Partner in Pressure

Partner in Pressure
Bahagia


Demi Arkan, Kanaya mencoba merubah penampilannya. Tidak ada lagi eyeliner di bawah mata ataupun lipstik hitam. Tergantikan oleh lipcream berwarna nude dan mata nya yang polos. Rambutnya yang biasa tergerai urakan, Kanaya ikat dengan simpul pita dan poninya juga ia jepit. Meski seperti tidak mengenal dirinya sendiri, Kanaya akan berusaha yakinkan jika ia juga layak menjadi pacar dari seorang Arkan, cowok terganteng menurutnya.


Yang paling membuatnya tidak nyaman adalah baju atasannya yang bermodel blouse berwarna putih dengan bawahan celana jeans panjang. Ia kini, seperti melihat perempuan seutuhnya di dalam dirinya sendiri.


Apalagi Arkan, kini yang melihat Kanaya dengan tampilan itu membuatnya menelan ludah. Siapa lagi yang bisa melihat Kanaya yang sekarang menjadi selayaknya cewek selain dirinya? Kanaya benar-benar cantik.


"Satu lagi syaratnya." Arkan tiba-tiba berucap. Kini mereka ada di depan rumah Kanaya.


"Syarat?" Kanaya yang baru saja keluar dan langsung diberi pernyataan sedikit kebingungan tidak mengerti.


"Selama loe jadi pacar gue, gue mau loe yang ini. Loe yang wajahnya kayak gini." Kanaya bisa menebak. Siapa juga yang mau berpacaran dengan cewek yang tampil urakan?


"Oke. Ayo jalan." Kanaya naik ke atas motor Arkan. Arkan yang masih berusaha mengatur detak jantungnya.


"Ar? Kok diem?" Kanaya menepuk punggung Arkan hingga cowok itu tersentak. "Sabar, Nay. Bacot banget sih." Merekapun melaju menuju supermarket, untuk membeli bahan dan perlengkapan membuat siomay.


Supermarket begitu ramai dan dipadati oleh pengunjung. Mereka berdua bisa memaklumi karena ini adalah hari minggu. Kanaya menunggu Arkan di lobi, sembari cowok itu memarkirkan motornya.


Kanaya tak henti-hentinya tersenyum karena ia menganggap ini adalah kencan pertama mereka. Meskipun, Arkan tidak menganggapnya begitu. Tak apalah.


"Ayo masuk," Tidak lama setelah itu, Arkan datang. Dan lagi, berjalan mendahului Kanaya seperti biasanya. Membuat cewek itu mendengus. Mana ada pacar yang ditinggal-tinggal?


Bau roti semerbak di indera penciuman mereka. Membuat perut Kanaya memanggil, ingin memakan roti itu. Pandangannya pun tidak henti menatap roti-roti yang terpajang dan dipamerkan di etalase.


"Gak ada acara makan-makan roti dulu. Waktunya mepet." Arkan menarik tangan Kanaya kembali ketika cewek itu hendak menuju roti-roti itu. "Ih, jahat banget sih! Katanya pacar!" gerutu Kanaya ketika ia tidak diperbolehkan.


"Nanti gue beliin. Kita belanja dulu." Kanaya tidak jadi cemberut mendengar hal itu. Karena tidak mau lama-lama, Arkan membawa Kanaya ke lift. Dan langsung disuguhkan dengan foodmart yang berisi stan-stan makanan yang lebih membuat perut Kanaya keroncongan.


"Arkan gue laper." keluh Kanaya ketika melihat ada sosis yang ada di lemari pendingin. "Makanya buruan belanja. Abis gitu makan." Kanaya mengangguk mantap, ia mengikuti Arkan di belakangnya. "Loe tunggu dulu disini." Ujar Arkan membuat Kanaya menghentikan langkahnya dan berdiri diam menatap Arkan yang mengambil troli jauh di depan Kanaya.


