Partner in Pressure

Partner in Pressure
Sudut pandang Aleesya


Aleesya, dengan rasa penasarannya.


Sudah terlalu lama, ia memendam rasa kecurigaan yang begitu dalam terhadap kakaknya sendiri. Kakak kedua nya, yaitu Aruna. Aleesya sering mempergoki kakaknya itu sedang melakukan hal-hal di luar kebiasaannya ataupun yang tidak pernah dilakukan oleh Aruna.


Bermula, dari dandanan nya ketika ia hendak pergi ke sekolah. Aleesya dan Aruna memang bersekolah di sekolahan yang berbeda, namun keanehan itu tidak luput dari matanya. Aleesya tahu betul, jika kakaknya itu tidak bisa sama sekali berdandan. Meski hanya memakai lipbalm, Aruna tidak bisa. Ia selalu tampil polos tanpa riasan yang ada. Tetapi tiba-tiba di hari yang keberapa Aruna sekolah, ia muncul dengan riasan yang mengejutkan.


Ia memakai lipstik berwarna hitam dan juga ada eyeliner di bawah kelopak matanya. Itu sudah sangat tidak wajar, tetapi Aleesya mencoba untuk memakluminya dengan beberapa alasan seperti, mungkin Aruna sudah belajar menggunakan atau mungkin Aruna begini dan begitu. Akhirnya, Aleesya bisa membiarkan hal itu tanpa bertanya lagi.


Kemudian, Aleesya juga pernah melihat Aruna merokok. Saat itu ia sedang menyirami tanaman yang ada di balik jendela kamar Aruna. Lalu ia menyadari jika ada bau dan asap di sekitarnya. Tak lama kemudian, kakaknya itu melempar puntung rokok yang sudah habis keluar dari jendela. Ia tahu betul. Aruna sangat membenci rokok. Ia juga yang memperingati ayahnya dulu agar tidak lagi merokok. Lagi-lagi Aleesya memaklumi hal tidak wajar itu dengan alasan mungkin Aruna terlalu depresi menghadapi masalah hidupnya.


Ia kira, hal berbau keanehan itu berhenti. Atau mungkin Aleesya yang akan belajar untuk membiasakannya. Tapi semua tidak seperti yang ia harapkan. Keanehan lainnya terus muncul. Seperti, Aruna yang tidak pernah menoleh ketika Aleesya memanggilnya. Atau, Aruna yang memanggil seisi keluarganya dengan menggunakan kata elo-gue. Padahal, Aruna adalah yang tersopan dibanding Aleesya atau Aira yang suka asal bicara.


Aleesya sampai stres memikirkan hal itu. Meski berapa kali ia mencoba untuk memaklumi setiap keanehan yang terjadi, tapi ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Ia merasa seperti dia bukan Aruna. Atau, itu pasti orang lain. Tapi yang selalu ia lihat adalah itu Aruna. Kakaknya sendiri.


Kemudian, beberapa bulan yang lalu datang seorang lelaki yang menanyakan keberadaan kakaknya dengan panggilan, Kanaya. Namanya Arkan atau biasa ia panggil dengan mas Arkan. Yang ternyata adalah pacar Aruna. Awalnya Aleesya sempat bingung, kenapa dia memanggil kakaknya dengan nama belakangnya itu. Semenjak itu, Aleesya menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.


Ia memperhatikan pola perilaku Aruna yang berubah. Aruna selalu tertidur dan bangun dengan tingkah yang berbeda. Ia kemudian akan kembali seperti biasanya di malam hari.


Dan keanehan itu terasa lebih nyata, kala Aruna menganggap dirinya telah putus sekolah atau tidak bersekolah. Padahal, semuanya tidak benar. Ia juga menganggap dirinya manusia malam. Atau selalu terbangun di malam hari dan tidur di siang hari. Padahal, Aruna hanya tertidur sebentar di sore hari dan di pagi hari. Itu cukup membuat Aleesya sangat curiga.


Hingga semuanya menjadi jelas, kala hari ulang tahunnya. Aleesya bisa menyimpulkannya.


*****


Aleesya menaruh semua hadiahnya di dalam kamar. Kemudian, ia membuka satu persatu hadiah pemberian Aira dan Aruna kakaknya. Pertama, Aira.


