Partner in Pressure

Partner in Pressure
Joker


Kanaya terus menerus tersenyum di balik punggung Arkan yang memboncengnya. Arkan yang belum sempat membenarkan kaca spionnya, bisa melihat jika cewek itu tengah tersenyum.


Sebenarnya, Kanaya itu terbuat dari apa? Mengapa dirinya bahkan tidak menunjukkan ekspresi sedih sedikitpun. Apa.. Itu normal?


"Arkan, anterin gue ke mall yang kemarin ya." Ucap Kanaya. "Ok," Arkan menjawabnya singkat.


"Fyi, gue kerja disana. Gue jadi SPG rokok."


"Gue nggak nanya." Arkan memberi jawaban menohok. "Cuma mau ngasih tahu kalau calon istri loe ini rajin bekerja. Jadi kalau nikah gue nggakpapa kok kalau gue gak dikasih nafkah." Kanaya memang gila.


"Emang siapa yang mau nikah sama loe?" tanya Arkan sarkas. "Elo lah. Secepatnya pasti loe bakal ngelamar gue."


Tanpa Kanaya tahu, Arkan tersenyum sedikit dari balik kaca helmnya.


Sesampai di parkiran mall, Kanaya turun dari vespa Arkan. "Makasih udah nganterin gue, pacar!" Kanaya menyerahkan helmnya kepada Arkan. Arkan menyambutnya. Tetapi, Arkan malah menurunkan penyangga motornya dan ikut turun. Membuka jok motornya, mengambil sesuatu yang ternyata adalah sepatu olahraga milik Arkan. "Pakai itu." Kanaya menatap Arkan yang meletakkan sepatunya didepan kaki Kanaya. "Gak usah. Didalem nanti gue juga dipinjamin sepatu kok." Kanaya menolak.


"Loe mau masuk ke mall, dalam keadaan nyeker?" Tanya Arkan ketus. Kanaya tidak menjawab, pandangannya jatuh pada kakinya yang begitu terlihat menyedihkan. Ia pun menurut, berjongkok dan memakai sepatu Arkan.


"Jangan lupa. Kalau habis dipakai, di laundry 10 kali biar bau kaki loe ilang." Arkan kembali memperingati. Ia tidak menduga jika dirinya kini rela sepatu kesayangannya dipakai oleh cewek yang paling ia tidak suka. "Kalau loe emang gak ikhlas, ngapain dipinjamin. Gue gak masalah kalau nyeker ke dalam."


"Oh ya? Tapi sekarang kaki loe udah didalam sepatu gue. Jadi elo harus tetap bertanggung jawab." Kanaya bangkit. "Oke, kalau gitu gue pamit masuk ke dalam."


"Gue ikut." Kanaya masih terdiam.


"Jangan geer! Gue mau makan." Arkan berjalan mendahului cewek itu. Kanaya ikut berjalan membuntuti Arkan di belakangnya. Memasuki area mall itu. Sebelum Arkan menaiki eskalator, dirinya berbalik menatap Kanaya yang masih di belakangnya.


"Kenapa?" Kanaya hampir menabrak punggung cowok itu karena berhenti mendadak. "Kapan loe mulai kerja?" Tanya Arkan. "Setengah jam lagi mungkin." Balas Kanaya.


"Makan dulu." Ujar Arkan. Kanaya masih mencerna perkataan Arkan. Apa itu ajakan? Atau, tidak. "Jangan geer lagi. Gue cuma mau nebus kesalahan gue karena gue udah mempermalukan loe."


"Gak perlu. Gue gak laper dan gue harus siap-siap terlebih dahulu." Kanaya menolak. Sebenarnya, ada alasan lain kenapa dirinya tidak mau makan. Kanaya tidak punya nafsu makan yang bagus. Dirinya bisa tidak makan dalam 3 hari bahkan satu minggu. Menurut Kanaya, itu masih wajar. Ia bahkan bersyukur karena banyak wanita yang bersusah payah untuk diet, sedangkan dia tidak perlu lagi berusaha.


