
Liburan satu minggu tidak terasa telah usai. SMA Harapan Nusantara kembali produktif dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
Dan Kanaya, kini kembali hadir dengan tampilannya yang nyentrik. Cukup sudah satu minggu ia mengintropeksi dirinya sendiri. Ia tidak lagi mau bertemu dengan Arkan ketika cowok itu hampir setiap hari mendatangi rumahnya. Kanaya sudah tidak peduli lagi. Ia terlalu lelah dan menyesal karena sudah mengikuti kemauan Arkan.
Pagi ini, Kanaya datang terlambat karena bangun kesiangan. Semua kelas sudah tertutup tanda kegiatan belajar mereka sudah dimulai. Kanaya pun berbalik lagi hendak menghampiri mang Dadang di pos satpamnya.
"Mang Dadang! Saya ngumpet disini aja ya!" Kanaya masuk ke dalam pos satpam dan melihat mang Dadang yang sedang sibuk dengan koran paginya. Mang Dadang tidak menyahuti Kanaya.
"Serius amat mang. Awas loh ada maling masuk, malah dibiarin." lagi-lagi Kanaya tidak digubris. "Mang! Masa ada cewek cantik malah dicuekin sih, gak seru ah. Ayo main uno!" Kanaya berteriak tepat di telinga mang Dadang hingga orang itu terperanjat.
"Non! Kalau saya budek gimana? Donorin telinga non ya, sakit tahu!" mang Dadang memegangi telinganya yang sakit. "Emang ada donor telinga?"
"Ya kagak tahu lah. Yang sekolah kan non Kanaya, bukan saya."
"Ya tapikan yang ngomong mamang! Lagian, gak kangen apa sama saya seminggu nggak ketemu?"
"Biasa aja non. Enak liburan lah,"
"Eh dasar. Susah ya emang ngomong sama bapak tua."
"Biarin. Ini loh non, ada berita menghebohkan!" Mang Dadang menunjuk-nunjuk korannya yang ia pegang. "Paling, tentang politik. Gak seru ah! Gak suka!"
"Bukan, sekolah kita masuk koran loh. Non kenal kagak sama orang ini?" mang Dadang membuka korannya dan menunjukkannya pada Kanaya.
Kanaya mengernyit heran.
'Seorang siswi SMA Harapan Nusantara tertangkap basah mencuri dana organisasi sekolah'
Kanaya langsung tahu siapa yang dimaksud dalam koran ini. Ini adalah Araya, si cewek polos itu. Ia sangat tidak menyangka jika Araya seberani itu.
Ternyata, di sekolah ini ada yang lebih buruk darinya. Pikir Kanaya.
"Kenal non? Sekolah kita loh ini! Malu-maluin aja."
"Pelakor dia mang. Dia yang ngerebut Arkan."
"Beneran non? Wah, pasti orangnya jahat banget. Kok saya gak pernah tahu ya orangnya. Yang mana orangnya non?"
"Dih sok kepo. Males saya kalau bahas orang itu. Mending saya tidur sampai istirahat nanti." Kanaya memposisikan ranselnya di paha. Lalu meletakkan kepalanya di atas sana.
"Yah non Kanaya gak seru. Ini mumpung lagi anget-angetnya loh non. Kok malah ditinggal tidur, saya laporin ke guru BK baru tahu rasa loh."
"Gak takut saya mang. Yang ada, dia lari ngeliat saya." Kanaya tertawa.
"Jadi non Kanaya udah gak sama mas Arkan lagi?"
"Gak usah bahas dia, saya males. Mending saya jomblo seumur hidup aja."
"Eh awas, omongan adalah doa loh. Lagian, dulu aja kayaknya suka banget. Sekarang abis manis sepah dibuang!"
"Dia yang ninggalin saya kok saya lagi yang disalahin? Nyebelin banget sih mang. Udah ya, jangan ganggu saya terus. Ini saya mau tidur jadi terganggu kan!"
