
Di cafe
Safira, Friska, dan juga Kirana. Mereka sedang menunggu Adelia, karena seperti biasa Adelialah yang harus ditunggu.
“Adel mana sih lelet banget, udah kebiasaan deh kayak gini.” ngomel Safira karena mereka sudah hampir setengah jam menunggu disana.
“Itu noh Adelnya.” kata Kirana sambil menunjuk ke arah Adelia. Mereka menganga saat melihat penampilan Adelia yang begitu cantik dengan gaun hijau tuanya ditambah dengan rambutnya yang diangkat ketas. Sehingga semua orang melihatnya dengan tampang yang mengagumi.
“Haiii, yang biasa dong liatnya.”sapa Adelia saat melihat teman-temannya yang terus saja menatap penampilannya.
“Tadi aku ngeliat Haidar bersama seorang perempuan yang mungkinnya seumuran dengan kita, tapi kayaknya dia bukan dari sekolah kita deh.” Tambah Adelia saat duduk didekat Friska.
“Mungkin saudara atau temennya kali.” Ucap Friska sambil meminum jus yang ada dihadapannya.
"hmmm mungkin saja."
“Tapi dia itu mesra banget, sebenarnya aku mau turun nanyain, tapi inget janji dengan kalian jadi aku tidak sempat deh .” Tambah Adelia sambil menghela nafasnya.
“Kamu pesan dulu Del karena kita udah pesan ni, tinggal kamu aja yang kita tunggu. Kita udah hampir setengah jam loh disini gara-gara nungguin kamu.” Kata Safira.
“Iya iya maaf deh". dengan memamerkan deretan giginya. eh btw setelah ini kita kemana nih.” Ucap Adelia.
“Kita ke mall aja yuk.” Tambah Kirana.
“Bagus juga tuh.” Tambah Friska. Dan diangguki oleh Adelia dan Safira.
Mereka berempat pergi ke salah satu mall. Mereka melewati sebuah toko pakaian dan saat itu mata Adelia tertuju pada Haidar yang masih bersama dengan seorang perempuan yang tadi. Adelia mendekati Haidar dan berkata.
“Hai, Dar.” Sapa Adelia
“Hai juga.” jawab Haidar dengan nada dingin.
“Kamu lagi ngapain disini.” Tanya Adelia lagi.
“Lagi belanja.” Masih dengan nada dingin.
“Hai, aku Adelia .” Sambil mengulurkan tangannya untuk perempuan yang tadi ditambah dengan senyum manisnya.
“Hai, aku Vania. Salam kenal yah Adelia.” Ucap Vania sambil membalas uluran tangan Adelia.
“Eh Btw kalian saudara yah?” Tanya Adelia. Walaupun ia senyum manis tapi dia sangat berharap kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa.
Semoga saja mereka saudara. Filing aku juga mengatakan kalau mereka tidak pacaran. Ucap Adelia dalam hati sambil tersenyum.
“Kami pacaran. Kan Vania?” Ucap Haidar secara tiba-tiba dengan tampang dinginnya dan tersenyum manis saat melihat Vania.
Seketika raut wajah Adelia berubah ternyata filingnya salah, entah ia kecewa atau apa tapi ia baru saja ingin memperjuangkan cinta Haidar tetapi sekarang ini ia sudah memiliki pacar. Adelia hanya bisa mempertahankan senyumnya.
Beda juga halnya dengan Vania ia sangat terkejut dengan kata-kata Haidar karena ia pun juga baru saja kenal saat beberapa hari yang lalu. Karena ayah Haidar dan ayah Vania sedang bekerja sama diperusahaan ayahnya Vania. Walaupun ia juga sudah nyaman berada di dekat Haidar.
“I-Iya kami pacaran.” Tambah Vania dengan malu-malu.
Deg seketika jantung Adelia berdegup kencang. Ia sekarang tidak bisa berkata-kata.
“O-ohh selamat yah semoga kalian berdua langgeng. Aku pergi dulu yah karena temanku sedang mencari ku. Dah...” senyum Adelia walaupun hatinya sakit.
“Dar, tadi itu siapa”. Ucap Vania saat Adelia sudah meninggalkan mereka.
“Dia temen sekelas aku" Ucap Haidar dengan masih tampang dinginnya.
“Hmmm, Dar.” Belum sempat Vania melanjutkan kalimatnya, Haidar sudah langsung bicara.
“Yang tadi itu jangan dianggap serius, tadi aku hanya ingin ngehindar dari cewek itu. Aku malas ngeliatnya. Ucap Haidar tanpa menatap Vania.
“I-i-iya.” Vania yang sedikit kecewa. Suatu saat nanti kita akan benar-benar pacaran Haidar. Ucapnya dengan senyum menyerigai.
“Ayo kita pulang saja.” Ajak Haidar dan diangguki oleh Vania.
Disisi lain
Safira, Friska, dan Kirana sedang menatap bingung Adelia karena sebelum itu Adelia sangat semangat dan begitu ceria. Tetapi sekarang ia tiba-tiba menjadi pendiam dan juga murung.
