Adelia

Adelia
Bab 9


"siapa Vania?" tanya Ayahnya Adelia.


"itu Vania-". Haidar belum menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba saja pintu UGD pun terbuka dan tampaklah seorang dokter yang menangani Adelia tadi.


"bagaimana keadaan anak saya dok?". ucap ayah Adelia dengan rasa gelisah.


"hmmm begini pak kami harus melakukan operasi sekarang juga karena pukulan yang di kepala Adelia cukup keras sehingga kemungkinan besar saat ia sadar nanti Adelia akan lupa ingatan. ucap dokter.


Seketika bibir ayah Adelia bergetar menahan tangis. Berbeda dengan ibu Adelia dan juga Aditya ia sangat bahagia karena Adelia akan lupa ingatan sehingga mereka bisa memanfaatkan kesempatan itu.


"hah bagaimana bisa anak saya lupa ingatan dokter". ucap ibu Adelia dengan air mata buayanya.


"baiklah dokter jika itu yang membuat Adelia sembuh lakukan saja dok". ucap ayah Adelia dengan menahan air matanya.


"baiklah pak sekarang ikut dengan suster saya untuk menandatangani beberapa berkas sebelum melakukan operasi". ucap sang dokter.


"baiklah dokter". jawab ayah Adelia.


"Haidar sayang kamu kenapa nak?". ucap ibunya Haidar.


"ini semua salah Haidar bun". ucap Haidar yang mulai ingin menangis.


"hah maksud kamu apa Haidar". heran ibu Haidar. "Sini ikut ibu nak". ibu Haidar mengajak Haidar pergi ke tempat yang sepi ia ingin mengetahui yang sebenarnya apa yang terjadi.


"sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Haidar". ucap ibunya yang ingin tahu.


"semuanya salah Haidar bun". akhirnya air mata Haidar tidak bisa di bendung lagi.


"Sebenarnya Vania telah merencanakan sesuatu untuk Adelia. Aku mengikuti mereka berdua. Saat itu aku sudah melihat motor Adelia sudah terparkir di depan cafe yang sudah beberapa hari ini tutup. Saat aku mencarinya di sebuah gudang aku sudah melihat Adelia tergeletak tak berdaya di sana dan darah yang bercucuran dimana-mana bun". ucap Haidar dengan menghela nafasnya.


"apakah masih ada yang belum kamu ceritakan?" curiga sang ibu. "kenapa Vania melakukan semua itu?". tany sang ibu kembali.


"Itu itu karena Haidar bun. Kemarin saat Vania mengajak Haidar ke sebuah cafe. Vania menyatakan perasaannya pada Haidar bun. Tapi Haidar menolaknya. Vania sangat marah saat itu. Dan aku meninggalkannya sendirian disana bun". cerita Haidar.


"terus dimana kesalahan Adelia Dar?" tanya ibu Haidar lagi.


"Vania bertanya kepada ku bun apakah aku menyukai Adelia, tapi aku tidak menjawabnya bun dan itu lah membuatnya marah ". ucap Haidar dengan menjelaskan semuanya.


"apakah kamu menyukai Adelia Haidar?" tanya lagi.


" aku tidak tahu bun tapi setiap kali aku dekat dengannya aku sudah mulai merasa nyaman dan juga dia lah yang membuatku tidak fokus belajar setiap malamnya bun". ucap Haidar.


"pertanyaan bunda apakah kamu menyukainya?". tanya ibu Haidar.


"tidak bun tidak aku tidak menyukainya". jawab Haidar secara tidak sadar ia hampir membentak ibunya.


"terus kalau kamu tidak menyukainya kenapa kamu bilang sama ibu kalau kamu nyaman saat bersama dengannya dan juga kenapa kamu tidak mengatakan kepada Vania kalau kamu tidak menyukainya Haidar". ucap ibu nya Haidar.


"aku tidak tahu bun kenapa aku tidak bisa menjawab hak sepele seperti itu aku tidak tahu bun". kata Haidar


"aku tahu jawaban hati Haidar". ucap ibu Haidar sambil tersenyum manis kepada Haidar.


"maksud bunda?" tanya Haidar.


