
Awan mendadak sendu.
Para penjaga kantin menatap kiosnya yang kini telah hangus dan habis terbakar.
Sehari setelah insiden kebakaran, Arkan dipanggil oleh pak kepala sekolah di kantornya. Arkan yakin, ini terkait dengan acaranya sendiri dan juga kebakaran kemarin.
"Nak Arkan bagaimana kabarnya? Kemarin kayaknya ikut ribet juga sama anak PMR."
"Iya, pak. Kejadian kemarin memang membuat semuanya terpukul." Arkan menjawab, ikut merasakan perasaan pak Daniel, selaku kepala sekolah yang sepertinya bersedih.
"Pihak sekolah akan berusaha untuk menutupi kejadian ini. Dan kami juga tidak akan membiarkan kantin menjadi mati karena kejadian kemarin."
"Belum lagi, untuk membersihkan puing-puing sisa kebakaran kemarin. Jadi sebenarnya, Arkan. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan kepada kamu."
"Baik pak."
"Bagaimana jika pentas seni kita yang akan diselenggarakan dua bulan lagi, ditunda sekalian di akhir tahun semester genap?"
Pertanyaan pak Daniel seperti hantaman keras perasaan Arkan. Ini sudah setengah jalan, dan panitia pun hampir semuanya telah mengerjakan tugas yang diberikan.
"Kamu tahu kan, dana sekolah juga terbatas. Dan sekarang harus dialihkan untuk biaya kerusakan fasilitas kantin. Jadi kami tidak bisa membantu memback up biaya pensi."
"Pak tapi, kami sudah setengah jalan dan—"
"Saya sangat tidak tega dengan teman-teman yang sudah berusaha dalam acara ini. Kalau tetap diadakan bagaimana pak?"
"Jangan menjadi egois, Arkan. Kamu harus mengalah untuk kali ini saja."
Arkan semakin gelisah. Ia tidak bisa membiarkan acaranya dihentikan. Acara pensi sudah ditunggu-tunggu oleh yang lainnya.
"Karena ini hanya masalah dana, bagaimana jika kita perbanyak sponsor saja pak? Saya akan berusaha semaksimal mungkin sehingga sekolah tidak perlu membiayai lagi."
Pak Daniel menimbang sebentar. Biasanya sekolah akan menyumbang hampir lebih dari 50 persen. Sehingga ia tidak begitu yakin pensi akan tetap berjalan tanpa bantuan pihak sekolah.
"Kamu yakin? Ini keinginan kamu ya. Jadi sekolah akan lepas tangan."
"Saya akan mengusahakannya pak. Saya tidak ingin anak-anak yang lain kecewa karena acara ini sudah ditunggu sejak lama."
"Oke, tapi kalau misalkan kamu tidak mampu, tidak apa jika memang ditunda. Jangan terlalu memforsir diri kamu sendiri hanya untuk kesenangan orang lain. Kamu juga harus memikirkan mental diri kamu sendiri."
"Kamu adalah ketua osis yang paling bijak selama masa kerja saya disini. Jadi saya yakin dengan apapun keputusan kamu." Arkan mengangguk lemah.
"Baik pak, kalau begitu saya keluar terlebih dahulu. Terimakasih atas semua saran yang telah anda berikan." Arkan bangkit, bersalaman dengan pak Daniel, lantas keluar dari ruangan itu.
Pikirannya sangat kacau. Bagaimana ia bisa mengatakan hal sebenarnya kepada teman-teman bahwa uang yang selama ini mereka kumpulkan telah hilang? Bagaimana juga ia katakan jika sekolah tidak mendanai acara pensinya?
"Harusnya, gue nggak ngomong sama elo Ar." Rama datang dan berjalan beriringan dengan Arkan.
"Sekolah nggak bisa danain acara kita. Menurut loe gue mesti gimana?"
"Gue gak tahu. Gimana kalau ditunda dulu sampai sokongan dananya terpenuhi?" sama halnya seperti pak Daniel, Rama juga menyarankan hal yang sama.
"Gak bisa, Ram. Loe tahu kan ini udah setengah jalan?! Ayo kita adain rapat darurat sekarang juga."
