
Kanaya telah menghilang. Menghilang dari pandangan Arkan. Setiap kali dirinya akan berpapasan dengan Arkan, Kanaya memilih untuk bersembunyi saja.
Ia tidak punya alasan lagi untuk kembali seperti dulu. Ia menyadari jika dirinya kala itu terlalu terobsesi dengan Arkan. Sehingga rasa keinginan untuk memilikinya begitu besar.
Arkan menyadari jika cewek itu, Kanaya, menghindari darinya. Arkan tahu ketika mereka hendak berpapasan, Kanaya tiba-tiba tidak ada. Kemudian akhir-akhir ini dirinya tahu jika Kanaya bersembunyi.
Arkan memang brengsek. Seperti yang dikatakan oleh Kanaya. Saking brengseknya, Arkan tidak punya keberanian untuk mengucapkan kata maaf. Setelah kejadian itu, dirinya juga sempat dijauhi oleh teman-temannya karena bisa setega itu dengan Kanaya. Namun karena mereka memang the real friends, mereka memilih untuk kembali kepada Arkan dan mendukung bagaimanapun juga. Setiap kali ia pulang ke rumah pun, Kathya selalu menanyakan kabar Kanaya. Kanaya, Kanaya, selalu Kanaya. Ia bertanya kapan Kanaya datang ke rumah dan kembli bercakap-cakap seperti dulu. Namun Arkan hanya diam.
Jika biasanya Kanaya selalu mengikuti Arkan ketika jam istirahat ataupun membolos, sekarang sudah tidak lagi. Harusnya, Arkan senang karena keinginannya tercapai. Tapi mengapa, ia malah merasa ada sebuah kehampaan.
Di setiap hampa yang ia rasa, senyuman Kanaya yang ia anggap mengerikan tiba-tiba saja terbayang. Arkan memutuskan untuk tidak menghiraukan hal itu. Ia mencoba menjalani hari seperti biasanya. Dirinya pun semakin gencar untuk mendekati Araya dan rencananya, ia akan menebak Araya malam ini.
Arkan mencoba untuk melupakan kejadian ketika itu.
"Nak Arkan, bisa bantu saya nanti setelah upacara?" Arkan tersentak dari lamunannya, dirinya sedang berada di depan ruang osis sambil membaca kembali proposal pentas seni yang sudah disetujui sembari menunggu upacara di hari Senin dilaksanakan. Kemudian ia menatap bu Mei, guru BK baru, yang kini berada di hadapannya.
"Iya bu, apa yang perlu saya lakukan? Biar saya bantu."
"Kumpulkan semua siswa siswi yang telat atau tidak mengikuti upacara. Saya juga mau melakukan pemeriksaan untuk siswa yang gondrong, seragam yang tidak lengkap, atau warna sepatu yang tidak hitam. Saya minta tolong ya."
Untung saja, hari ini Arkan benar-benar rapih. Dulu sebelum ada bu Mei, Arkan jarang memakai kaos kaki dan menggunakan sepatu berwarna abu-abu. Ia sangat bersyukur karena pemeriksaan di waktu yang tepat.
"Baik bu, nanti saya bantu."
"Oke, terimakasih ya. Lima menit lagi upacara."
*****
Mati saja! Kanaya bangun kesiangan. Ia yakin seratus persen jika dirinya pasti telat. Ia berlari menuju gerbang sambil merapalkan do'a-do'a apapun itu supaya ia diloloskan.
"Mang Dadang! Pliss bukain gerbang buat Kanaya." betul kan? Gerbang sekolah sudah terkunci. Mang Dadang sudah bersantai di pos nya namun Kanaya mengusik acara santainya.
Mang Dadang menghampiri gerbang kembali.
"Aduh non, non lupa kalau sekarang guru BK nya ganti non? Ibu-ibu non, saya lihat lagi sensi gitu! Tahu kan non semuanya pasti gak aman!"
Sepertinya, doa yang Kanaya baca tadi tidak ikhlas. Sehingga Tuhan tidak mendengarnya. "Waduh, gue harus gimana dong!" Kanaya bermonolog. Bertanya pada dirinya.
"Gakpapa deh non. Saya bukain. Non harus pinter-pinter sembunyi ya! Biar kagak ketahuan." Kanaya hanya mengangguk. Yang penting, ia masuk dulu.
