
Arkana Kallandra,
Satu nama yang tidak asing di telinga murid SMA Harapan Nusantara. Bagaimana tidak? Selain jago main basket, Arkan juga sering mendapat juara kelas parallel, di jurusan IPA. Kemudian popularitasnya bertambah naik, ketika ia terpilih sebagai KETOS alias ketua osis di tahun keduanya.
Predikat sebagai siswa terbaik, ia tidak perlu diragukan. Penampilan dan wajahnya apalagi. Siapa yang tidak melting ketika manik mata cowok itu sedang menatap. Dengan gaya rambut undercut messy dan matanya yang agak sipit namun tetap memiliki garis kelopak yang sempurna, membuat dirinya bak idol-idol Kpop. Semua cewek disana tidak ada yang tidak menyukai Arkan. Arkan juga tidak keberatan, jika dirinya memang dianggap sebagai the most wanted here.
Namun tiba-tiba semuanya menjadi begitu buruk, ketika ia tahu jika Kanaya, cewek yang paling aneh di sekolahan mengejar dirinya dan memaksa untuk menjadi pacarnya.
"Gue suka sama loe. Gue mau loe jadi pacar gue, titik."
Jika dia mengingat hari itu, rasanya Arkan tidak ingin menjadi primadona disini lagi. Mendadak ia iri dengan Budi yang punya wajah yang jauh dari kata standar.
Baginya, Kanaya itu creepy.
Tidak ada yang tidak aneh dengan cewek itu. Dia terkadang berbicara sendirian, dan seperti memiliki dunia nya sendiri.
Ia juga berteman dengan orang aneh seperti, mang Dadang satpam pemegang kunci di sekolahan ini dan pak Aril. Guru BK yang menyeramkan tetapi berubah menjadi baik ketika bersama dengan Kanaya.
Kanaya tidak punya teman di kelas. Penampilannya juga, rambut panjang dengan poni ke samping membuat terkadang matanya tertutup sebelah. Ia juga tampil mencolok dengan eyeliner hitam di bawah matanya dan bibir yang dipoles lipstik hitam. Setiap hari, cewek itu memakai jaket denim kucel yang seperti tidak pernah dicuci. Sepatu converse nya yang ia pakaipun seperti orang kelaparan. Terbuka setengah.
Lebih parahnya lagi, akhir-akhir ini cewek itu membuntuti dirinya di sekitar sekolah. Membuat ia seperti memiliki penguntit.
"Tumben hari ini loe pesan es nutrisari. Biasanya es teh pake gulanya dua sendok."
Seperti sebuah kebetulan, cewek yang sedang dibicarakan itu datang dan duduk di sebelah Arkan yang sedang menikmati makanannya di kantin bersama Budi, Alvin, Chandra, dan Reza. Sohib Arkan yang mendengar celotehan itu, hampir tersedak karena kebiasaan kecil Arkan yang sering terlewati pun dia tahu.
"Kok loe tahu juga kalau gue biasa—"
"Ar, apa sih yang enggak gue tahu tentang loe. Silsilah keluarga loe aja gue hafal. Mau gue omongin sekarang?"
"ENGGAK! Gue gak suka sama loe. Dan loe jangan pernah ngintilin gue lagi. Loe tahu gak sih kalo loe itu aneh?" Arkan memukul meja di hadapannya dan menatap Kanaya dengan tatapan benci.
"Gak bisa. Gue udah pernah bilang kan sama loe kalo elo itu, pacar gue." Bantah Kanaya. Tangannya sudah bersidekap di atas dada. "Gila kali loe. Mana ada sih yang mau sama loe? Loe udah ngaca belum sama diri loe sendiri? Loe itu aneh, creepy, dan gue sama sekali gak nyaman karena loe."
"Lagian, Arkan kan gak nerima elo. Punya hak apaan loe ngatur dia." Cibir Reza. Ia juga sudah jengah melihat kelakuan Kanaya yang semakin hari semakin bertambah parah. "Loe gak usah ikut campur diantara hubungan gue sama Arkan. You're just another person."
