
Yang lalu biarlah berlalu, begitu katanya.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hingga kini, Kanaya dan Arkan dihadapkan dengan ujian akhir sekolah di semester ganjilnya.
Satu bulan yang mereka lewati, rasanya begitu indah. Bagi Kanaya, entah bagaimana dengan Arkan. Mereka berdua semakin dekat secara intens. Kanaya juga tidak lagi merasa canggung untuk berkunjung ke rumah Arkan.
Hari ini hari pertama mereka ujian. Dimulai dengan bahasa inggris. Kanaya sudah siap dengan pulpen yang ada di tangannya. Ia duduk bersender di bangkunya sembari menunggu ujian dimulai. Ia memperhatikan teman-teman kelasnya yang sedang ribut membahas kemungkinan soal yang akan keluar. Ada juga yang membuat catatan-catatan kecil dan memasukkannya ke dalam tempat pensil mereka. Bahkan, ada yang menulisnya di meja mereka sendiri. Seniat itu, mereka untuk mencontek.
"Cih, pecundang!" desis Kanaya sendiri melihat teman-temannya. Baginya, orang yang mencontek adalah yang paling tidak mempercayai dirinya sendiri. Kanaya tidak suka itu.
Kanaya sendiri memang tidak suka belajar. Setiap kali ujian, ia menggunakan strateginya sendiri yaitu SKS alias sistem kebut dalam satu jam. Kanaya memiliki daya ingat yang kuat atau fotografi, sehingga ia selalu bisa mengingat sekelebat apapun yang ia baca. Jadi, jawabannya tidak pernah meleset.
Bersyukur dirinya memiliki tampang garang dan memegang prinsip senggol bacok. Jadi, selama hampir dua tahun dirinya bersekolah tidak ada yang berani meminta contekan kepadanya. Padahal, satu-satunya siswa terpintar di kelas adalah dirinya sendiri. Jadi Kanaya yakin, meski mereka mencontek, tidak akan ada yang bisa mengalahkan dirinya.
Kanaya menoleh ke arah sampingnya. Berjarak dua lantai, ada Resa. Orang yang juga Kanaya benci. Cewek itu juga salah satu orang yang paling niat membuat contekan kecil di notes miliknya. Kanaya tersenyum miring. Ia memikirkan sesuatu di kepalanya.
Kemudian, bel berbunyi. Para penjaga ujian masuk ke dalam kelas.
"Let's start this examination with basmallah together," semua siswa yang ada di kelas menunduk. Ikut berdoa. Selanjutnya, ujian dimulai. Kanaya tersenyum. Ia membaca soal yang ia dapat dengan seksama. Hanya butuh 5 menit, untuk Kanaya tahu seluruh jawaban di dalamnya. Namun karena ia malas menjadi pusat perhatian jika menyelesaikannya dengan cepat, ia pun memilih untuk berdiam hingga 30 menit lalu mengerjakannya.
Dilihatnya Resa yang sedang membuka sedikit demi sedikit tempat pensilnya. Atau, teman yang lainnya yang sedang kebingungan. Kanaya suka keadaan dimana mereka tertekan. Pikirnya, wajah mereka sangat lucu.
Setelah 30 menit, Kanaya mulai menulis jawabannya dan hanya butuh waktu 2 menit untuk memenuhi lembar jawabannya.
"I'm done." Kanaya mengangkat tangannya. Seluruh temannya memandang Kanaya.
"Yes, you can come out after collect your answers." balas sang penjaga yang kebetulan adalah guru bahasa juga. Kanaya mengangguk, lantas berdiri.
Ia mulai menjalankan aksinya yang sudah direncanakan untuk bermain-main. Dirinya berjalan mepet dengan meja Resa. Lalu sengaja menjatuhkan kotak pensil milik cewek itu.
"Nay, loe apa-apaan sih?! Kok dijatuhin punya gue!" Resa yang refleks berteriak, membuat satu kelas menatap mereka berdua.
