
Kanaya tidak tahu mengapa sekolahnya kini begitu ramai. Terlebih, ketika ia berjalan di lorong sekolahnya, semua mata tertuju kepadanya.
Kanaya menghardik dirinya, apa yang sudah ia lakukan. Tetapi kemudian dia mengedikkan bahu karena dia tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi, tidak perlu difikirkan. Ia masuk ke dalam kelasnya yang semula ramai, mendadak hening pada saat dirinya datang.
"Kenapa loe semua? Gue ada salah?" Kanaya mencoba memperhatikan penampilan dirinya sendiri. Tidak ada yang berubah. Tetapi mengapa mereka menatapnya tidak suka?
"Ekhm, sebenarnya kami mau nanya sama elo Nay. Yang di mading itu, apa benar?" Salah satu teman kelasnya, Sasya, berbicara. Tetapi Kanaya tetap tidak memahaminya.
"Mading? Kenapa mading?" Kanaya memang sempat melihat jika di mading tadi begitu ramai. Namun ia tidak peduli. "Mending loe kesana sekarang juga." Ucap Sasya.
"Penting banget ya? Gue males soalnya." Balas Kanaya. "Penting banget! Setelah itu, loe bisa klarifikasi disini. Karena kita gak menerima anggota kelas yang ada main sama gurunya sendiri." Kali ini teman yang lainnya yang berbicara.
"Maksud loe apaan gue ada main sama guru?!" Kanaya menghampiri Ica, temannya yang tadi berbicara. "Gue gak tahu! Makanya gue suruh loe liat sendiri."
Kanaya tidak bisa tinggal diam. Dirinya langsung berlari keluar kelas menuju mading. Sesampainya disana, semua murid langsung menatap Kanaya yang berdiri di depan mereka.
"Harusnya kalau ada kasus kayak gini, murid sama gurunya dikeluarin dari sekolah. Malu-maluin aja!"
"Dibayar berapa loe sama pak Aril?"
"Pantesan aja sering mampir ke ruang BK. Ternyata, melakukan sesuatu."
"Dasar *******. Udah aneh, hidup lagi."
Kanaya mencoba tidak mendengar semua cibiran yang ia lontarkan kepadanya. Ia menerobos, hingga berdiri di depan mading.
Disanalah ia melihat, foto dirinya dengan pak Aril yang sedang memegang rambutnya berada di ruang BK. Kanaya ingat jika ini terjadi kemarin ketika dirinya bersama pak Aril. Tetapi kejadian ini tidak seperti yang difikirkan oleh orang lain.
Masih pantaskah jadi panutan?
Pak Aril, guru Bimbingan Konseling, yang seharusnya menjadi teladan bagi siswa-siswinya tertangkap basah memiliki hubungan terlarang dengan salah satu siswinya.
Kami menuntut, untuk segera dieksekusi agar permasalahan bisa langsung tertutup.
Setelah membaca tulisan di bawah gambar itu, Kanaya tidak tinggal diam. Ia langsung membuka kaca madingnya dan merobek berita itu.
"INI SEMUA ENGGAK BENAR!"
Semua mata tertuju terhadap Kanaya. Kanaya benci tatapan itu. "PAK ARIL BUKAN ORANG YANG SEPERTI ITU. BUBAR LOE SEMUA!" Semuanya masih terdiam.
"BUBAR!" Nafas Kanaya mulai memburu. Orang-orang yang berada disana akhirnya memilih untuk pergi. Tetapi seseorang justru menghampiri dirinya.
"Benarkan gue? Ternyata, loe emang jual diri." Arkan, seseorang itu. Melipat tangannya di depan dada dan berbicara dengan begitu puas. "Gue nggak seperti yang elo fikirin, Arkan. Loe harus percaya sama gue." Kanaya meraih tangan Arkan. Tetapi lagi-lagi ditepis.
"Gue gak sudi tangan gue dipegang sama orang yang kotor." Ucap Arkan. "Ini semua enggak benar. Gue dan pak Aril tertuduh." Kanaya mencoba meyakinkan. Dibalik tampilannya yang swag, Kanaya tetaplah Kanaya. Perempuan seutuhnya. Ia juga punya hati untuk memikirkan semua ini.
