Partner in Pressure

Partner in Pressure
Membaik


Arkan tidak mengingkari janjinya. Ia tidak lari ataupun hilang dari pandangan Kanaya hingga pekerjaannya selesai.


"Loe seniat itu nungguin gue?" Kanaya sudah berganti baju, menyusul Arkan yang duduk di salah satu coffe shop yang ada di dalam mall itu.


"Gue kan udah bilang sama elo, gue mau nungguin loe." pandangan Arkan tak lepas dari manik mata Kanaya.


"Kayaknya ada yang nggak beres sama loe. Loe sehat kan?" Kanaya menyentuh dahi Arkan dengan punggung tangan kanannya. Dengan sigap, Arkan memegang tangan Kanaya. "Gue serius, Nay. Ayo keluar." Arkan menggandeng tangan Kanaya. Cewek itu masih terdiam tidak mengerti dengan perlakuan Arkan yang mendadak manis.


"Gue jadi takut, loe kenapa sih?!" tepat di belakang mall dekat parkiran motor, ada sebuah taman yang cukup ramai dan banyak bangku tempat duduknya. "Kita duduk dulu disana." Arkan menunjuk taman itu.


"Rame banget, eh disana ada yang kosong!" Kanaya berlari menuju bangku yang kosong. Diikuti dengan Arkan yang berjalan santai. Kemudian, ia memposisikan dirinya untuk duduk. Sedangkan Arkan masih berdiri sampai di hadapan Kanaya.


"Gue ada waktu 45 menit. Silakan berbicara, mas Arkan." Kanaya menumpu dagunya di kedua tangan yang berdiri di atas pahanya.


"Loe—apa kabar?" Arkan bingung, dirinya harus memulai darimana.


"Baik-baik aja. Mana pernah gue sedih. Loe ketemu gue cuma mau ngomong itu doang?" Kanaya mengangkat satu alisnya.


"Enggak cuma itu. Sebenernya, gue—"


"Iya?" Kanaya sangat penasaran dengan maksud dan tujuan Arkan menghampiri dirinya.


"Gue mau minta maaf."


"Gue mau minta maaf atas segala kesalahan yang udah gue perbuat ke elo. Apalagi soal sepatu yang kemaren-kemaren. Gue udah salah nuduh loe."


"Loe, tahu kalau itu bukan gue?" Arkan mengangguk. "Siapa? Siapa yang ngelakuin itu?"


"Loe gak perlu tahu. Itu semua udah gak penting lagi." Arkan berlutut di hadapan Kanaya.


"Loe mau ngapain, Ar? Gila loe. Semua orang ngeliatin kita."


"Bukannya loe emang suka jadi pusat perhatian?" Arkan mengangkat kaki kanan Kanaya, lalu melepas sandal yang ia pakai. Begitupun dengan kaki kirinya.


"Ar, loe pasti lagi kesurupan! Ngapain loe lepas sandal gue?!" Kanaya menepuk pundak Arkan. Namun Arkan tidak mempedulikan itu. Ia malah melakukan sesuatu.


Yaitu memasangkan sneakers ber merk nike, warnanya putih, di masing-masing kaki Kanaya. "Sepatu siapa Ar? Loe jangan ngaco! ? Main pasang-pasang aja. Nyolong di masjid loe ya?!"


"Loe bener-bener banyak bacot ya! Itu buat elo. Untuk nebus segala kesalahan gue. Puas loe?!" Kanaya menatap ke bawah ke arah kakinya. Lengkungan bibirnya terbentuk. Menampilkan senyuman manis yang berbeda dari biasanya.


Deg!


Arkan merasa ada sesuatu yang berdesir ketika dirinya menatap senyuman Kanaya. Ini bukan senyuman joker yang biasa ia tampilkan. Sepertinya, begitu tulus.


"Cuma sepatu doang? Pikir deh, seberapa banyak kesalahan elo ke gue. Berapa kali loe udah permaluin gue di depan semua orang." Kanaya mencoba memancing reaksi Arkan. Apakah Arkan, akan masuk ke dalam umpannya?


"Terus loe maunya apa?" Bingo! Arkan masuk ke dalam jebakan Kanaya. "Apapun itu, loe bakal turutin permintaan gue?" Kanaya menanyakannya sekali lagi. Ia tidak mau kehilangan kesempatan emasnya itu.


