
Adelia duduk di samping ranjang rumah sakit tempat Jun berbaring koma. Dia duduk dengan penuh perasaan, mata berkaca-kaca, dan tangan memegang tangan Jun yang tak berdaya. Wajahnya mencerminkan campuran antara ketakutan dan harapan, dengan mata yang penuh kehangatan. Rambut panjangnya tergerai lepas, dan dia mengenakan pakaian sekolah, menunjukkan fokusnya pada orang yang dia cintai.
Jun, terbaring di ranjang dengan peralatan medis yang mengelilinginya. Tubuhnya terlihat rapuh dalam balutan selimut rumah sakit, dan wajahnya tenang meskipun koma. Detak jantungnya yang lemah terdengar melalui monitor. Meskipun tidak sadar, terlihat sebagai sosok yang masih mendekatkan diri dengan Adelia.
Seluruh ruangan terasa tenang. Potongan bunga segar di atas meja memberikan aroma menyegarkan, dan terdengar suara mesin rumah sakit yang berdering dengan halus.
Dalam situasi yang sangat sulit seperti ini, wanita tersebut bisa mengucapkan kata-kata yang penuh perasaan dan harapan kepada Jun
"Jun, aku tahu kamu mendengarkan aku, meskipun kamu tertidur. Aku ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu. Kita akan melalui ini bersama-sama. cepatlah sehat Jun."isak Adelia
"Adel sayang, ayo kita keluar semua sudah dirapihkan" bisik Ibu adelia menarik tangan adelia menuju keluar dari ruangan . mereka memutuskan pulang untuk kembali lagi esoknya menjenguk jun yang sedang koma.
Dee terma menatap ruangan , Wajah jun terlihat dari sela kaca dipintu ruangan,
"Nak , kenapa kamu"seakan ada roh yang berbisik kata itu ditelinga Dee terma, air matanya menetes menutupi pipi dan berakhir dibibirnya. "Aku kenapa?" menyentuh pipinya yang basah Dee terma nampak tidak sadar telah menangis.
"Yah , aku ingin tidur bersama ibu malam ini " ucap Adelia lirih memegang tangan ibunya
"Ia sayang " jawab Firman mengusap kepala Adelia , malam itu menjadi malam yang penuh rasa takut pada mereka.
...****************...
"Peronika Cepat, " Ucap Adelia merapihkan buku Peronika yang terjatuh, mereka akan menjenguk Jun bersama guru bahasa ke rumah sakit.
"Iya , Pak firman, saya juga baru saja mendapatkan kabar setelah Jun tidak ada dirumah sakit" ucap Dee terma kepada pak firman dan istrinya.
"Apa? kenapa Jun tidak ada dirumah sakit mah" ucap Adelia saat masuk rumah dan melangkahkan kaki kearah ibunya yang sedang berbincang dengan Dee terma di ruang tamu.
"Adelia, tenang" ucap Ibu Adelia menenangkan adel dengan memeluknya.
"Tenang lah Adelia, itu berita baguskan Jun akan diobati dan pasti sembuh, tenanglah" Peronika memegang tangan Adelia saat ibu adelia memeluk Adelia.
"Dan aku mendapat kabar itu ulah Ayahnya Jun ," ucap Dee terma yang memaksakan dirinya berbicara agar semuanya jelas.
"Ayah? , Jun tidak pernah cerita tentang itu, aku sebenarnya siapa, baginya!?" pikir Adelia kesal dan sedih bergabung menjadi frustasi.
Adelia berhenti menangis dan memasuki ruangan, semua orang tidak bisa melakukan apapun , "Huuh... "Adelia duduk menghela napas diatas kasur tidurnya "Jun , Bisakah kita bertemu lagi" bisik Adelia Memeluk kakinya dan menangis.
...****************...
Adelia tidak masuk sekolah , perasaan malas dan frustasi memaksakan dirinya untuk berhenti tertawa, "emhh,nyam" Adelia sedang makan kue yang dibuat ibunya didepan TV .
"Adelia" Ibu Adelia mencari adelia dikamarnya , kemudian dia melihat adelia didepan TV.
"Sayang kamu tidak sekolah?" ucap Ibu Adelia mengelus kepala Adelia.
"Tidak mah, Aku butuh sendiri mah" Adelia menonton Tv dengan snacknya, dirinya bertingkah normal, Namun hatinya merasakan kesedihan , pikirannya hanya ingin kesendirian.
"Iya sudah, ibu akan menelepon ke Sekolah , izin sakit saja ya, ibu jago dulu saat seusiamu untuk bolos bermain" canda Ibu adelia untuk mencairkan suasana
"Terima kasih maa" sahut adelia memakan snacknya.
"Selamat pagi , Bu guru . ini ibunya Adelia ," ibu adelia menelepon guru sekolah meminta Adelia izin untuk masuk sekolah.
Hingga sore tiba , "Kerumah jun!"batin Adelia saat sedang tidur untuk merehatkan pikirannya,
bersambung--->