
Adelia sampai dikelas, Jun tidak hadir hari ini, Adelia melihat bnagku kosong jun dan seakan melihat jun ada disana duduk seperti biasanya, Adelia berkata " Ya ammpun, padahal seharu ini saja jun tidak terlihat, kenapa bayangnya dan kata puisi nya teringat sekarang" Kelas dimulai hingga jam sekolah berakhir
Ruang Club puisi,
Peronika sedang merapikan buku yang baru saja sampai kesekolah, adelia sedang mengambil sisa buku di kantor guru,
terlihat, Peronika belum juga selesai menaruh buku pertama yang diambilnya dalam kardus, dia terlihat asik membaca cerita didalamnya,
Adelia masuk, melihat belum satu bukupun dirapihkan dan peronika sedang membaca buku yang dipegang,
"Peronika?" Tanya adelia bingung
"Ya adelia?" jawab peronika memandang adel yang baru masuk melihatnya membawa sekardus buku lagi dia tersadar
" hehehe, aku malah membaca nya, ehek" memeletkan lidahnya imut nya Peronika
"Dasar," jawab adelia, Adelia merapihkan buku dan juga membersihkan debu dengan kemoceng,
"Pulang yuk" Ajak Adelia,
"Ayo, tidak mengunjungi jun?" Peronika ingin melihat jun
" Tidak usah, dia sedang mengunjungi kuburan" jawab adelia
" oh, gitu ya" ucap peronika
mereka kembali kerumah dengan selamat,
----------------
keesokan harinya,
" Adelia, Kau dengar kan kabar jun" ucap Peronika menemuinya di kelas adelia, " kenapa dia ?" Tanya Adelia, " Dia pindah sekolah del" Ucap Peronika
"Apa!" jawab adelia " kemana? " lanjut tanya adelia,
" kata guru bahasa dia pergi, untuk belajar keluar negeri, Dee terma yang menyuruhnya" ucap peronika tengah duduk bersama adelia
"Ahh, yaampun, Dee terma baik sekali, " Adelia menghela napas
" Tidak apa-apa ?" peronika melihat adel menitihkan airmatanya
"hei del kau kenapaa!, jangan menangis, del, del" panik peronika melihat adel menutup mukanya yang menitihkan air mata
tiba-tiba jun datang,
" Putri,
Sedalam itukah lautan hatimu untukku,
Sekabar kepergianku yang terbungkus salah
maaf,
"
Jun ter tawa menutup mulutnya, sungguh gadis yang manis pikir jun,
Adelia menatap jun, air matanya sudah basah dipipinya, Peronika juga ikut tertawa,
Adelia dikerjai mereka, "hue jahat kalian, hua, jahat" adelia menutup mukanya yang terlihat baginya memalukan
"Hihihi, kita berhasil jun, dia sangat murung kemarin," ucap peronika, "hahaha, " tawa jun bersama mereka, membuat suasana pagi agak berisik,
setelah sesi belajar berakhir, mereka berkumpul diRuang club,
ada beberapa anak perempuan yang datang, mereka adalah adik kelas yang ingin bergabung di club,
Jun berkata "Sarma?, "
"ia saya" ucap sarma, anak dengan kaca mata dan berambut panjang,
"Coba buat puisi dari objek ini" Terlihat serius namun jun tak memikirkan sesuatu selain menyuruhnya membaca puisi
"Buku
terlapis tebal dalam kerangka buku,
terlapis juga hatiku yang membeku didalamnya
terlapis lapis perasaan yang akan kubuang
tempatnya menjadi berharga karena perasaan ini telah berkumpul didalamnya,
"
Sarma menyelesaikan puisi buatannya,
"indah banget," Ucap Jun
"sepertinya kalian mumpuni berpuisi, walaupun kita tidak dibimbing oleh orang yang profesional tetapi kita bisa menulis semau kita, benar?" ucap jun
mereka menjawab " YAA"
Sarma dan sirma adalah gadis kembar adik kelas Adelia, dengan bergabungnya mereka menjadi hal baru untuk memulai Club puisi,
jun menjelaskan, Adelia adalah ketua tim seperti yang kalian lihat, dialah dewi dari dewi dewi yang bertebaran dimanapun, dan peronika jun menjelaskan dia adalah seperti aku penyair juga, kami penyair bebas,
sirma dan sarma mendengarkan jun berbicara, sarma berkata " kak jun, anda terlihat tidak berpuisi semenjak kita disini,?
"oh itu, aku sudah mengendalikan rasanya, semenjak bertemu seseorang, aku tidak menyanjung apapun, semua sudah kembali pada aku yang dulu," jawab jun
sarma mendengarkan, sirma berkata " Seperti rumor kak jun selalu berkata melebihkan seakan terdengar puisi, sudah tidak dilakukan lagi?, sayangnya"
"Ya, tetapi aku bisa menulis beberapa bait, aku bebas berkarya kan?" ucap jun
" YA, kami juga melihat kebebasan kal jun, kak peronika menelanjangi kak adelia" ucap sikembar
Adelia seakan takut menutup tubuhnya, peronika dan jun melihat adelia,
"Hahaha, bukan menelanjangi, Adelia adalah objek inspirasi, seperti saat kamu pertama kali meminum kopi hitam tanpa gula, yakan?" jun menjelaskan
"Ya, benar. " Sikembar setuju senang
"Apa ada yang ditanyakan lagi?" ucap jun
" Apa kegiatan kita?" tanya sikembar
" sekarang tidak banyak untuk dikerjakan, kalian bisa membaca buku disini, sudah kami sediakan beberapa buku, dan jangan lupa masuk grup chat ya, kita saling mengenal satu sama lain di club ini, oke?" ucap jun
" Oke" Sikembar setuju dan mulai memilih buku, mereka sudah tertarik saat masuk ruang club, ada irama kecapi dari radio rekaman, ada wewangian untuk mengharumkan ruangan, ketenangan bagi pembaca dikala luang .
semua orang sibuk membaca buku,
Adelia tengah asik membaca, melihat jun yang sudah selesai berbicara dengan adik kelas,dia berpikir untuk berbicara pada jun,
"Jun buku apa ini?" tanya Adelia
"Buku puisi," jawab Jun melihat adel memegang buku 'Kesatria'
" Iya memang buku, apakau tidak bisa membuat puisi lagi?" tanya adelia
Jun menatapnya, apakah gadis ini menyukaiku yang selalu berbait tanpa sadar apapun?,pikir jun.
" Bagaimana ya,
hati ini sudah setenang danau,
tak ada yang bisa meriakkan permukaannya, tak ada yang bisa menenggelamkan sesuatu lagi kedalamnya,
mungkin terlihat aku terpuruk,
namun saat ini aku merasa baik - baik saja
"
Jun tersenyum kepada adelia
"Hee, apakahkah itu kata biasa atau puisi, ?" Adel bertanya
"Puisi " sikembar mulai merespon dari mejanya
"Hahah, iya seperti itulah, ungkap dari hatimu, cari kata yang mirip akan sifatnya" Ucap jun
" Aku, juga ingin belajar" ucap adelia
"Ya udah, baca saja puisi-puisi disini, kita akan meningkatkan kebebasan kita dalam bait puisi" ucap jun
"Hihihi, kalian sangat dekat oe, ada adik kelas disini" ucap Peronika
Adelia tersadar bahwa dia sudah sangat dekat dengan jun, (menjauh ketempat semual),