Partner in Pressure

Partner in Pressure
Dihargai


Pagi-pagi sekali, Kanaya sudah nongkrong di pos satpam sembari bermain catur dengan mang Dadang.


"Mang, saya udah jadian sama Arkan. Tapi jangan bilang siapa-siapa." Kanaya berbisik di depan mang Dadang dan ditutupi oleh kedua tangannya.


"Wiih, akhirnya non. Selama bertaun-taun bertapa ya non, selamat non saya ikut senang!"


"Gak usah lebay gitu ah mang. Saya kan udah bilang kalau Arkan akhirnya sama saya. Hehe, skakmat!" Kanaya langsung menskak king dari lawan dengan andalan bishop nya di awal permainan.


"Baru juga main, udah kalah aja."


"Mang Dadang kan emang kagak bisa main, saya nggak ngerasa tertantang ah. Nyebelin banget,"


"Gak penting dah. Pokoknya traktir non, buat pajak jadian!"


"Ih, mamang sok asik banget ngerti pajak-pajakan. Yaudah nanti saya beliin siomaynya buat mamang."


"Nah, gitu dong. Sekali-sekali. Non, udah mau masuk loh. Sana ke kelas dah!"


"Mang, lihat muka saya. Cantik nggak?" Kanaya tidak menghiraukan mang Dadang dan malah meminta pendapat orang tua itu.


"Apanya yang beda? Perasaan sama aja. Non Naya gak operasi toh?" mang Dadang meneliti setiap inci dari sudut  wajah Kanaya. Baginya, dia Kanaya. Sama saja.


"Ih, semua cowok emang kagak peka ih. Lihat niih, saya ganti warna lipstik, jadi pink glossy menggoda, mmuach!"


Seketika mang Dadang ingin muntah.


"Jijik banget non. Menurut saya kok sama aja kagak ada yang beda."


"Gak seru ih. Udah ah saya mau ke kelas aja." Kanaya menyambar ranselnya, dan keluar dari pos satpam.


"Cantik non, cantik banget. Dari dulu kan non emang cantik. Makanya, menurut saya sama aja. Sama-sama cantiknya."


"Ciyee. Akhirnya mengakui juga kalau saya cantik. Bye mang, nanti saya belikan siomay kalau masih ada!"


Kanaya berjalan seperti biasa menuju kelasnya. Ia tidak sadar, jika dirinya kini banyak mata yang memandang. Dari ujung rambut, hingga seluruh wajah. Kanaya yang kini mengikat rambutnya rapih, dan tidak tampil nyentrik malah sangat menawan, membuat siapa saja yang lihat terkagum-kagum.


Apalagi ketika Kanaya sampai di dalam kelas. Seketika cewek-cewek yang berdandan langsung insekyur dan menelan ludah. Kanaya tampil sangat berbeda.


"Loe—Kanaya yang itu kan?" salah satu teman cowoknya menghampiri. Kanaya tidak menjawab, dan berlalu duduk di bangkunya.


"Nay, loe pake lipstik apaan? Kasih tahu gue dong?" kalian ingat Resa? Resa yang mengkambing hitamkan Kanaya ketika bermain hp? Cewek itu, menaruh tasnya di samping Kanaya.


"Ngapain loe disini? Emang gue mau, duduk sebelahan sama loe? Kalau wajahnya udah burik dari sononya, ya mau pake lipstik apapun tetap burik, *****!" Kanaya mengucapkannya dengan lirih. Namun sakitnya terasa begitu menusuk. Resa terdiam terlalu speecless mendengar perkataan Kanaya.


Yah, begitulah teman munafik. Dijauhi bak sampah, ketika jelek. Dan akan mendekat ketika menjadi cantik. Karena itu juga, Kanaya tidak suka berteman dengan siapapun. Baginya, teman abadi adalah jiwanya sendiri.


*****


Lapangan yang semula sepi, kini disulap menjadi pasar jajanan dengan banyaknya stan makanan. Setiap stannya, dijaga oleh anggota osis maupun intinya. Semua murid yang sedang beristirahat, membanjiri lapangan hingga ramai.


Arkan kebanjiran pembeli! Semua stan bazaar, memanglah penuh rata-rata. Tetapi stan siomay miliknya, yang paling ramai. Dan rata-rata cewek. Apalagi, stan miliknya berada di ujung sehingga lebih mudah terlihat.