“Ey Del, kamu kenapa sih bengong melulu dari tadi. Semenjak lo samperin Haidar kamu tiba-tiba menjadi seperti ini.” Tambah Friska. Namum Adelia belum juga menjawab pertanyaam mereka. Akhirnya Safira angkat bicara.
“Woe Del, lo kenapa si dari tadi murung melulu? Jangan menghayal terus nanti lo kerasukan setan hah. Emangnya perempuan tadi itu siapanya Haidar sih?” tanya Safira dengan nada suara yang mulai meninggi dan itu mengagetkan Adelia.
“E-eh sorry, aku lagi banyak pikiran.” Jawab Adelia dengan berbata-bata. “Hmmmm a-apa.” Sambung Adelia dan bertanya kembali.
“Begini nih Del, tadi kita lagi nanya sama kamu, sebenarnya kamu itu kenapa sih murung melulu. Terus cewek tadi itu siapanya Haidar?” tanya Kirana
“Hmmm tadi itu pacarnya Haidar.” Jawab Adelia sambil memaksakan senyumnya.
“Appaaaa?” ucap mereka secara bersamaan.
“I-iya tadi itu pacarnya. Haidar sendiri yang bilang.” Mereka hanya tidak bisa berkata-kata lagi. Sekarang suasananya menjadi dingin dan sepi.
“Aku pulang dulu yah.” Ucap Adelia sehingga memecahkan keheningan tersebut. Mereka bertiga pun ikut pulang.
Sesampainya Adelia diirumahnya.
“Assalamualaikum.” Ucap Adelia dengan memaksakan senyumnya saat melihat papanya yang sedang nonton diruang tamu.
“Walaikumsalam.” Jawab Arsawijaya.
“Kamu kenapa sayang? Kok maksain senyum, nggak biasanya kamu begini sayang. tanya Arsawijaya
“Aku nggak apa-apa kok pah.” Dengan memaksakan senyumnya.
“Kamu cerita aja sama papa nanti di kasi solusi.” bujuk Arsawijaya
Akhirnya Adelia menceritakan semuanya kepada papa nya.
“Haidar ternyata udah punya pacar pah cowok yang tadi aku ceritain .” Sambil memaksakan senyumnya.
“Betul Haidar udah punya pacar?” tanya Arsawijaya yang ingin memastikan.
“Iya namanya Vania.”
“Assalamualaikum.” Tiba-tiba suara seseorang yang baru masuk itu adalah ibu Adelia Elina . Ia bekerja diPerusahaan Arsawijaya jadi ia baru pulang nya tidak menentu kadang larut malam. Apalagi saat ada rapat ia lah yang mengambil alih semuanya di karenakan Arsawijaya yang sudah tua. Walaupun mereka hanya selisih 1 tahun saja. Tapi Elina masih bisa mengurusi semuanya. Sehingga mereka jarang menghabiskan waktu bersama kecuali saat malam hari walaupun itu belum cukup dan saat ia sedang libur Sabtu-Minggu.
“Walaikumsalam.” Ucap mereka secara bersamaan.
Adelia berlari memeluk ibunya “Mamaaaa.” Ucap Adelia dengan semangat.
“Hmmm anak mama, mana Adikmu ?” tanya Elina.
“Mungkin ia sedang bermain.” Jawab Adelia.
Dirumah Vania
“Aku harus memiliki Haidar sebelum ia di ambil oleh orang lain apalagi Adelia.” Kata Vania dengan meyakinkan dirinya.
“Tapi aku harus menyatakan perasaanku, tapi kapan?” tanya dirinya sendiri.
“Hufft aku akan memberitahukan ia besok, tapi besokkan sekolah, apa aku ke sekolahnya saja? Tidak-tidak jangan aku kan nggak punya kenalan disana. Ohhhh yah aku akan kesekolahnya saat pulang sekolah saja.” Ucap Vania dengan meyakinkan dirinya.
Malam hari dirumah Haidar
Ia sedang belajar, tetapi ia tidak bisa fokus.
“Akhhhh kenapa aku tida bisa fokus sih. Kenapa juga aku mikirin Adel. Aku tidur aja biar nanti subuh aku lanjutin belajarnya.” Ucap Haidar dengan kesal. Haidar tidak menyadari kalau bundanya dari tadi melihatnya seperti orang frustasi. Bunda nya pun menghampiri Haidar.
“Dar kamu kenapa nak?”
“Aku tidak apa-apa kok bun lagi nggak fokus. Nanti subuh aku lanjutin belajarnya. Aku mau tidur dulu yah bun.” Ucap Haidar
“Kalau kamu ada salah kamu minta maaf sama orang yang bersangkutan yah agar kamu bisa fokus belajar lagi. Yaudah kamu tidur aja. Ucap Ratnasari dengan nada lembutnya dan diangguki oleh Haidar.
Hai para pembaca Adelia. Ini adalah karya pertama saya jadi saya harap kepada para pembaca untuk dimengerti yah 🤗. Dan juga jangan lupa like, koment, and vote yah teman teman.🤗