lagi anget enak dibahasnya. Bu Mei aja sampai kagak mau nyebut nama dia lagi, saking takutnya." kali ini Chandra yang berkomentar.
"Nggak usah bahas dia. Entar dia keselek," Arkan menengahi. Sebenarnya, ia tidak mau Kanaya menjadi bahan gunjingan orang-orang.
Arkan dan teman-temannya melanjutkan obrolan mereka tentang hal lain. Begitupun juga Kanaya, yang masih berusaha menghabiskan satu mangkuk terakhir mie ayamnya. Hingga sesuatu terjadi.
Duaar
Gas di salah satu warung yang ada di kantin meledak, menyebabkan api keluar begitu besar. Menyambar apapun di dekatnya.
"Astaghfirullah,"
"Astaga!"
"Janc*k!"
Murid-murid yang ada disana berlarian tidak karuan. Takut, karena api sudah sampai di salah satu meja makan.
"Gilaaa apinya gede woi! Ayo lari *******!" Budi menarik semua temannya sebisa mungkin. Menyuruh mereka untuk berlari menjauh.
Kecuali, Arkan.
Matanya lagi-lagi menangkap sosok Kanaya yang tidak ikut berlari seperti yang lainnya. Cewek itu hanya terpaku diam termenung meski beberapa meter di depannya sudah ada kobaran api.
"Nay, lari Nay! Nay lari!" Ucap Arkan lirih. Ia tidak mampu berteriak.
"Arkan *******! Cepetan lari!" Budi menarik lengan Arkan, yang tertinggal.
"Loe pada duluan aja. Panggil guru-guru yang lain! Gue liat tadi ada yang kena apinya! Suruh anak PMR cepetan kesini! Kalau perlu panggil pemadam api sekalian!"
Budi tidak punya pilihan. Ia pun segera menyusul teman-temannya yang lain. Menyisakan Arkan.
Arkan yang sempat terkecoh, kehilangan sosok Kanaya. Ia pun mencarinya. Arkan yakin, jika cewek itu masih ada di sekitar kantin.
"Kanaya! Naya!" Arkan berteriak. Ia memberanikan diri memeriksa seluruh warung yang ada di kantin. Kebakaran ini, cukup besar.
Kemudian, ia mendapati Kanaya yang sedang menunduk di salah satu warung. Cewek itu, terlihat sangat gelisah. Berbeda dengan yang tadi dilihat oleh Arkan.
"Naya! Cepetan keluar!"
Kanaya tidak peduli. Ia merasa, kecemasannya kembali melanda. Ia memukul kepalanya dengan kedua tangan.
"Kanaya loe ngapain?!" Arkan menarik salah satu tangan Kanaya menyuruh cewek itu berdiri. Namun, tidak bisa.
"Kanaya, ayo keluar! Loe mau mati konyol disini?! Gak lucu, Nay!"
"Gak bisa! Gak bisa! Gak bisa! Gue gak bisa!" Kanaya terus menerus memukul kepalanya. Ekspresinya begitu cemas. Cewek itu kemudian memegangi dadanya. Menggelengkan kepalanya terus menerus.
"Nay.."
"Gak bisa! Gue gak bisa! Gak bisa!"
Arkan langsung menarik tubuh Kanaya, hingga berdiri.
Dan, memeluknya seperti kemarin.
"Gue disini. Loe harus tenang, ayo kita keluar!" Kanaya yang awalnya memberontak, kemudian melemah.
"Gue takut, gue gak bisa lihat api yang gede."
"Iya, loe jangan gerak. Loe ikutin langkah kaki gue aja!"
Kanaya membenamkan wajahnya pada dada Arkan. Memeluk Arkan dengan erat. Arkan berjalan dalam posisi Kanaya yang memeluknya.
Melewati api-api yang menjalar begitu cepat. Hingga ia akhirnya keluar dari api.
"Udah Nay. Kita udah keluar."
Kanaya masih menggelengkan kepalanya.
"Takut.. Takut.. Takut.."
"Nay, udah Nay.." Arkan membelai rambut Kanaya yang terurai. Seketika itu juga Kanaya terdiam.
"Lima menit Ar jangan lepasin gue." Arkan hanya terdiam.
"Ar, loe tahu nggak. Untuk pertama kalinya gue ngerasa tenang padahal cuma dipeluk sama elo."
Tubuh Arkan mematung. Mencerna perkataan Kanaya tentang ketenangan.
Apa ini maksud Kathya tentang ketenangan yang lain?
*****