"Yang ada saya yang terganggu. Enak aja, markas saya dijajah. Sebenarnya disini yang jadi satpam itu saya apa situ sih!" Mang Dadang lanjut membaca korannya. Sedangkan Kanaya, sambil terpejam ia mulai terpikirkan dengan Araya.
Jadi, penyebab hilangnya uang osis itu karena dia? Arkan pasti terpukul sekali kalau sampai tahu hal tersebut. Karena Araya adalah cewek yang ia sukai kan?
*****
Arkan sangat merindukan Kanaya. Sudah banyak usaha yang ia lakukan, tapi Kanaya sama sekali tidak menggubrisnya. Ia selalu diabaikan bahkan tidak peduli jika Arkan menunggu lama di depan rumahnya.
Arkan sangat membenci Raya yang melakukan hal tersebut kepadanya. Dia yang harusnya bertanggung jawab atas semua fitnah yang ia lakukan. Arkan yang kala itu geram, langsung melaporkan Araya kepada kepala sekolah dan ditindak lanjuti oleh polisi. Namun, setelah apa yang ia lakukan pun tidak membuat Kanaya kembali padanya.
Sekarang, ia sedang merelaks kan pikirannya dengan bermain basket di lapangan bersama teman-temannya. Tetapi dirinya sering terkena lemparan yang meleset hingga mengenai badannya. Tetap saja, pikirannya tidak fokus.
Kemudian, lagi-lagi bola mengenai pipinya ketika ia menoleh ke samping mendapati Kanaya yang sedang berjalan di lorong depan kelas.
"Akkhh," Arkan memegangi pipinya mengeluh kesakitan.
"Loe apaan sih,Ar. Mainnya jelek banget!" Alvin berkomentar sebagai pelaku pengoper bola yang mengenai pipi Arkan. Tapi Arkan tidak peduli dan pandangannya terus menerus berfokus pada Kanaya.
Arkan tidak tahan lagi. Ia berlari menuju Kanaya.
"Kanaya!" teriakan Arkan terdengar satu sekolah. Setiap orang yang sedang beraktivitas langsung berhenti dan memperhatikannya. Termasuk dengan teman-teman Arkan yang begitu terkejut.
"Nay, tungguin gue." Arkan mempercepat langkahnya hendak meraih tangan Kanaya. Kanaya berjalan semakin cepat.
"Nay, plis! Loe gak bisa gini terus. Sekali aja dengerin gue, abis itu terserah loe mau percaya atau nggak." Arkan terus berbicara sembari mengikuti Kanaya. Kanaya masih terdiam, ia merasa kelasnya semakin jauh atau mungkin hanya pikirannya saja.
"Gue harus berapa kali bilang ke elo, itu semua salah paham. Loe harusnya dengerin gue! Kanaya!"
"Nay, tolonglah. Sekali ini aja, gue benar-benar minta maaf. Dengerin gue."
Kanaya menutup telinganya. Ia tidak mau mendengar suara Arkan. Ia ingin belajar untuk membenci. Ia tidak mau lagi terjebak dalam hubungan yang mengandung cinta sepihak.
"Nay, Kanaya, plis Nay!"
"Kanaya! Gue gak bisa hidup tanpa elo! Biar gue dikata bucin atau apa gue gak peduli. Gue udah terlanjur cinta sama elo!"
Kanaya menghentikan langkah. Ia tidak berharap banyak sampai-sampai Arkan mengatakan hal itu di depan semua orang. Kanaya memang ingin sekali dirinya dianggap. Tetapi jika dengan cara seperti ini, Arkan akan mempermalukan dirinya sendiri. Lagipula bagaimana bisa ia seberani itu mengatakan semuanya?
"Gue cinta sama elo, Kanaya!"
Semua orang tidak hanya terdiam, namun juga ternganga. Ketua Osis, yang sangat terkenal itu apa iya mencintai cewek aneh seperti Kanaya?
"Naya gue harus bilang berapa kali, kalau gue bener-bener cinta sama elo!"
Arkan sangat berharap jika Kanaya menghampirinya setelah ia melakukan pengakuan yang gila itu. Namun nyatanya, Kanaya tidak melakukan hal itu. Karena ia sudah berada di depan kelasnya, cewek itu masuk dan sama sekali tidak menoleh pada Arkan.
