Partner in Pressure

Partner in Pressure
Antara fiksi dan nyata


"Abadi? Bahagia? Omong kosong!"


Aruna menutup laptopnya, ia baru saja menyelesaikan satu bab novel yang ia buat sendiri. Inilah kegiatan Aruna ketika ia menjadi manusia malam. Ia suka menulis. Menulis untuk dirinya sendiri. Aruna senang berimajinasi.


Baginya, ia bisa menjadi bebas dalam hayalannya sendiri. Disana, ia tidak perlu bertemu dan mengenal sosok Aira, Aleesya, dan juga ibunya. Aruna bisa hidup sendiri dan hidup semaunya. Aruna bisa menjadi orang yang tidak perlu lagi memendam.


Aruna menaruh laptopnya di atas meja. Memperhatikan wajah dirinya dan mengasihani dirinya sendiri di depan cermin.


"17 tahun, Run. Hidup kamu menderita. Kamu itu dilahirkan hanya untuk menjadi seorang pengalah. Gak ada yang peduli sama kamu. Kamu bahkan nyembunyiin semua luka, pura-pura tersenyum di depan mereka."


Aruna menyunggingkan senyuman hanya satu sisi. Ia kemudian keluar dari kamarnya, tepat di tengah malam. Keadaan rumah sudah gelap. Lalu bersenandung, lagu yang sedang ia sukai saat ini. Judulnya halu,


Ku berandai


Kau disini


Mengobati rindu ruai


Dalam sunyi


Kusendiri meratapi


Perasaan yang tak jua didengar


Tak kan apa


Bila rasa ini tumbuh sendirinya


Tak berdaya


Diri bila diantara


Walau itu hanya bayang-bayangmu


Senyumanmu yang indah bagaikan candu


Ingin trus kulihat walau dari jauh


Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku


Yang berkhayal akan bisa bersamamu


Aruna duduk di ruang makan. Tangannya memegang satu pigura yang isinya potret antara dirinya dan juga ayahnya. Kalian bisa membayangkan, bagaimana menyeramkannya ia seperti sesosok hantu yang ada dalam kegelapan. Terduduk sendirian, tanpa melakukan apapun selain menatap.


Ingatannya kembali pada 10 tahun silam, kala itu dirinya masih kelas 2 sekolah dasar.


*****


Aruna bergandengan tangan dengan ayahnya. Tangan satunya, ia gunakan untuk memegang banyaknya balon yang dibelikan oleh ayahnya.


Hari ini, adalah hari ulang tahun Aruna. Hari dimana ia akan sangat berbahagia dan dispesialkan dibanding dengan hari biasanya.


"Aruna senang?" Aruna mengangguk dan tidak hentinya tersenyum. Mereka berjalan, hendak menghampiri ibunya yang bekerja sebagai penjual kain di pasar dekat sekolahnya.


"Aku suka balon, papah." Haris sang ayah ikut tersenyum bahagia. Jarang sekali, ia bisa membuat Aruna tersenyum kecuali di hari ulang tahunnya. Gadis kecil itu, selalu menanti hadiah di saat hari lahirnya tiba.


"Nanti malem, bakal banyak balon lagi di rumah. Kita senang-senang dan makan enak. Kamu mau makan apa?"


"Emangnya papah punya uang?" Pertanyaan itu adalah pertanyaan andalan Aruna ketika hendak membeli sesuatu dengan ibu atau ayahnya. Bagi Aruna, tidak apa ia tidak membeli asalkan uang yang mereka dapat secara pas-pasan itu bisa ditabung dan digunakan untuk hal yang lainnya.


Itulah alasannya, mengapa Aruna menjadi anak yang paling favorit di mata Haris. Tidak ada yang sedewasa anaknya ini. Ketika mereka masih hidup mewah, Aruna tidak pernah meminta apapun. Dan ketika mereka kehilangan segalanya, Aruna adalah yang paling tabah dan tidak pernah mengeluh sekalipun. Seumur hidupnya, Aruna juga tidak pernah meminta apapun. Ia hanya akan berkata iya dengan apa yang diberikan oleh Haris ataupun Sarah.


Itulah Aruna dan keajaibannya. Hingga Haris berjanji, jika suatu saat Aruna meminta, ia akan menurutinya apapun itu. Termasuk dengan balon. Aruna bilang, ia menyukainya. Maka Haris akan membelikan banyaknya balon untuk Aruna.


"Untuk Aruna, papah pasti akan mengusahakannya. Lagian, balon itu murah nak. Kamu yakin gak minta yang lain?"


"Iya pah. Murah tapi nyenengin. Lucu juga. Nanti aku kasih ke Aleesya."


Satu lagi. Aruna sangat menyayangi adiknya, Aleesya. Meski hanya berbeda satu tahun, Aruna ataupun Aleesya tidak pernah bertengkar. Aruna akan mengalah dan memberikan apapun yang Aleesya mau. Termasuk jika balon-balon yang ia pegang ini, diminta oleh adiknya.


"Yang ini buat kamu. Aleesya kan bisa dibelikan nanti kalau ulang tahun."


"Oke papah." Aruna mengayun-ayunkan tangannya yang sedang bergandengan. Menyenangkan sekali. Mereka sampai di seberang jalan trotoar, hendak menyebrangi jalan di atas zebra cross. Lalu lintas bagi pejalan kaki menunjukkan lampu hijau. Mereka pun berjalan.


Semuanya masih berjalan biasa saja, hingga Aruna tidak sengaja melepaskan satu balon dari tangannya. Tepat ketika lampu berubah warna menjadi merah.


