Partner in Pressure

Partner in Pressure
Putri Aurora, Pangeran Philip dan Maleficent


Acara pentas seni yang digadang-gadangkan oleh banyak orang akhirnya terlaksana. Gedung serba guna yang ada di tengah-tengah sekolah dan biasa dijadikan stadion pertandingan basket yang resmi kini didekor semewah mungkin dan menjadikannya negeri dongeng seperti dalam cerita.


Di tengahnya dan yang menjadikannya pusat adalah panggung yang berlatar belakang sebuah kastel kuno megah namun berkesan menyeramkan. Teras yang juga dijadikan alas bagi para performer ialah taman penuh rumput dan lampu-lampu pijar yang berdiri mengitari panggung.


Sukses. Arkan telah berhasil menciptakan suatu pertunjukan yang pantas diacungi jempol dan lebih tinggi daripada ekspektasi orang-orang. Sesuai dengan latar belakang panggung, tema kali ini yaitu fairy tale dengan kearifan lokal. Maksudnya, harus ada unsur Indonesia yang tertera dalam penampilannya.


Orang-orang yang datang berpamer ria dengan gaun mewah yang mereka pakai. Kebanyakan dari mereka berperan menjadi peri atau putri-putri yang sangat umum seperti tinker bell, cinderella, snow white, atau apapun yang berkaitan dengan itu. Tema yang diangkat sesuai dengan penampilan yang akan ditonjolkan mereka yaitu dari drama teater yang akan menampilkan pertunjukan drama yang berjudul,


'Othello' sebuah karya yang diciptakan oleh William shakespeare.


"Loe bener-bener gila, Ar. Bisa bikin acara begini bagusnya." Alvin dan yang lainnya termasuk Arkan sudah berada di dalam. Menatap panggung yang disuguhkan di depan mereka. Acara belum dimulai, namun sudah ada penari latar yang mengisi kekosongan.


Alvin sendiri, berperan sebagai the beast atau si buruk rupa yang menjadi pasangan Belle. Namun sangat tidak adil karena wajahnya juga tidak dirias menjadi benar-benar buruk rupa. Ia hanya memakai pakaian bak pangeran, dengan kemeja di dalamnya yang bernuansa batik untuk menunjukkan keindonesiaannya. Chandra dan Salsa, berperan sebagai pasangan dalam film sherk, yaitu shrek dan putri fiona dengan Chandra yang memakai baju khas berwarna putih coklat dan menunjukkan kearifannya melalui sabuk yang berdompet di perutnya sedangkan Salsa, menampilkan unsur batik di gaun bagian bawahnya. Lalu Budi dan Reza, memainkan peran sebagai kurcaci yang ada di film putri salju, dengan memakai blankon pengganti topinya.


Arkan yang terbaik dari semuanya. Meski terlihat klise, karena ia memainkan peran sebagai pangeran phillip yang merupakan pasangan putri Aurora, namun wajahnya yang sempurna membuatnya pantas dipandang menjadi a prince. Dengan pedang yang ia bawa yaitu sebuah golok, untuk menunjukkan Indonesianya. Lucu tetapi tidak mengurangi kewibawaannya.


Meja-meja bundar kecil yang ada di depan panggung dan merupakan tempat duduk dari semua penonton hampir terpenuhi. Arkan sendiri untuk sementara duduk bersama teman-temannya dan juga Salsa. Arkan juga sama takjubnya. Akhirnya semua perjuangan yang ia lakukan bersama anggotanya tidak berakhir sia-sia. Acara ini juga dijadikan ajang untuk penghibur anak-anak kelas tiga atau dua belas yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian.


"Gue juga ikut nggak nyangka. Jadinya bakal keliatan megah kayak gini." Arkan menyahuti perkataan Alvin tadi. Ia terus menerus tersenyum. "Loe yang terbaik emang." Budi menyenggol lengan Arkan yang kebetulan duduk di sampingnya. "Thanks," balas Arkan.


Tiba-tiba semua mata tertuju pada pintu masuk, jika biasanya yang menjadi pusat perhatian adalah cewek-cewek atau cowok-cowok yang berperan sebagai ratu atau raja, kali ini berbeda. Disana ada Kanaya.


