
Kanaya men scroll terus menerus dari hp nya di facebook page Arkan. Dirinya ada di kelas dan bermain hp secara sembunyi-sembunyi di bawah meja tidak mempedulikan bu Dewi, selaku guru matematika yang kali ini sedang menjelaskan.
'Kalo loe cari yang peka, gue mundur. Kalo loe cari yang ganteng, gue juga mundur. Sori, loe bukan tipe gue slur'
'Pas pacaran manggilnya baby-baby an. Giliran putus ganti dah jadi ****! Anying loe semua!'
'Sori, cogan mau bogan dulu alias bobo ganteng'
Kanaya ingin sekali tertawa membaca status-status yang diposting oleh Arkan terdahulu. Cowok dengan gengsi yang begitu tinggi itu, ternyata dulu juga pernah alay.
Tak!
Hp Kanaya terjatuh di bawah meja dan menimbulkan suara yang cukup keras. Teman sebangkunya, yang menyenggol lengan Kanaya hingga hp itu terjatuh. Kelas yang begitu hening, langsung menatap Kanaya menjadikannya titik fokus. Termasuk dengan Bu Dewi.
"Naya, kamu mainan hp di pelajaran saya?" Bu Dewi mendekati bangku Kanaya dan melihat ponselnya ada di bawah meja. "Enggak bu, hp nya gak sengaja jatuh dari loker meja saya." Kanaya mengelak.
Bu Dewi yang tidak sepenuhnya percaya, mencoba bertanya dengan Resa teman sebangku Kanaya. "Resa, apa yang dikatakan oleh Naya itu benar?"
"Sebenernya, daritadi Naya mainan hp bu. Tapi saya nggak berani negur."
Pengakuan Resa membuat Kanaya geram. Cewek itu, yang harusnya bertanggungjawab karena sudah membuat hp nya terjatuh. Dan kini, Resa malah menjatuhkannya.
"Loe sengaja jatuhin hp gue?!" Kanaya tidak terima dan langsung menyemprot Resa dengan perkataannya tanpa mengindahkan bu Dewi. "Apa Nay? Gue daritadi diem aja."
"Jelas-jelas loe yang nyenggol gue!" Naya tetap kekeuh berbicara. "Loe mau playing victim Nay? Loe seharusnya gak mainan hp pas pelajaran." Balas Resa. "Elo yang playing victim, *******!" Kanaya bangun dan hendak menampar Resa, namun ia urungkan karena bu Dewi memanggil namanya dengan keras.
"KANAYA! SEKARANG JUGA KAMU KELUAR DARI RUANGAN SAYA! HORMAT DI DEPAN BENDERA SAMPAI PELAJARAN BERAKHIR." Kanaya menghembuskan nafasnya kesal. Ia mengambil hp nya yang terjatuh, lalu berjalan keluar dari kelas menuju lapangan dan ia pun memulai hukumannya.
Beberapa teman sekelasnya mencuri-curi pandang melihat Kanaya dari jendela kelas. Kanaya tidak peduli. Toh, tidak ada yang perlu ditakuti ataupun malu.
Urat malu Kanaya memang sudah terputus.
Diantara keapesan yang sudah didapat Kanaya, ia yakin jika Tuhan menyelipkan sedikit kebahagiaan. Terbukti, dirinya melihat Arkan yang sedang keluar dari kelas dan berjalan menuju ruang osis.
"Arkan, sayang!" Kanaya berteriak. Tetapi orang yang dipanggil tidak peduli dan terus berjalan.
"Kalo nggak disahutin, gue lari kesana!" Lanjutnya dengan teriakan lebih keras. Dan berhasil membuat Arkan menghentikan langkahnya.
"Loe gila?" Arkan balas berteriak. Kanaya tersenyum puas. "I LOVE YOU!" Teriakan Kanaya yang begitu keras, membuat bu Dewi keluar dari kelas.
"O-ow," Kanaya menutup mulutnya dengan tangan kiri. Sedangkan Arkan yang kini berganti tersenyum puas. "Sukurin loe." Ucapnya kemudian lanjut berjalan dan masuk ke ruang osis yang jaraknya cukup dekat dari kelasnya sendiri.