"Banyak yang gak masuk karena masih syok. Gimana?"
"Gue butuh inti sama danus aja! Loe siapin semuanya, gue mau mikir bentar." Rama menghela nafas kasar. Arkan dan segala keras kepalanya, dia harus ingat akan hal itu.
"Oke. Kasih waktu gue 30 menit lagi."
Arkan mengiyakan. Membiarkan Rama yang mengurus segala keperluannya.
Arkan tidak hanya tinggal diam. Selepas kepergian Rama, dirinya juga segera ke pos satpam. Menemui sang penjaga, dan membujuk agar mau membukakan ruang cctv.
"Mang Dadang!" terlihat orang itu sedang menonton bola di posnya. Kemudian mengerjapkan mata menoleh pada Arkan.
"Manggil saya mas? Perlu bantuan lagi kah? Saya capek banget daritadi ngangkat-ngangkat barang dari kantin." mang Dadang menghampiri Arkan.
"Bukan. Saya butuh ke ruang cctv mang! Penting banget."
"Ogah ogah. Ruang cctv sering disalahgunakan untuk mengintip hal-hal yang tidak baik. Mas Arkan gak usah ikutan juga."
"Saya kasih tahu mang, duit sekolahan ilang. Kuncinya ya lihat cctv mang. Plis mang!"
"Percuma mas. Banyak yang rusak cctv nya. Gak jelas gitu, kameranya juga mati-mati. Jadi kemungkinan besar ya percuma!"
"Percuma nggak papa mang. Saya cuma mau mastiin sesuatu. Kalaupun gak ada apa-apa saya juga bakal tetep cari tahu mang. Gak ada waktu lagi."
Mang Dadang hanya diam, memandangi Arkan yang memohon kepadanya.
"Saya udah bilang ya mas. Konsekuensinya ya percuma! Kameranya banyak yang mati. Gak bakal dapet apa-apa."
"Iya mang. Gakpapa kok. Untuk kali ini aja. Saya nggak minta lagi kalau misal emang percuma."
"O—ke. Saya udah bilang. Mari ikut saya mas." Arkan mengangguk, lalu mengikuti mang Dadang dari belakang. Hingga sampai di ruangan cctv.
Meskipun mang Dadang terlihat kolot, tetapi ternyata dia lihai mengoperasikan komputer.
"Tuh, lihat! Dari kemaren-kemaren aja cuma beberapa yang nyala!" Arkan melihat layar yang hanya garis hitam putih kebanyakan.
"Loh, ini mas Arkan sama non Kanaya ya?" salah satu cctv gedung yang menghadap ke kantin, kemarin ternyata menyala. Menampilkan Arkan yang sedang memeluk Kanaya. Refleks Arkan menutup sebagian layar yang memperlihatkan video itu.
"Bukan saya itu mang! Ganti ruangan yang lain!" sempat-sempatnya di suasana seperti ini mang Dadang tertawa.
"Saya malah seneng kalau beneran sama non Kanaya. Dia sering curhat sama saya kalau lagi banyak doa biar dapet jodoh kayak mas Arkan. Tiap hari, bilang gitu."
"Masa sih mang? Dia cerita gitu ke mang Dadang?" bodohnya, Arkan malah Kepo dan bertanya.
"Iya. Suka banget gitu sama mas Arkan. Jangan dilihat dari luarnya mas, non Kanaya gitu-gitu baik loh."
"Apaan sih mang. Kok jadi bahasnya Kanaya. Saya nggak ada apa-apanya sama dia. Mending sekarang fokus sama cctv mang. Saya susah-susah bujuk mang Dadang kesini." Arkan mengalihkan pembicaraan, dan kembali menatap monitor.
"Walah, yasudah kalau begitu. Mas Arkan mau lihat dimana?"
"Ruang osis mang. Cek dari sebulan yang lalu."
"Oke,"
Dan nyatanya, benar tidak sesuai harapan Arkan. Kebanyakan videonya sudah rusak dan tidak menampilkan apapun. Hampir dari banyaknya hari, hanya ada beberapa video saja. Itupun tidak jelas.
Sampai di satu video, dimana menampilkan frame dirinya dengan Kanaya yang sedang berbicara disana.