Hingga troli itu didorong sampai di depan Kanaya, Kanaya tak henti menatap troli itu. "Ar, kita bukan mau belanja bulanan buat kebutuhan rumah tangga loh." sinting memang, Kanaya ini. "Maksud loe apaan sih?"


"Ngapain troli nya gede banget?! Loe kira mau borong semua yang ada disini?" mendengar itu, Arkan pun memperhatikan troli yang ia pegang.


Benar juga. Itu terlalu besar. "Gue asal ngambil. Mana gue tahu?!"


"Aha, gue tahu. Biar gak mubadzir tempat," Arkan mengernyit bingung, lalu Kanaya tidak tinggal diam. Dirinya naik ke dalam troli itu dan duduk di dalamnya. "Ayo jalan, sayang ."


"Loe gila ya?! Berat tahu! Turun nggak?!"


"Gak mau. Badan gue kecil, gue gak berat. Ayo dorong." Arkan berdecih kesal melihat tingkah Kanaya semaunya sendiri. Tetapi, ia malah menuruti. Mendorong troli itu dengan Kanaya di dalamnya.


"Bahannya apa aja?" tanya Arkan. Tetapi Kanaya malah mengedikkan bahunya. "Gak tahu."


"Kok nggak tahu? Jangan main-main deh, Nay. Belum nanti bikinnya lama juga."


"Loe kan punya hp? Susah amat sih idup loe." lagi-lagi Kanaya benar. Kenapa Arkan jadi terlihat **** seperti ini. Arkan pun memanfaatkan asisten google nya.


"Ini nih, jenis siomay nya banyak. Ada yang isiannya ayam, daging sapi, udang—"


"Udang aja. Gue gak suka daging sapi."


"Lha, terus kenapa kalau loe gak suka daging? Kan cuma elo doang. Kayaknya enak daging deh."


"Gak mau Arkan. Nanti gue gak bisa nyobain. Udang aja. Universal."


"Pala loe universal. Terserah elo dah." pada akhirnya, Arkan mengikuti kemauan Kanaya. Mereka berputar mengitari seluruh rak makanan dan lemari pendingin yang begitu besar, hingga hampir semua kebutuhannya terpenuhi.


"Kurang apalagi beib?"


"Loe kira gue ****!" Kanaya tertawa terpingkal mendengar respon Arkan ia teringat status facebook Arkan yang ia lihat kapan itu. "Kurang saus kacangnya."


"Beli apa nguleg sendiri?"


"Menurut loe enaknya gimana Nay?"


"Enak nguleg sebenernya. Tapi karena waktunya mepet dan bazaar nya seminggu, mending beli yang instant aja. Masa iya tiap pagi loe nguleg kagak lucu." Arkan setuju dengan ucapan Kanaya. Mereka kembali mencari.


"Mana ya, saos kacang.." ketika Kanaya asyik menatap rak yang berisi saus, mata Arkan menatap sesuatu.


Di depannya, ada Chandra dan Salsa, dua sejoli yang juga sedang berbelanja. Mati Arkan! Loe bakal mati kalau sampai mereka tahu!


Arkan berbalik mendorong troli itu kencang di bagian tengah antara dua rak, di posisi kanan Arkan. Ia mendorong sekencang-kencangnya, hingga troli menabrak tembok dan kepala Kanaya menabrak bagian depan troli.


"Aduh! Loe gila ya Ar?!"


Arkan tidak peduli. Yang penting, ia harus jauh-jauh dari Kanaya. Kemudian ia pura-pura melihat saos yang tertata di rak, tanpa memperhatikan Chandra.


"Woi, Arkan! Loe disini juga?!" Arkan menoleh. Pura-pura terkejut melihat Chandra dan Salsa.


"Eh, ada orang bucin disini." balas Arkan. "Loe ngapain disini sendirian kaya orang ****?!" tanya Salsa.


"Ya taulah, sekarang yang udah berpasangan mah. Gue belanja lah gila aja masa mandi." Arkan melihat sekeliling, barangkali ada Kanaya yang berkeliaran.


