
"Krek," pintu terbuka.
"Adelia, rumah Jun bisa terbuka langsung?" ucap Peronika. Tangannya memutar gagang pintu.
"Yuk, masuk," Adelia berjalan masuk untuk menjelajah dengan penasaran.
"Hanya ada kasur, meja, buku harian, tas, lemari... Ehm, ini sepertinya Jun tinggal sendirian," ucap Peronika, mengawasi sekeliling kamar Jun.
"Buku harian?" pikir Adelia, mendekati meja disampingnya.
"Sret, sret, sret," suara gesekan buku.
"Hm, ayo kita baca," ucap Adelia, memandang Peronika bersama.
"Tidak, kau saja bawa itu. Kaukan merindukan kehadiran Jun," ucap Peronika, baginya sahabat adalah mereka.
Adelia, dengan penuh perasaan, memeluk buku besar itu di dadanya. "Aku akan membacanya di rumah," lirihnya kepada Peronika.
Di kamarnya, Adelia duduk di meja dan mulai membaca buku harian tersebut dengan penuh rasa ingin tahu yang besar.
......................
"
Bayangan mayat bercahaya dalam hatiku,
Ibu telah pulang ke surga yang indah,
Peti mati berasa harum, seakan bunga surga yang mekar,
Kepergian hatiku, sebuah kenyataan yang berat,
"Kuatkan aku, ibu," Jun menangis dalam sunyi yang mendalam.
Aku ditelpon oleh ayah,
"Berpindahlah ke tempat yang baru,"
Aku dan perasaanku, kami memutar kisah,
Marahku yang tak bisa reda,
Sedihku mengalir seperti sungai yang tak pernah berhenti,
Namun, ayah hanya memberikan perintah, tanpa perasaan.
Jika tempat baruku adalah surga yang terpencil,
Mungkin di sana ibu akan berada, dalam damai abadi.
Lelah aku mencaci diri di dalam sunyi dan sepi,
Akan kutemukan kebahagiaan dalam puisi, dalam kata-kata yang penuh keindahan, baik dan buruknya dunia.
Pertemuan yang disusun oleh angin,
Dia Adelia, gadis yang baru kukenal,
Paras dan wajahnya seperti bunga melati putih yang memesona.
"Hi, siapa kamu?" senyumnya memikat, mengikat hatiku.
Pagi yang dijejali dengan rutinitas kehidupan,
Perjalanan biasa seorang pelajar, tak ada yang mengejarku,
Seperti butut yang terikat dengan tali panjang,
Memaksaku melangkah dengan langkah kasar, tanpa henti.
Sudah berbuah senyum dan tawa,
Adelia seperti pohon yang berbuah pesona literasi makna,
Setiap kata yang diucapkannya seperti hujan di gurun gersang,
Membangkitkan harapan dan keindahan dalam jiwa Jun yang terpinggirkan.
Senyum tak arah karuan,
Menyadari angin yang tertahan,
Menambah makna kehormatan,
Senyum tak terelak dalam pendengaran,
"mmm" seperti raungan bisik dalam gema goa,
Sebuah bahasa rahasia, yang hanya mereka yang mengerti bisa memahami.
Meja belajar ini, temanku selama hampir 2 tahun,
Memang benar ucapanku pada mereka, sahabat dalam kesunyian,
Hanya sebatas pengalihan kesedihan,
Di sini aku menulis cerita hidupku, melepaskan perasaan yang tak terucap.
Jun dipanggil oleh seseorang dengan wibawa,
Sebuah puisi yang menceritakan kisah hidupnya, bukan sembarangan kata-kata saja,
Mengapa puisi ada dalam puisi,
Isi yang berisi, seperti lapisan cerita dalam cerita,
Mengungkapkan perasaan yang dalam, dalam bahasa yang indah dan menyentuh.
Seorang yang berwibawa menyuruhku untuk berkata dalam prosa yang terasa dan memiliki literasi makna cinta.
Cinta, kutiupkan arwah untuk dirimu berkata dan merasa, namun kau tiupkan kepakuan mata tanpa rasa dan kata. Kutiupkan kau akal serta pikiran yang sehat, namun kegilaanmu membuatku tak terlihat. Gerangan apa dengan kasihmu terhalang, kini kudiam melihat harapan cinta yang akan hilang.
"
"Jun menulis ini dengan rumit, apakah cinta adalah diriku" pikir Adelia, senyumnya memikat , pelukannya memaksa buku harian mendekat.
"Aku akan membaca lagi besok, sepertinya aku merasakan jun dalam buku ini, indah sekali , aku tertulis didalamnya,kyaa" histeris Adelia, rapuh akan hatinya yang merindu.
"Tidur sayang , jangan bergaduh dikamar!" ibu Adelia meneriaki, agar adelia berhenti membuat kegaduhan malam hari.
" Iya maa" lantang Adelia dari dalam kamarnya.