"sudah sudah ayo kita masuk lagi ayo ayo sini sayang". ajak ibu Haidar.


"hmmm baiklah bun". akhirnya mereka berdua masuk menuju ke ruang operasi.


Di depan pintu ruang operasi tampaklah ayah Haidar dan juga keluarga Adelia. Mereka kelihatan sangat cemas.


"Dasar kau gara-gara kamu anakku seperti ini". ucap ayahnya Adelia.


Seketika Haidar dan ibunya kaget karena bagaimana bisa ayahnya Adelia tahu.


"maksud om apa?" tanya Haidar.


"kamu bertanya apa maksud dari kata-kataku hah". bentak ayah Adelia. "jangan pura-pura polos kamu yah, aku tahu yang sebenarnya karena aku mendengarkan percakapan kalian". sambungnya sambil menahan emosinya. "Adelia memang sering cerita tentang kamu Haidar jadi aku kira kalian saling menyukai ternyata aku salah hanya Adelia lah yang menyukaimu dan kamu tidak. Tapi atas keadaan Adelia sekarang itu juga karena kamu. Andai saja kalian tidak saling kenal mungkin Adelia tidak akan seperti ini". air mata ayah Adelia sudah tidak bisa ditahan lagi ia menangis di pelukan istrinya. "Dia anak perempuan ku satu-satunya dan kamu malah membuatnya seperti ini.Apa salah Adelia terhadapmu hu hu hu". tangis ayah Adelia.


"sabar yah sabar samua nya pasti akan baik-baik saja kita doakan Adelia aga operasinya lancar". ucap ibu Adelia.


Di rumah Vania


Ayahnya Vania sedang mondar mandir di ruang tamu ia sangat cemas dengan Adelia. Dia juga tidak tahu siapa itu Adelia. Akhirnya ayah Vania menelfon ayahnya Haidar.


"lebih baik aku telfon Winata saja mungkin dia bersama dengan Haidar". ucap pda dirinya sendiri.


"halo" jawab ayah Haidar di telfon.


" Winata ini aku Dimas " ucap Dimas Ayah Vania.


"sebaiknya kamu kesini dan juga ajak anak mu itu". jawab ayah Haidar dengan tegas.


"kamu dimana" tanya ayah Vania.


"aku di rumah sakit ***** segera datang dan ajak anakmu". jawab ayah Haidar.


"hmmm baiklah". seketika ayah Haidar langsung memutuskan sambungan telfonnya secara mendadak.


Mungkin dia sudah tahu semuanya. ucap ayah Vania.


"Vaniaaa". teriak ayah Vania.


"i-i-iya ayah sebentar" jawab Vania dengan berbata-bata.


Saat Vania sudah sampai di depan ayahnya ia hanya bisa menunduk tidak sanggup menatap ayahnya.


"Sekarang ikut aku". ucap ayahnya Vania denga tegas.


"kemana ayah?". tanya Vania.


"nggak usah banyak tanya ikut saja " jawab ayahnya. Vania hany menganggukkan kepalanya ia tidak sanggup untuk bertanya lagi .


Setelah mereka berisiap-siap. Meraka pun berangkat ke rumah rumah sakit yang sudah diberitahukan Winata ayahnnya Haidar.


Setelah sampai di sebuah rumah sakit yang ditunjukan Winata. Vania merasa bingung kenapa dia diajak ayahnya kerumah sakit.


"Ayah siapa yang sakit?". tanya Vania.


"kamu nggak usah banyak tanya nanti kamu juga pasti akan tahu kok tenang aja". jawab ayah Vania dengan senyum menyerigai.


"nggak aku nggak mau. Ayah sedang merencanakan sesuatu kan?. Ayah menjebak Vania kan ayah?. Ayah memanggil polisi untuk datang kesini kan ayah?" ucap Vania yang sudah ketakutan.


"kenapa juga kamu takut? Bukan kah kamu sudah biasa melakukan hal seperti ini? Jadi membunuh seseorang bagi mu itu sudah hal sepele kan?" sindir ayah Vania


"aku memang sudah terbiasa menyiksa seseorang tapi jika membunuh seseorang aku tidak pernah. Kemarin itu hanya lah kecelakaan ayah". bentak Vania