"Hehe. Kita juga disini belanja, mau masak-masak di rumah Salsa."


"Wah udah berani main ke rumah aja loe. Perasaan baru beberapa hari jadiannya."


"Iya, nyokap gue seneng sama Chandra. Katanya dia lucu. Padahal sih amit-amit." ucap Salsa yang langsung dibalas dengan cubitan di pipinya oleh Chandra. Mereka benar-benar bucin di depan umum. Membuat Arkan mendesis risih.


"Ih sayang. Kok ngomongnya gitu sih,"


"Ekhm, yaudah. Gue mau lanjut belanja dulu. Loe nikmatin waktu kalian berdua." Arkan berpamitan. "Gak mau ikut makan loe? Gue traktir dah buat pajaknya."


"Yang ada gue didemo sama yang lain karena gak ngajak-ngajak. Lain waktu aja bareng sama yang lain." Arkan memberi alasan lain, padahal ia tidak mau jika Chandra tahu dirinya bersama Kanaya. Ia akan malu seumur hidup rasanya.


"Oke, gue udah selesai belanjanya. Mau ke bawah sekalian makan. Gue duluan ya, Ar."


"Bye,"


Akhirnya, Arkan bisa bernapas lega. Tapi tunggu, dimana Kanaya? Kenapa cewek itu tidak segera menghampirinya? Sepertinya, ada yang tidak beres.


"Maaf Nay. Tadi ada Chandra, gue gak mau—"


"Diem loe! *******! Pala gue, rusak gara-gara elo. Loe pikir gue barang? Seenaknya aja main lempar sana sini." Kanaya membalasnya dengan penuh umpatan. Kemudian menaruh hp Arkan dengan keras seperti membantingnya.


"Refleks, Nay. Diobatin di rumah deh. Sekarang makan dulu. Loe mau apa?" kini, mereka berdua sudah duduk di restoran sushi yang ada di dalam supermarket.


"Loe pikir gue masih bisa makan? Kepala nyut-nyutan berasa abis dipukul pake besi!"


"Terus gimana,Nay?"


"Tau ah. Gue unmood sama loe! Mati aja loe sana. Gak guna banget gue, *******."


"Yah Nay. Jangan gitu. Loe mau apa deh, gue beliin."


"Beliin roti yang tadi gue pengen. Semuanya! Orang deso kayak gue, mana mau makan beginian." Kanaya berkacak pinggang. Menunggu balasan dari Arkan.


"Iya, gue beliin semua yang ada disana."


"Yaudah gue gak jadi marah." Kanaya memperlihatkan gigi dari senyumannya. Semudah itu, hanya dengan roti?


"Kita makan di rumah kalau gitu." Kanaya hanya mengangguk bahagia karena permintaannya dituruti. Ia sampai lupa kalau kini, jidatnya memerah.


*****


Kini gantian Arkan yang kesal setengah mati dengan Kanaya. Setelah menghabiskan banyaknya roti yang tadi dibeli di rumah Arkan, cewek itu sekarang menghancurkan segalanya yang ada di dapur.


"Loe bilang loe ahli persiomayan! Tapi bikin aja kagak bisa. Tanggungjawab loe?!" Arkan kesal karena Kanaya tidak dapat melipat pangsit yang menjadi luaran siomay dan malah menghancurkannya. Mengotori meja yang ada di dapur.


"Iya, gue emang ahli persiomayan! Gue bisa bedain mana siomay yang enak, mana yang kagak. Kalau masaknya ya masa bisa gue."


"Oh, jadi loe bohongin gue?! Nih liat, loe buang-buang pangsitnya. Niatnya berhemat malah tekor."


"Loe kok nyalahin gue? Emang gue bilang kalo gue bisa bikin siomay? Enggak kan?"


"Loe bilang ahli! Mana gue tahu,"


"Gue ahli nyobain makanan! Tapi gue kagak bisa masak!"


"Sialan loe."