"Apapun itu buat gue hal yang mudah, Nay. Gak ada yang sulit."


Kanaya tidak akan kehilangan kesempatan ini. Ia mau berterus terang.


"Jadi pacar gue. Loe bilang gak sulit untuk mewujudkan apapun kan? Gue mau loe jadi pacar gue. Officially," Arkan selalu lupa bagaimana watak Kanaya yang tetap seperti dulu.


"Kenapa? Loe gak bisa kan? Cuma itu yang gue mau. Gue gak minta apa-apa lagi." Kanaya mengangkat satu alisnya. Menunggu respon dari cowok itu.


"Oke." satu kata jawaban singkat dari Arkan membuat Kanaya serasa ingin jantungan. Apa dirinya kini sedang bermimpi? Kalau iya, Kanaya tidak ingin terbangun selamanya.


"Oke?" Kanaya memastikan lagi. Bagaimana jika Arkan hanya berbohong saja.


"Iya. Loe jadi pacar gue. Tapi dengan beberapa syarat."


"Syarat?"


"Iya, gue mau ada beberapa syarat yang harus loe turutin. Dan kita akan officially,"


"Oke. Yang penting kita pacaran, apa syaratnya?"


"Pertama, kita backstreet." Syarat pertama membuat dahi Kanaya langsung berkerut.


"Resmi tapi backstreet maksud loe apaan? Loe mau main-main sama gue?"


"Resmi buat gue, adalah loe satu-satunya. Jadi selama gue pacar loe, gue gak bakal cari cewek yang lain. Gue juga bakal bilang sama yang lain kalau gue udah gak jomblo. Tapi gue mau kita rahasiain semuanya. Jangan sampai semua orang tahu, termasuk keluarga loe dan gue."


Sebenarnya Kanaya ingin menolak. Tapi jika begitu, Arkan tidak jadi menjadi pacarnya. Sehingga lebih baik Kanaya menurutin permintaan Arkan juga. Permainan yang hebat, Arkan.


"Oke, gue setuju. Terus mau loe apalagi?"


"Syarat kedua, gue gak ada kewajiban buat antar jemput loe. Gue bukan ojek dan loe gak bisa seenaknya sama gue. Dan, gue gak mau ada kontak fisik sama sekali. Kita pacaran secara sehat. Gak boleh jadi toxic." itu hal yang mudah untuk Kanaya. Ia juga tidak suka merepotkan orang lain, karena dirinya sendiri lebih terbiasa menggunakan angkutan umum atau bis.


"Gue terima. Terus, apalagi?"


"Gue mau ngobatin tangan loe sampai sembuh." Kanaya tidak percaya jika Arkan meminta hal itu.


"Susah kalau itu, Ar. Gue kalau khilaf suka—"


"Loe gak boleh ngelukain tangan loe lagi. Dan, gak boleh ngerokok."


"Loe kok ngelunjak lama-lama?" Kanaya serasa tidak terima. Kalau begitu, ia sendiri yang akan menganggap hubungan ini racun.


"Terserah elo. Itu juga salah satu syaratnya."


"Oke, deal! Semampu gue. Gue gak tahu nantinya bakal kayak gimana."


"Harus, Nay. HARUS!"


"Oke oke. Masih ada syarat lagi?"


"Terakhir, karena loe gak normal gue mau loe jadi normal. So, gue pengen loe terapi ke Kathya setiap minggu."


Untuk syarat yang terakhir, membuat perasaan Kanaya menghangat. Meski Arkan mengucapkannya dengan cuek dan dingin, setidaknya ada pesan tersirat yang ia sampaikan. Yaitu, Arkan peduli dengan Kanaya. Hingga mau repot-repot memikirkan lukanya dan juga ingin menyembuhkan jiwanya.


"Setuju. Sekarang, kita pacaran." Arkan meresponnya dengan senyuman tipis. Dirinya kemudian duduk di samping Kanaya. Kanaya yang sedang berbunga-bunga dan begitu bahagia.


******


"Gue lagi budrek banget mikirin pensi." Kanaya menoleh. Kenapa Arkan menceritakannya kepada Kanaya? Apa kini, ia juga menjadi teman curhat Arkan?