Kanaya lanjut berlari menuju lapangan. Kali ini mengendap-endap. Mati saja. Guru cewek itu sedang berjalan mengitari lapangan, memperhatikan masing-masing muridnya.
"Aduh, gak lucu kalau gue ke rooftop. Pasti ketahuan banget!"
Kanaya memperhatikan bu Mei dengan teliti. Ketika orang itu sedang tidak fokus, atau menghadap ke depan, Kanaya akan melanjutkan jalannya. Jika tidak, ia akan bersembunyi di balik pilar-pilar yang ada di depan kelas.
Iris Arkan menangkap sosok Kanaya yang sedang berjalan mengendap-endap di belakang barisan. Ia yang ikut berpatroli dengan bu Mei, memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Arkan menghampiri bu Mei, dan mengajaknya berbicara. Dengan random, ia mempertanyakan pendapat tentang konsep pentas seni yang ia rancang. Untungnya, bu Mei meladeni pembicaraan Arkan. Sembari mendengarkan bu Mei, mata Arkan mencuri pandangan pada Kanaya. Cewek itu, kini bisa berjalan leluasa menuju barisan.
Arkan tersenyum. Setidaknya ada hal kecil yang bisa ia lakukan. Meskipun cewek itu tidak tahu.
Sementara itu, Kanaya bernapas lega karena dirinya kini sudah berada di barisan. Walaupun, di barisan yang salah alias di barisan juniornya. Kanaya tidak peduli yang penting dirinya bisa selamat.
Ia merutuki betapa bodohnya pagi ini. Harusnya, Kanaya memasang alarm. Tidak masalah jika terlambat di hari selain senin karena dirinya bisa menyogok mang Dadang dengan sebungkus es teh dan gorengan untuk membukakan pintu gerbang. Tapi yang jadi masalahnya, kini ia terlambat di hari senin. Hari yang begitu mengerikan.
"Kamu! Kamu niat ke sekolah atau nggak sih?! Mana ada ke sekolah pakai jaket. Dan, kamu juga gak pakai sepatu!" Kanaya terkejut mendapati bu Mei, sudah ada di sampingnya dan menunjuk dirinya.
Masalah ternyata tidak berhenti sampai situ saja. Dan kini, Kanaya tetap ketahuan meski bukan karena terlambat.
"Ayo kamu maju!" Kanaya hanya bisa pasrah. Seperti kambing, ia digiring menuju kawanan lainnya yang juga terkena masalah. Kanaya pun menunduk, mencoba pura-pura serius untuk mengikuti upacara. Kini, sudah pembacaan doa. Setidaknya Kanaya tidak berlama-lama di depan barisan peserta upacara dan di cap sebagai anak nakal.
Walaupun kenyataannya, Kanaya emang nakal.
10 menit kemudian, upacara telah selesai. Peserta dan juga petugasnya membubarkan barisan dan masuk ke dalam kelas. Menyisakan 11 orang murid yang terkena masalah termasuk Kanaya diantaranya.
"Ayo semua bikin barisan yang rapih." tutur bu Mei. Mengibas-ngibaskan tangannya, seperti sedang menyuruh bebek mengatur barisan. Lagi-lagi Kanaya merasa seperti binatang.
Kanaya ikut melangkah gontai, dan mendapatkan barisan di depan. Silau matahari membuatnya menunduk. Namun, tiba-tiba ia merasa mendung di sekitarnya.
Kanaya mendongakkan kepala, mendapati Arkan sedang berdiri di hadapannya. Arkan yang memiliki tinggi menjulang, menghalau sinar matahari mengenai Kanaya.
Kanaya dan Arkan saling bertatapan.
Sudah lama. Sudah lama Kanaya tidak bisa menatap Arkan seperti sekarang. Jujur, Kanaya selalu merindukan Arkan. Mereka masih bertatapan.
"Nak Arkan, bisa minta tolong catat semua yang terlambat ini?" suara bu Mei, menghentikan tatap-tatapan mereka. Arkan pergi berlalu menghampiri bu Mei. Bersiap akan tugasnya.
