
Kanaya mengetuk pintu kamar Arkan yang sudah ditunjukkan oleh Kathya. Namun cowok itu tak kunjung membukanya.
"Masuk aja, Nay. Biasanya gak dikunci kok." Kathya dibelakangnya pun ikut gemas. Adiknya memang susah dibangunkan. "Aku takut, kak."
"Gakpapa. Bilang aja kalau aku yang nyuruh kamu masuk." Kanaya dengan mengumpulkan keberaniannya, membuka kamar Arkan. Ia pun masuk dengan langkah yang sangat ragu.
Kamar bernuansa abu-abu itu, dipenuhi dengan kecintaannya. Segala sesuatu tentang basket. Bahkan disana ada poster Kobe bryant, seorang atlet basket yang terkenal. Kanaya mendekat, menuju ranjang tidur Arkan.
Arkan tampak teduh ketika tidur. Kanaya seperti melihat anak kecil ketika menatap Arkan yang masih terpejam. "Arkan.."
Arkan langsung terperanjat bangun dari tidurnya dan membuat punggungnya menabrak headboard kasurnya sendiri ketika mendengar suara seseorang pas di dekat wajahnya.
"Loe siapa berani-beraninya masuk kamar gue!"
"Sadar woi! Gue Kanaya, pacar kesayangan elo."
Arkan hanya menatap Kanaya gamang, memastikan apa benar dia Kanaya. Kanaya yang ia tatap kini, adalah Kanaya yang jauh dari realitanya.
Kanaya sangat cantik dengan bibir yang berpoles warna pink. Tidak ada eyeliner hitam di bawah kelopak matanya. Yang ada, eyeshadow berwarna keemasan.
"Gue cantik ya? Sampek mangap gitu?" Kanaya mendekatkan wajahnya ke arah Arkan. Menggoda cowok itu, agar dirinya lebih salah tingkah.
"Siapa yang ijinin loe masuk kesini! Gue bilang loe cuma boleh ketuk pintu kamar gue!" Arkan langsung tersadar dari lamunannya dan mencoba untuk berbicara seperti biasanya lagi.
"Kak Kath yang suruh gue. Loe kebluk banget sih sampe gak bisa dibangunin. Ingat ya, kita itu bolos!" Arkan mencoba mengumpulkan nyawanya. Memastikan apa benar yang ada dihadapannya kini adalah Kanaya.
"Loe lihat gue kayak gue hantu aja. Loe belum jawab pertanyaan gue, gue cantik kan?"
"Enggak sama sekali! Loe nggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama Raya." Kanaya sangat tidak suka ketika Arkan menyebut nama Raya.
"Jangan pernah sebut nama cewek itu, di depan gue." Arkan yang sudah sepenuhnya sadar pun bangkit. Menyambar hoodie yang ada di dekatnya dan langsung memakainya. "Ayo cabut! Udah jamnya pulang kan?"
"Anterin gue ke mall seperti biasa."
"Enak kan loe, gue berasa jadi ojek loe." Ucap Arkan kesal. "Iyalah, loe kan pacar gue." Arkan tidak menyahut, merekapun keluar dari kamar. Sesampainya di teras, Arkan melupakan kunci motornya.
"Kunci gue, masih di dalem!" Arkan menepuk jidatnya sendiri. "Mau gue ambilin?" Tawar Kanaya. Untung-untung kesempatan sekali lagi bisa masuk ke kamar pribadi Arkan. "Keenakan loe!" Arkan sudah bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Kanaya. Ia pun segera masuk ke dalam lagi. Meninggalkan Kanaya.
Kanaya lupa, ia masih memakai sepatu kesayangan Arkan. Dan Arkan bahkan tidak menyadarinya.
*****
Kathya yang baru saja duduk di sofa sambil memotong kuku tangannya, berhenti menatap Arkan yang masuk kembali. "Kanaya mana?" tanyanya.
"Bukan urusan loe." Arkan tidak menjawab dan berlalu menuju kamarnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk Arkan kembali lagi.
"Kal, sini deh gue bilangin."
"Penting kagak?"
"Penting banget." Arkan menghampiri Kathya.
"Kanaya itu, unik ya. Gue suka sama Kanaya." Arkan kira, itu adalah sesuatu hal yang mendesak hingga Arkan harus mendengarkannya. Namun ternyata, pendapat yang tidak masuk akal dan tidak penting. Apa pedulinya Arkan kepada Kanaya? Dia itu tidak unik. Tapi aneh.