"Ar, gue mau dong 20 ribu. Gue tambahin 100 ribu kalau yang jual mau diajak kencan!" sialan memang, Arkan hanya mesem-mesem membalasnya. Karena hari minggu kemarin dia sudah berlatih menjadi kang siomay, ia sangat cekatan menghadapi pembeli yang ganas.


Tiba-tiba ia merasa bokongnya diremas oleh seseorang.


"Eh *******! Pelecehan seksual!" Arkan langsung tahu jika pelakunya adalah Budi doremi alias Budi temannya yang memang jahil.


"Mas aing mau siomay bandung nya dong. Beli satu gratis lima kan?"


"Aing aing, jijik gue dengernya. Gue kasih gratis lima kalo loe ngasih duit 1 juta." balas Arkan tak mau kalah.


"Pemerasan itu namanya! Gue pesen lima, buat gue, alpin, reja sama chandra!"


"Itu 4 ****," Arkan menyahuti, sembari mengambil siomay kukusnya dari panci dan juga siomay gorengnya dari wajan. "Kan aing gak cukup satu atuh, kang! Gemes deh yang jual. Bisa sekalian dibungkus kagak?"


"Loe bisa nggak menyingkir dari hadapan gue. Khusus buat loe, gue ada layanan delivery." Arkan merasa jengah, karena di tengah keramaian ini Budi masih saja membuatnya kesal.


"Yaudah, gue tunggu di kelas ya akang ganteng," sebelum pergi Budi menyempatkan untuk menyentuh dagu Arkan. Rasanya Arkan ingin sekali meludahi tangan Budi jika saja tidak ada pembeli yang lain.


Kanaya memperhatikan Arkan jauh dari kelasnya. Ia mengulurkan kedua tangannya, membentuk bingkai dari jari jempol dan telunjuknya yang disilang. Mengarahkan bingkai tersebut, pada kepala Arkan yang terlihat kecil dari kejauhan.


"Dari jauh aja udah kelihatan kerennya. Gantengnya pacarku." Kanaya mendekat, menuju ke lapangan. Keramaian membuatnya sulit untuk menembus stan Arkan.


"Oke, gue gak ada kesempatan buat beli siomaynya kesayanganku Arkan. Besok aja gue beli. Lagian, gue kan udah ngerasain siomay nya kemaren." Kanaya berbalik. Tidak jadi menuju Arkan. Ia memilih untuk ke tempat sanctuary nya.


Tanpa Kanaya tahu, Arkan mencoba menatap ke sekeliling mencari-cari sosok Kanaya. Namun nihil, tidak ada cewek itu. Dari pagi Arkan belum bertemu dengannya. Ia merasa, sedikit hampa. Apa cewek itu lupa jika Arkan menjadi kang siomay seperti yang ia mau? Tidak mungkin. Jelas-jelas di lapangan sudah tertera tulisan mural event bazaar yang begitu besar.


"Bentar ya. Gue mau nganterin ke temen gue dulu." Arkan mengucapkannya pada orang-orang yang mengerubunginya. Ia menelusup keluar dari keramaian, sambil membawa satu kantong berisi siomay pesanan teman-temannya.


Arkan berjalan menelusuri lorong. Ia tidak sadar, jika dirinya masuk ke dalam kelas Kanaya. "Kanaya, mana?" pikiran tidak sejalan dengan ucapan. Itu murni dari pikiran Arkan. Arkan merutuki perkataannya. Kini ia menjadi pusat perhatian dan keanehan setiap mata yang ada.


"Kanaya?"


"I—iya. Dia tadi ekhm, pesen siomay." Arkan menjawab dengan gugup. "Loe buka jasa jadi kurir juga? Gue mau dong! Titip siomay loe juga!"


"Iya gue mau!"


"Gue mau juga! Siomaynya,"


Arkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sangat menyesali dengan apa yang ia bicarakan.


"Kayaknya, siomay gue udah abis deh. Ini pesanan terakhir yang gue anter. Besok-besok harus lebih awal lagi!" ucap Arkan beralasan.


"Yah, sayang banget. Gue tadi nyobain enak. Besok gue pesen yah!"