"Yakin loe? Sebelumnya, gak ada yang pernah nolak gue. Ini pertama dan terakhirnya gue nawarin ke elo." Arkan kembali bertanya. "Iya gue yakin. Gue gak laper." Kanaya menunjukkan raut wajah dengan senyumannya seperti biasa. "Oke kalau gitu gue pergi." Arkan berbalik dan melanjutkan langkahnya naik ke eskalator.


"Makan yang banyak, pacar!" Kanaya melambaikan tangannya dan tersenyum menatap Arkan yang berada di atasnya.


*****


Matahari sudah menunjukkan senjanya. Dan Arkan, kini ia tengah membaringkan badannya di atas kasur empuk miliknya.


Tangannya dijadikan bantal. Matanya menatap langit-langit kamar. Entah mengapa, bayangan senyuman Kanaya tetap terputar di kepalanya. Arkan tidak tahu, ini sungguh tidak wajar. Mengapa harus Kanaya? Bahkan, hari ini ia telah melupakan Raya dalam sekejap.


Arkan tidak pernah memperhatikan Kanaya sebelum cewek itu mendekatinya. Arkan juga bahkan tidak tahu nama panjang Kanaya. Tetapi, mengapa ia malah repot memikirkannya?


Kanaya dengan segala tingkah anehnya. Kanaya dengan senyumannya yang mengerikan. Kanaya yang tidak punya ekspresi menyedihkan. Dan Kanaya yang tidak punya rasa sakit.


"Kal, loe nggak mau nyambut kakak tersayang loe yang baru pulang ini?" Seseorang membuyarkan pikiran Arkan. Dirinya langsung terbangun dan mendapati Kathya, kakak perempuannya sedang berada di pintu kamar.


Kathya memanggil Arkan dengan Kalla atau Kallandra yang diambil dari nama belakangnya. Kathya merupakan saudara satu-satunya Arkan yang ia miliki. Kathya adalah seorang psikiater di salah satu rumah sakit jiwa dan ia jarang pulang karena prakteknya yang begitu padat.


"Kapan loe pulang Kath?"


"Baru aja. Lumayan sedikit prakteknya hari ini. Jadi gue bisa pulang cepat deh!" Kathya masuk ke dalam kamar Arkan tanpa meminta ijin darinya. Ia ikut berbaring di kasur Arkan.


"Untung loe nggak ikut gila karena ngadepin pasien gila ya Kath. Mau an aja sih loe." Arkan berkomentar. Ia tidak pernah merasa sungkan dengan kakaknya.


"Capek gue itu bakal ilang, kalau pasien gue sembuh. Lagian, ini kan kemauan gue. Gue juga suka suka aja ngejalaninnya. Dan, gak semua pasien gue itu gila."


"Biasa deh, paling nggak mau dibilang dokter orang gila. Padahal jelas-jelas pasien loe itu gila." Ujar Arkan. Ia sudah bertahan dengan persepsinya mengenai psikiater.


"Kal, loe tuh ya. Gue bilangin ke elo. Loe pikir orang yang selama ini di sekeliling loe itu baik-baik aja? Loe tahu nggak, kadang orang yang terlihat baik-baik aja ya itu pasien gue."


"Maksud loe?" Arkan tidak paham dengan perkataan yang diucapkan oleh Kathya.


"Ya, pasien gue itu kebanyakan orang yang loe lihat baik-baik aja. Tapi sebenarnya dia itu nggak baik-baik aja."


"Kenapa bisa gitu?" Arkan masih tidak puas dengan apa yang dibicarakan oleh Kathya.


"Nggak semua orang yang loe lihat itu asli. Kebanyakan, mereka bersembunyi dibalik topeng mereka. Mereka kehilangan jati diri mereka sendiri hanya untuk berpura-pura terlihat baik. Mereka nggak bisa menceritakan apa wujud asli mereka sampai akhirnya mereka dateng ke gue."


"Hidup loe udah enak. Tapi loe nggak tahu kehidupan di sekitar orang terdekat loe kan?"


Kathya seperti mengucapkan sesuatu yang menohok Arkan. Arkan tidak pernah peduli dengan orang lain, termasuk teman-temannya. Arkan juga tidak tahu jika ada seseorang yang hidup dibalik topeng palsu mereka.