"Gue daritadi diem aja kali," Kanaya menunduk, mengambil kotak itu. Namun sengaja menjatuhkan isinya.
"O—ow, sori. Gue gak sengaja kalau yang ini." Jelas sekali, note-note Resa berjatuhan menyebar dimana-mana. Salah satunya dibaca oleh sang penjaga yang juga sedang menuju ke arah mereka.
"Kamu bawa contekan ini, ya?!" Sudah bisa terlihat jelas jika wajah Resa kini menegang.
"Bu.. Bukan saya bu."
"Ini apa?! Jelas semuanya jatuh dari kotak pensil kamu?! Namamu siapa? Akan saya laporkan kamu pada guru yang mengajar di kelasmu! Biar kamu dapet nilai nol!"
Kanaya menyunggingkan senyum yang penuh mengerikannya pada Resa. Ia kini berada di belakang sang penjaga. Sehingga ia bisa memandang dengan puas. Resa yang melihat itu, sangat geram.
"Maafkan saya bu, maaf." Kanaya tidak peduli dengan adegan itu. Ia langsung keluar dari kelas dengan langkah percaya dirinya seperti biasa.
Ketika ia sedang duduk di pinggir lapangan sambil membaca buku biologi, ujian selanjutnya, rambut Kanaya dijambak oleh seseorang. Ia berbalik mendapati Resa di belakangnya dengan ekspresi marah yang luar biasa.
"SIALAN LOE! LOE PIKIR LOE APA?! LOE BERANI SAMA GUE!" Kanaya bangkit. Ia berusaha melepaskan rambutnya, namun tidak bisa.
"Loe lupa? Loe dulu juga, pernah ngelakuin hal yang sama buat permaluin gue. Gue gak bisa tinggal diam." Kanaya ikut menjambak rambut di sisi kiri Resa.
"Gue gak peduli. Sekarang loe harus tanggung jawab. Bilang sama kepala sekolah kalau loe fitnah gue!"
"Loe yang fitnah gue, *******! Loe pikir loe juga bisa gantiin hp gue yang rusak gara-gara elo! Dan, loe emang beneran nyontek. Loe itu pecundang!"
"Gak usah munafik loe. Jaman sekarang, siapa sih yang masih jujur? Kenapa gak sekalian loe bongkar semua yang nyontek!"
"Karena gue bencinya sama elo! Kalau aja loe nggak pernah ngusik gue, gue gak bakal bales perbuatan elo!"
Kanaya menyeret Resa ke tengah lapangan. Membuat siapapun tertarik menontonnya. Memberikan sorakan mendukung baku hantam yang terjadi diantara mereka.
"Gue juga benci sama elo! Loe itu aneh! Loe gak punya temen! Ngapain loe masih disini?!"
"Gue sekolah lah kampret. Loe pikir disini cuma buat nyari temen-temen yang palsu kayak loe pada?! Amit-amit dah gue." Kanaya menjambak Resa semakin kencang.
"Aw aw aw. Loe gila ya! Lepasin gak? Dasar manusia aneh!"
"Manusia munafik!"
"Kanaya! Udah cukup!" seseorang menarik lengan Kanaya dengan sangat kuat hingga Kanaya bisa terlepas.
Nafas Kanaya masih memburu. Ia menatap lekat Resa, lawannya. Lalu beralih pada seseorang yang kini memegang lengannya.
Yaitu, Arkan. Lagi-lagi membuat heboh satu sekolah.
"Lepasin, Ar. Cewek itu harus dikasih pelajaran karena masih ngelunjak padahal sendirinya yang salah!" teriak Kanaya.
"Cukup! Ayo ikut gue!" Arkan menyeret Kanaya menjauh dari lapangan, membawanya menghindar dari Resa. Meskipun mereka berdua masih bertatapan dengan tajam.