Arkan hanya mengiyakan, lalu keluar dari kelas itu. Percuma saja, bukannya mendapati Kanaya, ia malah disuruh menjadi kurir siomay. Memangnya dia ojek online? Mending-mending dapat ongkos kirimnya juga.


Ia masuk ke dalam kelasnya sendiri. Begitu ricuh karena Chandra sedang mengadakan konser amal nyanyian fals nya bersama Budi. Teman duet.


"Woi. Ini ya, loe pada harus bayar dua kali lipat! Enak aja, gue tukang siomay yang paling ganteng ini yang nganterin ke loe pada. Berasa raja loe semua?!" teriak Arkan membuat Chandra dan Budi menghentikan nyanyiannya.


"Ciye, abang siomay cakep amat. Ayo kita review makanannya." Chandra menghampiri dan mengambil salah satu jatah siomay nya yang terbungkus dalam kotak steroform.


Dengan gaya bak ASMR, Chandra dan Budi sok-sok an memakai headset dan memakannya sambil mendesah dan berkecap.


Krauus krauus


"Jadi gaes, ini siomay bikinan dari teman nongkrong kita yang bernama Arkan. Kalau dari tekstur luarnya, ini begitu renyah sampai kalian tadi bisa dengar kan?"


Krauss


"Dalemnya ini, masih juicy dan kerasa ya daging untanya!"


"UDANG WOI!" Arkan menyahuti, tidak terima dibilang daging unta. Karena sudah tidak tahan melihat tingkah teman-temannya. Yang lainnya hanya menggelengkan kepala dan tidak berkomentar.


Akhirnya, Arkan memilih keluar dan kembali pada stannya. Di setiap jalannya di lapangan, Arkan menyapa teman-temannya yang begitu semangat menjajakan jajanan yang mereka jual. Ia juga tersenyum kepada Rama, yang menjadi kang bakso! Dan cukup banyak dikelilingi oleh dedek gemeshnya. Rama memang tak kalah cakep dengan Arkan.


*****


Arkan tersenyum, mendapati Kanaya yang sedang berbaring di rooftop dengan bantalan tangannya sendiri. Ia sudah bisa menebak jika cewek itu pasti membolos di pelajaran terakhir.


"Loe daritadi ada disini?" Pertanyaan Arkan membuat Kanaya terbangun dan mendapati Arkan di depan matanya.


"Ar? Loe gak masuk kelas?" Arkan duduk di samping Kanaya. Lalu menyuguhkannya satu kotak berisi siomay.


"Gue daritadi nyariin elo. Gue kira loe lupa kalau gue jaga stan,"


"Nyariin gue?"


"Iya. Harusnya loe excited dong, jadi asisten gue kek. Rame banget tadi. Makan nih, gue sisain." Arkan membukakan kotak itu. Memberikan sendok pada Kanaya.


Kanaya hanya menelan ludah. Entah Arkan menyadari atau tidak, setiap perkataan yang diucapkan oleh Arkan seperti mengandung kekhawatiran kepada dirinya. Ia merasa, dihargai.


"Makan, Nay. Loe kira ini pajangan!" Kanaya tersenyum. Mengambil sendok itu, lalu memakannya.


"Kenapa loe gak dateng ke stan gue? Kok diem bae sih, bisu loe?!"


"Sabar pak, ini mulut masih ngunyah udah cerewet aja kayak emak-emak!"


"Ya habisnya, gue gak terima loe harusnya dateng ke stan gue!" Kanaya menelan makanan di dalam mulutnya. "Gue tadi mau kesana, eh loe kayak lagi asik gitu dideketin banyak cewek-cewek. Seneng kan loe?!"


"Seneng apaan, yang ada malah risih. Gue tadi ke kelas elo, elo nya gak ada."


Deg!


Kanaya menghentikan gerakan sendoknya mendengar tuturan Arkan. Arkan, menghampiri kelasnya hanya untuk mencari Kanaya? Tapi, kenapa?


"Ekhm, gue tadi disini lah. Terus mager ketiduran yaudah sekalian bolos aja. Biar gak nanggung sekalian." Kanaya mencoba biasa saja menutupi detak jantungnya yang sepertinya berbunyi kencang.


"Udah mau ujian, loe tuh belajar yang bener! Kerjaan loe bolos aja. Gimana bisa maju?"