"Tuhkan, maunya lihat yang ada non Kanaya nya." mang Dadang tetap menggoda Arkan. Arkan tidak peduli. Dirinya menonton video itu.
Kalau tidak salah, waktu itu Kanaya hendak memberi sepatu pinjamannya. Ya! Arkan ingat hari itu. Hari terkutuk dimana dia mempermalukan Kanaya.
Disana, ia berbincang-bincang sebentar dengan Kanaya. Kemudian cewek itu menaruh sepatunya di loker milik Arkan dan pergi meninggalkannya. Tak lama, dia pun keluar dari ruang osis juga.
Video tiba-tiba mati.
"Dibilangin mas. Cctv nya rusak. Ngeyel sih!" Arkan pun hendak mengganti di hari selanjutnya. Namun, video kembali menyala.
Menampilkan sesosok wanita, berdiri di depan loker Arkan. Arkan merasa tidak asing dengan rambut cewek itu. Ia yakin, ia mengenalnya.
Cewek itu membuka loker milik Arkan. Dengan pelan, mengeluarkan sepatu di dalam kantong. Dan kejadian selanjutnya, begitu mengejutkan. Dia menggunting bagian bawah sepatu Arkan dengan begitu menggebu-gebu.
Itu artinya, Kanaya benar. Dia bukanlah pelakunya. Kanaya memiliki rambut panjang bergelombang dan selalu memakai jaket. Sedangkan cewek yang ada di video itu, jelas sekali rambutnya lurus dan menjuntai sampai bahu. Tidak ada jaket yang menutupi pula.
Itu bukan Kanaya. Dan Arkan telah salah.
Cewek yang ada di video itu menoleh. Mengarah ke pintu membuat Arkan lebih terkejut lagi. Dia adalah—
Araya! Araya si cewek polos yang akhir-akhir ini memenuhi pikiran Arkan. Araya yang ia taksir sejak dulu. Araya yang tidak mungkin melakukan hal yang sekeji ini.
"Pak, saya mau video ini. Kirim ke hp saya sekarang juga."
"Jahat banget dia mas. Kok tega ngerusak sepatu orang! Jaman sekarang ya, orang pada licik-licik. Perempuan loh dia!" Sembari mengirim, mang Dadang ikut kesal.
Rasanya Arkan tambah pusing. Ia terus menerus disuguhi kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. "Cepetan pak!"
"Sabar mas. Videonya agak besar ini ukurannya!"
Setelah mendapat video itu, Arkan memutuskan untuk keluar. Mencari tempat yang tak terlihat, lalu duduk disana. Ia kembali memutar video itu berulang-ulang. Masih tidak percaya dengan orang yang ada didalam video itu.
"Kenapa loe bisa ngelakuin hal biadab kayak gitu, Ray! Gue masih gak percaya, selama ini gue nuduh Kanaya tapi ternyata elo biang keroknya!"
Ia tidak tahu. Sebenarnya, yang berperan antagonis disini Kanaya atau Araya? Atau, dirinya sendiri karena sudah bersikap tidak adil diantara keduanya?
Rasanya kini, Arkan ingin menghilang dari bumi dan menciptakan planetnya sendiri.
*****
Ponsel Arkan terus menerus berbunyi. Menampilkan nama Rama, WAKETOS, di layarnya. Berulang kali. Hingga akhirnya ia mengangkatnya.
"Semuanya udah ngumpul, dan elo nya ilang! Loe dimana kampret? Loe perlu gue susul? Manja amat loe!"
Telinga Arkan rasanya mau pecah karena pekikan Rama yang keras.
"OTW KESANA. GAK USAH NGEGAS LOE!" Arkan langsung mematikan telefonnya. Baiklah Arkan, saatnya loe harus memisahkan antara pribadi dan kepentingan organisasi. Sekarang, ada yang lebih penting dan genting.
Sesampainya di ruang osis, Arkan sudah melihat jika anggotanya telah duduk manis membundari meja.
"Ar, bisa-bisanya loe ngadain rapat pas kondisinya kayak gini." cibir seorang cewek salah satu anggota danus yang bernama Putri.