"Kamu tahu nggak kalau teriakan kamu mengganggu seluruh kelas di sekolah ini?! Kamu ini kok suka mencari perhatian!" Bu Dewi mendekati Kanaya. Kanaya hanya menunduk.
"Hukuman kamu diperpanjang sampai jam istirahat selesai."
"Siap komandan!" Balas Kanaya yang malah membuat bu Dewi semakin kesal. Kanaya tidak pernah jera sekalipun ia dihukum lebih berat lagi. "Saya sedang tidak bercanda! Kamu sudah kelas sebelas, harusnya kamu lebih serius lagi." Tutur bu Dewi. Kanaya tidak menjawab.
Posisi matahari sudah semakin ke atas. Pelajaran matematika memanglah yang memakan waktu paling lama. Siswa siswi mulai berhamburan keluar dari kelasnya, tanda jam istirahat telah tiba. Kanaya mengusap peluh keringat di dahinya dengan lengan jaket yang ia pakai. Kini, dirinya menjadi pusat perhatian.
Orang-orang berlalu lalang sambil memandang Kanaya dengan tatapan sinis.
"Apa loe liat-liat?! Mau gue gampar loe!" Setiap kali orang yang memperhatikannya, langsung dibalas dengan kasar oleh Kanaya. Lapangan yang semula sepi, kini ramai karena ada yang bermain basket. Murid-murid kelas 12 yang mengambil alih.
"Ada cewek nih!" Salah satu dari mereka menghampiri Kanaya. "Loh, ini bukannya cewek yang ada di mading ya?" Mendengar perkataan cowok itu, membuat teman-teman lainnya ikut menghampiri. Mengelilingi Kanaya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Dibayar berapa loe sama Aril? Gue ngantri boleh nggak?" Kanaya tidak menjawab. Ia mengarahkan pandangannya ke bendera. "Sombong amat loe! Dibayar murah juga mau kali loe."
"Bodi loe oke juga? Asoi geboii," ada yang hendak memegang lengan Kanaya, namun ia langsung menepisnya. "Loe kira gue gak berani sama loe?!" Akhirnya, Kanaya mengeluarkan suaranya.
"Gue kira loe bisu. Sok jual mahal banget loe!"
"Loe pikir gue mau ngomong sama orang yang wajahnya burik kaya loe pada?! Nyadar diri dong!" Perkataan Kanaya, sontak memancing kemarahan mereka.
*****
Arkan baru saja merampungkan pekerjaannya di ruang osis. Ia ditugaskan untuk segera menyelesaikan proposalnya terkait dengan pentas seni yang akan diselenggarakan. Setelah hampir 100 persen selesai, ia memutuskan untuk membeli minuman di kantin. Sekarang sudah masuk jam istirahat.
Ketika melangkah keluar, dirinya melihat Kanaya masih berdiri di lapangan dengan dikelilingi oleh senior-seniornya. "Kayaknya, pas banget timing nya buat gue kerjain dia. Biar dia makin jera dan benci sama gue." Arkan tersenyum sinis. Ia pun melangkah menuju kantin.
Arkan kembali dengan membawa dua minuman di kantung plastik. Ia segera menghampiri Kanaya. Kanaya yang melihat Arkan, langsung tersenyum dan semangat.
"Bro," Arkan ber tos ria dengan para seniornya yang masih mengelilingi Kanaya. "Makin berwibawa aja loe jadi KETOS. Hayuk, lawan kitalah!" Salah satu senior dengan rambut gondrong, menantang Arkan. Arkan tersenyum.
"Gue mau, tapi kali ini gue mau yang beda." Ucap Arkan seraya menatap Kanaya dengan sinis. "Beda gimana maksud loe?"
Sekali lagi, Arkan menatap Kanaya. "Gimana kalau kita anggap cewek ini ring? Yang berhasil numbangin dia, dia yang menang."
Kanaya tidak pernah menyangka jika dirinya dijadikan bahan permainan. Entah mengapa, setiap kali Arkan yang berbicara dia hanya terdiam dan bibirnya kelu. Melihat tatapan Arkan, membuatnya merinding.
Tubuh ini sudah penuh dengan luka. Dan sekarang, Kanaya sedang tidak ingin menambah luka. Rasa sakit itu, pasti akan terasa.
