
Hari ini Bunga dan Cindy tidak pergi sekolah, karena hari ini akan di adakan pengajian dan siraman di kediamannya.
Bu Yana juga telah mengambil cuti, untuk mempersiapkan acara pernikahan anaknya. Satu persatu kerabat dan teman bu Yana sudah mulai datang. Parkiran saat ini sudah sampai keluar karena tamu sudah berdatangan.
"Nanti mama jemput ya," ucap bu Yana kepada Bunga. Karena Bunga saat ini sedang dirias.
"Iya ma, kalau ada kak Aci tolong suruh kesini ya ma," pinta Bunga.
Aci adalah sepupunya Bunga, yang sekarang sudah semester 3 di UI (Universitas Indonesia).
Setelah selesai dirias, Bunga bersiap-siap untuk turun kebawah.
"Kak, kok lama?" tanya Bunga kepada Aci yang baru datang.
"Iya, tadi bantuin orang di bawah, waahh calon mantennya cantik banget," goda Aci yang membuat Bunga merasa malu.
"Kak, gue gugup nih," ucap Bunga.
"Gapapa, biasanya kalau orang mau nikah juga merasakan hal kayak gitu kok," Aci dan Cindy menuntun Bunga melewati tangga.
Saat ini, Bunga memakai Abaya bewarna Pink dan selendang juga bewarna pink, saat Bunga turun, semua mata tertuju padanya. Mereka kagum dengan kecantikan Bunga, apalagi di tambah dengan polesan make up.
"Kak, gue malu diliatin orang," Bunga semakin gugup karena hampir semua mata tertuju padanya.
"Karena lo hari ini buat orang pangling liat ngeliat lo," ucap Aci.
"Tumben punya malu lo kak, hhehe," sahut Cindy yang tertawa.
Saat ini, Bunga duduk disamping bu Yana dan Cindy. Acara pengajian sudah dimulai dan sekarang Bunga meminta doa dan restu kepada mamanya. Bunga tidak kuasa menahan tangisnya begitu juga bu Yana yang mendengar perkataan\- perkataan Bunga yang begitu menyentuh.
Bunga memeluk dan mencium mamanya. Setelah itu berpindah ke Cindy, Cindy langsung memeluk kakaknya dengan erat.
Aci mengambil foto Bunga dari awal pengajian sampai akhir, dan dikirimkannya pada Ade.
*******
Di waktu yang bersamaan, di kediaman pak Fajar juga melaksanakan pengajian.
"Sayang, kamu lagi ngapain? Pengajiannya mau dimulai," ucap bu Hani.
Ponsel Ade berdering karena ada pesan yang masuk. Pesan itu dari Aci yang mengirim foto-foto Bunga saat pengajian.
Ade yang melihat foto Bunga, hanya tersenyum karena kecantikan calon istrinya tersebut.
"Cantik," ucap Ade ketika melihat foto Bunga yang sedang mengaji.
Ade juga turun ke lantai bawah, untuk melakukan pengajian. Ade bersimpuh di depan kedua orang tuanya untuk meminta restu. Bu Yana tidak kuasa menahan tangisnya, karena anak semata wayangnya akan segera berumah tangga.
Sekarang Ade akan memulai acara siraman. Semuanya berjalan dengan lancar sampai akhir. bu Yana merasa senang, karena semua acaranya berjalan dengan lancar.
Pengajian dan siraman yang di adakan dirumah Ade sudah selesai, satu persatu kerabatnya pun sudah mulai pulang. Ade kembali ke kamarnya dan membuka ponselnya. Sekarang ia melihat foto\- foto Bunga yang dikirim Aci tadi padanya.
"Apa gue bisa nanti nerima lo jadi istri gue," gumamnya.
Saat ini Ade masih belum yakin dengan perasaannya kepada Bunga. Apakah Ade sudah mencintainya atau belum. Akan tetapi ia tidak bisa melihat Bunga berdekatan dengan lelaki lain.
*********
Setelah acara selesai, Bunga berganti pakaian, dan mengobrol dengan sepupunya. Hanya tinggal beberapa orang dirumah Bunga, karena kerabatnya yang lain sudah pulang dari tadi.
Besok adalah hari Jum'at, dimana Bunga dan Ade akan menjadi suami istri. Bunga saat ini sudah berada di kamar tidurnya bersama Aci.
"Lo kenapa?" tanya Aci yang melihat Bunga sedang melamun.
"Apa Ade nanti bisa nerima gue jadi istrinya," jawab Bunga sambil mengubah arah posisi tidurnya menghadap Aci.
"Gue yakin, Ade nanti pasti akan cinta sama lo" ucap Aci.
"Udah 5 tahun kak, Ade gak pernah membalas perasaan gue," ucap Bunga.
"Lo nya harus sabar menghadapi dia, gue yakin dia suatu saat akan melihat kehadiran lo."
"Gue juga maunya gitu kak, lo tau kan sampai saat ini gue belum pernah pacaran, itu karena gue masih mencintai dia," ucap Bunga.
"Pokoknya lo jangan mikir yang macem2 dulu, gak baik." ucap Aci.
Bunga hanya terdiam dan melihag langit- langit kamarnya. Tidak lama kemudian ia langsung tertidur.