Adelia

Adelia
Ruang Hati


Apakah kamu tau?


Dulu sebelum datang kamu aku sudah pernah hancur


Aku pernah hancur demi mempertahankan seseorang yang tidak ingin di pertahankan. Menolak banyak hati demi seseorang yang tidak memiliki hati.


Aku masih tetap suka, meski ia memperlakukanku sesukanya.


Aku pernah memberi maaf berkali kali, meski ia menyakitiku sering kali.


Bahkan aku tetap percaya, meski yang kerap ku terima ialah kecewa dan luka.


Demi dia yang pernah aku cintai, aku selalu bersedia jadi apa yang dia minta.


Aku penuhi segala inginnya.


Aku rela tidak menjadi diriku sendiri dan menyakiti diri hanya demi seseorang yang pada akhirnya hanya membuat aku terluka sampai saat ini.


Kebersamaanku dengannya adalah hal terburuk dalam hidupku.


Hingga kau datang menyapa, memberiku bahagia, membalut kecewa, menyembuhkan luka.


Namun, kini semua hanya sebuah kenangan, harapanku sudah hilang seiring berjalannya waktu kau pergi meninggalkan aku.


Jika bagimu merindukanku adalah hal yang berat, seharusnya kau belajar dari bagaimana caraku merindukanmu


Sejatinya, Kau tak pernah tahu bagaimana caraku menjadikan namamu sebagai sebuah pengulangan atas doa yang kupinta.


Aku merayu semesta ratusan kali dengan sebuah permintaan yang sama, yaitu hati. Namun lagi, lagi aku harus bersabar. Sebab, kau terlalu asik dengan duniamu hingga lupa bahwa ada aku yang selalu setia termangu dalam kata tunggu.


Apa kita bisa saling memiliki, meskipun perbedaan sudah tak lagi sedefinisi. Apa kita tetap bisa dipertemukan, meskipun jarak yang memisahkan semakin tak bisa diperhitungkan.


Perihal kecewa, aku sudah sering mengalaminya. Namun mengingatmu membuatku terlihat baik-baik saja


Jadi, bisakah kau sepertiku?


*****


Aku sudah terbuai oleh hangatnya cinta semu, sampai aku lupa kalo manisnya cinta akan berakhir pahit bila salah menggenggamnya.


Laraku pergi dengan gontai, menapaki perih yang seolah tak bertepi, tak ada lagi sapa riangmu, tak ada lagi tawa manjamu, hanya sepi, sepi, dan sepi yang ku dapati.


*****


Jangan khawatir, kamu belum benar-benar kehilanganku.


Dulu, kamu selalu hebat menebak ketika aku rindu.


Rinduku masih berlaku, hanya bedanya aku tak ingin lagi memberitahu. Sebab, aku tahu rinduku mengganggu.


Jikapun nantinya, aku kewalahan merawatnya sendirian, mungkin aku cuma bisa memulangkannya dengan mencari tahu kabarmu diam-diam.


*****


Terima kasih karena sudah pernah menjadikan aku sebagai orang yang paling berarti.


Semua pujian dan sanjungan darimu dulu, masih aku ingat sampai detik ini.


Sepertinya aku takan pernah bisa melupakannya walaupun beberapa kali ku coba.


Aku akan selalu mengingat itu, merawatnya secara baik-baik. Tentunya, walau tak lagi bersamamu.


Dulu aku berdo'a agar kamu baik-baik saja di sana.


Setiap detik aku mengingatmu dan mendo'akan kamu.


Tapi kini, aku yang meminta pada Tuhan agar diberikan hati dan pikiran yang baru, tanpa ada kamu dan semua kenangan indah kita.


Karena aku tau, kamu sudah berhasil memperlihatkan bahwa kamu bahagia tanpa aku dan selalu baik-baik saja berjauhan denganku.


Berbeda dengan kata-katamu yang dulu, kamu pernah bilang jika suatu hari nanti kamu akan perbaiki hubungan ini, dan aku merasa itu hanya mimpi, karena nyatanya tak ada niat darimu untuk mewujudkan itu.


Terimakasih, kini aku tau, kamu hanya singgah tanpa kesungguhan.


Dan kamu hanya mimpi tanpa kepastian.