"Mending sekarang, loe ke ruang kepala sekolah. Gue udah ngelaporin loe sama guru mesum itu. Jadi, loe harus berbesar hati." Kanaya tidak menyangka, jika Arkan, bahkan cowok itu ikut melaporkan dirinya.
"Okay, semuanya akan baik-baik aja kok." Balas Kanaya. Ia kemudian berjalan, namun kembali berbalik menatap Arkan yang masih berdiri.
"Bye, pacar." Kanaya melambaikan tangannya dengan senyuman mengerikan.
*****
Pak Aril dikeluarkan dari sekolah, sedangkan Kanaya dimaafkan.
Kanaya mencoba meyakinkan pak kepala sekolah, jika dirinya dan Pak Aril hanyalah teman berbagi cerita. Tetapi ia tidak didengarkan. Keputusan pihak sekolah sudah bulat karena ini akan menjadi aib yang begitu memalukan. Reputasi sekolah tetaplah menjadi yang utama. Dan Kanaya, lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kan saya memang pada akhirnya bakal resign, sekarang jadi dipercepat juga nggak masalah." Pak Aril mencoba meyakinkan Kanaya yang terlihat muram.
"Saya sama bapak kan cuma teman, lagipula siapa orang yang berani nyebarin berita ini. Dia harus diberi pelajaran!" Kanaya yang semula duduk di depan ruang kepala sekolah, kini bangkit.
"Nggak usah, biarin saja. Orang kurang kerjaan itu." Balas Pak Aril. "Ada ya, orang kurang kerjaan sampe matiin rezeki orang." Ucap Kanaya tidak habis fikir. Dirinya tetap harus mencari tahu, dalang dibalik semua ini.
Dan kini, ia tahu harus kemana. Ekskul jurnalistik, penanggung jawab mading sekolah.
Kanaya berlari, menuju ruangan ekskul itu berada. Sesampainya, ia melihat struktur keanggotaan yang baru dan tertempel di depan pintunya.
Araya Kiandra, ketua baru ekskul jurnalistik.
Kanaya langsung membuka pintu itu dengan sangat keras. Membuat orang-orang yang ada di dalamnya ketakutan.
"Siapa yang namanya Araya Kiandra!" Kanaya berteriak. "Kalau loe semua diam, gue bakal obrak abrik tempat ini!" Ancam Kanaya. Semuanya masih terdiam.
"Oh, jadi loe emang udah gak cinta sama ekskul loe sendiri?! Oke, kalau begitu." Kanaya memulai aksinya, ia memukul meja panjang yang di atasnya ada sebuah komputer sekolah.
"Kanaya loe jangan gila!" Seseorang memegangi tangan Kanaya. "Lepasin kalau loe gak mau gue gampar!" Kanaya berontak hingga dirinya terlepas. Ia mulai memberantaki kertas-kertas penting yang tergeletak di meja.
"Apa sekarang kerjaan kalian nyebarin fitnah? Iya? Seneng loe udah berhasil ngeluarin guru yang gak bersalah?!"
"AKU! Aku yang namanya Araya!" Seseorang muncul kemudian dari balik pintu. Kanaya bisa melihat, kini ia berbicara bukan dengan temannya. Tetapi dengan juniornya sendiri.
"Sejak kapan anak ingusan ini jadi ketua di tahun pertamanya sekolah? Sekolah emang udah bobrok!" Kanaya menghentikan aksinya. Lalu ia menghampiri cewek yang mengaku bernama Araya.
"Kenapa kakak cari aku? Apa harus ngehancurin ruangan ekskul aku?" Araya membalas tatapan Kanaya. "Loe yang tempel berita itu kan?!" Kanaya bertanya langsung ke intinya.
"Berita apa kak? Bisa kan ngomongnya lebih jelas supaya aku faham." Kanaya sudah mengucapkan sumpah serapahnya di dalam hati. Ia tidak suka dengan gadis sok polos ini. "Loe pura-pura gak tahu apa emang **** sih?" Sarkas Kanaya.
"Mau aku jelasin, prosedurnya supaya bisa menempel sesuatu di mading? Itu nggak mudah kak. Nggak bisa sembarangan asal tempel aja. Harus ada riset panjangnya."