"Kenapa emangnya? Bukannya loe sendiri yang selalu bilang kalau pensi kali ini bakal spektakuler sesuai bayangan loe."


"Gara-gara kemaren kebakaran, sekolah gak ngebiayain acara kita. Dan, uang kas osis sama sponsor ilang. Gue hampir mati rasanya." Kanaya tidak tahu, jika Arkan sedang menanggung beban yang cukup berat. Kanaya tahu, pensi kali ini sangat ditunggu-tunggu oleh murid di sekolahnya. Termasuk, kelas Kanaya. Tidak ada hari dimana mereka tidak menggosip tentang acara pensi yang tema nya tidak main-main.


Jika saja ditunda, itu akan membuat banyak orang kecewa. Meskipun, terkecuali dirinya.


"Terus, loe gimana?"


"Loe yakin, itu ulah anggota loe? Bisa jadi, orang lain kan."


"Masalahnya yang pegang kunci kan cuma anak osis aja. Jadi, kemungkinan besar ya anggota gue sendiri. Mau siapa lagi?"


"Buat cari sponsor aja susah, sekarang semua plan hancur berantakan."


"Kenapa loe gak bikin bazaar aja?" Kanaya mencoba berpendapat asal.


"Bazaar? Maksud loe?"


"Iya, kantin sekolah kan masih belum kondusif. Loe bisa manfaatin tuh, peluang loe buat jualan makanan atau apapun itu sama anggota loe atau temen-temen loe, pakai sisa dana yang ada. Terus, harganya dinaikin dua kali lipat, loe dapet untung gede deh. As simple as that, ngapain dibuat susah Ar?"


Arkan termenung. Sesimpel itu, Kanaya memberi pendapat yang masuk akal dan kemungkinan besar berhasil. "Kok, loe canggih?"


"Gue, gue kan ahlinya bisnis." Kanaya bersombong ria dengan menarik kerah jaketnya.


"Kenapa nggak ada pikiran kesono ya, gue. Terus menurut loe, kapan gue adain bazaar?"


"Hmm, sekarang hari kamis, besok jumat loe bisa koordinasi sama temen-temen loe, sabtu minggu loe bisa siapin keperluannya apa aja, mungkin senin sampai jumat atau sabtu loe bisa adain event bazaar itu."


"Wah, kenapa loe gak jadi anggota gue aja? Loe kayanya ada bakat deh!"


"Nggak mau lah. Gue kan nyeremin. Yang ada, anggota loe pada kabur Ar."


"Maaf, Nay."


"For what? You dont do anything to me, today."


"But, i did. Gue udah nilai seseorang dari cover nya."


"Emang loe masih mau ngambil buku yang cover nya udah rusak? Enggak kan? Loe gak salah. Gue aja yang terlalu baper."


Mereka terdiam untuk sesaat. Menikmati semilir angin sore, yang menyejukkan.


"Terus, menurut loe gue pantesnya jualan apa?"


"Elo? Loe jadi kang siomay, kang mie ayam, kang gorengan, kang tukang apa aja pantes. Muka loe muka-muka minta dibelai sama cewek." cibir Kanaya.


"Kurang ajar loe. Gue serius, Nay!"


"Lagian, ngapain loe tanya gue. Gue cuma bisanya jualan rokok sama tupperware!"


"Tupperware? Loe jualan juga?"


"Iyalah, gak cuma tupperware gara-gara demi ganti sepatu elo, gue juga jadi office girl, gue jadi kasir, gue bahkan jual kalung berharga di leher gue. Ngerasa bersalah kan loe?" jika Kanaya mengatakannya dengan begitu enteng, lantas sangat berbekas dan begitu berat bagi Arkan.


Arkan hanya terdiam dan memberi senyuman sebagai balasannya.


"Yaudah, gue mau pulang dulu. Takut kesorean gak ada angkot mau pulang naik apa gue?" Kanaya bangkit dan hendak pergi.


"Sama gue. Gue anterin ke rumah loe."


"Loe sendiri yang bilang kalau gakmau dianggap ojek?"


"Ya kan sekarang gue yang minta. Ayo!" Arkan bangkit dan berjalan mendahului seperti biasanya.