"Ar, loe lagi gak kesurupan kan? Loe sadar kan sama apa yang loe bilang itu?" Alvin dan teman-temannya menghampiri Arkan.
"Loe—nggak salah kan sama omongan loe tadi? Satu sekolah ngeliatin loe Ar!" kini Chandra yang berbicara.
"Satu sekolahan cuy!" Budi ikut-ikutan.
"Kalau iya gue suka sama Kanaya kenapa? Salah?! Gue gak boleh suka sama dia gitu?!" Arkan membalasnya dengan tegas.
"Jawab dong! Loe kira Kanaya bukan manusia? Loe kira dia apaan? Setan?! Loe pada yang setan!"
Semuanya hanya terdiam. Menatap Arkan yang matanya dipenuhi oleh amarah tak terbendung. Kejadian-kejadian kemarin ketika Arkan mempermalukan Kanaya, terngiang di pikiran teman-temannya.
Lalu, Arkan pergi berjalan begitu saja meninggalkan mereka. "Karmanya dibayar langsung tunai ya." cibir Budi. Ia tidak menyangka, jika cowok itu kini yang berbalik mengejar Kanaya. "Makanya, kalau benci sama orang jangan keterlaluan. Kalau udah suka, yang repot ya sendirinya. Malu dah ngejilat ludahnya sendiri." sahut Reza.
"Gue dukung aja sih, lagian mereka berdua cocok sebenarnya. Yang satu aneh, yang satu kelewat serius. Saling melengkapi. Haha." ucap Chandra. Lalu diiyakan oleh yang lainnya.
"Emang ya, Tuhan itu yang maha membolak-balikkan hati manusia." ujar Budi lagi. Mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Ternyata, hukum sebab-akibat dalam alam semesta ini, nyata. Dan sudah ada bukti konkretnya.
*****
Arkan berjalan lesu menuju parkiran. Ia tidak peduli jika dirinya menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya karena pengakuannya tadi. Yang ia inginkan sekarang hanyalah Kanaya.
Entah sejak kapan, yang pasti sebelum dia dan Kanaya pacaran, Arkan telah memusatkan perhatiannya pada Kanaya. Arkan harusnya mengakui itu sebelum semuanya terjadi. Kini, Kanaya sudah tidak lagi mempercayai Arkan.
Kanaya sudah berlari jauh. Terlalu jauh hingga Arkan tertinggal. Jika Arkan bukan cowok, ia sudah menangis dan menunggu kedatangan Kanaya untuk memeluknya.
Tapi ia cowok. Ia terlalu gengsi hanya untuk berbuat galau. Kini, ia mendudukkan diri pada vespa nya dan menenggelamkan kepalanya di atas speedometernya. Dia sudah layaknya seperti remaja smp yang habis ditolak cintanya.
Tapi memang juga, ia sudah ditolak cintanya dengan Kanaya.
"Gue mau dengerin loe. Gue kasih waktu 5 menit."
Apa kali ini, Arkan berhalusinasi mendengar suara Kanaya? Atau, apa Arkan memang sudah gila?
"5 menit dimulai dari sekarang. Kalau enggak, gue bakal pergi."
Arkan langsung terbangun. Lalu melihat Kanaya, benar-benar cewek itu sedang berdiri beberapa meter dari motornya.
"Nay,"
"Udah jalan timer nya di otak gue. Loe mau jelasin enggak?!"
"Oke. Gue jelasin. Waktu itu gak seperti yang elo lihat. Gue mergokin Araya ngambil duit di loker Intan, bendahara osis. Gue labrak dia, gue marahin dia karena ternyata selama ini dia yang nyuri duitnya. Termasuk dia juga yang ngerusakin sepatu gue. Tapi waktu elo dateng, kayaknya dia sengaja narik gue dan dia yang nyium gue duluan."
"Jadi, elo juga yang ngelaporin dia ke polisi?"
