
Setelah kematian papanya Bunga, Ade lebih sering mengunjungi Bunga kerumahnya dengan bu Hani.
********
Terdengar suara bel yang berbunyi dengan segera bu Yana membuka pintu rumahnya.
"Masuk Han," ajak bu yana kepada temannya.
"Ade,,, main yuk," sambil menarik tangan Ade untuk bermain di taman belakang rumahnya.
"Gimana keadaan anak-anak sekarang Yan?"
tanya bu Hani kepada bu Yana setelah mereka duduk dikursi tamu.
"Alhamdulillah anak-anak mulai mengerti Han, tapi Cindy terkadang suka nyariin papanya gitu," ujar bu Yana ke pada bu Hani.
"Kamu yang sabar ya," terukir senyum dibibir bu Yana ke pada temannya itu.
Sementara di taman belakang Ade, Bunga dan Cindy sedang bermain kejar- kejaran. Tidak terasa mereka bermain terlalu lama dan sampai tertidur. Karena sudah sore, bu Hani mengajak Ade untuk pulang.
Sejak saat itu, Bunga sangat sering main kerumah Ade. Saat Sekolah Dasar (SD) Ade dan Bunga satu sekolah, dan Ade selalu melindungi Bunga jika ada yang menyakiti temannya itu. Mereka jadi sering bertemu, selain di sekolah mereka juga saling mengunjungi rumah masing- masing.
Karena sering bertemu dengan Ade, timbullah rasa suka di dalam hati Bunga, Bunga berpikir Ade menyukainya karena sering bermain dengannya, akan tetapi itu semua Ade lakukan karena kasihan dan hanyq menganggap Bunga sebagai sahabatnya.
Kebersamaan mereka berlanjut hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), sewaktu SMP Ade menemukan gadis pujaan hatinya, dan Ade menyatakan perasaan sukanya pada gadis itu. Bunga yang tau kalau Ade menyukai orang lain sangat sedih, dan 3 hari tidak mau berangkat ke sekolah.
Akan tetapi Bunga tidak pernah melihatkan kesedihannya ke pada Ade, ia tidak ingin terlihat cengeng di deoan Ade.
Ketika bel istirahat Ade terus pergi menemui pacarnya, ya mereka telah pacaran dan Bunga yang tau mereka pacaran tidak ambil pusing, baginya Ade adalah lelaki yang akan dia perjuangkan karena sudah lama bersama membuat bunga begitu menyayanginya.
Hubungan Ade dan Diana terus berjalan hingga akhir kelulusan mereka di SMP.
BACK TO STORY
Saat siswa baru telah membentuk kelompoknya masing-masing yang barenggotakan 10 orang tiap kelompok.
Dan disetiap kelompok didampingi kakak senior mereka 3 orang.
"Kok dia sih pendamping senior kita," ucap Dea yang melihat Melly berjalan kearahnya.
"Udah terima aja, atau loe mau gue yang gantikan tu orang," sambung Eca yang tertawa kepada Dea.
"Iisshh." Dea sambil menyunggingkan bibirnya.
Sekarang senior mereka terdiri dari 2 cowok dan 1 cewek,lalu mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Saya Ucok,"
"Dan saya Melly,"
"Hallo kak," jawab kelompok 8 serentak.
"Nah sekarang perkenalkan diri kalian masing-masing," ujar Melly dengan wajah santainya, Melly juga gadis yang manis, akan tetapi dia sangat agresif dan pemarah.
"Dimulai dari kamu," tunjuk Ucok kepada Dea.
"Perkenalkan nama saya Dea *******," setelah memperkenalkan diri Dea langsung duduk.
" Selanjutnya." kata Agung.
"Nama saya Siti******," lalu Siti duduk kembali.
"Saya Eca syahfitri,"
Dan kemudian berdirilah Bunga untuk memperkenalkan diri.
"Nama saya Bunga Cantika putri,"ujar bunga agak sedikit malu karena disana ada Ade yang memperhatikannya.
"Wahh cantiknya," bisik Ucok kepada Agung yang dibalas anggukan oleh Agung
yang lain pun terpesona dengan kecantikan Bunga.
"Perkenalkan nama saya Ade Nugroho,"ujar Ade dengan santai.
Melly yang melihat Ade seketika tersenyum dan mulai menyukai Ade sambil bergumam " dia harus jadi milik gue,"
Baiklah selanjutnya kalian boleh istirahat, nanti setelah makan dan sholat akan kita lanjutkan kembali.
"Baik kak," ujar kelompok 8 kompak.
"De kamu bawa bekal gak?"tanya Bunga menghampiri Ade karena dia tau Ade tidak membawa bekal jadi dia berniat ingin berbagi bekalnya dengan Ade.
"Gak," jawab Ade tanpa memandang ke arah Bunga.
"Kamu mau ini gak." Tanya bunga sambil membuka kotak makanannya.
"Gak usah," jawab Ade polos lalu pergi.
Bunga hanya menghela nafasnya melihat kepergian Ade,, ya ini bukan pertama kalinya dia di acuhkan oleh Ade, bahkan setiap kali mereka bertemu Ade selalu tidak menganggap Bunga ada dan selalu mengabaikannya.