Kanaya dengan begitu anggun berjalan masuk menuju gedung. Termasuk Arkan, ia juga tidak mengedipkan matanya menatap Kanaya.


Kanaya berperan sebagai a mistress of Evil alias nyonya kejahatan, yaitu Maleficent. Ia memakai gaun hitam keunguan yang berkerah tinggi mengitari lehernya dan menjuntai ke bawah hingga menyapu lantai. Wajahnya yang tegas, tidak menutupi kecantikannya yang terpancar begitu jelas. Ketika yang lainnya menunjukkan kesan Indonesia pada gaun atau apapun yang mereka pakai, lain halnya dengan Kanaya. Ia menggunakan rambut untuk menunjukkan kesan tersebut. Kanaya menyanggul rambutnya dengan model sanggul keraton Yogya, yaitu 'Ukel Tekuk' dan terdapat satu konde di atasnya.


"Gila, gue baru tahu kalau Kanaya segitu cantiknya!" Budi berpendapat.


"Emang cantik," lirih Arkan. "Apa loe bilang Ar?" Budi merasa Arkan mengatakan sesuatu dengan pelan. "Gue diem aja, kok." Arkan mengelak. Ia refleks mengatakan itu.


"Tuhkan gue bilang juga apa. Cewek itu sebenarnya cantik." Reza menyahuti. Ia pernah mengatakan jika Kanaya dulu tidak se bar-bar sekarang dan masih cantik.


Sedangkan Kanaya, kini memutari pandangannya mencari sosok yang ia ingin lihat. Yaitu Arkan. Dan kini, mereka saling berpandangan. Lalu saling melemparkan senyuman meski tidak ada yang tahu. Kanaya memilih duduk di meja paling belakang, sendirian.


Acara dimulai. Lampu yang semula menerangi gedung, kini padam dan tergantikan oleh lampu latar yang menyoroti panggung. MC sudah berbicara membacakan susunan acaranya. Yang dimulai dari pertunjukan drama teater, lalu penampilan dari guest star yang diundang yaitu Ardhito Pramono dan juga Lyodra, musisi sekaligus penyanyi yang sedang hits di Indonesia, dan acara terakhir yaitu pesta yang dimeriahkan oleh seorang DJ.


"Gue pamit ke belakang panggung dulu." ucap Arkan pada teman-temannya. "Sip bro." sahut yang lainnya. Memberikan ruang untuk Arkan pergi. Tetapi Arkan, malah pergi ke meja yang paling belakang.


Duduk di samping Kanaya. Karena begitu gelap, tidak ada yang menyadari hal itu. "Hei," Arkan menyapa cewek itu. Kanaya tersenyum, inilah yang ia inginkan.


"Loe cantik banget." Arkan mengucapkannya tepat di telinga Kanaya sembari berbisik. "Loe juga." balas Kanaya. "Gue ganteng?"


"Cantik. Pake nanya lagi."


"Kepikiran dari mana kok maleficent?"


"Gue kan setangguh dan sejahat maleficent. Dan juga, gue musuh loe." mendengar itu membuat Arkan tertawa. Benar juga, jika di dunia disney mereka bermusuhan. Dan tidak mungkin menjadi pasangan.


"Oh iya. Ngapain gue malah nyamperin musuh sendiri ya? Oon banget dong gue."


"Tapi karena elo ganteng, gue ampuni. Dengan syarat loe mau jadi pasangan gue dan gue kurung di kastel itu supaya Aurora gak bisa nemuin loe." Kanaya sudah mulai berbicara ngelantur.


"Kalau dikurungnya bareng elo, seribu tahun gue juga jabanin Nay."


"Janganlah, belum mahrom. Entar diomongin tetangga."


"Yaudah, sebelum dikurung kita kawin dulu." Arkan lebih lebih ngawurnya. Jika tidak disuruh tenang, Kanaya ingin tertawa terbahak-bahak sepuasnya.


"Gak usah ngaco! Dramanya udah mau dimulai." Kanaya mencubit lengan Arkan. "Enak liatin loe aja. Gue takut ah, dramanya tragis."