Kakaknya itu memberikan dia syal rajut warna kesukaannya, yaitu hitam. Aleesya tersenyum. Tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dirinya ketika hari ulang tahunnya. Ia menyimpan syal itu, ke dalam lemari bajunya. Lalu, hadiah dari Aruna.


Itu adalah yang ditunggu-tunggu oleh Aleesya. Biasanya, kakaknya itu memberikan sesuatu yang membuat Aleesya merasa teristimewa. Aruna adalah kakak yang paling kreatif. Tahun lalu, ia dihadiahi karikatur dirinya dengan sangat indah. Hanya satu kertas. Tetapi membuatnya selalu tersenyum kala menatap gambar itu. Kemudian, ia simpan di dalam pigura dan dipajangnya di meja belajar. Kali ini, ia tidak sabar.


Dibukanya kotak itu. Menampilkan sebuah bingkai yang berisi foto dirinya dan juga Aruna sewaktu kecil. Benarkan? Lagi-lagi Aleesya merasa tersentuh. Tidak dilihat dari seberapa mahalnya, tapi bagaimana bernilainya.


"Gue kok terharu sih. Padahal cuma gini doang." Aleesya mengusap bingkai itu. Kemudian menaruhnya di sebelah pigura karikatur yang Aruna buat. Setelah itu ia keluar. Mencari keberadaan Aruna.


Ia mengetuk pintu kamar Aruna.


"Kak Run, loe di kamar kah?" tetapi tidak ada jawaban. Aleesya pun membuka kamarnya. Gelap sekali. Ia melangkah masuk ke dalam. Mencari saklarnya, yang ternyata dekat dengan meja di kamarnya.


"Ternyata kosong hmm," Aleesya memperhatikan seisi kamar Aruna. Auranya, seperti sangat berbeda. Penuh misteri. Lantas Aleesya menatap meja yang begitu penuh dengan barang-barang Aruna. Seperti laptop, buku menggambarnya, dan apapun yang berkaitan dengan seni. Lalu dirinya juga menemukan lipstik hitam dan juga eyeliner, yang ia curigai selama ini. Aruna ternyata memang memakainya.


Ada lembaran-lembaran kertas, yang membuat Aleesya tertarik membacanya. Sepertinya, itu sebuah novel? Tapi, masih dalam bentuk sebuah naskah. Aleesya membacanya.


Namanya Kanaya, cewek yang memiliki kebebasan tak terbatas. Ia selalu tampil dengan gaya nyentriknya. Bibirnya yang hitam, dan matanya penuh ketajaman, membuatnya sangat garang di mata orang lain. Ia tidak suka punya teman di kelas, sehingga ia dianggap aneh oleh orang-orang di sekolahnya.


Kanaya tidak suka diatur. Ia juga hidup semaunya sendiri. Ia tidak pernah mendapatkan teguran, karena guru BK disana pun menjadi satu-satunya teman Kanaya. Meski begitu, Kanaya menyimpan luka yang amat mendalam. Ia sembunyikan lukanya dibalik jaket yang selalu ia pakai.


Sampai suatu ketika, dirinya ingin diperhatikan oleh orang lain. Karena sudah terlalu menyendiri dalam hidupnya. Ia mulai memperhatikan orang-orang di sekitar sampai ia menemukan salah satu yang menarik perhatiannya. Yang ia rasa, orang itu pantas untuk menjadi tamengnya. Tameng agar dirinya tidak kesepian lagi.


Mulai saat itu, Kanaya selalu memperhatikan gerak gerik seorang lelaki tamengnya. Ia juga mencari tahu semua tentangnya. Semua yang berkaitan dengannya. Hingga satu tahun terlewati, Kanaya merasa keberaniannya sudah memuncak di kepalanya. Ia langsung menghampiri lelaki itu dan berkata,


Deru suara motor matic terdengar dari depan rumah. Aleesya refleks mengambil lembaran-lembaran itu karena ia belum sempat membacanya sampai habis. Ia langsung mematikan lampu dan keluar dari kamar Aruna.


Ia melihat Aruna yang baru saja datang, dan membawa beberapa kantung kresek yang berisi makanan. Memberikannya pada Sarah, ibunya. Aleesya yang sedang berdiri tersenyum canggung pada Aruna.


