
Sesampainya dirumah pak Handoyo mencari keberadaan istrinya bu Yana, dan pak Handoyo berjalan ke kamar putrinya. Di sana dia mendapati istrinya yang juga ikut tertidur dengan kedua putrinya
"Ma," panggil pak Handoyo pelan kepada istrinya, ia takut anaknya nanti bangun karena mendengar suaranya.
"Mmmm,"sambil menguap bu Yana melihat pak Handoyo sudah duduk didekatnya.
"Keluar bentar yuk," ajak pak Handoyo kepada istrinya.
"Papa udah makan?" tanya bu Yana.
"Belum ma, tolong siapin ya," sambil tersenyum kepada istrinya.
Pak Handoyo dari awal menikah sampai memiliki 2 orang anak perlakuannya tetap sama kepada bu Yana,baginya istrinya lah alasan dia untuk tetap sembuh dari penyakitnya itu.
"Pa,,, udah siap nih." panggil bu Yana.
"Iya ma," sambil berjalan ke meja makan.
"Ma seharian tadi anak2 ngapain aja?" tanya pak Handoyo.
"Biasa pa, main sama belajar, papa gimana dikantor tadi?''
"Alhamdulillah baik mah, tadi papa ketemu sama pak Fajar, dan ada yang penting juga mau papa sampaikan kepada mama." terang pak Handoyo kepada istrinya.
"Apa pa? Mama jadi penasaran, gak macam-macam kan?" goda bu Yana kepada suaminya.
"Hhee,,, macam-macam gimana sih ma, tadi itu, papa minta pak Fajar datang ke kantor kita, karena ada yang perlu papa sampaikan kepadanya," jelas pak Handoyo kepada istrinya.
"Lalu? Papa bilang apa ke pak Fajar," tambah bu Yana semakin penasaran.
"Iya,,, papa bilang sama dia kalau papa ingin menjodohkan putri kita kepada putranya," belum selesai pak Handoyo berbicara sudah dipotong oleh istrinya.
"Ya bukan sekarang ma, nanti setelah anak kita besar dan sudah duduk di kelas SMA," terang pak Handoyo.
"Terus gimana tanggapan pak Fajar?" tambah bu Yana semakin penasaran.
"Beliau setuju dengan keinginan papa, apa mama setuju dengan pilihan papa?" tanya pak Handoyo kepada istrinya.
"Mama setuju kalau itu menjadi keputusan papa, terlebih lagi keluarga bu Hani juga sangat baik pa," jelas bu Yana.
"Itulah alasan papa ma, sekarang kan mama udah setuju ni, kalau papa nambah lagi gimana ma?" tanya pak Handoyo yang terkekeh kepada istrinya.
"Mau nambah nasi? Sini piringnya," pinta bu Yana yang mulai kesal kepada suaminya.
"Hemm, papa becanda ma, mama tu sangat berharga bagi papa, karena telah memberi papa malaikat-malaikat yang menggemaskan," ucap pak Handoyo.
"Mama juga makasih papa begitu menyayangi kami," ucap bu Yana.
"Hmm,,, kita tidur yuk ma, besok kita ajak anak-anak jalan yah," tutur pak Handoyo.
"Kemana pa? Udah lama kita gak jalan-jalan ya pa," terlihat gambar bahagia di raut wajah bu Yana.
"Liat besok aja ya, papa udah ngantuk nih," pak Handoyo berjalan ke kamar sambil memegang tangan istrinya.
Pak Handoyo memang pasangan yang harmonis, jarang sekali mereka beradu argumen.
Keesokan harinya pak Handoyo sekeluarga pergi mengajak keluarganya liburan mendadak ke puncak, gak tau kenapa perasaan bu Yana di perjalanan tidak enak.
Sesampainya di puncak, pak Handoyo mengeluarkan barang bawaannya dibantu sopir mereka dan masuk ke dalam villa milik pak Handoyo.
setelah bermain dengan anak-anaknya dan merasa capek, pak Handoyo pergi kekamarnya untuk beristirahat dan berniat untuk tidur.
Sampai di didepan pintu kamar, dada pak Handoyo terasa sakit, bu Yana yang melihat pak Handoyo akan jatuh berlari untuk menangkap badan pak Handoyo agar tidak jatuh ke lantai.