"Loe nggak usah ngajak ribut deh!" Arkan kesal bukan main. "Serius gue. Gue restui kalau loe pacaran sama Kanaya. Kanaya itu penuh misterinya loh. Dia itu.. Kayak black box tau nggak."
"Maksud loe?"
"Ya.. Nggak ada yang tahu isinya apa."
"Sarap loe!"
****
Arkan dan teman seperkumpulannya sedang berada di warung kopi yang berada di dekat rumah Budi. Mereka kini sedang asyik menonton music live yang ditampilkan oleh pemilik warung itu. Apalagi, yang dinyanyikan adalah lagu legend ambyar alm. Didi Kempot, yaitu cendol dawet.
Budi dan Chandra sudah berada di atas panggung lagaknya seperti ingin menyawer yang sedang bernyanyi.
"Cendol dawet.. Cendol cendol dawet!"
"Cendol cendol" "Dawet dawet" "Cendol cendol" Dawet dawet"
"Cendol dawet seger! Piro?"
"lima ratusan!"
"Terus?" "Gak pake ketan!" "Ji ro lu pat limo enem pitu wolu.."
"Tak gintang gintang.. Tak gintang gintang.. Tak gintang gintang.. Lolololo joooos!"
Alvin dan Arkan hanya tertawa memperhatikan tingkah Budi dan Chandra yang semakin tidak waras saja.
"Temen loe tuh, malu-maluin!"
"Sejak kapan mereka jadi temen gue, Vin? Yang ada mereka itu aib." Arkan menyeruput rootbeer yang ia pesan. Kemudian, ia menyadari sesuatu.
Ia tidak membawa rokok. Satu hal yang penting disaat seperti ini. "Loe nggak bawa rokok Vin? Gue lupa kayaknya. Pengen nyebat nih."
"Lah biasanya kan kita pada minta ke elo! Gimana sih loe? Gue nggak bawa lah, apalagi orang miskin macem Budi Chandra!"
"Percuma dah gue punya temen. Disini nggak jual?"
"Kagak tahu. Mau gue tanyain?"
"Gak usah deh. Gue ke indomaret depan bentar, sekalian beli cemilan." Alvin mengiyakannya saja. Arkan pun langsung menancapkan gas nya menuju indomaret yang letaknya tidak jauh dari warung kopi tersebut.
Sesampainya, Arkan masuk ke dalam tidak memperhatikan orang-orang di sekitar. "Mbak, djarum supernya satu bungkus!"
Untungnya, didalam sana sepi. Sehingga Arkan bisa langsung menuju kasir.
"Ada tambahan lagi, kak? Biskuit oreonya kak, lagi ada promo beli dua gratis satu."
"Enggak mbak."
"Mau sekalian isi pulsanya kak? Atau beli paket datanya?"
"Enggak mbak!" Jika bukan cewek yang ia hadapi, mungkin Arkan ingin sekali menghantamnya saja. Tapi kali ini ia harus bersabar. Untung, kasirnya cantik.
Setelah membayar, Arkan pun keluar. Namun kali ini, entah mengapa kepalanya menoleh di sekitar meja dan kursi yang ada di depannya.
Matanya menangkap seseorang yang tidak asing baginya. Seseorang yang akhir-akhir ini selalu menganggu dirinya. Arkan yakin, itu adalah Kanaya. Cewek itu dengan memakai sweater berwarna merah jambu dan celana pendek warna senada, sedang melahap pop mie yang ada di hadapannya seperti orang yang sangat kelaparan. Langkah Arkan mendekat tanpa disadari. Arkan memperhatikan wajah itu dengan seksama.
Tidak ada Kanaya yang urakan. Dari bajunya saja, Arkan tidak yakin itu Kanaya. Mana mau Kanaya memakai warna perempuan seperti itu. Apalagi wajahnya, sangat bersih. Tanpa make up atau apapun hingga terlihat sangat natural. Dan lagi, Kanaya tidak membiarkan wajahnya seperti itu. Rambutnya! Rambut Kanaya yang panjang bergelombang, kini yang ia lihat adalah rambut lurus yang dikuncir rapih.
"Nay? Loe laper apa baper? Kaya orang kesurupan aja." Arkan memberanikan diri mendekat. Namun, cewek itu tidak meresponnya sama sekali.
