Adelia

Adelia
Bab 10


"kecelakaan maksud mu. Kecelakaan macam apa itu menyiksa seseorang dan hampir saja kamu bunuh Vania". ucap ayah Vania dengan emosi nya. "Sekarang ayo kita masuk". ajak ayah Vania sambil menarik tangan anaknya.


Saat Vania dan ayahnya hendak ke ruang operasi. Vania sangat terkejut saat melihat Haidar dan kedua orang tuanya.


" Dar apa yang kamu lakukan disini?" tanya Vania.


"harusnya aku yang bertanya kenapa kau bisa disini". jawab Haidar dengan menatap Vania dengan kebencian.


"aku yang menyuruhnya datang" ucap Ayah Haidar.


Seketika ayah Adelia berbalik melihat keributan apa kah yang sedang terjadi di belakang nya. Saat ia melihat ayahnl Vania. Ia membelakkan matanya saking terkejutnya.


"Di-dimas. Kamu Dimas Wiliyam?". tanya ayah Adelia. Dimas juga sangat terkejut saat melihat Arsawijaya.


"ka-ka-kamu Arsawijaya?" ayah Vania pun bertanya kembali.


"iya saya Arsawijaya". ucap nya dengan tegas.


"sudah lama yah Arsa kita tidak bertemu". ucap Ayah Vania.


"terus siapa yang kamu bawa?" tanya ayah Adelia.


"dia putri ku namanya Vania". jawab Dimas.


"jangan bilang kalau anak mu yang membuat anak ku seperti ini Dimasss". ucap Arsawijaya dengan emosi.


"maaf kan anakku Arsa ku mohon maaf kan dia" ucap Dimas dengan memohon-mohon.


"sudah terlambat Dimas dia sudah membuat anak ku menderita seperti ini. Kesalahan harus di tanggung. Aku sudah menelfon polisi tadi jadi siapkan diri mu nak". ucap Arsawijaya dengan senyum menyeramkan.


Seketika tubuh Vania bergetar ketakutan. Ia hendak bersujud di kaki Ayah Adelia tetapi ayah Adelia mengelak.


"kaki ku tidak sudi si sentuh oleh mu ". kata Arsawijaya.


" maaf kan Vania om". ucap Vania.


" maaf kamu bilang. Setelah apa yang kau perbuat. Kau tahu kan Adelia hampir saja meninggal dan ia harus lupa ingatan karena diri perbuatan mu." ucap Ayah Adelia.


Hingga akhirnya Lampu pintu ruang operasi pun berubah menjadi hijau. Tampak lah dokter mengenakan pakaian hijau tua.


"bagaimana keadaan putri saya dokter?". ucap ayah Adelia.


"putri anda sekarang berada di kondisi baik-baik saja". ucap dokter.


"Alhamdulillah". ucap mereka secara bersamaan.


"tapi kenapa anda cemas dok?" heran ayah Adelia.


"begini pak Arsawijaya kemungkinan besar putri anda akan mengalami lupa ingatan. Ia mungkin saja akan mengingat sebagian hidupnya. Tapi kita liat saja nantinya." ucap Dokter. Kemudian ia pergi meninggalkan mereka.


"lihat lah kelakuan putri mu Dimas. Dia merenggut ingatan anakku". bentak ayah Adelia.


"maaf kan aku om". tangis Vania.


"cukup aku muak dengan maaf mu, tunggu saja polisi akan datang jadi siap kan diri mu ". ucap ayah Adelia dengan ter senyum kecut.


Dan tampak lah beberapa polisi yang menuju ke arah mereka.


"selamat siang". ucap pak Polisi yang bernama Adi.


"siang pak". ucap mereka secara bersamaan.


"saya bisa bicara dengan pak Arsawijaya" tanya polisi Adi.


"iya itu saya". jawab Arsawijaya dengan tegas.


"apa kendala bapak memanggil kami?". ucap Adi secara lembut.


" saya ingin membuat laporan pak". jawab ayah Adelia.


"saya ingin membuat laporan pencobaan pelenyapan terhadap putri saya pak". ucap ayah Adelia sambil menatap Vania dan juga Dimas. Vania menatap dan memeluk ayahnya dengan erat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"apakah bapak punya bukti? " tanya Adi.


