
Sesuai rencana yang semalam Vania rencanakan untuk mengungkapkan perasaannya bersama dengan Haidar. Ia pun pergi ke sekolah Haidar.
Di SMA Tunas Bangsa
Bel pulang pun tiba
Sepanjang jam pembelajaran Adelia menjadi pendiam. Haidar merasa bingung dengan Adelia yang seketika menjadi pendiam.
Di parkiran
Haidar pergi untuk mencari Adelia, ia ingin meminta maaf kepada Adelia atas ucapannya yang tadi.
"Del? Yang tadi aku minta maaf yah. Aku tidak ada maksud untuk membentakmu". ucap Haidar dengan menyesal.
"tidak apa-apa kok Dar". jawab Adelia dengan senyum yang di paksakan.
"serius nih dimaafkan?" tanya Haidar lagi.
Adelia hanya mengangguk sebagai pertanda 'iya'.
Disisi lain Vania yang melihat Haidar sedang bersama Adelia merasa sangat geram. Ia pun berjalan menuju ke arah mereka berdua.
"hayy Dar". ucap Vania dengan nada lebaynya.
Seketika Haidar menjadi kaget karena Vania yang tiba-tiba memeluk lengannya sehingga ia merasa agak muak dengan semua itu.
"eh-hay juga ". jawab Haidar dengan gugup.
"kita ke cafe yuk" ucap Vania sambil memamerkan deretan giginya.
Disisi lain Haidar merasa agak risih dengan perlakuan Vania. Ditambah lagi ia sangat tidak enak dengan Adelia. Haidar merasa sangat menyesal telah membohongi Adelia karena sikap Vania yang begitu manja walaupun ia sebenarnya tidak pacaran.
"iya ayo". ajak Haidar sambil meninggalkan Adelia.
Adelia hanya tersenyum manis kepada mereka berdua. Tetapi ia sedikit kecewa.
"Vania kamu naik apa kesini". tanya Haidar.
"eh naik angkot Dar". jawab Vania dengan berbohong karena sebenarnya ia menggunakan mobil ke sekolah Haidar dan mobilnya ia titip di rumah temannya.
Haidar pun dengan terpaksa membonceng Vania karena ia tidak pernah membonceng seorang perempuan kecuali ibunya sendiri.
Hati Vania sangat bahagia. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia dengan santainya memeluk perut Haidar. Dan Haidar pun merasa risih dengan itu semua.
"Vania kita mau ke cafe mana nih?". tanya Haidar.
"terserah kamu saja Dar". jawab Vania dengan bahagianya.
Haidar memberhentikan motornya di salah satu cafe. Kemudian ia pun mulai memesan minuman.
"mbak saya pesan jus alpukat dan kamu Dar mau pesan apa?" tanya Vania.
"samain aja". jawab Haidar.
Pelayan cafe tersebut menganggukkan kepalanya dan pergi membuatkan pesanan mereka.
"hmm. Dar begini aku manggil kamu ke cafe untuk sesuatu hal". ucap Vania dengan ragu-ragu.
Haidar bingung dengan maksud Vania. Ia hanya memberikan jalan Vania untuk berbicara.
"begini Dar. Sebenarnya semenjak kita bertemu aku udah mulai nyaman bersamamu Dar seiring berjalannya waktu aku pun udah mulai menyukaimu sampai sekarang". ucap Vania dengan pipi yang merah merona.
Haidar dengan santainya menjawab " terus?".
"begini Dar, bagaimana kalau kita benar-benar pacaran aja". ucap Vania sambil menatap Haidar dengan penuh harapan.
"hah? Maaf sebelumnya Van. Aku nggak ingin pacaran. Lagian aku tidak menyukaimu sama sekali". jawab Haidar dengan menatap Vania dengan penuh kekecewaan.
"begini Dar. Seiring berjalannya waktu pasti kamu akan menerimaku apa adanya". tambah Vania dengan meyakinkan Haidar.
"tidak Dar jangan". Ucap Vania dengan mata yang berkaca-kaca. Jangan-jangan kamu suka sama Adelia yah Dar?" tanya Vania dengan suara yang mulai meninggi. Akan tetapi Haidar hanya terdiam.
"JAWABBBB Darrrr jawabbbbb..." ucap Vania, akhirnya air mata Vania pun keluar. Vania hanya bisa menangis sesegukan di meja cafe tersebut.