Aruna yang tidak sadar, tersentak ketika ayahnya melepaskan gandengan mereka. Ketika dirinya berbalik, ia mendapati ayahnya kini sudah terbaring di jalanan yang kini macet dengan kepala yang berlumuran darah. Tangannya terulur, seperti meminta Aruna datang.


Aruna masih diam tak berkutik. Ia mencoba mencerna apa yang terjadi di depannya. Orang-orang ramai mengitari Haris. Berteriak, karena luka yang terlalu mengerikan.


"Panggil polisi!"


"Ambulan-ambulan."


"Astaghfirullah, itu kepalanya pecah!"


Semua teriakan, terngiang-ngiang di kepala Aruna. Balon yang dikejar oleh Haris kini sudah terbang jauh di langit. "Papah.. Papah.." Aruna mulai terisak. Ia bingung harus melakukan apa karena wajah ayahnya sudah tidak lagi terlihat tertutup oleh banyaknya orang.


Haris tidak bisa diselamatkan.


Semenjak itu, hidup Aruna total berubah. Mimpi buruk mulai menghampirinya. Hari ulang tahun Aruna yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, kini lenyap seutuhnya. Tidak ada lagi hari bahagia di hidupnya.


Keluarganya kini tak lagi merayakan ulang tahun Aruna. Trauma yang mendalam, membuat Aruna merasa dikucilkan. Hidupnya berjalan normal, tetapi Aruna tidak lagi merasakan kasih sayang. Ia merasa seperti dianggap sebagai biang penyebab kematian Haris. Walau tidak terucap oleh kata.


Aruna, mencoba memendamnya lagi. Meski bayangan tentang Haris selalu menghantui pikirannya.


*****


Yang hilang, selalu membekas.


Yang ada, malah dilupakan.


Jika diantara fiksi atau nyata, Aruna akan memilih fiksi yang nyata. Ia lebih memilih tinggal di mimpinya, daripada menjadi jiwa yang kosong. Yang tak diharapkan.


Aruna sudah terlalu lama terjebak dalam ceritanya sendiri. Sehingga ia sering kali lupa akan dunia nyata. Yang seharusnya, ia hadapi. Aruna kembali bersenandung, sembari tersenyum kecut.


"Masya Allah! Gue pikir setan kuntilanak, ternyata elo kak." Aruna menoleh menatap Aleesya yang tidak jauh dari hadapannya.


"Kamu belum tidur?"


"Gue aus banget, ini tengah malem loh kak. Loe nggak normal banget sih."


"Aku kan emang bangunnya jam segini. Mau aku ambilin minum?" tawar Aruna.


"Loe ngapain kak? Hmm, megang—itu?" Aruna mengikuti arah pandang Aleesya, yang ternyata pada piguranya.


"Kangen papah ya?" Aleesya ikut duduk di samping Aruna. Aruna hanya membalasnya dengan senyuman.


"Gue mah, nggak terlalu kangen sih. Soalnya kenangan gue sama papah cuma dikit. Papah kan selalu sama elo. Jadi, wajar aja kalo loe kangen."


"Kak, sedih itu wajar. Gak usah loe tutupin. Semua punya kekurangan dan kelebihan. Gue tahu, loe udah lama mendem perasaan loe sendiri. Udah terlalu lama, kak." Aruna menutup piguranya. Berganti menatap Aleesya.


"Kamu ngomong apa sih, Sya? Aku nggakpapa."


"Gak ada orang yang nggakpapa melek malem-malem begini, gelap lagi, cuma mau mandangin foto alm. Papah. Cerita sama gue."


"Aku beneran gakpapa. Kamu tidur, gih."


"Loe pikir gue ****, kak? Loe ini udah berasa kayak kepala keluarga tahu nggak. Loe bahkan lebih dewasa dari mamah. Apalagi setelah kepergian papah, loe ngurus semuanya sendiri. Loe bahkan ngerawat mamah yang masih terpukul banget."


"Yaampun sya, ngapain masih diinget segala. Itu kan cuma masa lalu doang. Aku baik-baik aja dengan hidup seperti sekarang."


"Loe bohong kak. Jangan lupa, gue tahu itu. Kak, gue punya bahu kalau loe emang butuh sandaran. Buat curahin semua kesedihan elo."


"Kak, nangis itu gak dosa."


Aruna menatap lekat mata Aleesya.


"Udah terlalu banyak beban yang loe tanggung sendiri. Harusnya kak Aira, tapi kenapa malah elo?"


Aruna tidak pernah menyangka jika adiknya ternyata memperhatikan dirinya.


"Dan satu lagi,"


Aleesya bangkit, mencari sesuatu di salah satu loker kecil yang ada pada almari. Lalu, cahaya kecil muncul. Ternyata, ia mengambil lilin dan kini telah menyala. Membawanya ke meja, diantara merema berdua.


Happy birthday, Kak Runa


Happy birthday, Kak Runa


Happy birthday, happy birthday,


Happy birthday, to you.


Aleesya bersenandung.


"This is your bornday, right?" tangisan Aruna pecah. Aleesya memeluknya.


"Make your hopes now. Im sorry for all"


"Gue selalu ingat, kak. Tapi gue terlalu takut cuma buat ngetuk kamar elo. Jangan pernah loe ngerasa sendiri. Ada gue."


Aruna mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Setidaknya, ada seseorang yang masih mengingatnya. Meskipun tanpa hadiah.


Ternyata, bangun dari mimpi sebentar tidak terlalu buruk kan? Meski sulit dilewati, ada hal baik yang tidak perlu ditakuti. Ternyata, Tuhan tidak omong kosong seperti yang dipikirannya.


****