"Loe ngeremehin gue? Gue kagak belajar aja udah pinter. Apalagi kalau belajar, bisa-bisa loe kagak dapet ranking parallel karena gue. Mau loe?"


"Kok sekarang loe yang ngeremehin gue ya? Nggak ada yang bisa ngalahin gue, Nay." mereka saling membalas satu sama lain. "Halah pret! Gak percayaan sama gue."


Arkan tertawa. Kanaya dengan segala kecerewetannya. "Enak, Nay?" Arkan memperhatikan Kanaya yang makan siomay nya dengan lahap. "Gue udah hafal sama rasanya. Loe mau?" Kanaya menyodorkan satu sendok yang berisi potongan siomay.


"Bo—leh, Nay?" Arkan menatap ragu Kanaya. Kanaya hanya membalasnya dengan anggukan. Arkan pun mendekatkan wajahnya. Memakan siomay dari sendok yang ada di tangan Kanaya.


Mereka berdua sama-sama tersenyum. "Besok-besok loe, gue rekrut jadi asisten gue. Biar gue nggak kewalahan."


"Loe lupa? Sama syarat yang loe buat sendiri? Kita backstreet, Ar. Apa kata orang kalau gue barengan sama elo. Yang ada gue dilabrak rame-rame sama fans receh loe itu."


"Oh iya, gue lupa. Hehe." Arkan tersenyum kecut. Seandainya saja, Kanaya sama seperti cewek-cewek yang lainnya,


Seandainya, semua akan baik-baik saja jika dirinya bersama Kanaya.


"Yaampun, tadi gue janjiin mang Dadang buat kasih siomay nya lagi! Siomay loe udah habis? Gue jadi lupa juga kan." Kanaya menepuk jidatnya.


"Yah, loe kagak bilang sih. Besok gue bawain banyak." Kanaya membalasnya dengan anggukan mantap.


"Gimana tangan loe? Coba gue lihat," Arkan mengarahkan pandangannya pada jaket yang dipakai Kanaya. Kanaya menurutinya, ia membuka tanpa sungkan.


Luka Kanaya sudah mendingan. Sudah mengering, tidak lagi memengalirkan darah seperti kemarin-kemarin sebelum diobati.


"Udah nggak sakit kan?"


"Mana pernah gue ngerasa sakit, hehe. Gue kan cewek tangguh."


"Mulai minggu depan, loe harus mulai terapi sama Kathya. Gue jemput."


"Iya, Ar. Iya.. Gak usah posesif gitu dong sayang."


"Kegeeran loe!" Arkan menyenggol bahu Kanaya. "Biarin, ke siapa lagi gue bisa pamer punya pacar ganteng?"


"Loe ngebet banget ya minta dipublikasikan?"


"Enggak juga sih, siapa juga yang kepo tentang gue. Yang ada elo dimaki-maki sama orang lain,"


Mereka terdiam sebentar. Siomay yang menjadi santapan mereka sudah ludes habis. Kanaya memeluk kedua lututnya, sedangkan Arkan duduk bersila.


"Nay," Arkan memanggil tiba-tiba. "Hmm." sahut Kanaya. Tidak menoleh dan menatap ke langit. "Apa yang loe rasain waktu loe nyakitin diri loe sendiri?" tanya Arkan.


"Tenang. Ada sensasinya sendiri. Loe gak mungkin bisa ngerasain."


"Jangan gitu lagi, Nay. Kalau loe ngerasa cemas, loe bisa panggil atau telfon gue."


"Gue nggak punya hp." jawaban Kanaya membuat Arkan menatapnya. "Tenang aja, Ar. Gue sebisa mungkin ngandalin loe. Kalau bisa, itu jadi pilihan yang paling terakhir."


"Enggak Nay. Loe gak boleh jadiin kebiasaan gila loe itu pilihan. Loe harus cari gue! Gimanapun caranya,"


Kanaya tidak tahu, mengapa Arkan begitu peduli padanya. Apapun alasannya itu, membuat hati Kanaya selalu menghangat. Meski itu hanya pura-pura peduli, Kanaya tidak ingin mendengar sampai ia mendengarnya. Ataupun mencari tahu. Ia cukup dengan keadaan seperti ini.


*****