Di perjalanan, mereka hanya terdiam. Sembari menatap jalanan yang semakin sore semakin ramai. Jakarta, memang sumber kemacetan. Kanaya hanya bersuara ketika menjadi google maps berjalan untuk Arkan.


"Nah, ini rumah gue." Arkan memutar kuncinya mematikan mesin motor. Memperhatikan rumah Kanaya yang tidak begitu buruk dan masih tergolong minimalis.


Tetapi mengapa, Kanaya memperlihatkan dirinya begitu menyedihkan seperti orang yang sangat miskin?


"Ngapain loe matiin? Langsung pulang aja." Kanaya turun dari motor Arkan. "Gue mau ketemu sama ortu loe sekalian pamit pulang." Arkan yang hendak turun juga, langsung dicegah oleh Kanaya.


"Nggak usah! Mereka gak akan peduli. Gue juga gak kenal siapa mereka."


"Loe gila? Ini ngomongin orang tua loe, Nay."


"Plis Arkan. Gak ada yang peduli gue pulang sama siapa aja. Loe jangan nambahin kerjaan gue. Cepet pulang sana, pacar!"


Arkan semakin curiga dan ia yakin, keluarga adalah salah satu kemungkinan alasan yang menjadikan Kanaya dengan prilaku seperti ini.


*****


Arkan senang bukan main. Setelah ia menghadap kembali pada pak Daniel, tentang rencananya yang ingin mengadakan event bazaar makanan disambut dengan penuh dukungan. Kata beliau, Arkan pintar mencari peluang meski dalam keadaan seperti ini. Kemudian, teman-teman osis dan panitia pun juga setuju dengan rencana itu. Mereka yakin, duit mereka akan balik modal dan banyak keuntungan. Mereka juga membagi-bagi kelompok dan makanan apa saja yang mereka jual. Lalu, sang bendahara membagi dananya.


"Gue gak nyangka loe mikir secepat itu." Rama menepuk bahu Arkan setelah rapat selesai.


"Sebenarnya, ada yang ngasih saran ke gue. Jadi itu gak murni hasil pikiran gue. Gue seneng juga karena disambut baik sama yang lain."


"Ya itung-itung ajang hiburan sebelum uas. Apalagi yang jual makanannya kayak elo. Gak ada yang gak demen." Rama masih sempatnya melempar lelucon yang dibalas dengan gelak tawa Arkan.


"Gue cabut duluan, Ram." Rama hanya mengiyakan dan membiarkan Arkan pergi. Tetapi, ketika dirinya sudah sampai di depan pintu, Arkan merasa tangannya disentuh oleh seseorang.


"Kak,"


Dan dia adalah Araya, pelaku dari perusakan sepatu Arkan. Arkan, mencoba bersikap biasa saja hingga ia tahu apa motif dibalik Araya melakukan itu semua. Meski ia mencoba bersikap profesional, pikiran itu selalu menghantui Arkan.


Arkan yang telah salah, memilih orang yang ia cintai.


"Kak Arkan, gakpapa kan? Kayaknya lagi pusing banget ya kak."


"Ekhm, gue biasa aja. Lagian, semuanya udah kelar juga dibahas tadi. Gue duluan ya Ray!"


"Tapi, kak—" Arkan tidak menghiraukan. Dirinya berjalan cepat untuk menjauh dari Raya. Hingga sampai di lorong sekolah, yang begitu sepi karena kebanyakan murid-murid beristirahat di lapangan atau jajan di luar gerbang.


Dan kini, ia melihat Kanaya yang sedang berjalan. Mereka berpapasan.


Tapi Arkan membelalakan matanya ketika Kanaya berjalan melengang begitu saja melewati dirinya tanpa menoleh sedikitpun. Arkan tidak bisa membiarkan. Ia langsung menggaet tangan Kanaya hingga cewek itu mundur lagi.


"E e eh. Main kabur aja!" cibir Arkan.


"Loe sendiri yang bilang kalau backstreet!" Kanaya mencoba melepaskan tangannya tetapi tidak bisa.


"Gue punya kabar penting. Gue kedapetan jadi kang siomay!"


"Bagus. Gue ahli persiomayan!"


"Besok minggu gue jemput. Loe harus bantu gue."


Kanaya hanya membalas dengan jempol tangannya.


*****