Lalu, kakaknya itu berlalu melewati Aleesya dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kakak loe tuh. Makin hari tingkahnya makin gak waras." bisik Aira kepada Aleesya, ketika hendak ingin ke dapur dan melewati Aleesya. Aleesya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja. Pikirannya sudah terfokus ingin segera ke kamar dan membaca lembaran yang kini ada di dalam bajunya.


Berminggu-minggu setelah kejadian tersebut, seorang lelaki yang bernama Arkan itu datang ke rumahnya. Ia mencari seseorang bernama Naya, Kanaya. Kebetulan saat itu Aleesya yang membukakan pintu. Lantas, setelah beberapa detik dirinya bingung dengan nama yang asing, lalu ia teringat kakaknya. Itu nama belakang kakaknya.


Dan lagi, setelah kejadian itu Aleesya bisa menarik kesimpulan. Aruna telah kehilangan jati diri. Dan ia memunculkan sosok yang ada di dalam novel ciptaannya sendiri, dalam dirinya dan menjadikan dia sebagai sosok Kanaya, yang bebas hidupnya. Kenyataan itu seperti memukul keras Aleesya, ia tidak mengerti mengapa hal yang aneh terjadi dalam kakaknya.


Ia berjanji. Akan mengembalikan kakaknya yang hilang bagaimanapun caranya.


*****


Hari ini, Aleesya sedang bersantai sambil melonjorkan kakinya di sofa ruang tengah. Aira dan Sarah tidak ada di rumah. Hanya ada dirinya dan juga kakak keduanya, Aruna.


Hari sudah sore. Namun Aruna sama sekali tidak terlihat batang hidungnya sedari pagi. Membuat Aleesya lagi-lagi berpikir penasaran. Ia yang sedang membaca sebuah majalah, kemudian terhenti ketika mendengar suara seseorang yang sedang bersenandung.


"Hmm hmm hmm." itu seperti alunan lagu tradisional sunda, yang Aleesya sendiri tidak tahu menahu. Suara itu bertambah keras dan menjadi menyeramkan kala di akhirnya, suara menjadi melengking begitu memekikkan telinga.


Aleesya tidak lagi terdiam. Dirinya bangkit, menghampiri kamar kakaknya dan membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Aleesya melihat, kakaknya itu sedang meriasi wajahnya sendiri dengan menggunakan gaun yang menjuntai panjang, berwarna hitam keunguan. "Loe ngapain, dandan aneh gitu?!" ucap Aleesya tanpa basa-basi. Aruna tidak menjawab. Setelah merias, ia lanjut dengan memakai sanggul palsu pada rambutnya yang sudah digelung.


"Kak Aruna!" teriak Aleesya sekali lagi. Tetapi orang di depannya tak kunjung merespons. Hingga ia selesai berdandan, lalu berdiri menatap dirinya sendiri di depan cermin.


"Gorgeous, Kanaya." ucapnya bermonolog.


"Kanaya! Loe apain kakak gue?!" Aleesya mendekat, menarik kerah lehernya. "Jangan sentuh-sentuh gue!" balas kakaknya itu. "Kembaliin kakak gue sekarang juga!"


"Loe pikir loe siapa?! Lepasin!" Aruna melepaskan tangan Aleesya secara paksa hingga cewek itu terhempas ke tembok kamarnya. Kemudian, Aruna pergi meninggalkan kamar. Menyisakan Aleesya yang masih sangat syok dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.


"Gue yakin, itu bukan kak Aruna. Itu bukan!" Aleesya menjambak rambutnya sendiri. Ia juga bingung, mengapa harus terjebak dalam situasi seperti ini. Lalu pandangannya terjatuh pada meja Aruna. Ia mendapati sesuatu disana. Yaitu, segelas air putih dan juga beberapa bungkus obat.


Aleesya membaca nama obat itu. Kenapa kakaknya mengonsumsi obat ini?


Statin, simvastatin. Aleesya tahu jika ini adalah obat untuk mengatasi kolesterol tinggi. Dan setelah ia mencari tahu dari google nya, ia pun menduga sesuatu.


Salah satu efek samping dari obat itu adalah insomnia atau sulit tidur. Dan total ada 10 tablet yang diminum Aruna, kakaknya. Kemudian bisa ia simpulkan lagi, jika Aruna ingin terjaga semalaman entah untuk apa.


"Ini udah gak bisa dibiarin. Gue harus lakuin sesuatu."


****