"Oh ya, kamu ya. Kamu ini mau tidur apa sekolah sih? Nggak niat banget!" bu Mei menyentuh bahu Kanaya dengan tongkat tipis andalannya. Kanaya tidak menjawab. Ia hanya diam.
"Buka jaket kamu, emangnya kamu sakit? Ke sekolah segala pakai jaket!" Arkan menatap Kanaya yang hanya diam dan tidak mengiyakan ucapan bu Mei.
"Kenapa diam? Ayo buka jaket kamu! Sebelum saya naik pitam!"
"Saya sakit bu. Gak bisa lepas dari jaket."
Bu Mei tidak langsung percaya. Dirinya menatap wajah Kanaya dan menyentuh dahinya.
"Kamu mau membohongi saya? Badan kamu gak panas. Kamu juga kelihatan sehat! Kamu ini kayaknya anak nakal banget ya? Sejak kapan ada siswi yang pakai dandanannya kayak kamu! Kayak setan aja kamu! Terus ini apa?! Ngapain ke sekolah kalau pakai sandal!" Bu Mei terus menerus menyerukan kalimat-kalimat yang memojokkan Kanaya.
"Ayo, sekarang juga lepas jaket kamu! Keenakan kamu ya, yang lain pakai seragam benar kamu sendiri yang melenceng!"
"Saya lagi sakit bu, saya gak mau lepas jaket!"
"Jangan buat saya pusing. Arkan, tolong paksa siswi ini membuka jaketnya untuk disita! Saya mau periksa siswa yang lain."
Kanaya menghadapi Arkan kembali.
"Nay, ayo lepas jaketnya. Daripada loe dapet hukuman." ujar Arkan.
"Enggak. Percuma kan, dibuka atau enggak, gue bakal dapet hukuman." jari-jari Kanaya memegang erat lengan jaketnya sendiri.
"Jaket loe mau disita. Gue janji, gue ambil lagi buat loe. Sekarang loe lepasin!"
"Nay, plis. Bu Mei marah besar! Loe ngerti lah harusnya." tangan Arkan terulur, memegang jaket Kanaya.
"Kalau gue bilang enggak ya enggak! Loe ngeselin banget! Jangan belagu loe mentang-mentang jadi KETOS!" Kanaya meneriaki Arkan kesal.
"Gue gak peduli. BUKA SEKARANG JUGA!"
Suara Kanaya dan Arkan yang saling berteriak, membuat siapapun yang mendengarnya langsung menoleh ke arah mereka.
"Kalau kamu masih enggak mau buka, saya gunting sekarang juga jaket kamu!" Termasuk bu Mei, ia langsung menghampiri mereka berdua lagi.
Kanaya, tidak punya pilihan lagi.
"Ngeselin loe berdua." ucap Kanaya berdesis.
Untuk pertama kalinya, Kanaya membuka jaket itu di hadapan banyak orang.
Arkan membelalakkan matanya menatap lengan Kanaya yang dipenuhi dengan goresan luka yang sangat mengerikan. Saking banyaknya, banyak diantara luka itu yang masih belum mengering dan mengeluarkan darah.
"Naya, tangan—" Arkan berseru.
Kanaya melempar jaketnya ke bawah.
Semua mata menatap tangan Kanaya yang begitu menyeramkan. Bu Mei, yang ternyata tidak suka melihat darah, langsung berlari dan duduk memegangi kepalanya.
Kanaya menatap mata Arkan tajam.
"PUAS LOE?!"
Tidak ada yang tahu, tentang ketakutan terbesar Kanaya. Tentang, Naya dan lukanya. Tentang Naya yang tidak mau orang lain tahu akan aib yang selama ini ia tutupi.
Tentang Kanaya, dan kecemasan yang akan segera melanda.
"GUE TANYA, AR. APALAGI YANG LOE MAU SETELAH NGEHANCURIN HARGA DIRI GUE?"
Nafas Kanaya mulai memburu. Ia tidak mungkin bisa terpuruk disini. Dirinya langsung berlari, meninggalkan lapangan menuju pintu rooftop. Kanaya bahkan tidak peduli jika di setiap langkahnya, banyak orang yang memperhatikannya.
Hingga sampai disana, Kanaya berjongkok. Memeluk kedua lututnya. Menjerit sekeras-kerasnya. Dadanya sudah sesak, ia bingung harus melakukan apalagi.