"Oh ya? Judulnya apaan emang?"


"Othello. Mau gue ceritain?"


"Ohh, gue tahu. Drama tentang kepercayaan." Kanaya suka sekali membaca karya-karya dari orang yang kepribadiannya sama seperti dirinya. Introvert.


"Kok kepercayaan?" Arkan tidak paham.


"Iya, coba aja kalau si Moor percaya sama istrinya dan gak kemakan omongan orang lain. Pasti, dia gak bakal terlalu gegabah buat bunuh istrinya sendiri." Arkan manggut-manggut. Yang dikatakan oleh Kanaya benar juga. Ia lupa jika Kanaya adalah orang jenius yang suka membaca buku.


Drama pun dimulai, belum-belum alunan biola yang menyayat hati membuat orang-orang bergidik ngeri. Tokoh dari drama tersebut mulai bermunculan dan memperkenalkan dirinya sendiri. Yang lebih seram, masing-masing aktor nya memakai topeng tanpa wajah.


Jalannya drama sangat dinikmati oleh Kanaya. Ia kira, ekskul teater di sekolahnya sangat abal-abal. Tapi ternyata, acting nya lumayan juga. Hingga drama berakhir dengan scene bunuh diri tokoh utama dengan tragis, semua nya berdiri dan bertepuk tangan. Termasuk Kanaya. Lalu dilanjutkan dengan pertunjukan-pertunjukan lain dari sekolah sampai pada akhirnya penampilan dari GS nya.


"Nay, gue ke belakang panggung dulu ya. Mau nge cek sesuatu." Kali ini Arkan memang benar-benar ingin ke belakang panggung. Kanaya hanya mengangguk saja karena ia masih fokus dengan pertunjukkannya. Arkan pun bangkit. Berjalan menuju backstage.


Namun, matanya menangkap seseorang yang mencurigakan. Yaitu perempuan yang memakai gaun berwarna merah muda, memerankan sosok putri Aurora.


Dan ia adalah, Araya. Araya berjalan pelan dan mengendap, menuju pintu keluar. Tidak ada yang menyadari kecuali Arkan karena keadaanya gelap. Arkan menimbang dirinya sendiri, ia tetap melanjutkan langkahnya atau mencurigai Raya.


So here we go again, I kissed that girl again


But suddenly it must come to an end


Stop smiling, you know you are so annoying


If she really finds out I'll be dead man walkin'


Your eyes are blue


So good to be true


I just can't stop thinkin' about you, oh


Though we're a far apart


You are still my best bud


Arkan memutuskan untuk mengikuti Raya keluar. Lantunan lagu here we go again, menemani setiap langkahnya. Membuat bulu kuduknya merinding mendapati kondisi sekolah yang seperti rumah hantu. Gelap sekali. Namun ia masih bisa mengikuti si putri Aurora itu pergi meski samar.


Araya berjalan cepat menyusuri lorong sekolah. Diikuti dengan Arkan yang jauh di belakangnya agar cewek itu tidak curiga.


Arkan membelalakkan matanya ketika ia melihat Araya, menuju ruang osis. Dia juga salah satu anggota yang memegang kendali atas ruangan itu. Sudah diduga, pintu terbuka dengan gampangnya. Cewek itu masuk. Arkan menelan ludah, ia bingung. Apa tindakannya ini benar?


Dan kaki Arkan terus melangkah. Ia ingin sekali mengumpat dan berteriak untuk apa Araya melakukan hal-hal yang mencurigakan. Namun ia tidak akan gila melakukan hal tersebut.


Terdengar suara kunci loker yang berputar. Arkan tidak lagi bisa menahannya. Ia langsung gegabah, membuka pintu dan mendapati Araya, cewek itu sedang membuka loker milik Intan dengan amplop berisi uang di tangannya.


"Ooh, jadi selama ini elo yang ngambil duit osis?" Arkan langsung mengeksekusi Araya saat itu juga. Araya yang sangat terkejut tidak sengaja menjatuhkan amplopnya dan membuat isi uangnya berceceran.


"Kak-Arkan?!" Arkan menarik tangan Raya dengan kuat lalu mendorongnya ke tembok. Mengapit dirinya dengan kedua tangan Arkan.


