Partner in Pressure

Partner in Pressure
Ragu yang Meragu


Arkan menunggu jawaban Raya, setelah tadi ia jujur akan perasaannya.


"Gimana, Ray?" Arkan bertanya lagi seakan sudah tidak sabar. "Kak, aku belum bisa jawab sekarang. Aku juga gak yakin sama kak Arkan."


Jawaban itu seperti memupuskan harapan Arkan. Itu artinya, Raya menolak perasaan Arkan. Raya tidak menerimanya.


"Kenapa? Kenapa loe nolak gue?"


"Kak Arkan sadar, kita baru dekat beberapa hari ini. Aku gak mungkin bisa, memulai suatu hubungan tanpa tahu dengan siapa aku akan berhubungan. Aku belum mengenal kak Arkan lebih jauh. Terlebih, hubungan kak Arkan dengan cewek itu." Raya memaparkan alasannya. Itu tidak bisa ditampik. Arkan memang terlalu terburu-buru dan tidak pernah memikirkan hal buruknya yang akan terjadi.


Ia pikir, Raya pasti menerima dirinya. Seperti cewek-cewek lain yang menyukai Arkan. "Gue udah merhatiin loe dari dulu Ray. Gue suka sama elo. Dan gue yakin hal itu. Masalah Kanaya, gue yang akan ngurus dia."


"Nggak semudah itu kak. Untuk kali ini, lebih baik kita gak saling dekat. Banyak yang harus kita pikirkan. Aku nggak nyaman." Setelah mengucapkan kalimat itu, Raya berlalu pergi meninggalkan Arkan. Menyisakan Arkan dengan perasaan gusarnya.


Ia salah. Ia sudah menyepelekan cewek itu. Arkan mengusap wajahnya kasar. Ketika ia berbalik hendak kembali ke kelas, dirinya melihat Kanaya yang sedang berdiri menatapnya.


Kanaya, dia adalah objek yang tepat untuk disalahkan atas kejadian ini. Jika dia tidak datang dan melabrak Araya, mungkin Araya akan memberinya kesempatan. Dan tidak berpisah secara tidak baik.


"Ini semua gara-gara elo!" Teriakan Arkan yang begitu keras memancing perhatian murid di sekitar. Seperti biasa, dua orang itu bisa dijadikan tontonan yang seru. Banyak dari mereka yang mengambil rekaman antara dua orang itu.


"Gue? Ya bagus dong. Loe nggak lagi dekat sama Raya." jawaban Kanaya menambah kemarahan Arkan. Arkan sudah tidak tahan lagi. Sifat tempramen tanpa ampunnya keluar. Ditariknya tangan Kanaya dengan keras. Diseret entah menuju kemana.


Ternyata, Arkan membawa dirinya ke halaman belakang sekolah yang sepi. Ada satu kolam ikan, yang kini sudah terbengkalai karena tidak ada orang yang mengurusnya. Kolam itu dipenuhi lumut dan air yang sangat keruh. Arkan mendorong Kanaya masuk ke dalam kolam tanpa basa basi.


Byuur


"Gue bisa ngelakuin hal yang lebih kejam dari ini kalau elo masih ganggu hidup gue."


Orang-orang yang mengikuti Arkan di belakangnya langsung menatap Arkan tidak percaya. Hal yang dilakukan Kanaya hanya menunduk ketika dirinya dijadikan konten untuk video mereka.


"Berulang kali gue ngasih tahu, dan gak akan pernah bosen kalau gue gak suka sama elo!"


"Sekarang loe cuma bisa diem? Kenapa? Udah mulai takut sama gue?" Arkan masih saja terus berbicara memojokkan Kanaya. "Loe tahu nggak, kalau semua orang di sekolah ini tuh benci sama loe! Loe tuh menjijikkan buat kita! Loe nggak normal, loe nggak sama! Loe aneh!"


Telak. Bertubi-tubi makian dilayangkan oleh Arkan tidak tanggung-tanggung. Sedang Kanaya hanya diam tak berkutik.


"Elo nggak boleh naik dari kolam ini, sampai nanti sore. Ini hukuman buat elo karena udah ngusik kehidupan gue."


Arkan menghela nafas panjang. Ia kemudian berbalik pergi dari hadapan Kanaya.