Perkataan Kathya, mengingatkan dirinya kepada Kanaya. Kanaya dengan segala teka teki dalam dirinya.


"Kenapa? Ada temen loe yang kayak gitu? Bawa ke gue sini."


"Siapa bilang? Temen-temen gue waras semua." Arkan mengelak. Namun fikirannya tetap pada Kanaya.


"Loe tahu joker, Kal?" Kathya kembali bertanya. "Gue tahu lah, musuhnya batman kan?"


"Tahu quote nya yang sekarang lagi happening?" Arkan tahu Joker. Tetapi dirinya belum menonton filmnya selain film yang munculnya karakter tersebut di batman series. Kata Chandra, filmnya membosankan tapi ending nya gila.


"Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Jadi, baek-baek loe sama anak orang. Jangan asal bikin patah hati aja. Percuma kalau ganteng, tapi gak bisa menghargai perasaan." Arkan mengernyit heran. Kenapa kakaknya ini, malah menyangkutpautkan Arkan dalam masalah percintaan.


"Gue gak ada bahas nyakitin anak orang loh! Kok nyambungnya kesana?"


"Ya, barangkali aja loe sering nyakitin cewek. Tapi baguslah kalau loe gak pernah. Gue cuma memperingati aja." Arkan memandang kakaknya dengan kesal. "Gak usah sok menggurui gue. Cari jodoh sana, biar nggak gangguin hidup gue mulu!"


Kathya tertawa mendengar perkataan Arkan. Memang, dirinya sudah menginjak usia 30 tahun. Hal yang sangat tabu karena di usia tersebut dirinya masih ingin sendiri. Tetapi, orang tua mereka memang tidak pernah menekan.


"Gue udah bahagia gini. Gue gak butuh pendamping. Enak hidup sendiri." Jawaban andalan Kathya.


*****


Araya senang bukan main ketika tahu Arkan mengunjungi kelasnya. Membawa satu porsi siomay di dalam kotak steroform. Tak lupa dengan es teh manis.


"Kak Arkan ngapain repot-repot kesini?" Raya memperhatikan Arkan yang kini mengambil alih bangku di depannya.


"Emang gak boleh? Lagian, ini juga jam istirahat." Arkan memandangi wajah Raya, dengan meletakkan dagunya di sandaran kursi. "Ini sekalian gue bawa siomay biar loe nggak kelaperan." Arkan tersenyum gemas melihat ekspresi polos Raya.


"Makasih ya kak. Aku jadi nggak enak nih," Balas Raya. Ia belum menyentuh siomay itu. "Makan gih, gue pengen lihat wajah loe kalau lagi makan gimana. Pasti cantik."


Pipi Raya memerah kala Arkan memuji dirinya. Tidak usah menanyakan bagaimana jantungnya berdetak. Raya takut Arkan mendengar suaranya. "Aku jadi malu kalau kak Arkan ngomong gitu."


"Gue kangen sama elo. Kemaren seharian gue sama sekali nggak ketemu loe."


"Bukannya kita emang ketemu kalau rapat osis aja ya?"


"Iya juga sih, tapi sekarang gue pengen lihat loe terus. Biar semangat belajarnya." Raya tersenyum. "Aku nggak tahu kalau ternyata ketua osis suka ngegombal gini."


"Loe senang nggak kalau gue bersikap gini?" pertanyaan retoris yang sebenarnya tidak perlu dijawab Raya.


"Emang ada ya cewek yang nggak senang?" Jawaban Raya, membuat Arkan bertambah suka. Harapan dirinya untuk menjadikan Raya sebagai pacar selamanya, sepertinya semakin besar.


Meski Arkan adalah the most wanted, ia bukanlah tipe pria brengsek yang suka mempermainkan hati perempuan. Arkan bahkan hanya punya dua mantan. Itupun putus karena dirinya lah yang dikhianati.


"Oh, ternyata selain jadi tukang fitnah, loe juga suka ngerebut pacar orang? Iya?"


Arkan begitu kaget mengetahui, Kanaya menghampiri dirinya dan langsung melabrak Raya.


