Adelia

Adelia
Bab 7


"e-eh heheh maaf yah gaes" Adelia dengan memamerkan deretan giginya. "tadi dijalan ada yang masuk dimataku sehingga membuatnya seperti ini". tambah Adelia dengan meyakinkan teman-temannya.


"emang lu nggak pake helm Del". tanya Kirana dengan tatapan menyelidik.


"eh iya aku lupa pake helm karena buru-buru tadi heheh". jawab Adelia dengan berbohong.


"ohhh pantas, nanti matamu pasti sembuh sendiri kok". ucap Friska dengan lembut.


Pulang sekolah


Adelia sedang berada di parkiran. Ia sedang memerhatikan Haidar dari kejauhan yang sedang berbicara dengan temannya.


Tiba-tiba datang Vania entah dari mana ia muncul. Vania dengan lembutnya mengajak Adelia.


"Hai Adelia". ucap Vania dengan senyum kebohongannya.


"eh-h-hay Vania". ucap Adelia dengan gugup karena ia takut nanti Vania akan marah karena ia selalu menatap Haidar dari kejauhan.


"santai aja Del". tambah Vania


Adelia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Del kita ke cafe yuk. Aku ingin kenal lebih dekat dengan kamu". ucap Vania .


"hmmmmm". Adelia hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"aku nebeng yah sama kamu, karena aku naik angkot kesini". ucap Vania dengan meyakinkan Adelia.


"hah kamu naik angkot kesini cuma ngajak aku ke cafe doang?". tanya Adelia dengan kagetnya.


"hmmm nggak gitu juga sihhh tadi aku cuma kebetulan liat kamu jadi aku sekalian aja ngajakin kamu". ucap Vania dengan meyakinkan Adelia.


"baiklah biar aku yang boncengin kamu". ucap Adelia.


Disisi lain Haidar melihat mereka berdua dari kejauhan. Haidar merasa curiga terhadap Vania. Ia takut Vania akan mencelakai Adelia. Haidar pun mengikuti mereka berdua secara sembunyi-sembunyi.


Vania tersenyum menyerigai karena ia sudah merencanakan sesuatu.


~


POV


" gaes aku butuh bantuan kalian ". ucap seorang perempuan yang tak lain adalah Vania.


"bantuan apa Van?". ucap salah satu teman Vania yang bernama Mika.


Mereka ada lima orang yang bernama Mika, Sherly, Mira, Fany, dan Vania. Mereka berlima sudah terkenal kenakalannya dimana-mana. Orang tua mereka saja sudah angkat tangan atas perlakuan mereka dan pihak sekolah hanya membiarkan mereka melakukan apapun asal jangan di lingkungan sekolah.


"mencelakai Adelia" ucap Vania dengan senyum menyerigai.


"hahaha". tawa mereka.


"baiklah, ajak aja ke cafe yang biasa terus kami yang urus". ucap salah satu temannya.


"Hahaha baiklah". tambah salah satu temannya lagi.


"baiklah ayo kita beraksi Hahaha". ucap Vania dengan tertawa kemenangan.


AUTHOR




"Vania kita ke cafe mana nih" tanya Adelia karena sedari tadi ia mengemudikan motornya tetapi Vania tidak mengisyaratkannya untuk berhenti.



"sebentar lagi. Itu itu ada cafe yang sepi kita kesana aja". jawab Vania.



"kenapa kamu malah pilih yang sepi?". heran Adelia karena filingnya merasa akan terjadi sesuatu padanya nanti.



"aku tidak suka ke cafe yang rame, berisik". ucap Vania agar Adelia tidak curiga terhadapnya.



Saat Adelia memasuki cafe tersebut ia merasa akan terjadi sesuatu.



"kita duduk disini aja yah". ucap Vania dengan manisnya.



Saat Adelia duduk ia curiga dengan empat orang perempuan yang duduk di meja yang tak jauh dari mereka.



"tunggu sebentar yah Del aku ingin ke toilet dulu"ucap Vania berbohong.



Saat Adelia sedang sendirian. Keempat teman Vania pun akhirnya beraksi.



"sini kau" ucap salah satu dari mereka.



"siapa kalian hah?". ucap Adelia dengan ketakutan.



"nggak usah banyak tanya. ikut saja kau". tambah salah satu dari mereka.



"tolonggggggg tolongggg" teriak Adelia.