"Gue harus apa biar elo hilang?"
"Hm, kalau loe berubah jadi orang lain gue akan hilang."
Mustahil. Intinya, Kanaya tidak akan pernah hilang dari pandangan Arkan.
"Lima menit lagi loe ada rapat osis kan? Mau gue anterin?"
"WHAT? LOE SAMPE TAHU JADWAL ARKAN?" kali ini, ganti Chandra yang mencibir.
Kanaya tidak menggubris, ia tetap memandang wajah Arkan yang terlihat sangat marah kepadanya.
"Oke fine, kalo loe gak mau hilang, gue yang akan berusaha hilang." Arkan berdiri. Kemudian berjalan menjauh teman-temannya dan juga Kanaya.
Cewek itu, sudah sangat keterlaluan.
****
"Ada yang mau ditanyakan terkait dengan proker yang sudah gue bahas di depan?"
Tidak terasa, sudah 2 jam Arkan berbicara di depan anggota osis lainnya membahas pentas seni yang akan diselenggarakan akhir tahun ajaran ganjil. Meski masih terbilang jauh, Arkan sudah membuat kerangka konsep terkait dengan acaranya.
Anggota yang lain cuma diam. Arkan sudah bisa menebak jika kebanyakan siswa yang masuk organisasi ini cuma buat bergaya saja. Ia juga bingung mengapa orang seperti itu bisa terpilih sebagai anggotanya.
"Oke, kalau gitu gue akhiri pertemuan kali ini. Semoga semuanya berjalan lancar sampai pentas seni nanti."
Semuanya mengangguk, lantas bangkit dan pergi dari ruangan osis. Menyisakan satu orang yang masih duduk.
Araya Kiandra
Sekretaris sekaligus cewek yang ditaksir oleh Arkan. Adik kelasnya sendiri.
"Loe nggak keluar?" Arkan memulai percakapan. "Aku masih belum selesai ngerapihin catatanku kak. Tadi ada beberapa yang terlewat." Jawabnya.
Ini kesempatan yang bagus untuk Arkan melancarkan modus nya.
"Mau gue bantu? Barangkali loe lupa sama yang gue jelasin tadi?"
"Gak ngerepotin kak?"
"Santai aja. Habis ini juga pulang kan?"
"Oh, yaudah deh. Makasih ya kak."
"Belum juga mulai udah bilang makasih. Simpen aja nanti." Araya hanya mengangguk kikuk. Berduaan dengan Arkan seperti ini sudah sangat ia harapkan sejak lama. Termasuk Araya, cewek yang juga menyukai Arkan.
"Loe pulang naik apa?"
"Aku biasanya dijemput sama supir kak."
Mendengar itu, pipi Araya memerah. Tidak pernah menyangka akan mendapatkan tawaran eksklusif dari cowok terpopuler di sekolahnya. Araya seperti mendapat jackpot bertubi-tubi. Untuk cewek dengan wajah yang biasa saja seperti dia, itu sama saja seperti dirinya mendapatkan berlian.
"Jangan kak, nanti ngerepotin. Rumahku agak jauh juga." Tolak Raya untuk berbasa basi. "Rumah loe di Australia aja bakal gue anterin kok." Araya tersenyum malu. Arkan senang, melihat ekspresi adik kelasnya yang begitu polos dan menggemaskan. Raya memang tidak secantik cewek-cewek lain yang suka memakai make up. Tapi gadis itu, selalu tampil apa adanya dan tidak pernah berbuat gimmick. Karena itu, Arkan mulai menyukainya. Cewek itu juga ulet dan terampil. Tidak pernah kebanyakan tingkah apalagi masuk ruang BK.
"Gimana? Loe belum jawab tawaran gue." Arkan lagi-lagi memastikan. "Boleh deh kak. Tapi nanti aku ganti uang bensinnya ya." Arkan kemudian tertawa. Cewek ini benar-benar polos fikirnya. Arkan tidak semiskin itu sampai minta dibelikan bensin oleh orang yang ia taksir.