"Ar, loe yakin tinggalin anak orang dalam keadaan begitu?" Budi menyusul Arkan yang tengah berjalan muram. Ternyata dirinya dan teman-teman Arkan yang lain ikut menyaksikan penceburan Kanaya.


"Bukan urusan loe!" Arkan hanya menjawab seadanya. Ia masih kesal dengan cewek itu. "Dia bisa mati kedinginan, Ar!"


"Terus kenapa? Loe mau belain dia? Mau jadi pahlawan buat dia?" Arkan berhenti dan menatap Budi dengan kesal. "Bukan gitu maksud gue. Tapi kali ini loe keterlaluan, Ar."


"Gue gak suka apa yang gue lakuin ditentang! Gara-gara dia, Araya gak nerima perasaan gue!" Arkan berjalan mendahului Budi. Ia masih tersulut emosi.


****


Nyatanya, Arkan mulai memikirkan keadaan Kanaya. Ia tidak bisa memastikan apakah cewek itu keluar dari kolam atau malah menuruti perkataan Arkan.


Ia lagi-lagi berpikir apakah tindakannya tadi begitu keterlaluan? Sepertinya begitu. Arkan juga baru mendinginkan emosinya.


Arkan memilih keluar dari pelajaran Fisika. Ia harus memastikan kondisi cewek itu. Keadaan luar sekolah pun sepi karena semua ada di kelas. Sehingga ia tidak perlu malu karena kembali ke kolam.


Ternyata, Kanaya masih diam tak berkutik di kolam dengan posisi yang sama terakhir dilihat oleh Arkan. Padahal terhitung sudah lebih dari satu jam.


Arkan mendekat. Wajah cewek itu tidak terlihat karena dirinya menunduk dan tertutupi oleh rambutnya yang setengah basah.


"Naik loe!" Mendengar suara Arkan, Kanaya mendongakkan kepalanya. Cowok itu kini berada di depan Kanaya dengan tangannya yang terulur.


"Naik sebelum gue berubah pikiran!" Arkan menggertak. Kanaya kemudian menyambut uluran tangan Arkan.


Untuk pertama kalinya, Kanaya berkontak fisik dengan Arkan. Ada sesuatu yang mendesir di hatinya. Arkan menatap nanar kondisi Kanaya yang begitu kotor. Bagaimana ia tega?! Lagi-lagi mengapa baru terpikirkan sekarang.


"Gue anter loe ke rumah." Arkan masih menggandeng Kanaya. Kanaya menghentikan langkah.


"Gak usah. Gue gak bisa pulang dalam keadaan kayak gini." Kanaya menolak. Membuat Arkan berbalik. "Terus loe mau di sekolah dalam keadaan kayak gini?! Gila ya loe!" Kanaya hanya diam.


"Oke, loe gak pulang ke rumah. Tapi loe harus ikut gue!" Kanaya tidak menjawab. Dirinya mengikuti langkah Arkan hingga sampai di parkiran sekolah.


Arkan mengeluarkan motor vespa nya dan memberi helm kepada Kanaya. Arkan memang selalu membawa dua helm karena ia berencana untuk pulang bersama Raya. Tapi kini, ia lebih banyak memberikannya kepada Kanaya.


"Kita mau kemana?" Kanaya bertanya dengan pelan. "Gak usah banyak bacot!" Jawab Arkan kasar. Ia naik ke atas motor disusul dengan Kanaya. Kanaya tidak berani berbicara di belakang Arkan. Ia hanya memandang jalanan yang begitu padat.


Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang, sampailah mereka di depan gerbang yang didalamnya terdapat rumah begitu besar. Kanaya tidak tahu siapa pemilik rumah ini.


Tidak perlu waktu lama, gerbang itu terbuka otomatis. Arkan melajukan lagi motornya hingga sampai tepat di depan rumah. Pilar yang begitu besar menyambut kedatangan mereka. Bangunan rumah Arkan yang bergaya klasik Yunani kuno terlihat begitu megah.


"Jangan banyak tingkah di dalem rumah gue! Loe ganti baju disini." Kanaya menampilkan wajah cengo nya mengetahui Arkan membawa dirinya ke rumah cowok itu. Merekapun masuk.