Arkan benar-benar tidak menyangka jika ternyata orang yang ia anggap tidak mungkin melakukan hal keji, justru sebaliknya.


"Gue dari dulu sebenarnya udah curiga sama elo, karena loe yang paling berani buka loker gue dan ngerusakin sepatu gue!"


"Kak Arkan tahu?"


"Gue udah tahu dari dulu! Tapi gue mencoba buat gak terlalu berpikiran negatif sama elo. Gue bahkan gak minta pertanggung jawaban ke elo karena sepatu gue karena gue pikir loe cuma gak suka sama Kanaya!"


"Tapi ternyata, pikiran gue salah. Orang yang gue percaya dan pernah gue suka, ternyata adalah seorang pencuri yang bersembunyi dibalik topeng polosnya! Loe ternyata lebih jahat dari siapapun!"


Araya hanya diam. Matanya sudah berkaca-kaca karena ia sudah ketauhan, bahkan oleh Arkan. Orang yang ia suka.


"Kenapa loe lakuin ini semua! Jawab Ray!" Arkan memukul tembok dengan kedua tangannya. Membuat Raya semakin takut.


"Jawab! Atau nggak, sekarang juga gue arak di depan semua murid yang ada disini biar elo malu!"


"Ja-ja jangan Kak. Maaf, aku khilaf karena gak punya uang." Raya menjawabnya dengan lirih.


"GAK GINI CARANYA! LOE BISA KERJA! LOE LEBIH BAIK NGEMIS DARIPADA NYURI KAYAK GINI! LOE NGGAK TAHU KAN KALAU GUE YANG NANGGUNG SEMUA UANG YANG LOE CURI?!"


"Ma-maaf kak. Maaf banget,"


"Loe harus tanggung jawab! Gue nyesel, karena udah satu organisasi sama pencuri kayak elo!"


Araya tidak menjawab. Ia malah melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia menarik tengkuk Arkan, dan mencium bibir Arkan.


Arkan berusaha melepaskan diri dari Araya. Araya memang sudah gila! Dia lebih gila dari apapun! Araya malah memeluk leher Arkan hingga cowok itu tidak bisa melepaskan dirinya sendiri.


"Gue jagain disini, biar nggak ada yang lihat."


Deg!


Arkan tahu betul suara siapa itu. Itu adalah Kanaya. Dan kini Kanaya melihatnya sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Dengan sepenuh tenaga, Arkan melepaskan dirinya sendiri hingga berhasil.


Lalu dirinya mendapati Kanaya yang sedang berdiri di depan pintu.


"Nay," Arkan langsung menghampiri Kanaya. Namun Kanaya berjalan mundur menjauhinya. "Gue kira, ada keperluan mendesak apaan sampe loe bohong sama gue kalau loe mau ke belakang panggung tapi malah keluar sama si cewek sok polos itu. Taunya, mau mesum disini. Untung gue jagain, jadi gak ada yang lihat."


"Loe salah Nay. Gue dijebak sama dia! Gue berani bersumpah Nay!"


"Gue itu, terlalu seneng pacaran sama elo sampe lupa kalau loe itu suka nya sama cewek itu. Bukan gue."


"Enggak Nay. Percaya sama gue."


Arkan mencoba meraih tangan Kanaya. Namun Kanaya merasa sangat jijik, setelah melihat apa yang terjadi antara cowok itu dengan Araya.


"Gue terlalu percaya diri, sampe gue rela ngelakuin apapun demi elo! Loe bahkan gak pernah bisa nerima diri gue apa adanya! Loe malu pacaran sama gue! Loe ngelakuin itu semua karena kasian sama gue, karena gue gak normal! Dan loe sok-sok an jadi pahlawan!"


"Kanaya! Gue dijebak, gue mau jelasin semuanya biar gak ada salah paham."


"Gak usah, Ar. Kalian berdua emang pantes kok. Yang satunya sok polos, yang satunya lagi sok jadi pahlawan! Apalagi sekarang, udah cocok banget jadi pasangan!"


Kanaya berbalik dan berlari, tanpa mau melihat ke belakang.


*****