"maaf Van pertanyaan itu aku tidak bisa jawab". ucap Haidar sambil meninggalkan uang seratusan dan meninggalkan Vania di cafe sendirian.
"akhh dasar Adelia". teriak Vania yang hanya bisa menangis sesegukan. Vania hanya meminta temannya untuk mengantarkan mobilnya ke rumahnya. Dengan terpaksa ia pun naik ongkot.
Sesampainya Haidar dirumahnya
Di kamar Haidar
Ia memikirkan Vania. Antara kecewa dan juga kasihan terhadap Vania.
"dasar perempuan hanya bisa memanfaatkan seorang laki-laki". ucap Haidar dengan stressnya. Ia membaringkan tubuhnya dan tiba-tiba ia pun terlelap tidur.
Di sisi lain
Di kamar Adelia
Ia memikirkan hubungan Haidar dan juga Vania.
Tiba-tiba Adit datang ke kamar Adelia tanpa permisi terlebih dahulu.
"eh kamu bengong melulu. Cariin aku bakso". ucap Adit dengan tiba-tiba menyuruh kakaknya dengan seenaknya saja.
"heh ngapain nyuruh-nyuruh aku segala. Kamu sendiri kan punya kaki. Yah harus di gunakan dong". ucap Adelia dengan senyum kecutnya.
"nantang loh yah, nanti aku laporin kamu sama mama biar di marahin terus menerus. Hahahaha". ucap Aditya dengan tertawa berbahak-bahak.
"terserah loh aja yah intinya aku bukan anak yang tukang ngadu-ngadu loh". ucap Adelia dengan senyum manisnya. Dan itu membuat Aditya semakin geram kepada kakaknya.
"okke liat aja yah, nanti lo akan di marahi habis-habisan". ancam Aditya dengan senyum kemenangan.
"t-e-r-s-e-r-a-h anda, keluar dari kamar ku cepattttt". ucap Adelia sambil menahan emosinya.
Akhirnya Aditya keluar dari kamar Adelia.
Adelia berusaha menenangkan hatinya agar dirinya bisa mengontrol semua emosi-emosinya yang sudah meledak-ledak.
"huh, sebenarnya aku ini siapa sih. Punya adik kok gini amat kayak apa aja gitu. Tukang ngadu lagi. Nanti sore tinggal nungguin kemarahan mama nih. Aku harus siapin kata-kata perlawanan'". ucap Adelia sambil memikirkan semuanya.
"Mending aku tidur saja, untuk menenangkan semuanya". akhirnya Adelia tertidur dengan banyak pikiran yang meledak-ledak dipikirannya.
Sementara disisi lain Vania ia sangat geram dengan kelakuan Haidar. Ia tidak menerima semua perlakuan Haidar terhadapnya tadi. Ia berencana untuk mencelakai Adelia.
"Adelia semua ini salah mu. Haidar milikku dan dia hanya milikku". teriak Vania.
"tidak. Tidak aku tidak akan menyerah begitu saja Haidar. Tunggu saja nanti Adelia. Kamu yang akan bertanggung jawab atas semua iniiii. Akhhh ". ucap Vania sambil mengacak-acak meja riasnya.
Sementara ayah Vania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat anak semata wayangnya. Karena Vania memang sudah sering melakukan berbagai macam hal buruk untuk mendapatkan semua kemauannya. Sehingga membuat ayahnya angkat tangan atas semua perlakuan Vania. Sementara ibu Vania sudah meninggal saat umur Vania berusia dua tahun. Itulah yang membuat Vania kekurangan kasih sayang terhadap ibunya.
Seketika ayahnya Vania masuk ke kamar Vania yang sudah begitu berantakan.
"Vania? kamu kenapa sayang?". ucap ayahnya dengan lembut. Yang bernama Dimas.
"pergi ayah pergi aku mohon aku hanya ingin sendiri sekarang. Kumohon ayah". ucap Vania dengan air matanya yang bercucuran di pipinya.
Ayah Vania memeluk Vania dengan erat agar Vania bisa meredahkan amarahnya. Dan juga ayah Vania berusaha menenangkan Vania karena kemarahan Vania sudah sampai ke ubun-ubun kepala.
Hai para pembaca Adelia 🤗
Ini adalah karya pertama saya jadi saya harap kepada para pembaca untuk memaklumi cerita saya🤗.
Dan jangan lupa like, coment, and vote yah.
MAKASIH~