"Loe bilang gue sialan?! Rasain ini!" Kanaya melemparkan tepung terigu tepat di wajah Arkan. "Kurang ajar. Sini loe." Arkan balas melempar terigu. Kanaya menghindar dan berlari. Lalu Arkan mengejarnya.


Mereka seperti kembali lagi ke masa kecil. Main kejar-kejaran, tanpa takut dimarahi orang tua. Meski begitu, Kanaya maupun Arkan sangat bahagia. Kanaya yang baru pertama kali memiliki seseorang yang bisa ia tunjukan tingkah lakunya yang sebenarnya, dan Arkan yang baru merasakan jika ada kebahagiaan lain selain bersama teman-temannya.


Sampai satu jam mereka berselisih, akhirnya mereka sama-sama mengalah. Dan memulai membuat siomay yang benar dengan tutorial youtube.


Mereka tampak serius memperhatikan video itu, lalu di setiap langkah mereka mempause nya dan langsung mempraktekan. Begitu seterusnya hingga adonan siomay jadi dan siap digoreng.


"Ternyata gampang. Kalau tadi gue gak percaya sama omongan busuk loe, paling-paling daritadi selesai."


"Apa loe bilang? Busuk? Ngajak ribut lagi loe?" Kanaya yang sedang memegang spatula hendak mengarahkannya ke Arkan. Cowok itu langsung mundur karena masih sayang dengan wajahnya. "Jangan main-main sama yang loe pegang. Loe lagi ngegoreng, Nay!"


"Kesel gue."


"Loe sekarang udah berani ya sama gue? Elo yang dulu mana? Yang selalu ngejar-ngejar gue. Sekarang dikasih kesempatan, malah ngelunjak."


"Ya kan apa yang gue pengenin udah dapet. Terserah gue dong. Yang pasti, loe nggak bakal bisa lepas dari gue, Ar. Percaya sama gue."


"Kan mulai creepy lagi. Takut gue."


"Gue serius, Ar. Gue bakal cari loe kemana-mana kalau loe sampe lari dari gue."


"Btw, gue kasih tahu Nay. Itu jidat loe kayak ada pentol di dalemnya."


"Kampret loe Ar!"


****


Kanaya tidak henti-hentinya menatap Arkan yang kini posisinya sangat dekat dengannya. Arkan sedang mengobati seluruh luka yang ada di lengan Kanaya. Mereka berdua sedang berada di dalam kamar Arkan.


"Ar, loe jangan apa-apain gue ya. Gue rada curiga kenapa harus di kamar?"


"Pikiran loe itu, harus dibersihin. Ngeres banget." Arkan menyentil dahi Kanaya yang ada benjolannya.


"Aww, ini benjol makin gede nanti nya. Lagian ngajakin gue ke kamar. Di kasur lagi."


"Obatnya ada disini, Nay. Loe mau duduk di lantai? Masih mending gue ngehormatin loe sebagai tamu. Dasar, pikiran loe."


"Aaaw aww. Arkan pelan-pelan!" Arkan menekan kapas yang ia totolkan obat merah ke tangan Kanaya dengan kuat. Membuat cewek itu mengadu kesakitan.


"Biar tahu rasa loe."


"Sama pacar kayak gitu ya. Gak boleh gitu dong sayang!"


"Sayang sayang, pala loe peyang."


"Loe ini harusnya romantis jadi cowok."


"Pengecualian buat gue. Loe harus dikerasin."


Setelah mengobati seluruh luka Kanaya dengan telaten, Arkan lanjut memberikan perban pada tangan cewek itu. Kanaya tersenyum. Senyum yang paling menawan. Meski Arkan tidak melihat wajahnya.


Bahagia. Kanaya merasa bahagia hanya dengan bersama Arkan. Mungkin ini balasan Tuhan kepadanya karena dia sudah banyak menderita di dalam hidupnya.


Ia hanya ingin ada keabadian, yang diantaranya bersama Arkan selamanya.


*****