Arkan membawa Kanaya ke belakang halaman sekolah di dekat kolam.
"Loe gila ya Arkan?! Gimana anggapan yang lain ngelihat loe malah narik-narik gue bawa gue kesini!" ucap Kanaya dengan nada tinggi karena emosinya masih tinggi.
"Gak usah bahas-bahas yang lain! Gue nggak peduli! Loe yang kenapa?! Selalu cari gara-gara!"
"Gue tahu! Dia yang jatuhin hp loe kan dulu, dan pasti elo bales perbuatannya kan? Cukup Nay! Jangan jadi orang pendendam!"
"Gue cuma kasih dia pelajaran! Biar kita seri, dan gak ada yang ngeganjel di pikiran gue lagi! And stop being a smartass, jerk!"
"Shame on you, Kanaya. Plis, loe harus berubah! Jangan kayak gitu lagi." Arkan menunjuk tepat di depan wajah Kanaya dengan jari telunjuknya. Kanaya merasa sangat sakit hati dengan yang dikatakan oleh Arkan.
"Kalau loe kepo tentang apa yang gue lakuin ke Resa, gue kasih tahu. Gue cuma bongkarin semua contekan yang dia buat. Dan, gue udah banyak berubah demi elo! Shame on you, Arkan!" Kanaya balas menunjuk Arkan lalu pergi dari hadapannya.
Arkan terdiam. Nyatanya, yang dilakukan oleh Kanaya adalah hal yang benar. Lagi-lagi ia salah tentang menilai Kanaya. Tidak perlu buang-buang waktu, ia segera berlari menghampiri Kanaya. Di rooftop, dia pasti disana.
Dan sekarang, dilihatnya Kanaya yang sedang meringkuk. Membenturkan kepalanya di tembok yang ada disana. Yang artinya, cewek itu benar-benar sangat terpukul dan itu pasti karena ulah Arkan.
Arkan berlari menghampiri Kanaya. Ia berjongkok, dibawanya tubuh Kanaya ke dalam pelukannya. Seketika nafas memburunya hilang, diganti dengan isakan.
"Maafin gue, lagi-lagi disini gue yang gak tahu malu. Padahal apa yang loe lakuin benar." Arkan membelai rambut Kanaya. "Loe harusnya jauhin gue! Gimana kalau gue hilang kendali, loe bisa mati!"
"Loe cuma butuh pelukan gue. Dan loe bakal tenang. Maafin gue, Kanaya. Maaf.." Kanaya hanya mengangguk. Semudah itu untuk dirinya memaafkan Arkan.
"Loe bakal bilang apa ke temen-temen loe yang ngelihat tadi? Mereka pasti penasaran. Dan bakalan nyariin elo." Kanaya mendongak, menatap wajah Arkan. "Sekali Nay, jangan bahas yang lain atau teman-teman gue. Itu urusan nanti. Yang penting sekarang adalah elo."
"Jangan bikin gue kesel lagi. Sebelum loe lakuin itu, loe harus tanya dulu apa yang terjadi sebenarnya. Dan gue pasti ceritain semuanya ke elo. Gue takut banget kalau loe udah mulai bentak gue.."
"Iya Nay. Gue janji gak bakalan gegabah lagi. Sekarang loe mau maafin gue?" Kanaya mengangguk. Kemudian ia melepaskan pelukannya. Mereka lantas tersenyum.
"Gimana tadi ujiannya? Bisa?" tanya Arkan. "Gak usah tanya gue, Ar. Gue ngerjain cuma 2 menit. Gue bisa jamin nilai gue 100." Kanaya mengucapkannya dengan penuh percaya diri. "Songong amat loe! Mentang-mentang otaknya encer. Lihat aja nanti siapa yang dapet peringkat pertama!" Arkan menyentil jidat Kanaya seperti biasanya.
