
* Bu Yana panik karena pak Handoyo pingsan
lalu membawa pak Handoyo kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit perawat membawa pak Handoyo ke ruang UGD.
Bunga dan Cindypun ikut kerumah sakit, karena tidak ada yang menjaga mereka jika ditinggal di Villa,
"Ma,,, papa kenapa? kenapa papa tidur" Ucap Bunga yang menangis melihat mamanya menangis
" Gak papa sayang, papa sedang capek jadi dokternya periksa papa dulu, kita tunggu disini ya" Ucap bu Yana sambil memeluk kedua anaknya
" Ma adek lapal" pinta Cindy
" Iya sayang bentar lagi mama belikan makan ya" jawab bu Yana yang melihat dokternya belum juga keluar dari ruang UGD
tidak lama kemudian dokter keluar, bu Yana yang melihatnya langsung berdiri
" Gimana keadaan suami saya dok? "
" Maaf buk, bapak sekarang sedang dalam masa kritis, kita berdo'a supaya bapak bisa melewatinya ya buk
Bu Yana mendengarnya hanya terdiam, dia ingin menangis sekencang- kencangnya tetapi dia tahan karena kedua anaknya ada disana juga, dia tidak mau membuat anaknya khawatir.
Kemudian bu Yana masuk ke dalam ruangan dimana pak Handoyo dirawat.
" Pa,,, bangun.. aku sama anak-anak disini nungguin kamu," ucap bu Yana dan terus memandangi wajah suaminya
Kemudian bu Yana meminta sopirnya untuk membelikan makanan, dan setelah makanan datang bu Yana menyuapi kedua anaknya
"Satu lagi ya" bu Yana terus menyuapi anaknya makan
Tidak lama kemudian anaknya sudah tertidur, dan bu Yana menidurkannya di sofa dekat ranjang pak Handoyo karena pak Handoyo sudah dipindahkan ke ruangan VIP oleh perawatnya.
Bu Yana ingin berjalan keluar untuk memanggil dokter karena suaminya belum kunjung sadar, dan bu Yana menghentikan langkahnya melihat pak Handoyo sudah mulai membuka matanya
" Pa,, papa udah bangun, " sambil mengelus pipi pak Handoyo
"Heem" dan dibalas anggukan oleh pak Handoyo
"Ma,, papa pengen mama mengurus perusahaan kita nanti ya, papa juga sudah membuat surat wasiat, nanti pengacara papa akan berikan ke mama" ucap pak Handoyo setengah terbata
"Mama gak mau, kan papa ada yang mengurusnya" jawab bu Yana yang mulai menangis mendengar permintaan suaminya
"Seandainya papa sudah tidak ada, mama harus mengurusnya demi papa" ucap pak Handoyo menatap istrinya
"Papa sayang sama mama dan juga anak-anak, ucap pak Handoyo sambil mengusap air mata istrinya
"Heemm " hanya itu yang keluar dari mulut bu Yana, karena dia sekarang tidak bisa lagi menahan tangisnya dan semakin tersedu-sedu
"Ma, titip anak-anak ya, papa yakin mama bisa mengurus mereka walaupun papa udah gak ada" tutur pak Handoyo yang mulai semakin lemah
Bu Yana yang mendengarnya hanya menangis, dia tidak bisa berkata-kata karena seperti ada yang menahan mulutnya untuk berbicara, dan dadanya pun mulai terasa sesak melihat keadaan suaminya yang memburuk
"Ma ,, sini," pak Handoyo sambil merentangkan kedua tangannya, karena ingin memeluk istrinya
Bu Yana langsung memeluk suaminya, ia menangis dalam pelukan suaminya. Setelah bebera saat, bu Yana tidak merasakan lagi tangan yang tadi memeluknya
"Pa, papa,, hiikkks, mama sayang papa, mama akan jaga anak- anak kita sampai mereka besar nanti," ucap bu Yana yang memeluk suaminya, bu Yana tau kalau suaminya telah pergi untuk meninggalkan ia dan anaknya untuk selamanya
Tidak lama kemudian anaknya terbangun, dan bu Yana langsung memeluk mereka. Malam itu, bu Yana mengurus semua urusan di rumah sakit agar pak Handoyo bisa secepatnya dibawa kembali ke Villa.
Kerabat dan teman dekat Pak Handoyo sudah mulai berdatangan ke Puncak, karena pak Handoyo akan segera di makamkan
Keesokan harinya pak Handoyo sudah dimakamkan di daerah Puncak, karena ia berwasiat jika ia meninggal ia ingin dikuburkan disamping makam orang tuanya
Pak Fajar beserta bu Hani dan juga Ade sudah berada di Puncak, mereka langsung berangkat dari Jakarta begitu langsung mendengar kabar bahwa pak Handoyo telah meninggal akan tetapi mereka datang setelah pak Handoyo di makamkan.
"Kamu harus kuat demi anak-anakmu " peluk bu Hani yang bwru saja datang
"Makasih Han" ucap bu Yana sambil membalas pelukannya bu Hani
Setelah semuanya kembali ke Villa, pak Fajar masih ingin tinggal di makam sahabatnya
" Aku akan menepati apa janji ku kepadamu Yo, beristirahatlah dengan tenang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang" ucap pak Fajar
1 minggu kemudian bu Yana dan anak-anaknya sudah kembali ke Jakarta, Cindy yang masih kecil memang belum mengerti bahwa papanya telah meninggalkannya untuk selamanya, berbeda dengan Bunga yang selalu menangis memanggil papanya, karena Bunga dan Cindy sangat dekat dengan pak Handoyo