"Gue laporin dia ke pak Daniel. Terus pihak sekolah memutuskan buat tindak lanjutin sama pihak kepolisian." Arkan menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kanaya akan marah, atau melakukan apalagi.
"Oke, gue percaya dan gue maafin. Kita baikan. Bye," Arkan butuh waktu beberapa detik untuk mencerna ucapan Kanaya. Lalu, ia tidak mau membuang kesempatan. Kanaya yang sudah berjalan menjauhinya, lantas Arkan turun dari motor dan ditariknya cewek itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Jadi, kita tetep pacaran kan? Loe bener-bener maafin gue?" tanya Arkan. Kanaya hanya mengangguk. Arkan tidak tahu jika Kanaya kini sedang tersenyum.
"Loe pulang bareng gue. Mulai sekarang, gue yang akan anter jemput loe. Gue rela jadi ojek asal bareng sama elo."
"Loe kok seberani itu? Loe gak malu? Semuanya ngomongin loe. Satu sekolahan." tanya Kanaya. "Gak peduli, Nay. Percuma gedein gengsi kalau akhirnya gue kehilangan elo."
"Kok loe sekarang jadi menye-menye gitu? Mana Arkan yang dulu? Yang sering cuekin gue?" Arkan tertawa mendengarnya. "Gue serius, Nay. Udah cukup gue bertahan dengan keegoisan gue. Gue juga mau bahagia. Loe sendiri kenapa tiba-tiba nyamperin gue?"
"Kasihan lah sama elo. Lagian, gue emang gak bisa gak percaya sama elo. Gue udah terlalu obsesi sama loe. Tambah creepy kan gue?" Arkan malah mempererat pelukannya. "Biarin, biar pun aneh gue tetep sayang."
"Loe sayang sama gue?"
"Itu pertanyaan retoris yang gak perlu dijawab." Kanaya tertawa. Ia tersenyum, bahagia. Ia memutuskan untuk menemui Arkan, karena ia tidak mau berakhir dengan sebuah penyesalan. Meski ia nantinya akan disakiti berkali-kali, mungkin ia juga akan tetap kembali.
"Ciyee yang sekarang udah resmi jadian." Arkan dan Kanaya refleks melepas pelukan ketika mendengar suara itu. Ternyata, itu Salsa. Dan juga ada Chandra disampingnya.
"Iya dong. Gue gak mau kalah sama loe berdua." Arkan menarik Kanaya ke dalam rangkulannya. "Bener-bener cocok kalian berdua. Sumpah!" cibir Chandra. "Kapan-kapan double date dong. Malam minggu ini gimana?" tanya Salsa lagi.
Arkan memandang Kanaya terlebih dahulu. "Enggak dulu deh. Gue masih mau berduaan,"
"Kapan-kapan deh. Seru kayaknya, kalau gitu kita duluan ya." pamit mereka berdua. Arkan hanya mengangguk dan membiarkan mereka pergi.
"Loe bener-bener udah berani ya?"
"Gue gak main-main, Nay. Kalau gue gak tanggung jawab, ngapain jadi KETOS. Ayo pulang," Kanaya mengangguk. Ia memakai helm yang diberikan oleh Arkan.
"BTW, kita emang gak pernah kencan malem mingguan ya? Gimana
kalau—"
"Gue gak bisa kalau malem. Kapanpun asal jangan malem." Kanaya memotong pembicaraan Arkan.
"Kenapa?"
"Ya, gak bisa pokoknya. Gue sering ketiduran tiba-tiba. Jangan malem ya?"
"Terserah elo. Gue turutin apapun itu." Kanaya tersenyum. Untungnya, Arkan berusaha mau mengerti dirinya ini.
Mereka pun keluar dari gerbang sekolah dengan berboncengan. Arkan sudah tidak sungkan lagi, membawa tangan Kanaya untuk melingkari badannya. Ia berjanji bagaimanapun keadaan Kanaya, ia akan menerima hal itu.
Ia akan selalu melindungi Kanaya dan membuat dirinya bahagia. Janji yang tertulis antara dia dengan dirinya sendiri.
*****