"Ih, males ah. Jelas elo yang menang. Nilai etika gue nol semuanya. Percuma juga." Arkan tertawa. Dari dulu, Kanaya memang tidak pernah mendapatkan peringkat satu parallel karena nilai sikap dan etikanya tidak bisa diselamatkan.
Arkan memandangi Kanaya. Kini, Kanaya tidak perlu lagi untuk menutupi dirinya dibalik jaket. Tangannya sudah sembuh total. Hanya tinggal bekas lukanya saja, namun Arkan tetap merasa lega. Cewek itu, tidak pernah mengingkari dirinya untuk melawan ego. Walaupun, jika khilaf ia masih suka membenturkan kepalanya di tembok.
"Ngapain loe liatin gue kayak gitu? Aneh kan gue. Gue mood swing banget ya, rasanya baru aja gue marah-marah gak jelas sampe nangis. Sekarang udah bisa senyum ketawa ketiwi."
"Nggak papa. Gue, suka kok."
"Hah?"
"Eh enggak. Udah, sekarang loe harus belajar. Bentar lagi masuk ujian." Arkan merangkul Kanaya. Ia mengusap bahu Kanaya dengan lembut.
*****
Setelah satu minggu yang begitu keras dan penuh akan ujian bisa dikerjakan dengan baik, kini saatnya mereka untuk rehat sebentar. Hanya ada libur satu minggu untuk menuju pentas seni yang mereka tunggu-tunggu.
Sekarang, seluruh siswa beramai-ramai menghampiri papan pengumuman yang terpajang di mading sekolah. Melihat siapa saja yang menjadi peringkat terbaik di sekolah mereka. Termasuk dengan Arkan, ia semangat berjalan menuju mading dengan tujuan yang sama.
Tetapi kali ini, bukan lagi melihat namanya. Melainkan dengan Kanaya.
Ia menerobos masuk ke dalam kerumunan itu. Hingga dirinya benar-benar berada di depan kertas yang ia tuju.
Aruna Freya Kanaya.
Ada di posisi teratas dari seluruh kelas yang ada di sekolah. Kemudian disusul dengan nama Arkan di bawahnya.
Arkan tersenyum. Ia bahkan baru tahu, jika nama panjang Kanaya begitu bagus. Kenapa baru sekarang ia mengetahuinya? Orang-orang di sekitarnya banyak yang bergunjing soal Kanaya. Banyak yang tidak percaya atas hal itu. Namun entah mengapa, Arkan begitu bahagia.
Arkan segera mencari Kanaya. Dan mendapati cewek itu sedang bermain ular tangga dengan mang Dadang di pos satpam. Mumpung wilayah depan sekolah sepi, Arkan berani menghampirinya.
"Woi! Aruna!" Arkan berteriak menggoda Kanaya. Namun Kanaya tidak menyahut.
"Woiii, Aruna!" Arkan memanggilnya lagi tetapi tetap tidak dijawab.
"Hei, Aruna Freya Kanaya!" tepat ketika mendengar kata Kanaya, cewek itu menoleh. "Gue kira loe lagi manggil cewek lain."
"Aneh loe, nama sendiri juga."
"Nama gue Kanaya,"
"Ya terserah elo deh. Yang pasti, gue mau ngucapin selamat."
"Selamat apaan? Selamat dari maut? Selamat—ulang tahun?" Arkan masuk ke dalam pos itu. "Loe di peringkat pertama. Gue seneng,"
"Seneng apa sedih nih? Gue rebut posisi elo hahaha."
"Gak tahu kenapa, gue seneng aja. Pokoknya elo yang pertama!"
"Makasih atas ucapan selamatnya, mas Arkan." goda Kanaya yang hanya dibalas senyuman manis Arkan.
Mang Dadang yang menyaksikannya, hanya bisa iri dan tidak melakukan apapun. Terkadang, saking bahagianya, mereka tidak tahu jika ada orang lain di sekitarnya.
Dasar, Kanaya dan Arkan yang ceritanya lagi kasmaran!
*****