Kanaya mengambil kerikil kecil yang ada di bawahnya. Menggesekkan kerikil itu, di setiap goresan luka yang ada di lengannya. Mengalirkan darah segar karena luka kembali terbuka.
Kanaya mencium bau darah yang keluar itu. Dan lagi, memunculkan ketenangan sendiri bagi Kanaya. Ia tidak tahu mengapa, ketika dirinya merasa terancam dan cemas tiada tara, hal yang terbaik untuk meredam itu semua adalah melukai dirinya sendiri.
Setelah itu, ia akan mengalami ketenangan yang amat dalam. Nafasnya mulai teratur. Sesaknya hilang. Kanaya menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut.
Untung saja, ada kerikil yang menyelamatkannya.
*****
Arkan berlari menuju kelas Kanaya. Ia merutuki kelakuannya yang hanya diam karena terlalu syok melihat tangan Kanaya. Kali ini dirinya tidak bisa tinggal diam. Ia harus melakukan sesuatu.
Namun, tidak sesuai harapan, disana ia tidak menemukan keberadaan cewek itu. Yang ada, suasana kelas yang begitu ricuh membahas Kanaya yang telah menggemparkan seisi satu sekolahnya.
Ia berlanjut menuju ke kantin, mencari setiap sudut yang ada, berharap ia bisa melihat keberadaannya. Namun, lagi-lagi ia tidak berpikir. Bagaimana mungkin, Kanaya pergi ke kantin dengan kondisinya seperti ini.
Tiba-tiba sebuah nama terlintas di kepalanya. Mang Dadang, satu-satunya kunci keberadaan Kanaya. Pasti lelaki itu tahu. Arkan berlari kembali menuju pos satpam yang ada di depan gerbang.
"Mang Dadang, Kanaya dimana?" Arkan bingung harus memulainya darimana. "non Kanaya? Saya nggak tahu mas. Kok tanya saya?"
"Ilang! Kanaya ilang! Mamang pasti tahu kan?"
"Saya—nggak tahu mas. Tapi, bisa jadi non Kanaya lagi diatas. Di atas gedung."
"NGAPAIN DI ATAS? BUNUH DIRI? YANG BENER MANG!"
"Bukan mas. Itu loh, apa ya namanya. Pokok ada pintu yang menuju ke atas. Biasanya disana mas. Kenapa sama non Naya?"
"Maksud mamang dia di rooftop? Di sekolah ini ada?"
"Ada. Mas bisa cari tangga di sebelah lab ipa. Di atas situ mas,"
"Makasih mang!"
*****
Arkan mendapati Kanaya yang sedang berbaring terlentang dengan kedua lengannya. Matanya terpejam.
"Kanaya! Loe udah gila?" Arkan terfokus kepada darah yang mengalir dari tangan Kanaya. Kanaya terkejut melihat Arkan berada disana.
Arkan membangunkan Kanaya dan mendudukannya. "Loe mau mati?!" Arkan memegangi pergelangan tangan Kanaya.
"Gila ya loe! Loe bener-bener udah mati rasa?!"
"Bisa nggak, loe gak marah-marah lagi dalam kondisi gue yang kayak gini? Gue cuma butuh ketenangan. Bukan omelan lagi." ucapan Kanaya membungkam Arkan. Menyadarkan jika dirinya memang keterlaluan.
"Maafin gue. Ini semua salah gue."
Tanpa pikir panjang, Kanaya menarik Arkan dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan cowok itu.
"Sekali ini aja. Lima menit. Setelah itu loe boleh hina gue lagi." Kanaya menelusupkan tangannya ke belakang punggung Arkan. Meletakkan kepalanya di dada Arkan.
Ia menangis, kali pertamanya di pelukan Arkan. Dadanya terisak.
Arkan mengambil hp dari kantung celananya. Kemudian, mengirimkan pesan kepada Araya. Kali ini, Arkan butuh waktu untuk banyak berpikir.
Raya, maafin gue. Nanti malem gue ada acara mendadak. Kita nggak bisa ketemu.
Arkan membalas pelukan Kanaya. Mencium puncak rambut Kanaya. Menciptakan 5 menit yang begitu berharga.
"Gue ada disini, gue bakal ada disini Nay."
*****