"Kayaknya, permainannya seru tuh. Gue mah gas aja!" Yang lainnya pun ikut setuju dengan tawaran yang dikatakan oleh Arkan. "Dan buat elo, kalo sampai elo berhasil enggak tumbang, gue akan ngasih minuman ini buat loe. Perdana gue ngasih sesuatu ke cewek. Harusnya, loe bahagia." bisik Arkan tepat di telinga Kanaya.
Permainan dimulai. Secara bergantian, masing-masing orang mendapatkan giliran. Beberapa kali lemparan bola meleset. Beberapa kali juga, bola itu mengenai bagian tubuh Kanaya.
Kanaya hanya diam. Ia tidak mengerti, perasaan apa yang ia rasakan. Seperti, sesak. Dan tidak dihargai. Namun berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri, jika ini ia lakukan demi mendapat perhatian dari Arkan.
Orang-orang yang semula melihatnya dari jendela, kini beralih mengitari lapangan. Permainan ini seperti pertunjukan yang layak ditonton oleh banyak orang. Mereka bersorak sorai menyerukan nama Arkan, ataupun senior yang lainnya.
Pukulan itu, semakin kuat. Nyatanya, sudah satu putaran dan Kanaya tetap berdiri tegap tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda ingin pingsan.
Giliran Arkan yang melempar, dirinya mengganti target. Ia melemparkan bola itu pada kepala Kanaya. Organ yang seharusnya menjadi sensitif, ketika kena pukulan. Benar saja. Kanaya terjatuh tetapi masih dalam kondisi sadar.
"Karena elo kalah, gue tetap kasih minuman es ini." Arkan mengulurkan tangannya yang memegang minuman didalam kantung plastik itu. Kanaya hendak mengambilnya, namun ia lagi-lagi dipermalukan.
Arkan meremas minuman itu, hingga plastiknya pecah. Membuat isinya tumpah tepat di wajah Kanaya. Semua orang menertawakannya. Menertawakan Kanaya, yang tidak bisa melakukan apa-apa selama itu adalah Arkan.
Kanaya masih mencoba untuk tersenyum.
*****
Kanaya, melepas sepatunya yang ikut basah karena tertumpah minuman yang dibawa Arkan. Ia berada di rooftop sekolahnya, tempat ia berkeluh kesah. Mengeluarkan amarah yang ia rasakan. Ia terduduk di ujung sambil mengayunkan kakinya.
Baginya, tempat ini adalah sanctuary.
Tempat perlindungan untuknya karena hanya dia yang diberi akses masuk oleh mang Dadang, satpam di sekolahnya. Ini seperti, ruangan rahasia dan hanya diperuntukkan olehnya.
Kanaya mengambil satu puntung rokok dari kantong jaketnya. Menyalakan dengan korek api, lalu menghisapnya. Entah mengapa, ia jarang sekali bisa mengeluarkan air mata di saat-saat menyedihkan, sehingga Kanaya harus melampiaskannya ke hal lain.
Kanaya memegang kepala bagian belakang, dan mendapati darah di tangannya. Ia sudah mengira itu karena pukulan bola yang begitu keras.
Kanaya memilih untuk mencoba bertahan, dengan pilihannya yaitu Arkan. Ia akan mencoba memaklumi perbuatan yang dilakukan Arkan kepadanya. Ia akan memaafkan apa yang sudah dilakukan cowok itu.
Kanaya, akan melakukannya meski kini dirinya sudah berada di titik terendah. Kanaya menarik nafasnya kuat, lalu menghembuskannya.
Kali ini, ia ingin beristirahat sebentar. Dirinya bangkit, mencari tempat yang bisa ia sandari.
Kanaya, you did it well. Be enough for yourself first, the resf of the world will wait.
*****
Arkan merasa puas dengan apa yang sudah ia lakukan. Setelah mempermalukan Kanaya di lapangan, cewek itu sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
Ia masih ingat betul bagaimana tatapan Kanaya ketika bangkit dari jatuhnya. Cewek itu, tetap tersenyum dengan senyuman yang selalu mengerikan. Tersenyum kepada Arkan seperti mengatakan,
It's okay i'll apologize you, your whole falses.
Bayangan itu pula yang kini menghantui pikirannya. Arkan tidak pernah sekasar itu, apalagi kepada perempuan. Jadi, apa Kanaya kini baik-baik saja?