"Kalau ada yang gak mau dengerin gue, silakan keluar!" Arkan menggebrak meja kesal.
"Kita kekurangan dana. Sekolah gak mau ngebiayain acara kita, karena ada insiden kemaren."
Perkataan Arkan, sontak membuat ricuh satu ruangan. Ia tahu, ini bakalan sangat heboh. "Ya susah jalannya kalau gak ada yang nyokong!" kali ini ganti anggota lainnya.
"Buat danus, loe semua harus pikirin gimana caranya biar dapet sponsor yang banyak! Kalau bisa, 50 persen dana kita maksimalin dari sponsor."
"Gila aja loe, buat dapetin satu sponsor aja susah. Mau dapet darimana!"
"Ya makanya, loe pikirin gimana caranya! Followers instagram loe pada kan banyak-banyak, nah manfaatin buat buka paid promote! Untuk semua anggota dan panitia wajib hukumnya!"
"Terus, yang merasa disini punya bokap yang tajir dan punya perusahaan gede, ajuin proposal juga buat minta sponsor! Biarin loe dikata ngemis juga, asalkan acara ini tetap jalan gimanapun caranya. Gue juga bakal manfaatin bokap gue, buat ikut nyumbang dana juga." mendengar Arkan yang berbicara dengan keras, membuat yang lainnya hanya diam dan mengangguk.
Mereka semua tahu, Arkan seperti itu karena demi acara pensi supaya berjalan lancar. Begitupun dengan Rama, ia tersenyum karena Arkan sama sekali tidak mengungkit masalah kehilangan uang untuk memojokkan para anggotanya. Ia sangat salut.
Sedangkan Araya, ia tidak senang karena dirinya sama sekali tidak diperhatikan lagi oleh Arkan.
*****
Seperti biasa, Kanaya dengan penuh semangat dan jiwa yang membara, melakukan pekerjaannya sebagai SPG rokok. Ia senang, karena biasanya ia mendapatkan satu bungkus rokok dengan gratis. Lumayan lah, setidaknya ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya dalam hal nyebat menyebat.
"Rokoknya mas, seperti semboyan di Negara kita kalau ora udud, paru-paru ora smile!" Kanaya menawarkannya pada setiap pengunjung yang lewat.
"Gue mau beli rokoknya sekaligus ngajak jalan mbaknya."
Kanaya tidak sedang melindurkan? Kenapa dirinya seperti mendengar suara Arkan. Dia pasti berhalusinasi lagi. Kanaya hanya diam tak berkutik.
"Ini punya kuping, harusnya dimanfaatin. Jangan didiemin aja! Dijadiin sarang laba-laba ****** loe, jadi budek kan." ternyata, Kanaya tidak sedang berhalusinasi. Ia melihat Arkan tepat di belakangnya.
"Loe?! Ngapain kesini?!"
"Dibilangin gue mau ngajak jalan mbak SPG nya." Kanaya, tidak salah dengarkan? Ia melihat di sekitar. Satu-satunya di lantai ini hanya dia yang menjadi SPG. Yang lainnya tersebar di atas.
"Siapa? Loe mau ngajak jalan siapa? Jangan bikin gue halu, dan ngarepin loe lagi."
"Loe gak lagi halu, Kanaya. Gue tungguin loe sampai selesai kerja. Ada hal penting yang mau gue omongin sama elo."
"Kesambet apaan loe, mendadak sok manis sama gue! Gak, loe pasti kesurupan. Keluar loe setan!"
"Gila ya loe. Gue emang manis dari lahir. Awas loe diabetes, saking manisnya gue."
"Gak waras loe!"
"Pokoknya, gue tungguin elo."
"Terserah, loe. Gue lama-lamain! Biar loe tau rasa."
"Iya, gue bakal setia nungguin loe sampai kapanpun."
Ucapan itu, membuat pipi Kanaya menghangat lagi dan lagi. Bagaimana caranya ia bisa membenci, sedangkan Arkan lagi-lagi kembali?
Kanaya ingin membuang jantungnya saat itu juga karena takut suaranya yang keras terdengar di telinga Arkan dan membuatnya lagi dipermalukan.
*****