Terlihat pigura foto keluarga kecil Arkan yang terpajang di area foyer rumahnya. Tidak hanya itu, di setiap sudutnya ada ornamen-ornamen kristal dan juga piring-piring kuno yang terlihat semakin estetik. Kanaya hanya bisa menelan ludah memperhatikan semua itu. Di tengah-tengahnya ada meja yang berhias guci dan sudah bisa tertebak harganya pasti begitu mahal. Di balik foyer, terdapat ruang tamu yang tak kalah megahnya.


Sofa besar berbahan kulit terletak di tengahnya. Furnitur buah-buahan yang terbuat dari kaca ada di atas meja. Tidak lupa dengan lampu kristal raksasa di atasnya.


"Loe duduk dulu disitu!" Arkan menunjuk salah satu sofa rumahnya. Kanaya hanya menurut dan duduk disana. Tidak lama setelah Arkan menghilang, seseorang muncul dari atas tangga. Turun dan menghampiri Kanaya.


Kanaya tahu persis. Pasti orang itu adalah kakak Arkan yang bernama Kathya Diandra. "Lho, Arkan bawa temen cewek ke rumah?" Kathya duduk di samping Kanaya.


Kanaya hanya tersenyum kikuk. "Ini pasti kak Kathya ya? Kakak ceweknya Arkan?"


"Nama aku Kanaya, kak. Maaf tadi aku jatuh ke kolam jadi kotor gini." Kanaya paham betul, dari pandangan Kathya yang seperti hendak bertanya.


Tak lama, Arkan datang dan melempar pakaian ke Kanaya. "Gak sopan banget kamu, Kal. Main lempar-lempar aja!"


"Ngapain loe disini? Gak kerja loe?" Tanya Arkan kepada Kathya. "Loe tuh, ngapain pulang sebelum waktunya. Udah berani bolos loe? Jangan-jangan loe yang udah jatuhin Kanaya ke kolam?!" Arkan menaikkan satu alisnya. Baru saja Kanaya ditinggal sebentar, dan cewek itu sudah berbicara kepada Kathya.


"Enggak kak. Aku yang gak sengaja jatuh ke kolam. Terus, Arkan nolongin aku deh. Dia pacar yang baik ya kak!" Perkataan Kanaya sontak mengagetkan Kathya. Jadi, cewek ini pacarnya Arkan?


"Kalian, pacaran?"


"ENGGAK!"


"IYA!" Kanaya dan Arkan menjawabnya serentak dengan jawaban yang berbeda. "Gak usah malu-malu gitulah, Kal. Wajar kali kalau pacaran. Gausah malu!"


"Loe tuh ya?!" Arkan hendak menyentuh kepala Kanaya dengan jari telunjuknya. Tetapi ia urungkan karena melihat Kathya yang asyik memperhatikan mereka berdua.


"Ganti baju sana! Nyusahin aja loe!" Cibir Arkan. "Ada ya, pacarnya malah dibentak-bentak gitu." Kathya ikut berkomentar lagi. "Gue pakai—ini?" Kanaya memperlihatkan pakaian yang diberi Arkan. Kaos super super big size! Sedangkan, badan Kanaya begitu kecil.


"Loe mau ngelawak, Kal? Tenggelam kali kalau Kanaya pakai itu. Naya ikut aku aja. Aku pinjamin baju gimana?" Arkan baru menyadari jika baju yang ia beri, terlalu kebesaran untuk cewek seukuran Kanaya. Kanaya terlihat menimbang, memandang Arkan meminta persetujuannya.


"Yaudah deh, terserah elo aja. Kalau udah selesai samperin kamar gue. Gue mau tidur sebentar!" Mendapat persetujuan itu, Kathya langsung menggandeng tangan Kanaya. Mengajaknya naik ke lantai dua.


Kathya membuka kamar tidurnya. Tak henti-hentinya, Kanaya menatap takjub setiap desain ruangan yang ada di rumah itu. Kamar Kathya mungkin 10 kali lipat besarnya dengan kamar dirinya sendiri di rumah.


"Gak usah sungkan, kamu duduk dulu di bench punyaku. Aku pilihan baju ya." Kanaya hanya diam. Menuruti perkataan Kathya.


"Udah berapa lama sama Kalla? Eh maksud aku, Arkan?" sambil memilih baju, Kathya memulai obrolan.


"Baru-baru ini kak. Tapi kayaknya cinta aku bertepuk sebelah tangan, haha." Kanaya menertawai dirinya sendiri.