"Maksudnya, kak Arkan itu udah punya pacar?" Raya memberanikan diri untuk membalas perkataan Kanaya. "Arkan pacar gue! Jadi loe gak usah kegatelan!"


Arkan yang mendengar itu, langsung bangkit dari kursinya dan memandang Kanaya tidak suka. "Sejak kapan gue jadi pacar elo? Gue udah bilang berapa kali kalo gue gak suka sama elo!"


Mendadak suasana kelas yang ricuh menjadi hening. Semuanya berangsur-angsur keluar dari kelas menyisakan Kanaya, Arkan dan juga Raya.


"Loe itu pacar gue! Dan loe gak boleh deket sama cewek ini! Cewek sok polos padahal kelakuannya busuk!"


"Jangan pernah ngehina Araya. Berulang kali gue bilang, loe itu seharusnya nyadar Nay. Ngaca! Siapa yang mau sama elo? Loe jangan baper gara-gara gue nganterin loe kemaren."


"Gue gak suka loe dekat sama cewek ini, Arkan. Loe seharusnya ada di pihak gue! Karena elo itu pacar gue!"


"Susah ya loe dibilangin. Hati loe terbuat dari apasih? Dari batu? Loe seharusnya tahu kalau yang busuk itu elo! Bukan Araya!"


Kanaya mengepalkan tangannya. Bukan karena ia kesal dengan Arkan. Tetapi karena ia ingin memukul dan membunuh Araya.


"Mendingan loe sekarang keluar, Arkan. Biar gue ngasih pelajaran sama cewek ini. Biar dia paham, gimana rasa sakitnya."


"Loe emang phsyco ya? Yang loe tahu itu gimana cara menyakiti orang. Loe gak pernah mikir gimana caranya hidup BIAR BISA DITERIMA SAMA SEMUA ORANG!"


Arkan begitu marah. Kebenciannya terhadap Kanaya yang semula padam, muncul kembali.


"Udah! Kalian bisa mempermasalahkan hubungan kalian di tempat lain. Bukan di depan aku!" Araya akhirnya bersuara. Membuat Kanaya dan Arkan diam meski saling berpandangan.


"Untuk kak Arkan, kalau emang dia pacar kakak, harusnya kakak jangan deketin aku!" Araya memilih pergi dan keluar dari kelas. Arkan menatap kepergiannya.


"Terakhir kali, gue peringatin elo Nay. Loe udah keterlaluan. Gue gak bakal ngebiarin loe hidup tenang." Arkan memilih menyusul Araya keluar dari kelas.


Menyisakan Kanaya dengan senyumannya.


"Justru itu yang gue harapin, Arkan. Seumur hidup gue mau loe gangguin gue terus."


Arkan mengejar Raya yang berjalan cepat di hadapannya. Kemudian, ia berhasil menyamakan langkahnya dengan cewek itu.


"Jangan dekatin aku lagi kak. Aku nggak suka terlibat masalah kalian!"


"Masalah siapa? Loe itu nggak salah apa-apa. Cewek tadi yang emang sinting. Loe nggak usah pikirin dia!"


"Gimana aku nggak berpikir? Dua kali dengan yang ini dia udah ngelabrak aku pakai bahasa kasar! Aku nggak suka!"


"Iya, maka dari itu elo harus ada di samping gue biar gue bisa ngelindungin elo."


Araya menghentikan langkah. Kemudian ia menghadap Arkan.


"Kak Arkan bisa ngejamin itu? Sementara cewek itu selalu ada di sekitar kakak? Emangnya aku bakalan nyaman?"


"Gue akan berusaha buat jauh dari dia. Dan gue pengen loe selalu ada buat gue."


"Kenapa? Kenapa harus aku?"


Arkan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya.


"Karena gue suka sama elo, Ray. Gue suka sama loe dari dulu. Dan loe tahu, gue bukan cowok brengsek yang bakal ngebiarin cewek yang dia suka merasa terancam."


Kanaya mendengar itu dari belakang mereka. Dan untuk pertama kalinya, Kanaya merasa begitu sakit.


*****