"Woi! Budeg!" Arkan menyentil bahu cewek itu. Membuatnya tersentak kaget. Cewek itu menoleh dan menatap Arkan aneh.
Cewek itu hanya diam. Tidak seperti Kanaya yang pasti langsung meresponnya dengan cepat. Atau mungkin, Kanaya akan menghampiri Arkan terlebih dahulu.
"Loe lagi bisu? Gue penasaran aja. Kok tumben loe rapih banget. Jarang-jarang loh gue nyamperin cewek."
Mata cewek itu hanya mengerjap. Lama kelamaan, Arkan jadi ragu dengan tindakan yang ia ambil.
"Loe—Naya kan?"
Dengan ragu, cewek itu menatap Arkan dan menjawabnya.
"Kamu, kenal aku?"
*****
Kanaya melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Penampilannya yang mencolok, sering kali dilirik banyak orang. Kanaya tidak peduli, ia terus menerus mengunyah permen karetnya.
Lebih parahnya lagi, Kanaya ke sekolah memakai sandal gunung yang ia beli murah di toko loakan. Tidak ada yang tidak ajaib di dalam diri cewek itu.
"Mang Dadang.. Kanaya minta rendang dong.. Sambil dinyanyiin akang gendang.." Kanaya bersenandung asal, ketika melihat Mang Dadang, satpam sekolah sedang berjaga di gerbang.
"Aduh non Kanaya, saya mah bisanya cuma beliin permen aja!" Sahut mang Dadang. Kanaya tertawa. "Mang, kunci atap!" Kanaya menengadahkan kedua tangannya di depan mang Dadang. Sudah menjadi kode biasa jika Kanaya ingin meminta kunci pintu yang menghubungkannya ke rooftop. "Ngapain sih non, tiap hari kesono. Kesambet jatoh dari gedung gak lucu loh!"
"Lho, saya lagi ada misi. Bertapa untuk mendapatkan hati Arkan yang gantengnya maksimal. Makanya butuh tempat yang tenang.. Sunyi.." sudah menjadi pengetahuan yang umum jika seorang Kanaya, mengejar-ngejar pentolan sekolah SMA Harapan Nusantara.
"Hati-hati non. Mamang doa'in biar cepet dapet hatinya mas Arkan. Saingannya pasti banyak."
"Siapapun saingannya, ya jelas saya harus menang dong mang! Udah ah sini mana kuncinya keburu telat nanti dikunciin lagi gerbangnya sama mang Dadang." mang Dadang pun memberi kuncinya kepada Kanaya.
Pria tua itu begitu percaya dengan Kanaya. Baginya, tidak ada yang lebih jujur siswa disini selain Kanaya. Kanaya itu, tampil apa adanya. Berbicara seenaknya, dan humble pada semua orang yang lebih tua seperti mang Dadang. Pengecualian untuk bu Dewi dan kepala sekolah yang sudah terlanjur membenci Kanaya dari awal masuk.
Setelah mendapatkan kuncinya, Kanaya pun masuk ke dalam sekolah. Berjalan sambil bersiul santai. Pandangannya berputar mencari seorang Arkan, kesayangannya. Apalagi, ia sudah melaundry sepatu Arkan hingga tampak seperti baru.
Dan akhirnya, Kanaya menemukan Arkan yang berjalan menuju ruang osis. Kanaya pun segera menghampiri. "Arkan sayang.... I'm coming beib!"
"Ngapain loe kesini?" disana, Arkan sedang berkutat dengan laptop sendirian. "Mau balikin sepatu lah. Udah selesai gue laundry sampai bersih."
"Berapa kali?" Pandangan Arkan tidak beralih dari laptop. "Apanya berapa kali?" Kanaya balas bertanya. "Berapa kali nyucinya?"
"Ooh, ya satu kali lah. Gila aja loe, emangnya gue punya duit banyak? Laundry sepatu itu mahal tau."
"Terus, gue peduli sama loe? Taruh aja di loker gue. Nanti gue ambil." Kanaya memutarkan lagi pandangannya. Ada banyak loker, dan ia tidak tahu dimana loker itu berada.
"Loe gak baca tulisan segede gaban 'KETOS' Arkana Kallandra," Arkan yang gemas karena Kanaya diam tak berkutik, akhirnya bersuara lagi.
Kanaya memang bodoh. Tulisan itu persis ada di depannya dan ia baru menyadari. Ia pun meletakkan sepatu Arkan yang terbungkus di dalam kresek pada lokernya.