"Haidar dia bisa menjadi saksi, walaupun putri ku lupa ingatan jangan berarti saya tidak punya bukti. Dan kamu Haidar jika kamu sampai berbohong kamu akan tahu akibatnya." ucap ayah adelia dengan tampang mengerikan.


"jadi siapa kah yang membuat anak bapak seperti ini?" tanya Adi.


Ayah Adelia menatap dan menunjuk ke arah Vania. Vania hanya menggelengkan kepalanya agar ia bisa di tolong.


"Vania putri dari Dimas". ucapnya


"apakah bapak yakin?" tanya Adi.


"sangat sangat yakin". jawab ayah Adelia.


"baiklah Vania dan juga Haidar bisa ikut kami ke kantor polisi sekarang". ucap Adi


"tidak tidak jangan, saya tidak ingin ikut. Ayah ku mohon tolong Vania ayah ayahhhhhh". teriak Vania. Ayahnya hanya bisa membalikkan badannya tak tega melihat putri satu-satunya di tangkap polisi.


ayah tidak bisa membantu mu nak kamu sendiri lah yang berbuat jadi hanya kamu lah yang bisa menanggungnya sendiri. ucap nya dalam hati.


Keluarga Haidar juga ikut bersama mereka ke kantor polisi begitu juga dengan ayahnya Vania.


Kini Adelia sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan pasien karena ia sudah melewati masa kritisnya.


Di ruang rawat Adelia


Ia masih terbaring lemah dan juga masih belum membuka matanya.


" Del bangun buka matamu nak". ucap Ayah Adelia dengan lembut.


Aditya dan juga ibunya sedari tadi ia pulang untuk mempersiapkan baju untuk ayah nya menginap.


Seketika tangan Adelia bergerak dan perlahan membuka matanya.


"Adelia sayang kamu sudah sadar nak. Baik ku panggil kan dokter dulu. Dokter dokter anak saya sudah sadar". teriak Ayah Adelia.


Dan saat itu juga dokter dan beberapa suster datang untuk memeriksa keadaan Adelia.


"Anak bapak sekarang sudah lumayan membaik jadi sebaiknya jangn di tekan dulu anak nya yah". ucap dokter.


"baik lah dokter" angguk Ayah Adelia. Setelah itu dokter pun keluar dari ruang rawat Adelia.


Di kantor polisi


Vania telah dinyatakan bersalah dan juga ke empat teman nya. Karena ayah Vania sempat merekam pembicaraan mereka ber lima.


"ayah tega". teriak Vania.


"ayah mendukung kebenaran Vania". ucap ayahnya dengan lembut.


"tapi setidaknya ayah akhhhh". ucap Vania. Ia tidak bisa berkata-kata lagi karena kebenaran sudah lah terungkap.


"maaf kan ayah sayang. Ayah harap kamu bisa tahu semua kesalahan mu". ucap ayah Vania lagi. tetapi Vania kini acuh terhadap ayahnya.


"andai saja ibu masih hidup aku tidak akan seperti ini. ini semua salah ayah. ayah tidak becus mengurus Vania. Ayah gagal menjadi orang tua. pergi dari sini pergiiiiii". teriak Vania.


Ayah Vania hanya bisa menahan air mata nya. Mana tega seorang ayah yang melihat anaknya menderita. seorang ayah telah berjuang mati matian untuk menghidupi dan membiayai anaknya untuk hidup.


Kini air mata nya tidak bisa di bendung lagi. Ia menangis melihat anak semata wayangnya menderita di penjara tapi kebenaran tetap lah kebenaran.


"mari om kita pulang" ajak Haidar. Ayah Vania 'hanya bisa mengangguk tidak bisa berkata kata lagi.


"terima kasih Haidar sudah membuktikan sebuah kebenaran tentang Vania. Aku bangga padamu". ucap Ayah Vania dengan tersenyum.


"Dan juga jika kamu menyukai Adelia kejar lah karena dia sudah mengorban kan dirinya hanya untuk mu. Sekarang kamu lah yang harus berjuang Haidar. Jangan sampai kamu bisa salah orang lagi seperti anakku."