"Gak usah beliin bensinnya. Loe cukup bayar dengan mau pulang bareng gue setiap hari aja udah kok. Gue anti ribet,"
"Itu tawaran apa modus kak?" Raya yang kali ini tertawa mendengar perkataan Arkan. "Dua-duanya mungkin. Loe lanjut dulu nulisnya. Kalo gue ganggu terus, gak selesai-selesai dong." Araya hanya mengangguk.
*****
Kanaya mangkir dari jam terakhir pelajaran ke ruangan Pak Aril, guru BK nya. Baginya, Pak Aril seperti teman yang paling mengerti keadaan Kanaya. Setidaknya masih ada seseorang yang mau ia ajak berbicara.
"Jadi benar gosipnya, kamu ngejar Arkan?" Pak Aril sedang membereskan meja kerjanya karena sebentar lagi jam pulang. Ia tidak terlalu tua untuk seorang guru. Umurnya mungkin masih 30 tahunan. Wajahnya juga masih tergolong ganteng.
"Iya dong. Setelah sekian lama, akhirnya saya tahu tempat pelabuhan hati saya. Hehe." Sedang Kanaya, duduk di kursi yang ada di ruangan itu. "Percuma kalau cowoknya gak suka. Jatuhin harga diri aja kamu. Lagian, seleramu kok ketinggian banget. Arkan itu kan—"
"Pak, saya termasuk orang yang mendukung feminisme loh. Mau nunggu sampai kapan kalau mau dikejar Arkan. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu pak. Saya yakin, lama-lama Arkan yang ngejar saya." Ucap Kanaya dengan percaya diri.
"Kok saya masih gak yakin ya sama pernyataan kamu. Mana ada yang mau kalau penampilan kamu aja kayak begini? Yang ada serem tahu."
"Ih bapak. Ini tuh namanya swag. Orang kolot macam bapak mana ngerti?" sindir Kanaya dengan memainkan salah satu surai rambutnya. "Kamu kok gak pernah mendengarkan saya sih? Saya itu berbicara sebagai laki-laki loh?!" Balas Pak Aril.
"Sebagai laki-laki atau kakek-kakek pak?" Kanaya tertawa melihat gurunya itu tampak begitu kesal. "Ngeyel banget kamu, Nay!" Pak Aril mengacak-acak rambut Kanaya.
"Oh ya, saya punya hadiah untuk kamu." Pak Aril mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan paper bag yang agak besar. Melemparnya ke arah murid bandelnya itu.
"Apaan nih pak?" Kanaya membuka isi tas itu. Mendapati sweater berwarna merah muda yang terlihag begitu manis. Kanaya mengeluarkan itu, lalu memegangnya dengan kedua tangan dan melebarkannya.
"Bapak mau ngejek saya? Siapa yang mau make jaket warna pink iuh kayak gini?"
"Saya yakin kamu cantik loh pakai itu. Daripada jaket buluk yang kamu pakai itu. Gak ada bagus-bagusnya."
"Kesambet apaan pak ngasih saya beginian? Jangan bilang bapak naksir saya." Kanaya memicingkan matanya. "Memangnya gak boleh ngasih sesuatu ke murid kesayangan? Lagian kamu itu, nakal tapi untung pintar. Jadi saya memaklumi berkali-kali dengan kenakalan yang sudah kamu lakukan."
"Kok nadanya berasa kayak mau perpisahan ya?"
"Kamu memang paham dengan saya. Saya emang mau resign akhir minggu ini." Jawaban Pak Aril seperti karang yang menghantam tubuh Kanaya. "Jangan cari perhatian deh pak! Gak lucu bercandanya." Balas Kanaya dengan ketus.
"Saya gak bercanda. Saya akan pindah ke Batam bersama calon istri saya disana. "
Jika memang begitu, Kanaya akan benar-benar kehilangan seorang teman. Dan dirinya akan dipandang sebagai orang yang paling menyedihkan disana.