"Masa sih? Tapi kamu yang pertama loh, yang dibawa ke rumah. Sebelumnya nggak pernah."


"Darurat kak. Rumahku terlalu jauh."


Kathya memberikan baju pilihannya kepada Kanaya. "Ganti baju gih, disana. Sekalian cuci muka kamu juga ya." Kathya menunjukkan kamar mandinya.


*****


Kathya tampak takjub ketika Kanaya keluar dari walking in closet miliknya. Kathya sengaja memilih mini dress lengan panjang berwarna hitam yang kontras dengan warna kulit Kanaya yang putih bening karena ia sangat ingin tahu, pancaran inner beauty yang ada pada Kanaya. Dibalik tampilan rock nya.


"Tuh, kan. Kamu cantik banget!"


"Kak, aku kok malah dikasih baju terusan sih? Ini bukan aku banget, sumpah."


"Sumpah apaan?! Yang ada, sumpah kamu cantik banget! Lagian ya Nay, aku sempet bingung loh tadi ngapain sih pakai lipstik warna hitam?"


Lipstik hitam Kanaya yang tercuci sudah meluntur. Terganti oleh warna bibir Kanaya yang tampak seperti warna merah stroberi.


Kanaya benar-benar sangat cantik!


Kathya membawa Kanaya duduk di meja riasnya. Menyuruh Kanaya melihat dirinya sendiri di cermin. "Liat tuh. Biar Arkan kesemsem!"


Yang Kanaya lihat, itu bukan dirinya.


Tidak sampai itu saja, Kathya menyuruh Kanaya memakai liptint berwarna pink miliknya. "Kak, jangan ini lah. Nanti aku malah diketawain."


"Diketawain siapa? Udah pakai aja,"


Dengan ragu, Kanaya memakainya. Dan ia yakin sekali jika ini bukan dirinya. "Yaampun Nay, kamu itu cantik banget. Mirip bule-bule yang ada di Rusia!" Kanaya hanya tersenyum sungkan.


"Badan kamu kok kecil banget, Nay? Kamu lagi diet?" Kathya memperhatikan lingkar pinggang cewek di depannya. Badannya tampak seperti boneka barbie.


"Aku emang ada masalah sama pola makan aku. Aku bisa makan banyak dalam sekejap, tapi aku juga bisa tahan nggak makan selama satu minggu." Mendengar pernyataan itu, Kathya mengernyit. Itu terdengar seperti normal di pikiran Kanaya padahal itu tidak normal.


"Nay, kamu yakin kayak gitu? Itu nggak normal loh. Kamu tahu, ada gangguan yang persis gejalanya kayak gitu." Kanaya baru tersadar, jika ia berbicara dengan psikiater.


"Oh iya, kak Kath itu psikiater kan?"


"Arkan udah cerita juga?" Kanaya mengangguk.


Sebenarnya, Kanaya itu stalker Arkan sejati. Ia mengandalkan jari-jari tangannya hanya untuk membaca seluruh informasi yang ada di social media Arkan. Ia juga memeriksa satu persatu hubungan Arkan dengan followersnya. Arkan juga sepertinya tidak sadar, jika dirinya sering membagikan momen-momen penting tentangnya.


"Sejak kapan kamu punya gangguan makan? Itu nggak baik, Nay. Harus diobatin!"


"Aku udah biasa gitu kak. Semua yang ada di diri aku itu aneh. Aku ngerasa, aku sendiri emang gak sama kayak yang lain."


"Maksud kamu gimana?"


"Aku—emangnya boleh cerita?" semakin Kanaya berbicara seperti itu,  membuat Kathya semakin penasaran.


"Boleh banget, barangkali aku bisa bantu."


"Hm, gak jadi deh kak." Kanaya mengucapkannya dengan tersenyum.


Entah mengapa, Kathya yakin jika ada sesuatu yang tersembunyi dibalik mata Kanaya.


Ada gelap di tatapan Kanaya. Ada kelam yang tak terbendung. Kathya tahu, beban yang terlalu besar dan dibiarkan terpendam, akan menyebabkan luka yang sangat mendalam. Dan Kanaya, terlihat masih bergelung dengan ragunya sendiri. Kemudian memilih,  memendamnya lebih jauh lagi.


*****