Semua yang sudah terjadi, tidak bisa diubah kembali. Kanaya harus tetap bertahan, meski sendirian.
*****
Arkan menghirup vapornya di luar gerbang sekolah. Ikut nyebat katanya, bersama teman-teman lainnya yang merokok. Jam pelajaran kosong dan pak Aril sudah didepak dari sekolah. Jadi, tidak akan ada yang menyeret mereka ke ruang BK. Setidaknya untuk sementara ini.
"Loe percaya kalo Kanaya ada main sama pak Aril?" Tanya Alvin. Arkan hanya mengedikkan bahu, karena ia tidak mau berkomentar.
"Masa iya sih, Aril mau sama yang modelannya kayak Kanaya? Gue mah ogah!" Kali ini Chandra berkomentar. Ia juga sudah berani menyebut pak Aril tanpa embel-embel 'Pak'.
"Jangan salah loe. Dulu waktu masih kelas sepuluh, dia pernah lurus kagak neko-neko. Muka dia juga lumayan cihuy! Gak tahu deh, tiba-tiba jadi bar-bar kagak karuan bentukannya sekarang." Ucap Reza menyela.
"Oiya, loe pernah satu kelas sama itu bocah kan Ja?" Tanya Chandra. "Iya, makanya gue tahu. Dulu dia kagak begitu."
"Eh nyet, kok loe diem-diem bae? Biasanya yang paling nyinyir loe!" Budi menepuk bahu Arkan keras. "Apaan sih! Gue kagak ada hubungannya sama tu cewek. Gue mau fokus deketin Raya."
"Araya Kiandra maksud loe? Sekretaris osis? Ketua jurnalistik? Gila loe!" Budi lagi-lagi memukul bahu Arkan. Arkan hanya membalasnya dengan anggukan.
"Selera loe gak main-main bray! Loe kalo bisa dapetin itu cewek, gue bangga sama loe." Alvin tertawa setelah mengejek. Membuang puntung rokoknya yang sudah sangat kecil.
"Siapa yang nggak mau sama gue?" Pertanyaan yang menyindir teman-temannya telak. "Gak perlu mengejar, gue bisa dapet siapapun yang gue mau." Lanjutnya.
"Jangan terlalu sombong loe! Kena karma ****** dah!" Celetuk Chandra yang kemudian disetujui oleh yang lainnya.
"Arkan!"
Mati. Arkan mengenal suara itu. Itu suara yang paling menyeramkan dan tidak ia inginkan. Itu suara Kanaya, cewek yang ia anggap murahan. Cewek itu mendekat. Namun, sesuatu menarik perhatian Arkan dan teman-temannya. Bukan karena wajah Kanaya, ataupun penampilannya. Tetapi ada darah yang menetes, dari bagian tubuh gadis itu dan mengikuti jejak langkahnya. Kemudian Arkan tahu, itu darah yang berasal dari jari Kanaya.
"Tangan loe! Loe gila ya?!" Arkan menyeru. Tetapi raut wajah Kanaya tidak menunjukkan kesakitan semestinya. Ia tersenyum. "Gue kenapa?"
"Darah. Darah!" Budi sudah ingin pingsan, karena dirinya tidak suka bau darah. Begitupun yang lainnya langsung membuang muka. Tidak dengan Arkan, dirinya langsung meraih tangan Kanaya dan melihat, salah satu kuku dari Kanaya terlepas.
Dan Kanaya, tetap tidak menampilkan ekspresi apapun.
"Lihat jari loe. Loe udah mati rasa?!" Arkan bangun, dirinya menyeret tangan Kanaya, menjauh dari teman-temannya dan masuk lagi ke area sekolah.
Arkan tidak habis fikir, kenapa Kanaya tidak merasa kesakitan. Ia juga tidak tahu jika dirinya secara sadar membawa Kanaya ke ruang UKS. Harusnya, dia membiarkan cewek itu. Harusnya, tidak seperti ini.
"Woi *******! Harusnya ada anak PMR disini!" Kanaya hanya diam, ketika Arkan marah mendapati ruang UKS yang kosong. Seharusnya, ini adalah tugas anak PMR. Salah satu ekskul kesehatan yang ada.