"Gue lupa kalau loe itu KETOS disini. Maaf ya sayang. Gue cuma ingat jabatan loe disini sebagai pacarnya Kanaya." Kanaya mendekat lagi kepada Arkan. "Jangan dekat-dekat gue!"
"Sensi amat pak. Kaya cewek lagi pms aja. Yaudah gue balik dulu, bye bye pacar!" Kanaya hendak pergi, namun Arkan mencegahnya.
"Eh tunggu dulu. Gue mau nanya sama elo."
"Tanya apa? Kalau soal perasaan gue sih, gak usah diragukan lagi Arkan."
"Bukan itu! Gue serius. Semalem loe ada dimana?"
Kanaya berpikir sebentar. "Gue tidurlah. Masak iya cewek cantik malem-malem kelayapan."
"Gue serius, Nay."
"Iya, gue serius. Dua rius malah. Kenapa emangnya? Loe lihat gue sama cowok lain? Yaampun sayang, gak usah posesif. Hati gue hanya untuk elo."
Arkan mulai merinding. Jika memang bukan Kanaya, amat sangat memalukan karena dirinya sudah sok kenal dengan orang asing. Dia bahkan berkata dengan kasar.
"Yakin loe? Gak bohong?" Kanaya mengangguk mantap. "Yakin seribu persen sayang."
"Yaudah, pergi sana loe."
Padahal, Kanaya telah berbohong. Jika harus dijawab jujur, Kanaya tidak bisa mengingat apapun.
*****
Arkan mendapati, sepatu kesayangannya, terbelah menjadi dua.
Bagian midsole serta outsole yang merupakan bagian bawah dari sepatu itu, terlepas dari tubuh bagian atasnya.
Tangannya mengepal. Ini adalah sepatu yang ia beli dengan tabungannya sendiri. Sepatu yang ia percaya menjadi jimatnya untuk menang dalam sebuah pertandingan. Dan kini, sepatu itu rusak terbelah menjadi dua.
LAGI-LAGI KANAYA HARUS BERTANGGUNGJAWAB!
Selama ini, Arkan terus bersabar menghadapi cewek itu meski ia tidak suka. Ia juga kerap menolongnya meski tanpa sadar. Tapi selalu saja, cewek itu mencari gara-gara kepadanya. Menyulut emosinya hingga ia sangat marah.
Padahal, setelah ini adalah pelajaran olahraga. Dan kini ia telah kehilangan sepatu kesayangannya.
"KANAYA BRENGSEK!"
Arkan berjalan cepat menuju kelas cewek itu. Ia akan menariknya keluar dan memberi pelajaran. Dan saat tiba di kelasnya, seperti semesta mendukung, kelas Kanaya sedang kosong. Ia mendapati Kanaya yang sedang tidur menenggelamkan wajahnya di atas meja.
Arkan langsung menarik tangan cewek itu hingga ia tersentak bangun. Lagi, mereka menjadi tontonan yang sayang untuk ditinggalkan.
"BANGUN LOE ANJ*NG!"
"Gak usah narik-narik tangan gue Arkan, sakit." Kanaya berusaha melepaskan tangannya yang ditarik oleh Arkan. Ia dibawa keluar kelas dan dihempaskan ke lapangan.
Arkan melempar sepatu nya yang sudah rusak, hingga mengenai wajah Kanaya.
"LOE APAIN SEPATU GUE?!"
Kanaya melihat sepatu Arkan yang sudah terbelah dua dengan bagian bawahnya. Ia sangat yakin, jika tadi ketika ia bawa masih dalam keadaan baik.
"LOE MAU NIPU GUE?! SENENG LOE NGERJAIN GUE? UDAH PUAS LOE?!"
"Arkan.. Sumpah itu bukan gue."
"Terus siapa? Hantu kembaran loe? Siapa lagi pelakunya kalau bukan elo? Gue? Jadi loe nyalahin gue?"
"Tapi itu beneran bukan gue. Loe harus percaya!"
"Berulang kali gue mencoba percaya sama elo. Tapi kali ini, loe udah keterlaluan! Kalau bisa, loe harusnya mati aja!"
Kanaya membisu. Arkan, memintanya untuk mati.
"Gue gak mau tahu, kalau loe masih pengen selamat, loe harus ganti sepatu gue! Harganya 10 juta!"
Mati saja Kanaya. Dapat darimana uang sebanyak itu.