Entah mengapa, Arkan malah memikirkan Kanaya. Ia mengevaluasi kembali, apa yang sudah ia lakukan. Dirinya memang benar-benar keterlaluan! Seburuk-buruknya Kanaya, ia tetaplah seorang perempuan. Memiliki harga atas dirinya dan juga martabatnya sendiri. Tetapi Arkan, perlakuannya tadi pasti sudah menginjak-injak harga diri cewek itu.
Arkan mengacak rambutnya kasar. Ia tidak fokus di kelas. Tidak ada materi yang masuk ke dalam otaknya. "Loe waras kan, Ar?" Alvin teman sebangku Arkan sedaritadi memperhatikan kegelisahan yang tergambar jelas pada cowok itu. "Loe ngomong sama gue?" Arkan baru menyadari jika Alvin berbicara kepadanya.
"Bukan, gue ngomong sama setan di samping gue. Yaiyalah elo! Pake nanya lagi." Arkan hanya tersenyum kecut. Menceritakan apa yang ia pikirkan kepada Alvin bukan pilihan yang tepat. Bahkan sangat buruk! Sohibnya itu akan menertawakan dirinya yang sudah seperti menjilat ludahnya sendiri.
"Gue baik-baik aja. Loe nggak usah khawatir beib?" Arkan mengucapkannya dengan nada menggoda. "Najis loe! Gua masih straight."
"Lurus tapi jomblo. Masih patut dipertanyakan."
"Bukan jomblo, tapi masih mencari yang tepat." Jawab Alvin dengan penuh percaya diri. "Alesan loe buntelan sampah." Arkan kini menyenderkan punggungnya di kursi. Mencari posisi ternyaman. Mendengarkan guru sejarah yang sedang bercerita.
"Loe sama Araya gimana?"
Pertanyaan dari Alvin seperti memukulnya telak. Hari ini, ia bahkan melupakan cewek itu. Padahal kemarin, ia seakan-akan tidak akan meninggalkan sedetik pun.
*****
Sekolah sudah sepi, karena jam pulang sudah terlewati setengah jam yang lalu. Arkan masih merasa pewe dengan kegiatan nge vape nya di kantin. Teman-temannya juga sudah menghilang entah kemana.
Arkan juga memilih untuk tidak menghubungi Araya. Dirinya butuh waktu, untuk memikirkan banyak hal. Banyak hal mengenai Kanaya.
Arkan sudah mencoba mengenyahkan pikiran tentang si cewek aneh itu. Tetapi, lagi-lagi selalu muncul. Apalagi bayangan ketika dirinya menumpahkan minuman ke wajah Kanaya.
Lagi-lagi seperti de javu, Arkan melihat Kanaya kini yang berjalan ke arahnya dengan senyumannya.
"Arkan!"
Mengapa cewek itu bertingkah seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya?
Pertanyaan itu hilang, berganti tatapan iba kala melihat kaki Kanaya yang tidak beralas. Tidak tertutup oleh sepatu.
"Arkan, loe belum pulang? Nungguin gue?" Kanaya dengan senyumannya.
"Mana sepatu loe?"
"Loe lupa? Kan tadi loe numpahin es sampe sepatu gue juga ikut basah?"
Kanaya tidak sedikitpun menampilkan ekspresi marah kepada Arkan. "Loe nggak kesal sama gue?" Arkan langsung bertanya ke intinya.
"Enggak. Gue kesal sama Resa, gara-gara dia ngaduin gue main hp. Jadi gue dihukum di lapangan."
Ajaib! Cewek itu benar-benar tidak marah kepadanya. Tetapi, Arkan malah bertambah rasa bersalahnya.
"Gue anterin loe pulang."
"Apa?"
"Jangan salah faham. Ini karena gue masih punya rasa kemanusian dan rasa bersalah terhadap elo. Jadi gue bakal anterin loe pulang. Sekali ini aja!" Kanaya senang bukan main, mendapatkan tawaran itu. Ia merasa tidak menyesal karena sudah memaafkan Arkan. Ternyata, Tuhan memang baik.
Kanaya mengangguk setuju. "Dengan catatan, gak usah pegang-pegang gue!" Sebelum Kanaya berbicara, Arkan memperingati.
You win, Kanaya. Congrats!