****
"Mau mampir ke mall dulu nggak? Sekalian makan siang disana?" Arkan terus menerus melancarkan aksinya untuk memepet Raya. "Boleh kak. Aku juga mau ke gramedia nyari novel."
Kini, mereka berdua sudah berada di atas motor vespa milik Arkan. Arkan senang bukan main ketika Raya menyetujui tawaran isengnya.
"Pegangan Ray. Kalo lo jatuh, gue gak rela." Arkan menarik satu tangan Raya ke depan untuk berpegangan. "Makasih kak." Kemudian tangannya kembali terulur untuk memposisikan kaca spion sebelah kiri, agar dirinya bisa melihat Raya.
Sesampai di mall, Arkan memutuskan untuk mengajak Raya ke foodcourt terlebih dahulu agar perut mereka tidak kosong. Mereka memilih yoshinoya untuk menu makan siang mereka.
"Ray, gue boleh nanya sesuatu nggak." Di tengah-tengah acara makan mereka, Arkan mulai berbicara. "Boleh kak, tanya aja." Jawab Raya.
"Loe lagi single?"
"Aku belum pernah pacaran kak. Cupu banget ya aku?" Arkan begitu terkejut mendengar jawaban Raya. Ia tidak tahu, jika tidak hanya polos, Araya juga belum terkontaminasi sama cowok-cowok.
"Gue gak nyangka. Ternyata gue jatuh pada pilihan yang tepat." Ucap Arkan refleks. "Maksudnya gimana kak?"
"Lupain aja. Loe harus makan yang banyak. Gue ijin ke toilet dulu ya." Raya hanya mengangguk. Kemudian Arkan berdiri dan berjalan menuju toilet yang ada di lantai 1 mall itu. Dirinya turun menggunakan eskalator karena sedang berada di lantai 2.
Arkan menatap seseorang yang tidak asing di matanya. Ia yakin, mengenal seseorang yang kini sedang menawar-nawarkan barang yang orang itu pegang kepada yang lainnya. Ia tidak salah. Dirinya memang mengenal orang itu.
Dia Kanaya. Yang kini memakai pakaian super minim dengan pahanya yang terbuka, high heelsnya begitu tinggi, dan bibirnya yang merah merona menggantikan bibir hitamnya.
"Loe lagi jualan rokok? Apa jual diri?" Arkan menghampiri dan menatap rokok yang ada di tangan cewek itu.
"Arkan? Loe mau jemput gue disini?" Bukannya menjawab, Kanaya malah mengajukan pertanyaan lain. "Loe nggak denger? Loe lagi jualan rokok apa jual diri?" Arkan mengulangi pertanyaannya lagi dengan nada yang lebih tinggi.
"Gue SPG woi. Bukan *******."
"Tapi baju loe kayak *******. Pantes sih, loe emang serendah itu." Arkan tersenyum menyindir. "Gak usah posesif gitu, sayang. Gue disini kerja kok bukan mau selingkuh."
"Jadi, loe mau jemput gue disini?" Karena Arkan tidak membalas, Kanaya kembali berbicara. "Ngimpi loe!" Arkan hendak berbalik, tetapi seragamnya ditarik oleh Kanaya.
"Harusnya, pacarnya kerja itu disemangatin. Ini malah main kabur aja." Arkan langsung menepis tangan Kanaya yang tadi menariknya. "Mimpi loe ketinggian!" Balas Arkan berteriak, lalu pergi dari hadapan Kanaya.
Kanaya yang semula lemas, kini kembali bersemangat. Baginya, Arkan adalah amunisi pikirannya. Meski cowok itu tidak menerima, tapi Kanaya senang. Ada seseorang yang mau menjawab setiap perkataannya. Ada seseorang yang mau menghampirinya meski untuk menghina. Setidaknya, dirinya terlihat oleh cowok itu.
Loe itu kayak ganja, bikin candu.