"Arkan gue nggakpapa." Ucap Kanaya lirih. Ia didudukkan di atas salah satu ranjang yang ada disana. Sedangkan Arkan, mengambil kotak P3K dan membukanya. Mengambil apa saja yang bisa ia gunakan untuk gadis itu.
Dengan gerakan gesit, Arkan membersihkan jari Kanaya yang terluka dengan alcohol swab yang ada. Setelah itu, mengobatinya dengan obat merah.
"Makasih udah khawatir sama gue." Ucap Kanaya di tengah Arkan yang sedang mengobatinya. "Gue nggak khawatir. Gue menjalankan tugas sebagai manusia. Gue nggak habis pikir sama loe."
"Gue kalo kesal emang suka nyabut kuku."
Perkataan Kanaya terdengar seperti orang yang tidak waras. "Loe psikopat?! Bisa loe ngomong dalam keadaan kayak gini?!" Balas Arkan dengan marah.
"Kayaknya, gue bakal sering-sering cabut kuku gue. Biar elo khawatir." Kanaya memang tidak waras. "Jangan coba-coba!" Kanaya tertawa melihat ekspresi ketakutan di mata Arkan. Seperti ada kepuasan yang menjalar didalam dirinya. "Muka loe lucu banget. Pantes aja gue jatuh cinta."
Arkan membalut luka itu dengan perban dan menyelesaikannya. "Tugas gue udah kelar. Loe nggak usah kebanyakan tingkah. Sebegitu frustasinya loe karena pak Aril, sampe loe gila kayak gini. Iya?" Arkan menggertak.
"Gue emang kayak gini Arkan. Bukan karena pak Aril, tapi gue kesal sama Araya Kiandra."
Apa Arkan tidak salah dengar? Baru saja, cewek itu menyebut seseorang yang ia naksiri. "Kenapa Araya Kiandra?"
"Dia yang buat berita itu. Barusan gue labrak. Lucu deh, wajahnya kayak ketakutan gitu." Ucap Kanaya dengan senyumannya. "Apa? Loe habis ngelabrak Raya?!"
"Iya, dia yang nempel berita itu. Gue nggak terimalah!" Jawaban Kanaya membuat Arkan sangat marah. Ia menarik rahang Kanaya dan memegangnya dengan kuar hingga Kanaya merasa sakit.
"Jangan coba-coba loe ganggu Araya Kiandra. Dia yang akan menjadi calon pacar gue. Loe harusnya berkaca sama diri loe sendiri, kalau loe itu emang cewek murahan yang cuma jual badan!"
Arkan melepaskan tangannya, dan langsung keluar dari ruang UKS. Menyisakan Kanaya yang masih mematung, memikirkan apa yang sudah dilakukan Arkan.
Kemudian, dirinya tersenyum. "Ih Arkan, sekarang udah berani pegang-pegang."
*****
"Loe nggak apa-apa?" Arkan menghampiri Araya yang sedang membereskan meja yang ada di ruang jurnalistik. Dirinya langsung menarik bahu cewek itu hingga berdiri di hadapannya.
"Kak Arkan? Ngapain kakak disini?"
"Kanaya habis ngelabrak elo kan? Loe baik-baik aja? Ada yang luka?" Arkan memegangi pipi Araya. Meneliti wajahnya, takut ada luka yang tertinggal.
"Ciyee, sekarang udah berani go public!" Salah satu anggota lainnya yang ada di ruangan itu ikut bersorak. Memperhatikan Arkan dan Araya. Raya yang merasa risih, langsung melepaskan tangan Arkan dari pipinya.
"Aku gakpapa kak. Kak Arkan gak usah khawatir." Ucap Raya meyakinkan. "Kalau sampe Kanaya ngelabrak loe lagi, loe harus cari gue! Telfon gue atau apapun dan gue akan ada buat loe."
"Tenang aja kak. Aku bisa ngehadepin semuanya sendiri." Balas Raya. " Loe nggak tahu apa-apa Ray. Kanaya berbahaya, dia psikopat! Dia bisa ngelakuin apapun sama loe."
Araya hanya mengangguk. Memaklumi kekhawatiran Arkan.
*****