"jangan berisik disini tidak ada yang bisa nolongin kamu hah". ucap Vania yang tiba-tiba datang.




"tolong? tolong loh bilang hah?" ucap Vania sambil menampar Adelia.



"ini semua karena mu Adelia. Tamparan ini belum seberapa hah". ucap Vania dengan suara yang mulai meninggi.



"apa salah ku Van". tanya Adelia dengan derai air mata yang membanjiri pipinya.



"kau bertanya apa salah mu hah. Karena kau Haidar tidak menerima cinta kuuuu". jawab Vania.



"bukankah kalian pacaran?". tanya Adelia lagi.



"ti-da-k, yahhh kami tidak pacaran puas kamu". Kini emosi Vania sudah meledak-ledak tidak bisa dibendungi lagi.



"ta-ta-tapi waktu itu Haidar bil--". belum selesai Adelia mengucapkan kata-katanya Vania sudah bicara.



"iya dia bilang kalau kami pacaran, tapi itu semua bohong. Keesokan harinya aku ingin serius pacaran dengan Haidar tapi ia menolak mentah-mentah cintaku, kau tahu. Itu semua karena dirimu". bentak Vania



"apa salah ku kenapa aku Van". tanya Adelia.



"kau masih belum mengerti". ucap Vania.


Adelia hanya bisa menangis karena ia tidak mengerti apa-apa.



"karena Haidar mulai menyukaimu Adeliaaa". lagi-lagi Vania teriak.



*hah tidak mungkin itu tidak mungkin, Haidar sangat membenciku bagaimana bisa ia menyukaiku. Sepertinya Vania salah paham*. ucap Vania dalam hati.



"iya Adelia, saat aku bertanya kepadanya apakah dia menyukaimu tapi dia memang tidak menjawab. Tapi aku sudah tahu dia menyukaimu". tambah Vania dengan mengusap rambut Adelia.



Kini Adelia sangat ketakutan ia sudah putus asa karena ia yakin mereka berempat adalah teman Vania. Ia hanya bisa pasrah sekarang karena ia hanya sendirian.



Plakkk



Sekali lagi Vania mendaratkan tangannya di pipi Adelia. Kini sudut bibir Adelia pun berdarah.



Plakkkk



Tamparan berikutnya dari teman-teman Vania.



Sehingga mereka berlima menampar, dan ada juga menjambak rambut Adelia. Adelia hanya bisa menahan semuanya, hingga penglihatan Adelia gelap. Adelia tergeletak pingsan dilantai.



"cukup gaes". ucap Vania dengan panik



"Van, apakah dia meninggal?"tanya salah satu temannya.



"ayo kita pergi sekarang". ucap Vania dengan tampang kagetnya. Dan teman-teman Vania hanya mengangguk menandakan iya. Karena mereka juga merasa ketakutan hingga mereka tidak sanggup untuk berdiri dengan benar. Kaki mereka bergetar, lari pun ia merasa tidak sanggup.



Disisi lain Haidar melihat motor Adelia yang terparkir di sebuah cafe yang sudah lama tidak terbuka. Haidar merasa bingung ia langsung masuk ke dalam cafe tersebut. Namun Cafe itu kelihatan sepi. Haidar mencari Adelia kesana kemari namun nihil ia tidak melihat Adelia dimana pun.



"tapi ada satu tempat yang belum ku periksa". ucap Haidar.



Saat Haidar masuk kedalam gudang cafe tersebut. Ia melihat Adelia yang sudah tergeletak tak berdaya dilantai. Haidar melihat darah Adelia berserakan dimana-mana. Seketika bibir Haidar bergetar karena menahan tangis dan juga kaget.



"Adeliaaaaaaaa". teriak Haidar. Haidar berlari kearah Adelia. "Adeliaa bangun Del kumohon bertahanlah. Maafkan aku, aku terlambat datang menolong mu Adelia. Maaf Del. Buka matamu". ucap Haidar sambil menepuk-nepuk pipi Adelia.



"tolonggggg tolong saya". teriak Haidar minta tolong. Namun nihil tidak ada yang mendengar.



Haidar mengangkat tubuh Adelia dari gudang itu. Dan membawanya kearah motornya. Haidar mendudukkan Adelia dimotornya kemudian membawa motornya untuk mencari sebuah rumah sakit terdekat.



**Jangan lupa like, koment, and vote yah Terima kasih~. 🤗**