Chasing Love That Is Certain

Chasing Love That Is Certain
eps 18


 


Setelah Bunga selesai makan dan minum obat, Ade mengurus administrasinya agar bisa secepatnya pulang. Semua sudah selesai Ade dan Bunga berjalan kedepan menuju tempat parkir.


Ade memegang tangan Bunga untuk membantunya berjalan, setelah sampai diparkiran, Ade mencari taksi.


" Lo tunggu disini ya, gue cari taksi dulu"


" Mmm " seraya mengangguk


Setelah mendapatkan taksi, Ade membantu Bunga untuk masuk yang masih terlihat lemah.


" Jangan kasih tau mama aku ya, kalau aku masuk rumah sakit" ucap Bunga yang tidak mau membuat mamanya khawatir


" Oke,," jawab Ade


" Makasih kamu udah bantuin aku dari tadi" sambil tersenyum ke arah Ade


" mmmm" ucap Ade


Setelah mengantar Bunga kerumahnya, Ade membantu Bunga turun dari taksi, dan langsung pamit untuk pulang


" Lo masuk duluan, baru gue pulang"


" Makasih ya, maaf udah merepotkan kamu " ucap Bunga


Dan Ade hanya diam tidak membalas perkataan Bunga


Bunga yang melihat Ade diam, langsung masuk ke dalam rumahnya dan Ade pun langsung pulang


Bunga melihat ponselnya dan ada pesan yang masuk


" Tas lo ama gue, nanti malam gue sama Eca mau kerumah lo" ucap Dea


" Oke " jawab Bunga


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Bunga langsung berganti pakaian dan ingin tidur kembali


" Kak, gue ada PR nih, bantuin ya" ucap Cindy yang tidak tau kalau kakaknya sedang sakit dan baru pulang dari rumah sakit


" Gue ngantuk, nanti malam gue bantuin"


" Yaahh, mending gue kerjain sendiri " ucap Cindy yang kesal dan pergi keluar menutup pintu kamar Bunga


Eca dan Dea sudah sampai dirumah Bunga


" Assalamualaikum tante " sapa Dea dan Eca


" Walaikumsalam sayang, masuk yuk " ajak bu Yana


" Bunga ada tante?" tanya Eca


" Ada di atas, langsung aja kekamarnya " ucap bu Yana


" Makasih tan " ucao Dea dan menaiki tangga untuk ke kamar Bunga


" Gimana keadaan lo sekarang?" tanya Eca


" Udah mendingan" ucap Bunga yang sudah duduk dipinggir tempat tidurnya


" Nih tas lo " ucap Dea yang memberikan tas Bunga


" Kak Rafi bareng kalian pulang tadi?" tanya Bunga sambil meletakkan tasnya ke dalam lemarinya


" Kami bawa mobil masing2, Lo tau gak apa yang dibilang Ade tadi dirumah sakit?" ucap Dea yang mulai penasaran


" Dia bilang apa?"


" Dia bilang kalau lo calon istrinya" ucap Eca


" Hah?? dia bilang gitu?" tanya Bunga dengan ekspresi kaget


" Iyaa dan kak Rafi juga sama kagetnya dengan kami pas dengar Ade ngomong gitu" sambung Dea


" Mmmm" Bunga bingung bagaimana menjelaskannya kepada kedua sahabatnya


" Lo kenapa?? kok bisa Ade ngomong gitu, apa benar kalian mau menikah??" tanya Eca yang semakin penasaran


Sekarang Bunga tidak bisa menghindar dari pertanyaan sahabatnya


" Sebenarnya gue sama Ade memang mau nikah" ucap Bunga


" Hahh?? kok bisa? dan Ade setuju?" tanya Eca yang semakin mengintrogasi Bunga


" Sssttttt, kalian jangan berisik ntar mama gue kesini lagi " ucap Bunga


" Teruss?? "


" Iya gue mau nikah sama dia, karena kami dijodohkan sejak kami masih berumur 5 tahun " ucap Bunga yang menatap kedua sahabatnya


" Teruss dia setuju nikah sama lo?" tanya Eca


" Mmmm, karena itu juga wasiat dari alm. pappa gue" ucap Bunga yang menunduk


" Gue sekarang masih belum percaya,, kapan kalian nikah" tanya Dea


" Dua bulan lagi, kalian jangan cerita ke siapapun ya, pinta Bunga


" Kalian kan masih sekolah " sambung Ecaa


" Gue bukannya gak senang dijodohkan sama Ade, kalian tau kan? kalau gue juga mencintai dia udah dari dulu, tapi gue pengen sekolah sama kuliah dulu " jawab Bunga yang terlihat sedih


" Mmm, ini mungkin keputusan yang terbaik buat lo sama Ade, lo juga masih bisa lanjut sekolah bahkan sampai kuliah " tutur Dea yang ingin menghibur Bunga


Setelah bercerita panjang lebar, Eca dan Dea pamit pulang karena sudah pukul 21.20 Wib dan diantar oleh Bunga sampai kedepan.